• Home
  • About
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Menu

Pejalan Sunyi

iklan banner
  • Home
  • Daftar Isi
  • News
  • Inspirasi
  • Seputar Guru
    • Regulasi Pendidikan
    • Perangkat Pembelajaran
    • Media Pembelajaran
    • Guru Menulis
    • Sertifikasi Guru
    • Pendataan Pendidikan
  • Tips & Trik
  • Budaya
    • Opini
    • Esai
    • Resensi Buku
    • Cerpen
    • Puisi
    • Anekdot
  • Maiyah
    • Tentang Maiyah
    • Kolom Mbah Nun
    • Kolom Jamaah Maiyah
    • Reportase Maiyah
  • Literasi
  • Download
  • Kirim Artikel

Artikel Populer

  • Daftar Penerima Tunjangan Khusus Daerah Terpencil (Dikdas SD-SMP) Tahun 2013
  • Cara Melakukan Cek SKTP di P2TK Dikdas
  • Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan Tercinta
  • Daftar SK Tunjangan Fungsional Prop. Jawa Timur 2013
  • Cara Melihat Sekolah Pelaksana Kurikulum 2013
  • Menjelang Idul Fitri
  • Pendaftaran Peserta Sertifikasi Guru Tahun 2017 Jalur Prestasi

Inspirasi

Pengunjung

Free counters!
top personal sites
top personal sites
Home / Resensi Buku
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Monday, June 5, 2017

BH, Emha Yang Gelisah, Emha Yang Bercerita

Resensi Buku
BAGI kami para penikmat buku angkatan 90-an (apalagi yang baru melek buku di abad millenium) pasti mengernyit dan memilih berhenti cukup lama di depan rak yang memajang buku ini. Loncatan-loncatan pikiran yang bernada heran pasti sempat terlontar seperti "Cak Nun menulis cerpen ? Oo, baru tahu" atau " Cak Nun juga cerpenis ?"

Fenomena seperti ini menjadi wajar karena selama ini kami mengenal Cak Nun selalu identik dengan shalawatan bersama Kyai Kanjeng. Pun di ranah pustaka kita akrab dengan puisi-puisi Cak Nun dan esai-esainya yang kontemplatif. Tapi, tak satupun cerpennya kita temukan di halaman-halaman media massa saat ini. Jawabannya ada di kumpulan cerpen BH yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas di awal tahun ini. Semua cerpen dalam buku ini ditulis pada akhir 70-an sampai tahun 1982. Wajarlah jika kami -penikmat buku angkatan millenium- baru mengetahui jika Seorang Emha Ainun Najib juga seorang cerpenis.

***
Menyelami sosok Emha Ainun Najib bukan hal yang mudah. Tak cukup hanya menjadi jamaah setia pengajian Maiyah. Tak juga cukup hanya dengan menikmati setiap butir kata dalam puisi-puisinya. Masih juga tak cukup jika hanya berpetualang dari satu kumpulan esei ke kumpulan esei lainnya. Karena Emha Ainun Najib termasuk manusia multidimensi, seperti yang tertulis di Catatan dari Penerbit halaman vii dalam buku kumpulan cerpen ini. Proses hidup Emha yang sarat pencekalan di era Orde Baru tidak bisa dipahami begitu saja dari penggalian satu macam karyanya.

Cerpen, puisi, esei dan drama yang dilakonkan harus dipahami sebagai unsur-unsur yang berjalinkelindan membentuk satu gambaran yang akan memudahkan kita dalam menyelami seorang Emha. Pemahaman ini akan membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa Emha Ainun Najib tak pernah lelah untuk mengusung harkat kemanusiaan lewat jalur kultural. Semangat tak pernah lelah ini lahir dari kegelisahannya yang tak kunjung padam. Sejak mula Emha yang berusia belasan telah merasakan kegelisahan. Keputusan untuk meninggalkan Pondok Gontor adalah bukti nyata dari kegelisahannya, juga benih-benih pemberontakan sudah mulai mendapat tempat dalam dirinya. Kegelisahan terus berlanjut sampai dia mengecap pendidikan formal di bangku UGM yang hanya bertahan satu semester. Perjalanannya tak berhenti hingga dia mengenal PSK (Persada Studi Klub) arahan Umbu Landu Paranggi bersama penulis muda lainnya. Bukan hanya dunia kepenyairan yang digelutinya, panggung drama juga mampu menjadi kanal bagi kegelisahannya. Teater Dinasti adalah salah satu tempat Emha berkarya di masa 80-an.

***

Tema yang diambil dalam kumpulan cerpen ini tidak lepas dari keseharian yang melingkupi kehidupan penulis, berkisar dari kegelisahan waria, pelacur sampai kegelisahan spiritual seorang laki-laki putus asa yang tergeletak di atas ranjang. Dari 25 buah cerpen di buku ini, semuanya fasih menuturkan kegelisahan. Sebenarnya kecenderungan ini bukanlah hal yang mengagetkan, sebab hampir seluruh karya Emha yang lahir di masa itu bernada demikian. Bahkan, dalam karya puisi dan esainya tak jarang kita tangkap kobaran amarah seorang Emha. Begitu pun dalam buku kumpulan cerpen ini, Emha merdeka dalam menentukan sudut pandang dan penentuan alur ceritanya. Emha telah membebaskan kreativitasnya. Tidak satupun cerpen yang beralur cerita linear dan mudah ditebak sehingga terciptalah ritme ketegangan yang bervariasi. Cerpen Emha bukan cerpen bertema detektif yang menegangkan tapi membacanya lamat-lamat menimbulkan perasaan deg-degan menanti ujung cerita. Apalagi jika dilakukan secara berurutan.

Di halaman 1 kita disuguhi cerpen berjudul Lelaki Ke-1.000 di Ranjangku yang mengisahkan kegelisahan seorang pelacur yang merasa sangat lelah menjalani ritual kesehariannya. Di saat kejenuhan memuncak, datang seorang laki-laki yang menawarkan oase bagi sang pelacur, padahal dari sumber yang samalah dia merasakan kepedihan yang sangat. Emha memainkan rasa penasaran pembaca dengan membuat alur yang menukik lalu berbalik. Rasa penasaran akan menyeruak kuat saat menikmati cerpen berjudul Mimpi Istriku (halaman 112). Sebuah ending yang masuk akal tapi mungkin terlewat dari prediksi pembaca. Inilah yang saya sebut dengan ketegangan.

Setelah melahap empat buah cerpen, pembaca akan merasa digenggam oleh ritme penceritaan yang siklikal, tokoh-tokoh dengan sikap yang paradoks dan ujung cerita yang mengejutkan. Baca juga dengan cerpen berjudul Seorang Gelandangan (halaman 158) yang menjungkirbalikkan realitas yang telah dipandang jamak oleh masyarakat. Emha tidak selalu melakukan hal demikian dalam setiap cerpennya, namun dia mampu meramu cerita hingga jadi sebuah cerpen yang menggemaskan. Misalnya pada cerpen Tangis (halaman 109) dan Domino (halaman 236), Emha menawarkan dunia rekaan yang realistis dan tak lepas dari ironi-ironi. Emha bersikukuh untuk mengangkat realitas sosial dalam cerpen-cerpennya sebab memang Emha tidak bisa dipisahkan dari masyarakat desa yang kerap ia perjuangkan.

Gagasan mengenai sastra yang sedang diusungnya pada era itu adalah pembebasan kreativitas seniman dari kungkungan berupa anutan-anutan yang pakem. Bahwa seniman harus memerdekakan sumber kreativitasnya adalah sebuah keharusan. Pada sebuah kesempatan berceramah di acara Hari Chairil Anwar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, 27 April 1982, Emha meyakinkan publik bahwa kesusatraan Indonesia mampu mandiri melalui pendekatan yang membumi. Karya-karya Emha baik puisi, esai maupun cerpen adalah bukti dari kemerdekaan dan kemandirian kreativitasnya, juga kematangan gagasan-gagasannya. Benang merah yang dapat ditarik dari seluruh karya Emha adalah kelugasannya. Ia tidak malu-malu dan tidak terjebak dalam norma-norma dalam memilih tema, sudut pandang dan karakter tokohnya.

Padang Kurusetra (halaman 20) dan Kepala Kampung (halaman 134) adalah caranya memplesetkan penokohan yang sudah pakem supaya sindiran tajam pada penguasa dapat tersampaikan dengan jernih. Sang Prabu Kresna menampar sukma Arjuna. – Baiklah, Kakang. Kami para Pandawa memang tak sanggup lagi berperang. Kaki-kaki kami tak sanggup bergerak. Tubuh kami terancam di bumi. Karena perut kami telah penuh oleh beratus ribu jengkal kebun, ladang, sawah….. (halaman 31-32). Tukilan ini diambil dari cerpen berjudul Padang Kurusetra yang berisi percakapan alot antara Kresna dan Arjuna.

Kegelisahan akan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari sosok Emha di era 80-an. Tak terkecuali pada cerpennya, sosok yang dibesarkan di keluarga Islam taat ini tak bisa mengerem kecerdasan dan daya kritisnya. Gagasan dan pemikiran akan KeTuhanan pun cair dan meluber ke semua karyanya. Puncaknya adalah pada cerpen berjudul Ambang (halaman 78). Membaca cerpen ini membuat kita seolah menjadi fotografer yang bebas memainkan zoom pada ujung lensanya. Menjauh lalu mendekat, realitas dilihat secara bird eye, lalu kembali membumi.

Menyelami kegelisahan tokoh dalam cerpen ini membuat nafas pembaca turut memburu seperti yang dirasakan oleh sang tokoh. Berbeda dengan Ambang, cerpen berjudul Di Belakangku lebih gamblang dalam memperbincangkan Tuhan. Di sana tercipta dialog bernas tentang Tuhan antara seorang murid dengan gurunya. Emha tak melupakan hal-hal berbau metafisika untuk turut diangkat sebagai tema, seperti dalam judul Podium (halaman 174) dan Jimat (halaman 192). Dua cerpen ini berisi pemaparan lugas akan fenomena metafisis yang kerap terjadi di masyarakat. Di sini Emha tidak meletakkan opininya sehingga kedua cerpen ini tampil jernih. Tak ada titipan pesan untuk menyetujui atau menolak keberadaan metafisis dalam kehidupan sehari-hari.

Sayangnya kenikmatan membaca buku setebal 246 halaman ini sedikit terganggu dengan munculnya kesalahan kecil penulisan. Meskipun kecil dan tidak berarti, jika berulang-ulang akan sedikit mengurangi kualitas buku ini. Kesalahan hanya berupa kekurangan atau kelebihan satu huruf saja (banyangan pada halaman 95 seharusnya bayangan; iu pada halaman 105 seharusnya itu). Tetapi kesalahan kecil itu sama sekali tidak mereduksi kualitas cerpen Emha Ainun Najib. Penerbit Buku Kompas mampu meramu buku kumpulan cerpen ini hingga jadi sebuah petualangan yang seru dalam menjelajah kegelisahan-kegelisahan Emha dari tahun 1978 sampai 1982. Cerpen-cerpen ini tersebar di Harian Kompas, Horison, Sinar Harapan, dan Zaman yang berhasil dirangkum oleh penerbit. Kurun waktu empat tahun sedikit banyak mampu merekam perjalanan seorang Emha, sebab kisaran tema yang diangkat begitu luas hingga dapat mencitrakan kemultidimensian Emha Ainun Najib. ***

Membaca kumpulan ini membuat pembaca ingin bernostalgia dengan karya-karya Emha di era 80-an. Ketika membaca cerpen Di Belakangku, muncul keinginan kuat untuk membongkar lemari demi membaca lagi kumpulan puisinya yang berjudul Cahaya Maha Cahaya (Pustaka Firdaus, 1993). Tema dalam kumpulan cerita pendek ini mebuat kita merasa kangen dengan puisi dan esai-esainya yang lugas, nakal dan kontemplatif. Jika pada masa itu Emha masih gelisah dan senantiasa meraba keberadaan Tuhan, maka Emha saat ini dengan kecairan gagasan dan sikapnya berhasil menerobos sekat-sekat massif dalam beragama. Cara yang ia pilih dengan menghidupkan kembali pembacaan Barzanji dan Sholawat. Inilah menu utama dalam setiap pengajian Maiyah yang dilakukannya bersama Kiai Kanjeng. Emha Ainun Najib dan Kiai Kanjeng tidak mau menempatkan nafas seni karawitan sebagai produk budaya yang cuma mengekspresikan seni dan keindahan semata tanpa makna spiritual. Maka, ketika membaca sosok Emha saat ini, kita berhadapan dengan manusia multidimensi yang giat mengusung harkat kemanusiaan baik didepan sesama manusia maupun di hadapan penciptanya.

Bagitulah, kumpulan cerpen ini membawa kita menoleh ke belakang demi mengenal kegelisahan seorang Emha Ainun Najib di masa lalu. Karya ini menjadi mata rantai penting dalam perjalanannya hingga menjadi sosok Cak Nun yang kita akrabi saat ini. Kematangan tidak lahir begitu saja, dan kematangan bukan sebuah kemapanan. Kita masih akan sering bertemu dengan Emha Ainun Najib, Cak Nun, Kiai Sudrun, Markesot dalam setiap pengajian Maiyah. ***

Judul Buku : BH
Penulis : Emha Ainun Najib
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : I, Januari 2005
Tebal : x + 246
Resensi oleh : Fatati (Phel-phel, ITS Surabaya)
Admin Pada Monday, June 05, 2017 Komentar

Wednesday, May 31, 2017

Kiai Arief Hasan, Cermin Pengilon Dari Beratkulon

Resensi Buku
Jejak Keteladanan Kiai Arief Hasan

KH. Salahuddin Wahid
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

KETIKA dimintai kesediaan memberi kata pengantar buku ini oleh Saiful Amin Ghofur, semula saya bertanya dalam hati: siapakah KH.Arief Hasan itu?

Nama KH. Arief Hasan memang belum begitu akrab di telinga saya. Akan tetapi, setelah berdiskusi sejenak dengan Saiful ketika ia berkunjung ke Tebuireng beberapa waktu lalu, saya baru tahu bahwa KH. Arief Hasan adalah santri al-mukarram KH. Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 1930-an.

Walau tak begitu lama nyantri kepada al-mukarram KH. Hasyim Asy’ari, kira-kira 6 tahun, namun KH. Arief Hasan berhasil mendirikan Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in di Beratkulon Kemlagi Mojokerto.

Ini sekaligus menjadi bukti keberhasilan al-mukarram KH. Hasyim Asy’ari dalam mendidik santri-santrinya. Karena itulah, saya menyambut positif terbitnya buku ini, sebab telah memperpanjang deretan bukubuku otobiografi para kiai NU yang telah terbit sebelumnya.

Tradisi penulisan semacam ini perlu dibudayakan lebih lanjut dalam dunia pesantren mengingat masih banyak sosok kiai NU yang sudah lama wafat, tetapi belum ada upaya serius untuk membukukannya.

Seperti halnya KH. Arief Hasan ini. Seandainya tidak muncul inisiatif untuk dibukukan, bukan tidak mungkin data, terutama yang diakses dari saksi hidup, akan semakin sulit diperoleh. Belum lagi minimnya data tertulis kian mengindikasikan lemahnya budaya tulis di kalangan pesantren sendiri.

Terlepas dari faktor di atas, saya ingin menggarisbawahi beberapa hal berkenaan dengan sejarah hidup KH. Arief Hasan. Pertama, tentang kepatuhan. Aspek ini amat penting diteladani. Sewaktu KH. Arief Hasan menimba ilmu di Tebuireng, kepatuhan terhadap almukarram KH. Hasyim Asy’ari terlihat sangat menonjol.

Faktor kepatuhan terhadap kiai dalam konteks belajar bisa menjadi salah satu sebab keberhasilan. Demikian pula dalam konteks hidup bermasyarakat, faktor kepatuhan terhadap pemimpin dapat mendorong terciptanya kebahagiaan. Akan tetapi, tentu kepatuhan di sini hanya berlaku dalam hal positif, bukan negatif.

Namun perlu dipahami bahwa hubungan antara santri dengan kiai pada saat ini amat berbeda dengan hubungan KH. Arief Hasan dan al-mukarram KH. Hasyim Asy’ari. Saat itu hubungan tidak bersifat teknis tetapi juga bersifat spiritual. Aspek barokah pada waktu itu amat menonjol. Sebagai contoh, KH. Wahid Hasyim pernah mondok di beberapa pondok pesantren hanya dalam waktu seminggu karena ingin mendapat barokah kiai pengasuh pesantren tempat beliau mondok itu.

Kedua, tentang keuletan. KH. Arief Hasan merupakan tipologi pemimpin yang ulet dan pantang menyerah betapapun rumitnya permasalahan hidup yang sedang dihadapi. Inilah yang perlu direfleksikan di tengah-tengah situasi saat ini yang serba tak menentu, beban hidup yang terasa berat akibat krisis global, sehingga tak jarang membuat orang “gelap mata”. Dengan sikap ulet dan pantang menyerah, niscaya segala persoalan bisa dicari solusinya.

Ketiga, kepedulian terhadap sesama. Sepanjang hidupnya, KH. Arief Hasan telah menunjukkan budi pekerti luhur di atas aras peduli terhadap sesama. Sejak nyantri di Tebuireng, KH. Arief Hasan tertempa dengan sikap empati terhadap sesama santri. Sikap ini terus terbawa sehingga hampir seluruh waktunya dipergunakan merealisasikan kepedulian itu. Anakanak yatim disantuni. Masyarakat pun diayomi.

Sikap peduli terhadap sesama ini sudah selayaknya terpatri erat di hati dan dipraktikkan. Di sekeliling kita masih banyak orang-orang yang tertindas dalam berbagai aspeknya, baik sosial, politik, hak asasi, pendidikan maupun ekonomi. Ketertindasan yang bisa jadi akibat kebijakan yang tidak memihak, atau karena faktor kurang beruntung belaka. Mereka butuh “uluran tangan” kita. Sebab, jika bukan kita, lantas siapa lagi yang akan peduli?

Keempat, tentang kebijaksanaan. Sikap bijaksana yang diteladankan KH. Arief Hasan merambah dalam berbagai bidang kehidupan: berkeluarga, bermasyarakat, bahkan berorganisasi. Kebijaksanaan ini pula yang membuatnya begitu dekat dengan berbagai lapisan masyarakat. Dari kebijaksanaan KH. Arief Hasan, kita bisa belajar untuk selalu berhati-hati ketika menempatkan diri dalam kancah pergaulan, senantiasa berbuat dengan penuh perhitungan, dan terus membuka diri terhadap beragam kritik konstruktif demi kematangan berpikir dan kedewasaan bertindak. Dengan cara ini, kita dapat menghayati hidup dengan tulus dan damai.

Selain keempat faktor di atas, kita akan menemukan banyak sekali hal positif setelah membaca halaman demi halaman buku ini. Saiful Amin Ghofur telah merentangkan jembatan yang menghubungkan kita dengan kehidupan KH. Arief Hasan. Sehingga, tidak berlebihan bila sosok KH. Arief Hasan yang direkam buku ini laksana cermin: cermin pangilon dari Beratkulon. ℘
Admin Pada Wednesday, May 31, 2017 Komentar

Sunday, November 17, 2013

Menyongsong Era Kecerdasan Baru: Totalitas Inteligensi

Resensi Buku

KONON, sebab merasa dirinya paling cerdas diantara yang lain, Nabi Musa pernah ditegur Allah dan diperintahkan mencari seseorang yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Sosok yang Tuhan menyebutnya dalam al Qur’an sebagai hamba yang diberi rahmat dan diajari ilmu dari sisi-Nya itu menurut ahli tafsir adalah Khidhir (QS. 18:65).
Dengan berpatokan sebuah tempat yang bernama majma’al bahrain, Musa memulai pencariannya dengan membawa ikan yang tak lagi hidup. Cerita pun bergulir, bagaimana Musa bersikeras mendaftarkan diri menjadi murid, meski sudah dialarm tak akan sanggup. Bagaimana pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari mulut Nabi Musa merespon apa yang dilakukan Khidhir, hingga perpisahan mereka tak terelakkan ketika untuk ketiga kalinya, Musa kembali melanggar janji untuk tidak bertanya atas perilaku Khidhir yang dianggapnya kontroversi.

Demikianlah, Khidhir dalam khasanah islam adalah simbol hikmah yang min ladunna ilma (mendapatkan ilmu dari sisi-Nya). Tiga peristiwa yang dilakukan Khidhir seyogyanya diterjemahkan tersirat, bahwa hidup manusia bukan hanya sekedar “masa kini”, tapi juga harus sanggup memandang “masa depan”, dengan tentu saja berkaca pada “masa silam”. Barangkali, dilatarbelakangi kisah itulah, istilah atau bahkan konsep tentang ilmu laduni disandarkan. Namun sayangnya, banyak orang terjerembab dalam kekeliruan pemahaman ketika mencoba mengakrabi laduni. Bahkan tak jarang, ada yang terjebak pada perilaku musykil ketika berusaha mendapatkannya.

Disinilah, buku yang ditulis Ilung S. Enha ini menemukan urgensinya. Setelah mempopulerkan Kecerdasan Laduni (LQ) melalui Laduni Quotient, Model Kecerdasan Masa Depan (2011), Ilung kembali mewedarkan buah pikirnya melalui LQ, Eleven Pillars of Intelligence. Sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya, buku setebal 270 halaman yang dipengantari oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mendaraskan secara lebih detail sebelas pilar kecerdasan terkait LQ. Pilar kecerdasan yang dimaksud bukan hanya beroperasi di ruang otak (sebagai bagian dari ruang kerja nafs), tapi menyebar di anasir kemanusiaan.
Manusia sebagai masterpeace ciptaan Tuhan sepenuturan Ilung tersusun dari tiga unsur; ruh, nafs, dan jasad. Dari sebelas pilar kecerdasan yang diutarakan, dua diantaranya berada di wilayah ruh, sedangkan sembilan lainnya beredar di ruang nafs. Jasad hanyalah alat untuk mengaplikasikan kecerdasan-kecerdasan ke ruang realitas secara lebih konkret.Yang bermukim di ruang ruh adalah inteligensi “ruh-pusat” (ruhul-amr) dan kecerdasan “ruh-antara” (ruhul-qudus). Sedang yang berkutat di dataran nafs berada di dua tempat; IQ, EQ, dan SQ meruang di otak, dan yang bersemayam di hati adalah aql yang sering disalahpersepsi sebagai fikr, dzauq dan shadr sebagai ruang kreasi dan kesadaran inovasi, kesahajaan fuad, bashirah mata kebenaran yang tak berkabut, dan lubb sebagai pintu masuk kecerdasan ruhaniah. Menariknya, dari pilar-pilar kecerdasan yang dituturkan, Ilung tak hanya mampu merinci dan mendefinisi, tapi juga melakukan rekonstruksi dan memberikan solusi agar setiap pilar kecerdasan bisa berkembang maksimal.

Misalnya saja, ketika proses lelaku menuju kecerdasan laduni ini diupayakan, yang patut diwaspadai adalah adanya dua elemen jiwa berpotensi buruk yang bertubi-tubi menyerang, dengan memengaruhi elemen-elemen kecerdasan yang dimiliki, ialah hawa dan syahwat. Hawa berpotensi merusak sisi internal jiwa, sedangkan syahwat adalah potensi buruk yang merusak sisi eksternal jiwa. Dengan sangat gamblang dituturkan pilar kecerdasan mana sajakah yang paling ringkih, hingga yang paling kuat tak terkalahkan. Dengan demikian, antisipasi bisa segera dilakukan jika nafs benar-benar ingin selamat dari tipu daya hawa dan syahwat.

Jika dibandingkan dengan model kecerdasan yang telah dikenal sebelumnya, sangat tampak bahwa LQ yang diusung Ilung lebih komprehensif karena meletakkan manusia secara utuh. Lazim diketahui, model kecerdasan yang terlanjur dikenali adalah IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). IQ pertama kali dilontarkan oleh Alferd Binet pada awal abad 20. Setelahnya, muncul EQ yang digemakan Daniel Goleman (1995). Ketika hasil penelitian Danah Zohar (Harvard University) dan Ian Marshall (Oxford University) menemukan adanya God Spot (Titik Tuhan) pada otak manusia, lahirlah kemudian model kecerdasan baru yang dikenal dengan kecerdasan spiritual (SQ). Yang patut digarisbawahi, -baik IQ, EQ, maupun SQ, serta qoutient-quotient yang datang sesudahnya- keseluruhanya masih berkumpar di wilayah otak.

Padahal, jika melihat problematika masa depan yang demikian massif dan berjalin-kelindan dari hari kehari, sangat tidak mungkin bisa diselesaikan jika hanya mengandalkan pilar kecerdasan yang berkutat di wilayah otak. Maka, dibutuhkan era baru kecerdasan, berupa totalitas inteligensi. Sebuah kecerdasan baru yang memesrahkan komunikasi antara kecerdasan otak dan inteligensi hati, disambungkan dengan Kecerdasan Ruhaniah. Ruh tak pernah keluar dari rel-Nya, sehingga setiap apapun informasi yang disampaikan adalah kebenaran sejati.

Salah-satu kelebihan buku ini adalah kepiawaian penulis mengemas tiap bahasan dengan bahasanya yang, -meminjam bahasanya pak Muhammad Nuh- “renyah” dan gemulai. Meski kajian yang disuguhkan sesungguhnya tergolong ‘berat’ karena masuk dalam lingkaran tasawuf, di tangan Ilung dihidangkan dengan santai dan ‘membumi’. Tak pelak, wacana tentang laduni yang sebelumnya melangit, rumit dan berbelit-belit, akan segera sirna setelah membaca buku ini.
Sepiring kue ikhtitam disuguhkan, mungkinkah ada semodel generasi yang sanggup menapaki keseluruhan langkah untuk meraih totalitas inteligensi? Tidak ada yang tidak mungkin, kata Ilung. Yang paling harus dilakukan adalah menumbuhkan keyakinan bahwa keMahaluasan-Nya tak sesempit rongga otak. Bahwa keMaharahmananNya akan sanggup mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan yang sangat nyata. Hanya saja, memang dibutuhkan kesabaran berlipat-lipat untuk meniti jalan setapak demi setapak. Sebab jika tidak, sebagaimana Musa, kita akan gagal berguru kepada Khidhir.(*) 

Judul Buku : LQ Eleven Pillars of Intelligence 
Peresensi : Em. Syuhada*)
Penulis : Ilung S. Enha
Penerbit : Kaukaba, Yogjakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2013
Tebal : x + 270 halaman

Rubrik Buku Jawa Pos. Minggu, 16 Nopember 2013

*) Em. Syuhada’, pengeja aksara. Aktif menemani pembelajaran siswa SDN Talunrejo 3 Bluluk Lamongan
Admin Pada Sunday, November 17, 2013 Komentar

Sunday, May 26, 2013

Reformasi PT. Dengkulmu Mlicet

Resensi Buku
Judul Buku : Cinta Sejati Emha Buat Pak Harto
Penulis : ML Nihwan Sumuranje
Penerbit : Kaukaba, Yogjakarta
Cetakan : I, Mei 2013
Tebal : x + 114 halaman
Berbicara tentang reformasi yang bergulir sejak Mei 1998, kita memang tak bisa menghilangkan sosok yang bernama Emha Ainun Nadjib. Sebab, keterlibatan Emha dalam proses reformasi tak bisa dipandang remeh. Masih belum hilang dari ingatan ketika Pak Harto meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998. Di depan kamera TV disaksikan jutaan rakyat Indonesia, Pak Harto menyatakan dalam bahasa ngoko jawatimuran: “Ora dadi presiden ora patheken.” Siapa lagi yang mengajari kalau bukan Emha Ainun Nadjib.
SIAPA tak kenal Emha Ainun Nadjib. Lelaki kelahiran Jombang, yang karib dipanggil Cak Nun itu dikenal sebagai sosok yang multidimensi. Berbagai sebutan disematkan padanya mulai penyair, mubaligh, budayawan, hingga kiai. Bahkan, keterlibatannya dalam banyak hal membuat pria yang pada 27 Mei mendatang genap berusia 60 tahun itu dapat dijumpai di semua tempat dan strata. Boleh jadi, detik ini ia terlibat acara di sebuah hotel berbintang lima, namun siapa sangka sepersekian menit kemudian, ia sudah berada di warung pinggir jalan bersama tukang becak dan kaum termaginalkan lainnya. Maka, tak berlebihan jika Gus Mus menjuluki Emha seperti tertulis dalam sebait puisinya; santri tanpa sarung, haji tanpa peci, kiai tanpa sorban, dai tanpa mimbar, mursyid tanpa tarekat, sarjana tanpa wisuda, guru tanpa sekolahan, aktivis tanpa LSM, pendemo tanpa spanduk, politisi tanpa partai, wakil rakyat tanpa dewan, pemberontak tanpa senjata, ksatria tanpa kuda, saudara tanpa hubungan darah.

Beberapa tahun silam ketika euforia reformasi belum gegap-gempita, suara nyaring Emha dapat dengan mudah didengar melalui tulisan-tulisannya. Emha seperti singa yang aumannya tak hanya membuat bergidik, juga membuat gerah para penguasa. Beberapa kali Emha dilarang tampil, dan pementasannya di beberapa tempat harus dicekal. Bahkan, dalam Padhang Mbulan, - sebuah acara rutin yang digagas di tempat kelahirannya tiap malam bulan purnama – kritik tajam Emha terhadap pemerintah demikian membahana. Tanpa tedeng aling-aling, nama Soeharto, Harmoko, Tutut, dan siapapun saja penguasa yang dikenal represif waktu itu diungkapkan dengan bahasa terang-benderang. Justru ketika Orde Baru tumbang, sikap Emha berubah drastis. Apa sebenarnya yang terjadi? Betulkah Emha kecewa dengan reformasi yang terjadi hingga hari ini?

Memang, ketika reformasi berjalan hingga mencapai angka 15 tahun, situasi yang terjadi sama sekali di luar yang diharapkan. Hari-hari ini dengan kasat mata dapat disaksikan betapa kehidupan pasca-reformasi tidak semakin membaik, justru kian buruk. Banyak ironi terjadi di negeri ini. Pengangguran merajalela, aset negara banyak terjual, kehidupan rakyat jelata kian terengah-engah dengan terus membubungnya harga kebutuhan pokok, dan sebagainya. Bahkan, korupsi yang sebelumnya hanya berpusat pada satu titik, kini melebar hingga ke semua wilayah sampai ke pelosok-pelosok desa. Adakah yang salah dengan proses reformasi?
Melalui buku Cinta Sejati Emha Buat Pak Harto, ML Nihwan Sumuranje mencoba mengurai keadaan itu. Didampingi literatur dari sumber yang terkait secara langsung, beberapa fakta diungkap dengan bahasa yang lugas dan gamblang. Meski secara spesifik judul buku ini adalah cinta Emha kepada Pak Harto, didalamnya banyak ditemukan fakta sejarah lebih luas. Penyebab Pak Harto jatuh misalnya, ketika lensa kamera hanya terfokus pada demo besar-besaran dan kerusuhan yang merebak di berbagai daerah, ternyata dibelakangnya ada campur tangan Amerika Serikat (Hal 1-11). Juga tatkala Orde Reformasi semakin kehilangan arah, diungkap pula ikhtiar Emha untuk kemashlahatan negeri ini. Bagaimana Emha dengan gerakan maiyah-nya berkeliling di banyak tempat, hingga ke mancanegara, untuk keselamatan sebuah negeri yang bernama Indonesia Raya.

Berbicara tentang reformasi yang bergulir sejak Mei 1998, tidak boleh tidak, kita memang tak bisa menghilangkan sosok yang bernama Emha Ainun Nadjib. Sebab, keterlibatan Emha dalam proses reformasi tak bisa dipandang remeh. Masih belum hilang dari ingatan ketika Pak Harto meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998. Di depan kamera TV disaksikan jutaan rakyat Indonesia, Pak Harto menyatakan dalam bahasa ngoko jawatimuran: “Ora dadi presiden ora patheken.” Siapa lagi yang mengajari kalau bukan Emha Ainun Nadjib.

Hal ini bisa dipahami. Sebab, 21 Mei hanyalah muara dari proses yang telah terjadi sebelumnya. 16 Mei 1998, ketika kerusuhan demi kerusuhan semakin tak bisa dikendalikan, Emha dan beberapa tokoh (Nurcholish Madjid, Utomo Dananjaya, Ekky Syahruddin, Fahmi Idris dan beberapa yang lain) mengadakan pertemuan di Hotel Regent, Jakarta. Mereka membuat pernyataan yang intinya meminta Pak Harto mundur. Pernyataan yang diberi judul Khusnul Khatimah itu kemudian dikonfrensi-perskan pada 17 Mei 1998 di Hotel Wisata Internasional, Jakarta. Esoknya, 18 Mei 1998, disampaikan Mensesneg Sa’adilah Mursyid kepada Soeharto. Selang dua jam setelah dipelajari, Sa’adilah dipanggil Soeharto dan menyatakan bersedia mundur. Hanya saja, Pak Harto minta bertemu dengan orang-orang yang menyarankan lengser keprabon secara khusnul khatimah.

Berdasar kesediaan itulah, pada 19 Mei 1998 pukul 09.00 Wib, Emha Ainun Nadjib (dengan bersepatu pinjaman) mendatangi Istana Negara bersama delapan tokoh lain: KH Abdurrahman Wahid, KH Ali Yafie, Prof. Malik Fadjar, Yusril Ihza Mahendra, KH Cholil Baidowi, Sumarsono, Achmad Bagdja dan KH Ma'ruf Amin. Pertemuan selama 2,5 jam itu merundingkan prosedur turun jabatan terbaik bagi Pak Harto dengan meminimalisir gejolak. Ada tiga gagasan diajukan: Soeharto turun, MPR/DPR bubar, dibentuk Komite Reformasi. Komite Reformasi terdiri 45 orang dikenal sebagai reformis progresif, adalah semacam MPR Sementara yang bertugas selama enam bulan. Agenda utamanya mengubah Undang-undang Partai Politik dan Pemilu, serta mempersiapkan dan menyelenggarkan Pemilu.

Sayangnya, meski disetujui Pak Harto, Komite Reformasi justru ditolak oleh sebagian besar kaum reformis, terutama oleh seseorang yang dikenal sebagai tokoh reformasi. Komite Reformasi dianggap sebagai strategi licik Pak Harto yang tetap ingin melanggengkan kekuasaan. Padahal menurut Emha, juga ditegaskan Gus Dur, Pak Harto sudah benar-benar ingin berubah menjelang lengser keprabon. Maka, Cinta Sejati Emha buat Pak Harto sesungguhnya terletak pada kesediaan Emha memandang Pak Harto sebagai manusia. Sebagai manusia, Pak Harto memiliki hak yang sama untuk bertaubat dan memilih khusnul khotimah? Bukankah prasyarat taubat, disamping berjanji setulus hati tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan, juga harus menunaikan segala sesuatu yang memang harus ditunaikan?
Sebagai upaya recovery sejarah, kehadiran buku ini sungguh penting. Apalagi fakta seputar reformasi 1998 yang dibidik buku ini sebelumnya jarang diungkapkan secara adil oleh media massa. Setelah Komite Reformasi gagal dibentuk, yang terjadi kemudian sesuatu yang sebelumnya dikhawatirkan Emha: BJ. Habibie naik menjadi presiden. Pro kontra lantas bermunculan. Reformasi menjadi semakin tidak jelas. Sesudahnya, beragam fitnah kerap dilontarkan kepada tim sembilan, terutama kepada Emha. Emha yang dituduh berkolusi dengan Pak Harto, segala kegiatan Emha dibiayai Cendana, dan sebagainya. Emha hanya tersenyum,”Betul, saya memang diberi perusahaan oleh Cendana. Dari Pak Harto saya mendapatkan PT. Dengkulmu Mlicet. Sedangkan dari Mbak Tutut, perusahaan yang diberikan adalah PT. Udelmu Bodong.”
Semua mata kadung memandang Pak Harto hanya dengan kebencian. Bahwa yang salah hanya satu: ialah Soeharto. Padahal jika melihat kenyataan sesudahnya, bukankah para pialang politik yang bermain di Orde Reformasi sesungguhnya adalah aktor Orde Baru?

Di sebuah hotel menjelang naiknya Habibie menjadi presiden, adegan ketidak-jujuran telah dikonferensi-perskan. Lebih miris, sebuah perbincangan mampir ke telinga Emha dari mulut kaum reformis, yang esoknya akan menjadi menteri,”Kira-kira, ada tidak gaji pensiun bagi mentri yang hanya menjabat selama 6 bulan?” Emha terkesima. Ia sama sekali tak menyangka, reformasi yang didengung-dengungkan ternyata bukan lagi menjadi agenda utama, justru yang menjadi perbincangan adalah pembagian kue kekuasaan dan seputar fasilitas gaji pejabat.

Emha lantas berbalik pulang, memutuskan diri tak lagi terlibat dengan kekuasaan. Ia kemudian berkeliling nusantara menyebarkan shalawat dalam balutan cinta segitiga, bahkan sampai hari ini. Reformasi menurutnya bukan hanya gagal, tapi omong kosong. Sebab, terbukti hari-hari ini bahwa reformasi bukan bagaimana bersama-sama mengubah keadaan menjadi lebih baik. Reformasi adalah bagaimana menjatuhkan Soeharto, untuk kemudian memerankan diri menjadi Soeharto baru, bahkan lebih hebat dan lebih canggih.(*)

*) Em. Syuhada', Jamaah Maiyah. Mengajar di SD Negeri Talunrejo 3, Bluluk, Lamongan.
Admin Pada Sunday, May 26, 2013 2 Komentar

Thursday, April 4, 2013

Sisi Lain Sosok Muhammad SAW

Resensi Buku
Rahasia Kesehatan rasulullah Muhammad SAW
SALAH-SATU manusia terhebat di muka bumi ini, dalam hal menjaga kesehatan yakni Nabi Muhammad. Pasalnya selama hidupnya beliau hanya dua kali mengalami sakit. Padahal letak geografis dataran Jazirah Arab seperti Makkah maupun Madinah memiliki cuaca yang ekstrim.

Tentu saja sebagai pemimpin umat memiliki kesibukan yang luar biasa. Dengan begitu, pantas dijadikan panutan dalam segala hal khususnya menjaga kesehatannya. Sesungguhnya, apa yang menjadi resep beliau sehingga mampu menjaga kesehatanya?

Buku karya Ade Hashman, seorang dokter spesialis anetesi yang peduli pada kesehatan profetik ini, mencoba menguraikan sisi lain dari sosok Muhammad Saw khususnya dalam bidang kesehatan. Menurutnya, dalam diri Muhammad Saw banyak pelajaran yang penting untuk dipetik dan dijadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, Nabi selalu bergosok gigi (bersiwak), menjaga kebersihan dan kesucian. Serta menerapkan pola hidup yang berkualitas.

Salah satu tema buku ini yang menarik yakni, Bab I, Mengenai Kesehatan: Nikmat Ilahi Yang Tidak Ternilai Mahalnya. Menurut Ade Hasman, kesehatan merupakan variabel penting bagi seseorang untuk bisa menjalani dan menikmati hidup. Bahwa  kelezatan duniawi terasa hampa begitu kesehatan sirna. Seperti, menikmati makanan, minuman, tidur, dan beraktifitas lain. Jika tidak ada kesehatan, kearifan dengan sendirinya tidak tercapai, seni tidak akan muncul, kekuatan akan sirna, kekayaan menjadi tidak berguna. Dan kecerdasan tidak akan bisa dipraktikan. (hal, 36)

Ditengah kondisi kehidupan orang modern yang hidup dipenuhi dengan segala kecanggihan teknologi dan informasi serta lebih banyak memberikan orientasi hidupnya pada hal keduniawian belaka ketimbang memikirkan dirinya menjadi manusia banyak manusia yang mudah sakit. Bahkan, pola hidupnya dari mulai bangun tidur hingga menjelang tidur disibukkan dengan dunia eksternalnya. Tak pelak, saat memasuki usia 40 tahun banyak yang berjatuhan secara fisik.

Menjalani pola hidup sehat serta menghindari diri dari pola gaya hidup yang tidak sehat, seperti makan berlebihan dan memperhatikan makanan yang akan dikonsumsi untuk tubuh kita merupakan hal yang amat susah. Padahal dengan gaya hidup yang destruktif (merusak), seseorang sebenarnya telah “menginvestasi” sendiri penyakitnya sejak usia muda. Penting sekiranya memperhatikan aspek kesehatan jasmani dan ruhani. Bukankah, kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang yang sehat, yang juga tidak akan mampu dilihat kecuali orang tersebut yang  jatuh sakit? Orang modern juga banyak yang mengkonsumi obat-obatan termasuk obat untuk perangsang untuk memompa vitalitas secara instan. Kesemuanya itu lambat, tetapi pasti akan menghancurkan bangunan kesehatan.(hal, 40)

Konon, serentetan daftar hitam peradaban modern yang menyumbangkan terjadinya cacat kesehatan masih di perpanjang oleh pencemaran teknologi. Seperti, kini mahalnya air bersih dan udara sehat. Sesungguhnya banyak cara untuk menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan kita sejatinya. Pertama, menggerakan badan, baik dengan menjalankan olahraga secara teratur maupun saat menjalankan ibadah seperti sholat. Pasalnya dengan bergerak selain memperkuat otot juga tidak akan membuat sakit. Kedua, menjaga kebersihan lahir dan bathin, seperti berwudhu. Ketiga, tidur dan istirahat. Sebagaimana terurai dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ”Sesungguhnya badanmu punya hak atasmu.”(hal, 201)

Pakar kesehatan Andrew Weil MD menuturkan kepada kita, bahwa sebagian besar ”suku cadang” tubuh kita dirancang layak pakai, bergaransi atau produktif tidak bermasalah selama 80 tahun asalkan syarat dasar bagi pemeliharaan dan pencegahan ditaati. Sesungguhnya, dengan kesehatan yang Anda miliki dan rasakan segala hal dapat dicapai. Sebagaimana diungkapkan Prof Sayyed Hossein Nasr, pondasi ilmu kedokteran Islam ialah al-Thib al-Nabawy (kedokteran profetik) yang digali dari ucapan, kebiasaan, atau perilaku Nabi Muhammad Saw yang berkaitan dengan kesehatan, kebersihan, pemeliharan badan, dan hubungan antara batin dan tubuh.

Kehadiran buku ini semakin menarik dibaca. Pasalnya pembaca diajak untuk menjaga kesehatan lahir dan batin. Dengan menghadirkan sosok Muhammad Saw untuk dijadikan keteladanan khususnya dalam bidang kesehatan membantu Anda menemukan inspirasi dan keteladanan yang sangat berharga. Serta dalam meningkatkan kualitas dalam kehidupan Anda. Hal ini juga sesuai dengan tujuan kehadiran Islam adalah untuk memelihara agama, akal, jiwa jasmani, harta dan keturunan umat manusia. Selamat membaca!

Judul: Rahasia Kesehatan Rasulullah: Meneladani 
Gaya Hidup Sehat Nabi Muhammad SAW.
Penulis: dr. Ade Hashman
Penerbit:Naura Books
Tahun: 2013 
Tebal: 324 halaman
Harga:Rp. 64.000
Peresensi: Ahmad Faozan, Alumnus PP. Tebuireng Jombang Jatim

sumber : nu.or.id
Admin Pada Thursday, April 04, 2013 Komentar

Tuesday, April 2, 2013

Tidak, Jibril Tidak Pensiun

Resensi Buku
HANYA kualitas sorang Nabi yang sanggup me­nampung wahyu, dan Allah memang hanya berkenan memberikan wahyu kepada beliau-beliau yang terpilih. Sampai akhirnya Muhammad si Pamungkas. Selebihnya hanya ada wahyu kraton: suatu tema drama politik. Maka anak-anak suka bersenda gurau bahwa Jibril sejak abad VII Masehi itu jadi penganggur. Pensiun abadi. Ada yang membantah dengan mengemukakan bahwa Jibril tetap being employed karena para wali atau orang-orang dengan 'radar suci' setingkat mereka tetap menerima karomah, sementara orang-orang biasa kayak kita tetap juga memperoleh ilham. Tidak, kata yang lain. Untuk takaran di bawah wahyu tak diperlukan Jibril. Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil begitu Allah tak memerlukan organisasi birokrasi, tukang-tukang pos atau agen penyalur. Allah bisa cukup bilang Kun (fa-yakuun) untuk ke­pentingan apa pun saja. Alangkah samar pembicaraan semacam ini. Tak ada kerangka metodologi penelitian model manapun yang bisa menyentuhnya. Tak tersedia kredibilitas keilmuan manusia apapun yang mungkin menerobosnya. Apalagi ilmu-ilmu sosial hanya pernah kenal Tuhan sebagai benda abstrak, sebagai suatu syahdan, sebagai kemungkinan obyek yang sungguh asing sifatnya -- sebab segala teori menjadi lawakan tatkala mendekati-Nya.

Satu-satunya jalan disediakan justru oleh berita wahyu itu sendiri. Tetapi ini makin tidak memuaskan manusia modern, yang canggih untuk bercuriga terhadap dogma, yang seolah-olah sengaja membuang kemampuan-kemampuan kejiwaannya yang tertentu yang bisa ia pakai untuk bergaul baik-baik dengan hidayah, dengan petunjuk 'entah dari mana', dengan gudang rahasia keilahian, dengan ketidak-mungkin-tahu-annya sendiri. Ya, manusia modern itu -- yang sombong melebihi Musa menjelang Tursina, yang menyangka bahwa kebenaran dan kepastian adalah miliknya yang ia bisa rancang dan tentukan. Pada saat yang sama, keterbukaan terhadap gerak penghayatan atas wahyu itu amat diperlukan, setidaknya karena manusia telah sampai pada dua gejala yang sama-sama takabbur.

Yang pertama, manusia telah merasa mampu me­nemukan sesuatu, mengadakan yang tak ada, menciptakan sesuatu, dan berkat itu ia menjadi seniman Nobel, doktor akademik atau sarjana kehidupan. Yang kedua berada si ekstrim lain: yang ada hanya Allah, aku ini tak ada. Yang mutlak itu Allah, aku sekedar rekaan. Karya-karyaku, kata-kataku, musikku, lukisanku, tak bisa kusebut dengan ku, sebab mereka adalah kasih karya Allah semata. Jadi, kalau kita membaca karya itu, kita membaca karya Allah. Kalau kita dengarkan ia baca puisi, itu puisi Allah. Kalau kita nonton pameran lukisannya, kita nonton lukisan Allah.

Maka ia mengemukakan kepadaku iman dan konsep mengenai pinjaman ilmu dan harta benda Allah kepada manusia -- sebagai mana ia mengemukakan hal yang sama ketika kutanyakan kepadanya apa omongan Islam tentang falsafah hak milik dan distribusi ekonomi yang dewasa ini amat dicemaskan oleh kaum sosialis-marxis. Itu moralitas Allah. Seandainya saja kita berhasil memiliki suatu pola pendidikan yang memungkinkan terwujudnya iman dan konsep itu dalam diri manusia, maka usaha proyeksi dan sis­temasinya ke dalam organisasi-organisasi kebersamaan manusia tinggal 'sekunder'. Tetapi sejarah telah harus mengandaikan manusia seperti 'maling' yang -- tentu saja tak bisa dipercaya, sehingga harus diciptakan pagar-pagar yang berlebihan. Sistem yang mengatur manusia bersifat substansial, dan manusia berada secara instrumental. Kita adalah gerombolan ayam, memperoleh taburan jagung dari tangan manusia, jago-jago memonopoli taburan itu karena mereka memang 'tak tahu menahu' tentang moralitas tangan manusia yang menaburkan jagung. Perlawanan ayam-ayam lain terhadap jago-jago selalu berupa menyingkirkan atau menumpas jago-jago, atau meng­gantikan kedudukan jago-jago. Demikian 'psikologi perlawanan' yang sejauh ini berlangsung: apirasi terhadap apirasi, ideologi politik terhadap ideologi politik, kelas terhadap kelas, bahkan kaum wanita terhadap kaum lelaki. Sumber kecenderungan ini ialah karena jagung itu dipandang secara a-historis. Tak dipersoal­kan secara tuntas dari mana jagung tertabur, dan apa moralitas esensial yang terkandung di balik taburan jagung itu. Dengan kata lain, orang makin tak kenal kepada jiwa wahyu.

Maka ia mengemukakan kepadaku Jibril tidak pensiun. Wahyu Allah bukan sebuah dongengan purba. Cahaya Allah tak berhenti memancar. Ilmu Tuhan terus menerus berseliweran. Muhammad tidak mati. Sungguh tidak mati. Hanya tubuh beliau yang sudah dikuburkan -- dan tubuh beliau adalah bagian yang paling remeh dari eksistensi kepribadiaannya yang menyuluhi alam semesta manusia. Wahyu yang beliau terima dari Allah pun terus bekerja. Sudah sempurna tapi belum selesai, karena ia akan menemukan kelahiran dan kelahirannya kembali di dalam iman dan kesadaran ummatnya.

" Bahwa pada Muhammad disebut wahyu itu berakhir, artinya ialah jatah ilmu pengetahuan dasar anugerah Allah bagi manusia berpuncak di wadah Muhammad. Segala yang kita sebut prestasi akal, ilmu dan teknologi dahsyat yang dicapai manusia sesudahnya, telah terdapat benih-benihnya dalam al-Quran --meskipun selama ini kita menyebut-nyebut hal itu sekedar untuk hibur-hiburan pasif agar meperoleh ke­percayaan diri sebagai ummat. Allah tidak mengkursus kita bagaimana bikin rantai dan pedal, tetapi kualitas fenomena ken­daraan sepeda telah di­tunjukkan-Nya. Apapun yang kelak digapai oleh ke­cerdasan manusia, tak akan melebihi kapasiatas ke­mungkinan yang telah dinurkan oleh wahyu yang berpuncak di Muhammad. "

Tetapi, barangkali kita, adalah ummat tolol yang bisa menjadi cukup tenang hanya dengan mengemukakan keyakinan itu, tanpa mengerjakannya, dan kemudian -- kata para piawai -- "Kita ketinggalan dua abad" di­banding orang-orang lain yang justru 'acuh tak acuh terhadap Allah'. Mungkin bagi kita Jibril adalah tokoh sejarah pada zaman sebelum Prabu Jayabaya atau candi Boro­budur dibangun. Jibril adalah bayangan patung, arca berjubah, makhluk supra-raksasa yang telapak tangannya seluas 3333 kali galaksi, yang eksistensinya sepurba Dinosaurus. Atau Jibril itu semacam le­lembut. Dan semua itu tidak konkret.

Padahal tidak. Jibril tidak pensiun. Ia begitu karib, di sisi tidur dan jagamu. Namun apabila pengalaman keilahian tidak selalu kita perbaharui, pada suatu hari kita akan sadar seolah-olah kita ini hidup di masa pra-Ibrahim yang menghayati bulan dan matahari untuk menemukan Allahnya.

Emha Ainun Nadjib (PmBNetDok)
Admin Pada Tuesday, April 02, 2013 Komentar

Thursday, March 7, 2013

Merenungi Piwulang Kehidupan

Resensi Buku
Judul : Markesot Bertutur
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : November 2012
Tebal : 471 Halaman

PIWULANG (pelajaran) tentang kehidupan dapat kita temui dimana dan dari siapa saja. Pelajaran tidak hanya sebatas di bangku sekolah (pawiyatan). Namun, terhampar di samudera luas kehidupan.

Salah satu piwulang yang dapat kita renungkan adalah dari buku karya Emha Ainun Nadjib, Markesot Bertutur ini. Buku ini dikemas dengan gaya bertutur sehingga memberikan keasyikan tersendiri bagi pembaca.

Penggerak Kiai Kanjeng ini melalui Markesot and friends (Markemon, Markembloh, Markasan, dan “Mar”-“Mar” yang lain) yang tergabung dalam KPMb (Konsorsium Para Mbambung), mencoba menciptakan obrolan-obrolan bernas dan cerdas tentang permasalahan kekinian. Melalui metode obrolan, permasalahan yang rumit (seperti soal nilai-nilai agama) atau yang bertensi tinggi (seperti soal demokrasi-politik) dapat diurai sedemikian rupa menjadi persoalan yang dengan mudah dapat dicerna oleh orang-orang awam sekalipun. Hal ini karena, dalam setiap tulisan dibalut oleh canda (guyonan) yang segar serta logika orang-orang mbambung.

Mbambung berarti manusia jalanan atau manusia yang menggelandang tak tentu arah. Dalam konteks buku ini mbambung dapat dimaknai manusia yang terpinggirkan atau dipinggirkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu atau manusia yang tidak masuk hitungan dan tidak digubris oleh lingkungannya.

Dalam catatan “Pohon Pionir” (halaman 317-322) dan “Markesot Diintegorasi” (halaman 410-415) secara gamblang penulis menjelaskan siapa sebenarnya para mbambung itu—baik yang asli maupun yang tidak asli.

Tampaknya penulis menggunakan istilah mbambung ini sekadar untuk menunjukkan bahwa dia perlu ruang gerak yang tidak formal dan cukup bebas untuk—suatu saat—menyalahi konvensi atau hal-hal yang sudah mapan. Dari sosok mbambung inilah, seluruh obrolan yang terkumpul dalam buku ini diikat secara utuh dan menyeluruh.

Hidup ini sangat luas dan dimensi-dimensi persoalannya tak terhingga. Untuk itu, diperlukan bukan sekadar wawasan yang luas dan pengetahuan yang terus dicari, melainkan juga kearifan dan sikap luhur yang konsisten dari hari ke hari.

Kearifan dan sikap luhur inilah yang diajarkan oleh Budayawan kelahiran Jombang 27 Mei 1953 ini. Kearifan dalam memahami sebuah realitas sosial akan mengantarkan kita pada sikap luhur. Sebuah sikap menghayati dan nglakoni sikap membela nilai dan kelompok manusia yang harus dibela. Karena pada dasarnya tak ada “orang besar” dan “orang kecil” dalam takaran pemilikan ekonomi atau perbedaan status sosial budaya. Kecil dan besar hanya terjadi pada kualitas pribadi. Sebuah piwulang kehidupan yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. []

Peresensi : Benni Setiawan
Admin Pada Thursday, March 07, 2013 1 Komentar

Thursday, February 28, 2013

Change Your Soul, Change Your Life!

Resensi Buku
Cover Buku Laduni Ilung S Enha
TAK sedikit yang bilang, kecerdasan laduni sukar dicari. Alih-alih demikian, dalam terminologi klasik ditegaskan bahwa kecerdasan laduni adalah ilmu pemberian Tuhan yang diperoleh tanpa melalui proses belajar. Konsepsi ini lantas menafikan piranti metodologis kecerdasan, sehingga tak jarang mendorong timbulnya perilaku irasional, mistis, atawa klenik.

Sejumlah literatur kontemporer pun acapkali menopang konsepsi tersebut. Taruhlah contoh, Aktivasi Ilmu Laduni (Ilmu Ajaib Cerdas Seketika, Cara Pintar Tanpa Bekerja Keras) yang ditelorkan Rizem Aizid. Karya Rizem tak beranjak dari pembahasan normatif-doktrinal. Ia sekadar merajut serpih-serpih pemikiran tradisionalis hatta susah ditemukan unsur kebaruan.

Berbeda halnya bila menilik buku Laduni Quotient. Buah pena Ilung S. Enha ini hendak membongkar mistisme ilmu laduni. Laduni Quotient (LQ) sesungguhnya merupakan kecerdasan pemikiran yang bersifat ruhaniah. LQ tak datang dengan tiba-tiba. Dan, Ilung dengan trengginas membabar segugus piranti metodologis dalam upaya pencapaian LQ.

Kinerja LQ tak saja memerlukan optimalisasi dari potensi otak, melainkan pula dengan mendayagunakan akal, melipatgandakan potensi hati, hingga merambah ke wilayah ruh-ruhaniah. Itulah sebabnya, kecer­dasan laduni tak mungkin tumbuh hanya dengan meng­gu­nakan potensi berpikir, namun juga dengan mendayagunakan potensi berzikir. Dengan menggabungkan kedua potensi itu serta dipadukan dengan getaran wirid dan kebeningan doa kecerdasan laduni akan tumbuh pada jiwa seseorang.

Bila dikaitkan dengan konsepsi kecerdasan yang selama ini telah diakrabi semisal Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Emotional Spiritual Quotient (ESQ), Laduni Quotient (LQ) yang didedahkan Ilung mengisi celah-celah kekosongan paradigmatik-eksistensial yang ditanggalkan.

Konsepsi kecerdasan itu masih mengabaikan ruang ruhani dengan segala perangkatnya (dzauq, aql, shadr, fu’âd, qalb, bashîrah, dan lubb) yang beroperasi di wilayah hati. Karena itu, takkan sanggup mengungkap kebenaran realitas dengan se­benar-benarnya dan seterang-terangnya. Apalagi arus globalisasi dan teknologi informasi yang terus bergelombang acapkali menciptakan pusaran persoalan yang pelik. Tak jarang manusia tiba-tiba tergeragap. Menyadari betapa akal buntu berpikir dan bebal. Emosi pun liar serupa daun kering yang mudah terbakar. Sampai-sampai terombang-ambing di tengah ketidakpastian.

Fenomena ini sering menghantui masyarakat modern di tengah realitas serba-tak-terduga (hiperrealitas). Potensi kecerdasan IQ, EQ, SQ, dan ESQ tak mampu lagi menjadi sandaran. Untuk itu, dibutuh­kan sebuah logika yang lebih luas dan lebih dalam dari itu. Dan, pada ruang inilah karya monumental Ilung S. Enha menemukan signifikansinya. Dengan gemulai, Ilung menabalkan konsep Laduni Quotient (LQ). Sebab, logika laduni merupakan pengejawantahan dari kecerdasan ruhaniah yang merupakan puncak akumu­lasi dari logika rasional, logika intuitif, dan logika spiritual.

LQ mengusung misi memadukan perangkat kecerdasan otak dan perangkat kecerdasan hati, untuk kemudian dihu­bung­kan ke pusat atmosfir energi ruh. Sebab, untuk dapat mem­fungsi­kan LQ dibutuhkan energi yang sangat besar. Sedangkan energi yang berkumpar di dalam hati, masih kurang mencukupi. Apalagi sekadar energi yang terkandung di dalam otak manusia.

Di ruang pusat atmosfir energi ruh terkandung segala bentuk energi yang dibutuhkan bagi keberlangsungan hidup ma­nusia dan guna mempercepat proses kecerdasan. Tak hanya ener­gi kecerdasan yang tersimpan di sana, melainkan juga ener­gi kesadaran, energi kekuatan, energi kecermatan, energi perce­pat­an, energi kesabaran, energi keikhlasan, energi gerak yang tiada kenal putus asa, energi niat dan kesungguhan, energi ino­vasi, energi hening dan kebeningan, serta sederet energi-energi lain yang bisa diurai sendiri.

Buku ini akan membuka cakrawala baru mengenai kecerdasan laduni. Dengan piawai, Ilung menyusuri kanal-kanal hampa yang dilalui IQ, EQ, SQ, dan ESQ. Wacana kecerdasan laduni tidak sekadar dihamparkan, akan tetapi dikaji dengan kritis untuk direkonstruksi, sehingga kesan kecerdasan laduni yang rumit dan berbelit-belit segera tumbang. Inilah kontribusi Ilung yang laik diapresiasi. Di tangan Ilung, kecerdasan laduni yang dianggap sebagian orang sebagai sesuatu yang berat menjadi ringan dan begitu santai dipahami.

Maka, tepatlah sekira Jalaluddin Rakhmat dalam sepercik sambutan menegaskan bahwa neuroscience selama puluhan tahun melacak asal usul jiwa pada otak – pada materi yang bisa diamati dan karena itu bisa diukur. Semboyan mereka ialah Change your brain, Change your mind. Penelitian mutakhir membawa neuroscience kepada arah baru: Change your mind, change your brain. Dengan mengubah pikiran, Anda dapat mengubah struktur otak Anda, memangkas atau melahirkan neuron-neuron baru. Di balik pikiran ada jiwa. Ilung S. Enha telah mencoba masuk ke arah baru ini. Ia mengajak Anda untuk mengubah jiwa Anda dan akhirnya mengubah hidup Anda. Change your soul, Change your life! []

Judul Buku : Laduni Quotient (Model Kecerdasan Masa Depan)
Penulis : Ilung S. Enha
Penerbit : Kaukaba, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Juni 2011
Tebal : 192 halaman
Peresensi : Saiful Amin Ghofur
Admin Pada Thursday, February 28, 2013 Komentar

Sunday, February 10, 2013

MENGOPTIMALKAN KECERDASAN ANAK

Resensi Buku
Judul Buku : Panduan Praktis Mendidik Anak Cerdas Intelektual & Emosional
Penulis : Widian Nur Indriyani
Penerbit : Logung Pustaka, Yogjakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 232 halaman
Peresensi : Em. Syuhada’ *)

SETIAP orang pasti menginginkan memiliki anak yang cerdas dan berhasil dalam kehidupan. Kecerdasan yang dimaksud tentu bukan hanya kecerdasan intelektual semata, namun kecerdasan yang menyangkut seluruh aspek kemanusiaan. Anak adalah permata kehidupan yang segala harapan terpanggul di pundaknya. Ibarat pelita, kehadirannya mampu memantulkan cahaya. Karena anaklah, orang tua rela melakukan apa saja agar si anak berhasil dalam kehidupan.

Namun, untuk mendapatkan anak yang cerdas dan berhasil ternyata bukanlah perkara mudah. Ada banyak hal yang harus dilalui, supaya anak sukses dan berhasil. Dalam pemahaman Islam, eksistensi anak adalah fitrah. Di tangan orang tua-lah hitam putih kehidupan anak ditentukan. Maka sangat tidak dibenarkan jika dalam mengawal tumbuh-kembang seorang anak, orang tua hanya memperhatikan kebutuhan fisik semata, dengan mengabaikan sisi-sisi kemanusiaan lainnya. Orang tua harus memperhatikan seluruh kebutuhan anak, supaya anak bisa menjadi manusia seutuhnya yang sukses menapaki kehidupan.

Buku bertajuk Panduan Praktis Mendidik Anak Cerdas Intelektual & Emosional ini begitu apik dalam menjelaskan hal tersebut. Widian Nur Indriyani, sang penulis tak hanya memberikan kiat bagaimana mendidik anak cerdas. Namun segala permasalahan yang menyangkut anak dijelaskan dalam buku ini. Menurutnya, bekal kecerdasan supaya anak berhasil dalam kehidupan ternyata tak bisa sepenuhnya mengandalkan pada sekolah. Sebab, cerdas secara akademik saja tak menjadi jaminan bahwa anak akan berhasil dalam kehidupan. Bill Gates, Albert Einstein, Sir Isaac Newton, Thomas Alva Edison, adalah sederetan nama orang-orang besar dalam sejarah. Tapi siapa sangka bahwa mereka adalah “orang-orang bodoh” ketika masih kanak-kanak dan dianggap sangat tidak berhasil dalam dunia sekolah.

Lantas, apa sebenarnya kunci utama agar anak berhasil dalam kehidupan? Menurut Widian, ada sembilan jenis kecerdasan, atau yang lebih dikenal dengan istilah Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence). Yang harus dilakukan orang tua adalah menemukan dan melatih agar tiap-tiap kecerdasan itu berkembang secara optimal. Kecerdasan yang dimaksud meliputi Cerdas Bahasa (cerdas dalam mengolah kata), Cerdas Gambar (memiliki imajinasi tinggi), Cerdas Musik (peka terhadap suara dan irama), Cerdas Tubuh (terampil dalam mengolah tubuh dan gerak), Cerdas Matematika dan Logika (cerdas dalam sains dan berhitung), Cerdas Sosial (kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain), Cerdas Diri (menyadari kekuatan dan kelemahan diri), Cerdas Alam (peka terhadap alam sekitar), dan Cerdas Spiritual (menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta). Memang sangat jarang ada manusia yang memiliki kecerdasan yang tinggi di semua bidang. Namun kenyataannya, manusia bisa benar-benar sukses jika ia memiliki kombinasi 4 atau 5 kecerdasan yang menonjol. (hal. 68)

Lebih jauh Widian mengemukakan, ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak, yakni faktor keturunan (bawaan, genetik) dan faktor lingkungan, yang terkait satu sama lain. Meskipun secara genetik seorang anak memiliki kecerdasan karena turunan orang tua, namun jika lingkungan keluarga dan sosial sama sekali tidak mendukung, maka potensi kecerdasan anak tidak akan berkembang secara optimal. Maka peran orang tua sesungguhnya yang terpenting adalah mengawal secara terus-menerus tumbuh-kembang anak dengan memenuhi seluruh kebutuhan pokok yang meliputi kebutuhan fisik-biologis, kebutuhan emosi-kasih sayang, dan stimulasi dini. Hal tersebut diberikan ketika anak masih berbentuk janin, dan terutama ketika anak melewati masa-masa keemasan (Golden Age).

Apa yang dipaparkan Widian dalam buku ini sungguh sayang jika dilewatkan oleh para orang tua. Sebab, segala bentuk permasalahan anak dituturkan tak hanya menyangkut masalah psikis, namun juga fisik-biologis. Tentang bagaimana caranya menangani anak yang sulit makan, anak sembelit, kolik pada bayi, mengatasi anak pemalu, menangani anak fobia sekolah, dan sebagainya. Semuanya dituturkan dengan bahasa praktis sehingga mudah dipraktekkan oleh para orang tua. Namun sayangnya, jenis kecerdasan terakhir berupa cerdas spiritual sama sekali tak disinggung dalam buku ini. Padahal, kecerdasan tersebut bukan hanya penting, bahkan sesuatu yang “wajib”, karena menyangkut hubungan manusia dengan pencipta-Nya.

Terkait hal tersebut, Emha Ainun Nadjib (2001) pernah bertutur mengenai kecerdasan spiritual. Bagi Emha, manusia boleh menyandang predikat budaya apapun dalam kehidupan, namun yang terpenting adalah bagaimana ia bisa lulus “menjadi” manusia. Kurikulum dasar pendidikan anak menurutnya ada dua macam, ialah ketakjuban dan tanggung jawab kepada Allah. Sesempat-sempatnya orang tua menumbuh-kembangkan dua potensialitas rohaniah dan intelektual tersebut. Setiap kali berkomunikasi dengan anak, diusahakan agar mengarahkannya pada dua hal itu. Anak melihat air, diajak menemukan asal muasal dan manfaat air, sehingga ia takjub kepada Allah. Anak melihat pagi hari, embun yang jatuh, cacing menembus bumi, menatap, mendengar, dan mengalami apapun saja dalam kehidupan selalu diajak mencenderungkannya pada kesadaran ketuhanan.

Pada titik yang sama, secara dini anak juga dilatih bertanggung jawab. Bahwa segala yang tersebar di alam semesta ini adalah milik-Nya semata. Yang harus dilakukan orang tua adalah membangun kesadaran pada jiwa anak, bahwa ia tak berhak menentukan apa yang harus dan tak boleh dilakukan. Satu-satunya jalan adalah mendengarkan kata si Pemilik Kehidupan. Maka tak ada kemungkinan lain bagi manusia selain harus taat kepada-Nya. Insya Allah, jika kedua hal itu telah tertanam dalam sanubari anak, kelak jika ia dewasa dan melakukan apapun saja dalam kehidupan, semata-mata sedang menjalankan kegembiraan bertanggung jawab pada pencipta-Nya. Bukan lantaran taat pada kita, atau takut pada polisi atau negara.

Terlepas dari kekurangan buku ini, kehadirannya sungguh penting, terutama bagi siapa saja yang menginginkan menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anaknya. Dengan membaca buku ini, setidaknya kita akan mengerti bahwa menjadi orang tua ternyata bukan persoalan gampang. Tapi percayalah, dengan totalitas menjalankan amanah, kebahagiaan itu akan segera menyeruak jika kelak berkat kepengasuhan kita, anak-anak kita benar-benar menjadi permata dalam kehidupan. Semoga.***
Admin Pada Sunday, February 10, 2013 Komentar

Sunday, January 27, 2013

Hidup Sehat ala Saridin, Mati Serius ala Madura

Resensi Buku
Judul Buku: Folklore Madura;
Penulis: Emha Ainun Nadjib;
Penerbit: Progress, Yogyakarta;
Cetakan: Pertama, Agustus 2005;
Tebal: xii+151 halaman.

SUNGGUH pas rasanya bila judul buku Cak Nun ini menggunakan istilah Folklore. Pasalnya, seperti kata Oxford Dictionary, folklore mengandung arti keyakinan atau kisah-kisah lama (tradisional) mengenai rakyat, sekaligus juga bisa dimengerti sebagai studi atas kisah atau keyakinan rakyat itu sendiri. Rakyat di sini bisa suku, masyarakat, atau penduduk suatu wilayah dengan ragam budayanya sendiri. Membaca buku setebal 151 halaman yang terpilah ke dalam kurang lebih 27 judul cerita ini memang lebih terasa sebagai sebuah tamasya kultural melalui tokoh-tokoh yang ditampilkan Cak Nun. Di tangan Cak Nun, cerita-cerita parodis, satiris, dan is-is lainnya, dihadirkan dengan penuh tafsir dan makna. Ideas atau ide-ide di balik cerita itu bisa dicerap dengan mudah dan tak bertele-tele. Dengan begitu, buku ini tak sebatas kompilasi cerita yang memaksa kita tersenyum pahit atau, sebaliknya, tertawa terkekeh-kekeh.

Simak saja misalnya Saridin, salah satu tokoh utama buku ini. Kisah-kisah Saridin justru menyodorkan nilai-nilai religius yang amat dalam. Saridin, si santri Sunan Kudus, yang tak bisa membaca syahadat, tetapi hanya bisa bersyahadat dengan cara menjatuhkan diri dari ujung tertinggi pohon kelapa dan sesudah tiba di bumi tak cuil sedikit pun anggota badannya, adalah pelajaran penting tentang bagaimana seyogyanya kita menghayati religiusitas atau hubungan dengan Tuhan. Uniknya, kisah-kisah Saridin ini malahan menempati hampir separuh halaman buku ini (66 halaman), di bagian awal lagi!. Seolah urutan buku ini hendak berujar kepada kita, “Sebelum Anda tersenyum dan tertawa, simak dulu kedalaman dan filosofi Saridin ini, supaya senyum atau tawa Anda tidak salah posisi! (Wallahu wa Saridin ya’lam). Baru setelah kisah Saridin usai, mulailah buku ini mengajak masuk ke dunia Gus Dur, Mohammad Sobary, Pak Profesor, dan Amang Rahman, serta puncaknya folklore Madura.

Dalam episode-episode Saridin, kita bisa menemukan kalimat-kalimat atau kata-kata kunci yang menggambarkan wawasan spiritual yang dikuakkan oleh Cak Nun di balik cerita Saridin. Misalnya dialog Saridin dengan Sang Sunan. Kata Saridin dalam menanggapi Sang Sunan yang mencemaskan orang-orang bakal memanggil Saridin dengan panggilan bunglon, “Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka adalah dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau Allah memang memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab diriku bukanlah bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepada-Nya.” Atau dialog lainnya tatkala saridin kehilangan istri dan anaknya, “…Kamu melihatku persis seperti Tuhan memandangku: aku adalah orang bumi, khalifatullah fil ardl”, berkata sang Sunan, Maka sekarang kenapa kau yakin bahwa anakmu itu adalah anakmu? Bukankah ia sekadar seseorang yang dilewatkan kamu, sebagaimana orang lain dilahirkan lewat bapak dan ibunya? Maka bukankah di mata Tuhan semua anak adalah sama saja?

Jadi sekarang berbaiklah dan bersantunlah kepada anak siapapun yang kau jumpai. Maka anak yang kau anggap anakmu itu pun akan memperoleh perlakuan yang sama dari orang yang mengasuhnya. Jadi kenapa kau menangis, tolol?”. Penggalan dialog di atas dengan tegas memperlihatkan bagaimana sang penulis menafsirkan folklore Saridin. Sebuah tafsir sufistik atas Saridin. Sosok yang bisa dibilang the other di tengah kecenderungan keberagamaan publik yang kurang memasuki dimensi kedalaman agama itu sendiri. Saridin adalah sosok yang mengejawantahkan kausalitas ilahiah yang tak banyak dipahami dan diamalkan orang. Jadi, saridin adalah sebuah interupsi yang harus kita dengar dan perhatikan.

***
Adapun folklore Madura, seperti kita tahu, lebih mencerminkan sikap budaya, resistensi politik, gaya hidup, pola dan muatan komunikasi khas orang Madura yang lugas, simpel, mengena, dan bersahaja. Di bagian ini, sebanyak 13 judul tulisan, banyak kita jumpai humor-humor atau anekdot ala Madura. Yang paling populer, misalnya, pesan seorang Madura pada anaknya yang menuntut ilmu atau merantau: “kalau cari suami, Nak, hati-hati. Carilah yang Islam, minimum Muhammadiyah…”. (hal. 114). Boleh jadi ini ungkapan yang bisa “menyakitkan”, tetapi bagi Cak Nun justru tidak demikian. Itu sebuah kemajuan, katanya. Sebab, bila kita memahami kultur beragama orang Madura, segera kita ketahui bahwa lingkungan NU yang kuat telah menginternalkan kesadaran bahwa Islam itu identik dengan NU, begitu pula sebaliknya. Tetapi, bukankah gejala yang sama juga acap kali kita alami tanpa sadar (atau dengan sadar!)?. Kita mengekslusikan kelompok lain karena memiliki ketidaksamaan dengan apa yang kita punya. Lantaran sedikit berbeda keyakinan atau pemahaman, sebuah kelompok kita singkirkan dari suatu identitas besar yang misalnya bernama Islam. Dan, kita tahu hari-hari ini, persoalan semacam ini menyeruak dengan hangat. MUI mengeluarkan fatwa tentang sesatnya Ahmadiyah. MUI menuntut agar Ahmadiyah tidak dianggap dan tidak menganggap dirinya sebagai bagian dari Islam. Ahmadiyah boleh ada, asal tidak menyebut dirinya Islam. Maka, seperti ulas Cak Nun, anekdot tentang orang Madura ini yang “meminimunkan” Muhammadiyah justru memperlihatkan gejala sebaliknya: kemajuan dan keberanian untuk menerima (tidak sama dengan membenarkan keyakinan) kehadiran kelompok lain.

Masih ada bejibun anekdot lain yang disuguhkan Cak Nun di dalam buku ini menyangkut detail-detail komunikasi orang Madura tatkala menyampaikan gagasan. Sebuah pola komunikasi yang menunjukkan ulet dan kuatnya psikologi orang Madura (setidaknya yang ditampilkan di sini) dalam menghadapi dan menyiasati hidup. Ada dimensi keseriusan (Play=Mainan Boy=Anak-anak) , ada dimensi humoris (Buang Sial ke Singapura), ada dimensi ilmu meringankan hidup (Gitu Saja Kok Ribut), ada dimensi resistensi budaya politik (RT Spontanitas RW Alamiah), bahkan ada ilmu seksologi anti kemapanan (Doh-Adoh,…Anak Ini!).

Walhasil, (cerita ini tidak termaktub di buku ini) suatu ketika sekelompok pemuda yang tergabung dalam suatu laskar muda NU sedang dilatih baris-berbaris oleh petugas dari Koramil. Setiap instruksi dari Koramil—mulai siap grak! Hormat grak!, istirahat di tempat grak!, sampai setengah lencang kanan grak!—diikuti dan dipatuhi dengan baik oleh laskar pemuda ini. Hanya ada satu yang tidak dipatuhi. Yaitu, ketika acara latihan akan usai. Setelah memberi aba-aba siap grak!, istirahat di tempat grak!, dan akhirnya petugas Koramil mengeluarkan aba-aba, “bubar barisan, grak!,” namun, ternyata laskar pemuda itu tetap pada posisinya, tak satu pun yang coba membubarkan diri. Sang petugas bingung. Ada apa ini kok tidak bubar. Belum sempat terpahami olehnya, salah seorang di antara pemuda itu berteriak lantang, “allahumma shalli ala muhammad!!!”. Kemudian, satu persatu bubarlah barisan. Rupanya pemuda yang meneriakkan sahalawat itu biasa mengikuti acara tahlilan atau kondangan/kenduren yang sudah menjadi tradisinya bahwa untuk mengakhiri acara itu dengan mengumandangkan shalawat. Jadi, dia paham bagaimana membubarkan suatu majelis. Jadi, jelas pula bahwa Pak Koramil yang jarang ikut pengajian, tahlilan, kenderun, dan lain seterusnya. Apakah ini terjadi di Madura dan apakah pemuda tadi itu Saridin? Wallahu a’lam bishhawab. Selamat membaca![]


Yogyakarta, 17 Agustus 2005
Helmi Mustofa
Admin Pada Sunday, January 27, 2013 Komentar

Wednesday, January 23, 2013

Guru Profesional Pembina Moral

Resensi Buku

Guru Profesional Pembina Moral
MENJADI guru itu gampang-gampang susah. Mengampu pelajaran tertentu yang telah ditekuni sekian lama dan terus berulang tentu bukanlah pekerjaan sulit. Namun menghadapi murid yang selalu berganti tiap tahun, memiliki karakter berbeda, dan tingkat penyerapan terhadap materi pelajaran yang tak sama, pasti membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi.
Guru yang tak sabar dan kurang telaten akan terkurung oleh frustasi. Profesi mulia sebagai guru terasa sebagai sebuah beban yang terus menghimpit. Bisa-bisa guru menjadi stres. Padahal guru dalam berbagai sisi menjadi ukuran nilai yang darinya murid bercermin untuk merangkai makna keteladanan. Kesadaran terhadap tugas ganda tersebut, mengajar dan cermin keteladanan, belum sepenuhnya mengendap dalam kepribadian guru kebanyakan.

Buku ini hadir dalam konteks yang tepat. Kajian buku ini dinarasikan untuk mengembalikan kesadaran guru agar mampu memainkan peran ganda tersebut secara seimbang. Ditulis oleh Supriyono berdasar pengalaman suka-duka menjadi guru selama belasan tahun membuat narasi buku ini amat mengharukan, tapi juga tak menanggalkan nilai-nilai reflektif. Buku ini patut dibaca oleh kalangan pendidik agar menjadi guru yang dicintai sekaligus disegani.

Judul: Guru Profesional Pembina Moral
Penulis: Supriyono
Penerbit: Kaukaba, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Oktober 2011
Tebal: 156 halaman
ISBN: 978-979-18863-4-5
Harga:
Rp. 25.000
Eshopping Discon 20% (Rp. 20.000)
Admin Pada Wednesday, January 23, 2013 Komentar

Monday, January 21, 2013

Kesadaran Mengambil Jarak

Resensi Buku
Judul Buku : KOMPENSASI
Penulis : A. Mustofa Bisri
Penyunting : SH Sadewo, R. Wijaya
Penerbit : MataAir Publishing, Surabaya
Cetakan : I, Desember 2006
Tebal : vi + 230 halama
Peresensi : Em. Syuhada' 
SALAH SATU persoalan penting yang harus disadari manusia ketika menjalani kehidupan di muka bumi adalah kesadaran mengambil jarak atas semua peristiwa yang terjadi. Kesadaran ini mutlak diperlukan, karena dari waktu ke waktu, peristiwa demi peristiwa tak henti menyapa kehidupan manusia. Selama kehidupan ada, selama itu pula peristiwa akan mewarnai kehidupan. Bahkan ketika kehidupan mencapai garis akhir berupa hancurnya alam semesta, yang lahir kemudian adalah peristiwa baru dengan formulasi berbeda dengan yang pernah dialami manusia sebelumnya.

Keniscayaan bersentuhan dengan peristiwa, seyogyanya dihadapi manusia dengan tindakan nyata, yakni secara kontinyu menciptakan jarak antara diri dengan peristiwa supaya tidak kehilangan kejernihan cara pandang. Ibarat melihat benda, dibutuhkan jarak pandang yang memadai agar benda dapat terlihat dengan jelas. Ketika manusia sama sekali tak berjarak dan cenderung terseret dengan peristiwa, yang terjadi adalah tumpulnya kepekaan jiwa, munculnya realitas yang absurd, bahkan pada skala tertentu manusia akan menuai dampak yang lebih ekstrem berupa kebebalan cara berfikir ( Zaituna, 1999 ).

Tulisan-tulisan KH. A. Musthofa Bisri yang terkumpul dalam buku ini mencerminkan sikap seorang manusia yang tak pernah bosan melakukan penjarakan. Sebagai seorang kyai yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, Gus Mus – demikian ia kerap dipanggil – memiliki kemungkinan terlibat dengan peristiwa besar maupun kecil dalam kehidupan. Saat menjadi bagian dari sebuah peristiwa, dimana dia terlibat secara langsung dan menjadi pusat persoalan, tidak serta merta membuat Gus Mus kehilangan jarak. Ia tetap mampu bersikap kritis dengan membuang jauh-jauh rasa subyektif-emosionil.

Sebaliknya, ketika pengasuh PP. Raudlatut Thalibin Rembang ini berposisi sebagai penonton dari peristiwa besar yang berjalin-kelindan dalam tatanan kehidupan sosial politik, baik yang menyangkut negara, masyarakat, atau bahkan peristiwa global yang melampaui sekat geografis, Gus Mus mampu menjadi penonton yang apresiatif. Artinya, dari jarak tertentu dia memotret peristiwa itu dengan memakai kaca pandang universal sebagai seorang manusia yang tidak tersekat oleh bingkai kehidupan jenis apapun. Disinilah kelebihan Gus Mus. Ketika sebagian orang sering terjebak oleh subyektifitas cara berfikir, ia tetap mampu obyektif dengan meletakkan permasalahan sesuai dengan konteksnya.

Tulisan berumbul Salah Anggapan ( hal. 79 ) sangat menggambarkan transendental Gus Mus. Ketika didesak untuk mencalonkan diri menjadi anggota DPD pada pemilu langsung beberapa tahun lalu, tidak begitu saja dia terhanyut dengan desakan-desakan itu. Beliau justru menciptakan jarak dengan mempertanyakan kapabilitasnya menjadi anggota DPD. Hal ini dapat dimengerti, sebab DPD adalah makhluk yang sama sekali asing baginya. Bagi Gus Mus, setiap tugas yang dibebankan kepadanya harus berkorelasi dengan kemampuan dirinya. Terbukti, ketika mengetahui secara detail tugas-tugas DPD, dan ia merasa tak mampu, Gus Mus akhirnya mengundurkan diri dari bursa pencalonan.

Senada dengan hal tersebut, waktu banyak sekali tokoh yang mendesaknya – dan bahkan Gus Dur sendiri – agar Gus Mus bersedia menjadi Ketua Umum PKB saat muktamar pertama kali di Surabaya, atau ketika didorong-dorong sebagai kandidat pada pencalonan Ketua PBNU saat Muktamar NU di Lirboyo dan Donohudan beberapa waktu silam, Gus Mus tetap mengedepankan sikap pengambilan jarak semacam itu. Dengan berpedoman pada hadits nabi – Jika suatu urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, tunggulah saat kiamatnya – Gus Mus akhirnya menolak dengan alasan yang sama. Ia sama sekali tak peduli, meski di NU ia lantas dituduh sebagai orang yang hanya bisa mengkritik, namun lari ketika diserahi tanggung jawab.

Menarik untuk dicermati adalah alasan Gus Mus yang selalu merasa tak mampu ketika didaulat menjadi pemimpin dalam skala keumatan. Apakah hal itu benar secara realitas. Ataukah sebatas retorika sebagai wujud kerendah-hatian seorang kyai yang sadar akan keterbatasan. Namun pengakuan itu sungguh menyentil realitas yang berkembang. Bukankah banyak kyai yang justru berbondong-bondong hengkang dari maqam asalnya berda’wah di jalur kultural, dengan memasuki wilayah politik praktis tanpa mempertimbangkan bahwa wilayah itu adalah wilayah abu-abu ( grey area ) yang kebanyakan mereka tergolong awam?

Membaca tulisan Gus Mus dalam buku ini, kita akan menemukan sisi-sisi lain dari seorang Gus Mus. Ada sisi kemerdekaan. Simak misalnya Golkar & PKB ( hlm. 20 ), betapa enjoynya Gus Mus mengkritik PKB yang menurutnya tidak jauh berbeda dengan Golkar. Bukankah kritikan itu mencerminkan “kemerdekaan” Gus Mus yang mampu melawan arus ditengah fanatisme buta yang kerap melanda warga NU. Tersirat juga keprihatinan, atau bahkan rasa muak ketika menyaksikan ulah wakil rakyat atau elite politik negeri ini yang kebijakannya tak pernah menyentuh kepentingan rakyat ( Si Cebol dan Si Jangkung, hlm. 32 ). Juga kejengkelan yang membuncah, tatkala menyaksikan kemunafikan negara-negara adidaya semacam Amerika atau Israel yang terus menancapkan hegemoninya di negara-negara berkembang ( Kekejaman Israel dan Semangat Jihad, hlm. 70 ).

Sebagai kumpulan tulisan, wajar jika buku setebal 230 halaman ini menghadirkan wajah beragam. Namun setidaknya, SH Sadewo dan R. Wijaya sebagai penyunting berusaha mengumpulkan keberagaman itu dalam enam buah sub judul sesuai dengan karakter masing-masing tulisan. Ada Fenomena, yang memuat 25 tulisan. Keyakinan, berisi 2 tulisan. Dakwah dan Amar Ma’ruf 6 tulisan. Kiai-kiai, 6 tulisan. Marhaban Ya Ramadlan, 7 tulisan. Dan terakhir, Akhlak Mulia sebagai pamungkas sebanyak 5 tulisan.

Namun sayang, sebagai sebuah buku, buku berlabel Kompensasi ini tak dirancang benar-benar sebagai buku. Tak ada pengantar dari penyunting yang bisa menjelaskan latar belakang “ kelahiran “ buku ini. Juga tak ada penjelasan mengapa Kompensasi – tulisan yang menyoroti kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM – dijadikan judul buku. Mungkin penyunting menganggap hal itu tak perlu. Sebab, tanpa itu toh pembaca tak akan kehilangan apa-apa. Pembaca dapat langsung memasuki wilayah esensial dengan menjelajah tiap detak peristiwa yang dihadirkan.

Terlepas dari itu semua, kita akan menemukan banyak sekali fenomena ketika membaca buku ini. Dan bukankah Gus Mus sendiri adalah sebuah fenomena? Ditengah meruyaknya elite agama yang melenggang ke ranah politik sejak reformasi bergulir, Gus Mus tak goyah dengan pendiriannya berda’wah di jalur kultular. Sembari mengurusi pesantren dengan segala pernak-perniknya, kyai yang penyair ini tetap intens menulis, sebuah aktifitas yang jarang dilirik oleh kyai-kyai abad ini. (*)
Admin Pada Monday, January 21, 2013 Komentar

Wednesday, January 16, 2013

BELAJAR MENJADI MANUSIA

Resensi Buku
DALAM setiap acara Maiyah Padhang mBulan Jombang, Cak Nun – Panggilan akrab Emha Ainun Nadjib – sering bertutur seputar eksistensi manusia. Menurutnya, manusia sebagai khalifah memiliki kemungkinan mencapai derajat tertinggi jika ia mampu menggunakan perangkat kemanusiaan ( baca; akal ) dengan benar. Namun, jika manusia tidak berbuat sebagaimana manusia, dengan kata lain membiarkan akalnya tidak berfungsi sedemikian rupa, maka hakekat manusia akan hilang pada saat itu juga. Sebab, yang membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lain hanyalah akal yang bersemayam dalam dirinya.
Pada acara Maiyah Padhang mBulan Juli (29/07), Cak Nun lantas mengelompokkan manusia menjadi empat jenis: Manusia yang berfikir dan mengetahui banyak tentang banyak hal, manusia yang berfikir dan mengetahui banyak tentang sedikit hal, manusia yang berfikir dan mengetahui sedikit tentang banyak hal, dan yang terakhir adalah manusia yang berfikir dan mengetahui sedikit tentang sedikit hal.
Apa yang dilakukan Cak Nun sebenarnya telah dituturkan jauh sebelumnya oleh Imam Al Ghazali. Sang Hujjatul Islam itu menggolongkan manusia menjadi empat macam berdasar pada situasi akal dan mentalitas: Rajuulun yadrii wa yadrii annahu yadri ( Manusia yang mengerti, dan mengerti bahwa dia mengerti ), Rajuulun yadri wa laa yadri annahu yadri ( Manusia yang mengerti dan dia tidak mengerti bahwa dia mengerti ), Rajuulun laa yadrii, wa yadrii annahu laa yadrii ( manusia yang tidak mengerti, dan mengerti bahwa dia tidak mengerti ), Rajuulun laa yadrii wa laa yadrii annahu laa yadri ( Manusia yang tidak mengerti, dan tidak mengerti bahwa dia tidak mengerti ).
Pembahasan mengenai manusia memang selalu menarik. Manusia sebagai penghuni jagad raya, tak hanya tersusun dari materi berupa badan wadag yang kasat mata. Lebih dari itu, ia juga tersusun dari benda non materi berupa ruh yang berasal dari penguasa semesta. Ketika perlakuan manusia terhadap dirinya sendiri mengalami kesenjangan begitu rupa, dengan mengutamakan kebutuhan materi dan membiarkan ruhaninya gersang dan terlunta-lunta, yang terjadi adalah ketimpangan individu dimana manusia tak sempurna sebagai manusia. Pada skala yang jauh, ia akan tiba pada situasi seperti yang dituliskan Cak Nun: “ Sukma, jiwa dan ruh akan ‘memberontak’ karena tak diberi makan oleh penyandangnya “.
Membaca tulisan-tulisan Cak Nun yang terangkum dalam buku ini, kita akan disodori beragam hal yang bermakna, terutama yang berkaitan dengan bagaimana menjadi manusia yang kaffah. Dengan gaya bahasanya yang khas, mengalir, kritis dan kontemplatif, Cak Nun mengajak pembaca untuk memejamkan mata, sejenak berkontemplasi guna menelaah kembali cara berfikir, sikap hidup, sekaligus praktek keberagamaan yang kadang cenderung tak sesuai dengan rambu-rambu yang telah digariskan oleh-Nya. Pada sisi lain, Cak Nun juga mengkritisi perilaku sebagian umat islam yang lebih mengutamakan simbol daripada isi dalam merumuskan kegiatan peribadatan. Membengkaknya jumlah ibadah haji dari tahun ke tahun, yang ternyata  tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas iman serta perubahan sosial hanyalah sekedar contoh. Padahal, haji menurutnya adalah ibadah yang menyodorkan kemungkinan kepada para pelakunya untuk mencapai cakrawala tertinggi dari kematangan sikap hidup menuju hakekat kemanusiaan.
Salah satu kelebihan Cak Nun adalah dia jarang terjebak dalam formalisme yang kaku. Meski berpijak pada ajaran-ajaran islam yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah, tapi ia tidak secara legal formal membawa idiom-idiom itu kedalam tulisan-tulisannya. Dengan memakai kultur budaya, Cak Nun mengkontekstualisasikan setiap ajaran yang dipahaminya untuk menjawab setiap gejala yang muncul dalam kehidupan, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan tuhan, dengan masyarakat, bahkan terhadap sebuah sistem yang bernama negara. Keberbaurannya secara langsung dengan segenap elemen masyarakat, membuat tulisan-tulisannya terasa hidup dan kaya makna. Memang, Cak Nun bukanlah tipe manusia yang suka melihat permasalahan dari jendela menara gading nun jauh disana. Ia adalah pekerja sosial yang ajur ajer, terjun secara langsung dengan permasalahan masyarakat.
Dalam waktu yang lampau, saat menulis pengantar buku berumbul Nasionalisme Muhammad ( Sipress: 1995 ), Cak Nun mengakui bahwa salah-satu kelemahannya adalah belum memiliki kesanggupan untuk benar-benar berfikir dan bekerja menuliskan sebuah buku yang sejak awal dirancang benar-benar sebagai buku. Kendalanya, disamping waktu juga kelemahannya dalam pendidikan formal. Buku ini pun, sama seperti kebanyakan bukunya yang lain, tidak diniatkan sebagai buku yang sengaja ditulis secara sistematis dan utuh. Buku ini adalah kumpulan esainya yang pernah terserak di media massa rentang 1980-an sampai 2000-an, yang oleh Progress kemudian diterbitkan sebagai penebus ‘dosa‘ karena sejak Kerajaan Indonesia (2006), Progress belum menerbitkan karya-karya Cak Nun yang masuk dalam kategori buku ‘tebal’. Tidak. Jibril Tidak Pensiun sendiri adalah sebuah esai yang pernah dimuat di majalah Panji Masyarakat, tanggal 21 Desember 1986 yang menjelaskan eksistensi Jibril ketika wahyu kenabian telah berakhir pada Muhammad, Sang Rasul Pamungkas.
Terlepas dari pengakuan Cak Nun tersebut, kehadiran buku ini tetaplah berarti. Dan, upaya Progress menghadirkan tulisan Cak Nun ke tangan pembaca ini mesti disambut dengan semangat kesadaran: bahwa sampai kapanpun manusia harus terus berjuang untuk memelihara kemanusiaannya. Bukankah secara empiris banyak dijumpai manusia yang secara fisik memang manusia, namun hakekatnya adalah serigala yang tak segan-segan mencakar dan membunuh saudaranya sendiri? Maka sebagai manusia, tak ada kemungkinan lain kecuali kita harus berjuang untuk tetap menjadi manusia. Supaya pada penghujung kehidupan nanti, kita tetap menjadi  manusia yang ahsani taqwiim, dan tidak terjerembab kedalam pengapnya jurang asfalaa saafiliin!(*)

Judul Buku    : Tidak. Jibril Tidak Pensiun 
Penulis      : Emha Ainun Nadjib
Penerbit        : Progress, Yogjakarta
Cetakan           : I, Juli 2007
Tebal               : 244 halaman
Admin Pada Wednesday, January 16, 2013 Komentar
Subscribe to: Posts (Atom)
  • Artikel Terbaru
  • Arsip Blog

Artikel Terbaru

Arsip Blog

  • October (1)
  • June (14)
  • May (18)
  • April (2)
  • February (1)
  • January (1)
  • January (1)
  • November (1)
  • August (2)
  • July (2)
  • June (3)
  • May (13)
  • April (26)
  • March (30)
  • February (43)
  • January (50)
  • December (4)

Resensi Buku

Kategori

Anekdot Berita Pendidikan Cerpen Download Esai Guru Menulis Inspirasi Kolom Kolom Cak Nun Kolom Jamaah Maiyah Literasi News Opini Pendataan Pendidikan Puisi Regulasi Reportase Maiyah Resensi Buku Sertifikasi Guru Tentang Maiyah Tips & Trik
Pejalan Sunyi

Followers

Pejalansunyi.id berusaha berbagi informasi yang bermanfaat. Jika ada ide, kritik, atau saran, silahkan hubungi kami dengan kontak berikut. Salam!

Name Email Address important Content important

Reportase Maiyah

Contact Form

Name

Email *

Message *

Artikel Random

Memuat...
Copyright © Pejalan Sunyi
Template by Arlina Design