• Home
  • About
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Menu

Pejalan Sunyi

iklan banner
  • Home
  • Daftar Isi
  • News
  • Inspirasi
  • Seputar Guru
    • Regulasi Pendidikan
    • Perangkat Pembelajaran
    • Media Pembelajaran
    • Guru Menulis
    • Sertifikasi Guru
    • Pendataan Pendidikan
  • Tips & Trik
  • Budaya
    • Opini
    • Esai
    • Resensi Buku
    • Cerpen
    • Puisi
    • Anekdot
  • Maiyah
    • Tentang Maiyah
    • Kolom Mbah Nun
    • Kolom Jamaah Maiyah
    • Reportase Maiyah
  • Literasi
  • Download
  • Kirim Artikel

Artikel Populer

  • Daftar Penerima Tunjangan Khusus Daerah Terpencil (Dikdas SD-SMP) Tahun 2013
  • Cara Melakukan Cek SKTP di P2TK Dikdas
  • Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan Tercinta
  • Daftar SK Tunjangan Fungsional Prop. Jawa Timur 2013
  • Cara Melihat Sekolah Pelaksana Kurikulum 2013
  • Menjelang Idul Fitri
  • Panduan Pelaporan Bos Online 2013 di Situs Bos.Kemendikbud

Inspirasi

Pengunjung

Free counters!
top personal sites
top personal sites
Home / Inspirasi
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Saturday, June 3, 2017

Pangdam IM Mayjen TNI Moch. Fachrudin Beri Beasiswa Kepada Bocah Penemu Energi Listrik

Inspirasi
Naufal Raziq Siswa Penemu Energi Listrik
Naufal Raziq sedang Berdiskusi dengan Pangdam IM Mayjen TNI
Pejalansunyi.id | Anda masih ingat dengan Naufal Raziq, bocah asal Aceh Timur yang menemukan energi listrik dari pohon kedondong? Kamis siang kemarin (1/10/2017), ia diundang oleh  Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Moch. Fachrudin, S.Sos untuk diberikan beasiswa sehubungan dengan iniovasinya sebagai penemu energi listrik dari pohon kedondong pagar (Spondias Dulcis Forst).

Selain menerima beasiswa, pada kesempatan itu Naufal juga berdiskusi mengenai energi listrik yang telah ditemukannya. Nauval Raziq adalah siswa kelas Madrasah Tsanawiyah Kota Langsa. Berawal dari ide yang lahir saat masih duduk di bangku SD, ia menghasilkan sebuah teknologi baru, listrik yang sumber energinya dari pohon kedondong.

Bocah yang saat ini sudah berusia 15 tahun tersebut telah meneliti energi listrik dari pohon kedondong pagar selama tiga tahun ini.

“Kami melihat inovasi dari Naufal ini merupakan wujud energi terbarukan yang memanfaatkan potensi alam yang banyak dijumpai di Indonesia. Dan sesuai semangat kami yang sangat mendukung inovasi teknologi baru terbarukan. Harapannya semakin banyak inovator yang menemukan solusi untuk penggunaan energi yang terbarukan,” demikian dijelaskan oleh Pangdam.

Pertemuan selama satu jam tersebut, Mayjen TNI Moch. Fachrudin, S.Sos memberikan motivasi kepada Naufal agar bisa menciptakan listrik dengan kapasitas yang lebih besar dan handal agar bisa bermanfaat untuk masyarakat luas.

“Tadi habis bertemu Pak Pangdam, membicarakan listrik dari pohon kedondong pagar,” kata Naufal.

Awalnya, ide menemuankan energi listrik itu muncul saat ia mengikuti pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah. Bersama ayahnya, ia kemudian mengembangkannya dengan teknologi yang masih sangat sederhana. Inovasi Nauval itu lantas dilombakan tingkat kecamatan, berlanjut ke kabupaten hingga nasional. 

Sebelumnya, teknologi temuan Naufal ini telah dimanfaatkan PT Pertamina EP melalui Rantau Field untuk membantu sekolah Anak Merdeka dan beberapa rumah serta fasilitas umum di desa terpencil Tampor Paloh Kec. Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. Desa-desa yang awalnya gelap gulita itu akhirnya  mendapatkan penerangan listrik di malam hari.

Selain itu, pohon energi ini juga telah dipasang di lokasi Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina di Aceh Tamiang, yang juga menjadi laboratorium tree energy dalam pengembangannya untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal.

Kita tentu patut berbangga dengan inovasi dan prestasi yang diraih Nauval. Di tengah situasi negeri yang carut marut, banyak anak muda yang berpotensi mengharumkan nama bangsa dan negara. Dukungan dari semua pihak tentu sangat diharapkan, sehingga hasil temuan Nauval bermanfaat bagi orang banyak. (*)
Admin Pada Saturday, June 03, 2017 Komentar

Saturday, May 27, 2017

#64TahunCakNun, Imam Bangsa

Inspirasi Kolom Jamaah Maiyah
Ulang Tahun Cak Nun
“Ndhek dunyo iki alah mek sedhiluk rek, berjuang terus ndak masalah. Aku sampek tuwek ngene ki, gak leren. Bismillah yo, sampeyan kudu gembira. Hidup gembira. Ojo tertekan oleh apapun, sebab sing ngisi ati sampeyan Gusti Allah, Gusti Allah, Gusti Allah. Ngkok sampeyan ono tekanan opo wae, tetep isoh tangi meneh, tetep isoh bangun meneh .” (Cak Nun)

Masih teringat jelas kelebat bayangmu sebelum meninggalkan Frankfurt Airport. Pesan di penghujung Desember 2016 itu cukup menghujam. “Iki (kondisi Indonesia) wes ga ono sek isoh ngatasi maneh.” Sampai pada 10 Februari 2017, Pandawayudha terbit di Harian Kompas (versi asli di web CakNun.com). Puncak dari 9 tulisan lain yang terbit berurutan untuk memperingatkan Indonesia. Setelah pasca Reformasi 1998 memilih menyepi “meninggalkan pesta” dari TV Nasional dan Koran Nasional untuk menemani orang--orang yang terpinggirkan dan terasingkan zaman. Serta 23 Mei lalu, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun lamanya meninggalkan Media TV Nasional. Beliau kerso diwawancarai kembali dan ditampilkan rekaman videonya dalam program Indonesia Lawyer Club (ILC) di TV One, setelah lebih dari 3 Tahun Pak Karni Ilyas membujuk Beliau.

Cak Nun pernah ditawari menjadi Menteri pada era 80-an, tapi Beliau menolak. Pun juga, ditawari menjadi Presiden, Beliau menolak. Beliau lebih memilih mengisi siang-malamnya berkeliling dari satu alun-alun, ke pelosok, lebih dari 40 tahun nggedhein hati rakyat. Ditengah segala kebijakan yang banyak tak berpihak pada rakyat, sang pemilik kedaulatan di Tanah Air.

Maka, ditengah Rimba Indonesia atau bahkan dunia semoga, saya, kami, dan kita semua bisa terus berjalan ing margi kaleresan. Cak Nun pernah menyampaikan, Guru itu bukan orang yang mengajarimu, tapi orang yang kepadanya engkau belajar. Dan sampai detik ini saya teramat bersyukur Indonesia memiliki sosok seperti Beliau. Sosokmu belum tentu ada 100 tahun lagi. Sebagai murid semoga bisa berjuang seteguh Bambang Ekalaya pada Resi Drona, meskipun tidak seheroiknya, semoga bisa kecipratan barokahnya.

Tak pernah saya jumpai ada sosok yang bisa bergaul dengan elit pemerintahan sekelas Menteri namun juga sangat bersahabat dengan Pak Gendong, Pak Becak di waktu yang sama, selain Cak Nun. Berkeliling Inggris, Belanda, Vatikan menjadi Duta menampilkan Wajah Islam Rahmatan lil ‘alamin, selain Cak Nun dan Kiai Kanjeng (Nama Gamelan). Sepak terjang Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya dipelajari Profesor-Profesor Amerika, Australia, Inggris, Mesir namun disia-siakan di negeri sendiri. Anda tahu Cat Steven? Yang mualaf dan mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. Beliau kembali bernyanyi setelah bertemu Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Inggris tahun 2000-an lalu.

Beberapa hari lalu saya mencoba menulis setiap hari meskipun hari aktif kerja, dan itu sangatlah tidak mudah. Tapi Cak Nun, mengisi pengajian dari habis isya sampai hampir shubuh, menulis setiap hari, tidur hanya beberapa jam. MasyaAllah, teramat jarang saya menjumpai sosok dengan Energi Badar seperti Beliau.

Di era ini, tidaklah mudah menemui Sosok Manusia Junjungan seperti Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Begitu santun akhlaknya. Terus menyuapi si pengemis buta, meski setiap hari dihinanya. Beliau meninggalkan popularitas demi bisa mendamaikan semuanya. Seringkali menjadi sasaran uji coba pembunuhan namun Beliau tetap memaafkannya. Mempersaudarakan Kaum Anshor (Tuan Rumah) dan Muhajirin (Pendatang). Rela berlapar, mengganjal perutnya dengan batu, menginfakkan hartanya dan bergaya hidup sederhana.

Meski susah menemukan sosok pejuang di segala lini seperti Kanjeng Nabi Muhammad Saw, dengan segenap kedaulatan saya, saya memilih Imam yang begitu cintanya Gondelan Klambinipun Kanjeng Nabi, yakni Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun). Esensi Makmum ialah bisa mencontoh gerakan, daya juang Sang Imam. Semoga diberi kesanggupan berjuang seperti Beliau. Alles gute zum Geburtstag, Maulana Muhammad Ainun Nadjib.

Zwiefalten, Germany 1 Ramadlan 1438/27 Mei 2017 

*)Tulisan NaWa di kompasiana.com. Perempuan dengan nama asli Nafisatul Wakhidah sedang terdampar di Forensic Psychiatrie, Zwiefalten, Baden Wurttemberg, Germany. Satu dari sekian juta anak cucumu yang terdampar di Bumi-Nya.
“Ndhek dunyo iki alah mek sedhiluk rek, berjuang terus ndak masalah. Aku sampek tuwek ngene ki, gak leren. Bismillah yo, sampeyan kudu gembira. Hidup gembira. Ojo tertekan oleh apapun, sebab sing ngisi ati sampeyan Gusti Allah, Gusti Allah, Gusti Allah. Ngkok sampeyan ono tekanan opo wae, tetep isoh tangi meneh, tetep isoh bangun meneh.” (Cak Nun) Masih teringat jelas kelebat bayangmu sebelum meninggalkan Frankfurt Airport. Pesan di penghujung Desember 2016 itu cukup menghujam. “Iki (kondisi Indonesia) wes ga ono sek isoh ngatasi maneh.” Sampai pada 10 Februari 2017, Pandawayudha terbit di Harian Kompas (versi asli di web CakNun.com). Puncak dari 9 tulisan lain yang terbit berurutan untuk memperingatkan Indonesia. Setelah pasca Reformasi 1998 memilih menyepi “meninggalkan pesta” dari TV Nasional dan Koran Nasional untuk menemani orang-orang yang terpinggirkan dan terasingkan zaman. Serta 23 Mei lalu, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun lamanya meninggalkan Media TV Nasional. Beliau kerso diwawancarai kembali dan ditampilkan rekaman videonya dalam program Indonesia Lawyer Club (ILC) di TV One, setelah lebih dari 3 Tahun Pak Karni Ilyas membujuk Beliau. Cak Nun pernah ditawari menjadi Menteri pada era 80-an, tapi Beliau menolak. Pun juga, ditawari menjadi Presiden, Beliau menolak. Beliau lebih memilih mengisi siang-malamnya berkeliling dari satu alun-alun, ke pelosok, lebih dari 40 tahun nggedhein hati rakyat. Ditengah segala kebijakan yang banyak tak berpihak pada rakyat, sang pemilik kedaulatan di Tanah Air. Maka, ditengah Rimba Indonesia atau bahkan dunia semoga, saya, kami, dan kita semua bisa terus berjalan ing margi kaleresan. Cak Nun pernah menyampaikan, Guru itu bukan orang yang mengajarimu, tapi orang yang kepadanya engkau belajar. Dan sampai detik ini saya teramat bersyukur Indonesia memiliki sosok seperti Beliau. Sosokmu belum tentu ada 100 tahun lagi. Sebagai murid semoga bisa berjuang seteguh Bambang Ekalaya pada Resi Drona, meskipun tidak seheroiknya, semoga bisa kecipratan barokahnya. Tak pernah saya jumpai ada sosok yang bisa bergaul dengan elit pemerintahan sekelas Menteri namun juga sangat bersahabat dengan Pak Gendong, Pak Becak di waktu yang sama, selain Cak Nun. Berkeliling Inggris, Belanda, Vatikan menjadi Duta menampilkan Wajah Islam Rahmatan lil ‘alamin, selain Cak Nun dan Kiai Kanjeng (Nama Gamelan). Sepak terjang Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya dipelajari Profesor-Profesor Amerika, Australia, Inggris, Mesir namun disia-siakan di negeri sendiri. Anda tahu Cat Steven? Yang mualaf dan mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. Beliau kembali bernyanyi setelah bertemu Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Inggris tahun 2000-an lalu. Beberapa hari lalu saya mencoba menulis setiap hari meskipun hari aktif kerja, dan itu sangatlah tidak mudah. Tapi Cak Nun, mengisi pengajian dari habis isya sampai hampir shubuh, menulis setiap hari, tidur hanya beberapa jam. MasyaAllah, teramat jarang saya menjumpai sosok dengan Energi Badar seperti Beliau. Di era ini, tidaklah mudah menemui Sosok Manusia Junjungan seperti Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Begitu santun akhlaknya. Terus menyuapi si pengemis buta, meski setiap hari dihinanya. Beliau meninggalkan popularitas demi bisa mendamaikan semuanya. Seringkali menjadi sasaran uji coba pembunuhan namun Beliau tetap memaafkannya. Mempersaudarakan Kaum Anshor (Tuan Rumah) dan Muhajirin (Pendatang). Rela berlapar, mengganjal perutnya dengan batu, menginfakkan hartanya dan bergaya hidup sederhana. Meski susah menemukan sosok pejuang di segala lini seperti Kanjeng Nabi Muhammad Saw, dengan segenap kedaulatan saya, saya memilih Imam yang begitu cintanya Gondelan Klambinipun Kanjeng Nabi, yakni Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun). Esensi Makmum ialah bisa mencontoh gerakan, daya juang Sang Imam. Semoga diberi kesanggupan berjuang seperti Beliau. Alles gute zum Geburtstag, Maulana Muhammad Ainun Nadjib. Zwiefalten, Germany 1 Ramadlan 1438/27 Mei 2017 Nafisatul Wakhidah Satu dari sekian juta anak cucumu yang terdampar di Bumi-Nya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/beusefullife/64tahuncaknun-imam-bangsa_59286ea9d593734275ab4566
“Ndhek dunyo iki alah mek sedhiluk rek, berjuang terus ndak masalah. Aku sampek tuwek ngene ki, gak leren. Bismillah yo, sampeyan kudu gembira. Hidup gembira. Ojo tertekan oleh apapun, sebab sing ngisi ati sampeyan Gusti Allah, Gusti Allah, Gusti Allah. Ngkok sampeyan ono tekanan opo wae, tetep isoh tangi meneh, tetep isoh bangun meneh.” (Cak Nun) Masih teringat jelas kelebat bayangmu sebelum meninggalkan Frankfurt Airport. Pesan di penghujung Desember 2016 itu cukup menghujam. “Iki (kondisi Indonesia) wes ga ono sek isoh ngatasi maneh.” Sampai pada 10 Februari 2017, Pandawayudha terbit di Harian Kompas (versi asli di web CakNun.com). Puncak dari 9 tulisan lain yang terbit berurutan untuk memperingatkan Indonesia. Setelah pasca Reformasi 1998 memilih menyepi “meninggalkan pesta” dari TV Nasional dan Koran Nasional untuk menemani orang-orang yang terpinggirkan dan terasingkan zaman. Serta 23 Mei lalu, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun lamanya meninggalkan Media TV Nasional. Beliau kerso diwawancarai kembali dan ditampilkan rekaman videonya dalam program Indonesia Lawyer Club (ILC) di TV One, setelah lebih dari 3 Tahun Pak Karni Ilyas membujuk Beliau. Cak Nun pernah ditawari menjadi Menteri pada era 80-an, tapi Beliau menolak. Pun juga, ditawari menjadi Presiden, Beliau menolak. Beliau lebih memilih mengisi siang-malamnya berkeliling dari satu alun-alun, ke pelosok, lebih dari 40 tahun nggedhein hati rakyat. Ditengah segala kebijakan yang banyak tak berpihak pada rakyat, sang pemilik kedaulatan di Tanah Air. Maka, ditengah Rimba Indonesia atau bahkan dunia semoga, saya, kami, dan kita semua bisa terus berjalan ing margi kaleresan. Cak Nun pernah menyampaikan, Guru itu bukan orang yang mengajarimu, tapi orang yang kepadanya engkau belajar. Dan sampai detik ini saya teramat bersyukur Indonesia memiliki sosok seperti Beliau. Sosokmu belum tentu ada 100 tahun lagi. Sebagai murid semoga bisa berjuang seteguh Bambang Ekalaya pada Resi Drona, meskipun tidak seheroiknya, semoga bisa kecipratan barokahnya. Tak pernah saya jumpai ada sosok yang bisa bergaul dengan elit pemerintahan sekelas Menteri namun juga sangat bersahabat dengan Pak Gendong, Pak Becak di waktu yang sama, selain Cak Nun. Berkeliling Inggris, Belanda, Vatikan menjadi Duta menampilkan Wajah Islam Rahmatan lil ‘alamin, selain Cak Nun dan Kiai Kanjeng (Nama Gamelan). Sepak terjang Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya dipelajari Profesor-Profesor Amerika, Australia, Inggris, Mesir namun disia-siakan di negeri sendiri. Anda tahu Cat Steven? Yang mualaf dan mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. Beliau kembali bernyanyi setelah bertemu Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Inggris tahun 2000-an lalu. Beberapa hari lalu saya mencoba menulis setiap hari meskipun hari aktif kerja, dan itu sangatlah tidak mudah. Tapi Cak Nun, mengisi pengajian dari habis isya sampai hampir shubuh, menulis setiap hari, tidur hanya beberapa jam. MasyaAllah, teramat jarang saya menjumpai sosok dengan Energi Badar seperti Beliau. Di era ini, tidaklah mudah menemui Sosok Manusia Junjungan seperti Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Begitu santun akhlaknya. Terus menyuapi si pengemis buta, meski setiap hari dihinanya. Beliau meninggalkan popularitas demi bisa mendamaikan semuanya. Seringkali menjadi sasaran uji coba pembunuhan namun Beliau tetap memaafkannya. Mempersaudarakan Kaum Anshor (Tuan Rumah) dan Muhajirin (Pendatang). Rela berlapar, mengganjal perutnya dengan batu, menginfakkan hartanya dan bergaya hidup sederhana. Meski susah menemukan sosok pejuang di segala lini seperti Kanjeng Nabi Muhammad Saw, dengan segenap kedaulatan saya, saya memilih Imam yang begitu cintanya Gondelan Klambinipun Kanjeng Nabi, yakni Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun). Esensi Makmum ialah bisa mencontoh gerakan, daya juang Sang Imam. Semoga diberi kesanggupan berjuang seperti Beliau. Alles gute zum Geburtstag, Maulana Muhammad Ainun Nadjib. Zwiefalten, Germany 1 Ramadlan 1438/27 Mei 2017 Nafisatul Wakhidah Satu dari sekian juta anak cucumu yang terdampar di Bumi-Nya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/beusefullife/64tahuncaknun-imam-bangsa_59286ea9d593734275ab4566
Admin Pada Saturday, May 27, 2017 Komentar

Thursday, May 25, 2017

Tak Hanya Isi Beha yang Bikin 'Telan Ludah', Omset Jual Beha juga Mampu Membuat Mata Terpana

Inspirasi
Agung BH

NAMA aslinya Agung Prasetyo, lebih dikenal dengan sebutan Agung BH (Buste Houder). Ia adalah seorang pengusaha pakaian dalam wanita yang sukses. Seantero Solo, terutama Pasar Klewer, pasti tak asing dengan namanya. Ia memiliki 16 kios dengan jumlah karyawan lebih dari 130 orang. Omsetnya pernah mencapai angka 7 miliar rupiah. Kios Agung saat ini menjadi sasaran utama bagi mereka yang ingin berbelanja BH dan pakaian dalam, skala grosir maupun eceran.   

Siapa menyangka jika Agung BH awalnya adalah seorang kondektur Bis?

Unik memang jika melihat kisahnya. Bapak 3 anak ini awalnya adalah kondektur bus antar kota. Sebelas tahun menjalani profesi menjadi kondektur dengan PO yang berbeda-beda mulai dari Mulya Indah, Karya Jaya, Sumber Kencono, Mandala, Langsung Jaya, Panorama Indah, Jaya Utama, dan lain sebagainya. Dia bahkan masih hafal nama-nama bus beserta jurusannya.
gung Prasetyo sudah bertransformasi menjadi Agung BH yang hingga saat ini menjadi brand-nya. 13 kios di pasar Klewer, dan di luar Solo ada 3 toko adalah asset kerja kerasnya saat ini. Dalam sebulan omsetnya pernah mencapai 7 miliar rupiah. 16 kios menjadi asetnya dan menjadi sasaran utama bagi mereka yang hendak berbelanja BH dan pakaian dalam sekala eceran maupun grosir.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dhave/agung-bh-transformasi-mantan-kondektur-menjadi-wali-kotang_56526b59377b618919bd144f

Lantas, bagaimana ceritanya Agung bisa bertransformasi menjadi seorang pengusaha pakaian dalam wanita?

Menjadi kondektur sebenarnya bukan pilihan hidup seorang Agung Prasetyo, hanya karena memang tidak ada pilihan lain. Tak jarang ketika menjalankan tugas, dia harus berjejal berdesakan untuk sekedar menarik karcis. Saat itulah dia merasakan betapa sesaknya kehidupan yang membuat jengah hidupnya. Menjadi kondektur, istilah Agung "Yen Mangan Kaya Ratu, Yen Turu Kaya Asu (jika makan seperti raja, harus enak dan bergizi. Jika tidur dimanapun tempat laksana anjing)". Ia kemudian bertekad mengubah nasib, sampai kemudian beralih tugas menjabat sebagai Wali Kota(ng).

Cerita dimulai ketika pikiran Agung menerawang memikirkan perjalanan hidupnya. Tiba-tiba saja pandangan matanya tertuju pada jemuran pakaian entah milik siapa. Kebanyakan jemuran itu berupa Beha dan Celana Dalam. Dengan begitu saja ia bertanya pada sang istri, berapa banyak wanita ganti pakaian dalam dalam sehari. Sang istri dengan tentu saja mengernyitkan kening menjawab, "dua".

Inspirasi pun muncul.
Jika seorang perempuan berganti pakaian dalam dua kali  sehari berupa kutang dan celana dalam, maka dalam seminggu harus memiliki 14 pasang. Jika dalam satu keluarga ada bapak, ibu dan katakanlah dua anak laki-laki dan perempuan, maka 24 pasang kutang dan celana dalam harus dimiliki. Bagaimana jika satu RT, satu kampung, satu kecamatan, kabupaten.....?
 
Wali Kotang
Pikiran itulah yang mengubah dan membuatnya berhenti menjadi kondektur bus. Pada tahun 2009, genap 11 tahun menjadi kondektur, dia memilih pensiun. Agung kemudian memutuskan menjual seekor sapinya dan laku 1,6 juta. Modal awal itu digunakannya untuk dagangan. Dengan tekad membuncah, ia lantas berbelanja pakaian dalam di Pasar Tanah Abang Jakarta, sebelum kemudian kembali ke solo untuk menjajakan barang dagangannya.Awal berjualan BH bukan perkara gampang. Ia harus melalui jalan terjal penuh semak berduri sebelum sukses menjemputnya. Tercatat dia pernah berjualan di pasar Wonogiri, Sukoharjo, Klewer, dan lain-lain. Ujung-ujungnya nyaris sama, tak satu pun dagangannya ada yang laku. Hingga rasa frustasi sempat menghampirinya diam-diam.

Namun untunglah, sebelas tahun hidup di jalanan tentu menempa mental Agung menjadi manusia yang tangguh dan tak gampang putus di tengah jalan. Sembari kembali menjadi penarik bus, dia juga fokus pada jualan BHnya. Lambat namun pasti, Agung menemukan ritme bagaimana bisa mencuri hati para pembelinya, sebelum dia menawarkan dagangannya.

Alhasil, dalam beberapa tahun Agung sudah merajai pasaran pakaian dalam. Ia tak hanya menjual pakaian dalam, tapi juga memiliki tempat produksi dengan Agung BH sebagai brandnya. Agung kini telah memiliki 13 kios di pasar Klewer, dan di luar Solo ada 3 toko. Semua itu adalah hasil kerja kerasnya. 16 kios itu menjadi asetnya dan menjadi sasaran utama bagi mereka yang hendak berbelanja BH dan pakaian dalam sekala eceran maupun grosir.

Dari berjualan BH, Agung BH kini sudah terkenal di seantero Solo Raya dan menjadi ikonnya pasar terbesar di Surakarta yakni pasar Klewer. Pria yang asli Mantingan Kabupaten Magetan ini sudah mengecap manisnya kerja keras. Saat ini hanya ingin menelan kepahitannya agar tidak terlena dengan arti sebuah kesuksesan. 130 karyawannya digembleng agar menjadi Agung-agung BH selanjutnya, tentu saja dengan kerja keras dan tak kenal menyerah.

Agung BH menjadi sosok fenomenal di tanah air karena keunikannya saat membanting stir dari kondektur menjadi ahli pakaian dalam. Sebuah kerja keras yang berbuah kesuksesan. Liku-liku jalan terjal penuh semak berduri berhasil dia lewati. Saat ini, tak hanya isi BH saja yang membikin orang terkadang  'telan ludah', kesuksesan finansial dari bisnis jual BH juga membuat mata orang terpana dengan omset yang dihasilkannya. (*) 

*)dibahasakan kembali dari tulisan dhave di kompasiana.com
Admin Pada Thursday, May 25, 2017 Komentar

Kisah Khamim, Pemuda Asal Pekalongan Yang Naik Haji Dengan Jalan Kaki

Inspirasi News
Jalan Kaki Naik Haji
pejalansunyi.id | NAIK haji dengan jalan kaki. Siapapun yang mendengar berita itu, pasti mengernyitkan kening, tak percaya, atau setidaknya bertanya-tanya apakah berita itu benar-benar terjadi ditengah simpang-siur berita hoax yang kerap menyelimuti dunia pemberitaan kita. 

Apalagi jika yang berangkat haji itu secara geografis, jaraknya beribu-ribu kilometer. Mungkinkah ditempuh dengan berjalan kaki, apalagi dilakukan dengan kondisi fisik berpuasa?

Adalah Khamim. pemuda asal Pekalongan Jawa Tengah dengan nama lengkap Mochammad Khamim Setiawan. Ditengah daftar tunggu haji yang semakin panjang dari tahun ke tahun, anak muda 28 tahun itu memutuskan melakukan perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. 

Pekalongan Mekkah bukan jarak yang dekat. Jarak sejauh 9.000 km diperkirakan memakan waktu selama hampir satu tahun. Dengan keyakinan penuh kepada Sang Pencipta, Khamim memulai perjalanan tersebut pada 28 Agustus 2016 dengan hanya membawa beberapa kaos, dua celana dan dua pasang sepatu, kaos kaki, baju dalam, tenda dan sleeping bag, lampu senter, smartphone, dan GPS.

Dengan bekal seadanya, khamim membawa identitas kebangsaan berupa bendera merah putih dan menggunakan kaos bertuliskan, "Saya sedang melakukan perjalanan ke Mekkah dengan berjalan kaki". Konon, Khamim telah mengorbankan banyak hal demi mewujudkan misinya ini. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang ini meninggalkan pekerjaannya dan memulai perjalanan hanya dengan sedikit uang di sakunya.

Pada awal perjalanannya, Mochammad Khamim Setiawan menghabiskan dua minggu di hutan yang terletak di Provinsi Banten untuk melatih fisiknya. Ia juga menjalani beberapa minggu dengan beribadah tanpa henti di masjid.

Dalam melakukan perjalanan ke Mekkah, Khamim melampauinya dengan kondisi fisik berpuasa. Sebab itulah, ia lebih banyak melakukan perjalanan saat malam hari menempuh jarak 50 km tiap harinya ketika dalam kondisi prima. Selebihnya, saat kondisi tubuh sedah lelah dan tidak fit, ia hanya mampu menempuh jarak 10-15 km. Meski demikian, berkat tekad kuatnya, Mochammad Khamim Setiawan hanya mengalami sakit dua kali yaitu saat di India dan Malaysia.

Banyak kisah menarik yang ditemui selama dalam perjalanan. Misalnya, meski tak membawa bekal finansial yang memadai, Khamim tak pernah kekurangan bekal untuk sekedar menyambung hidup. Ia kerap bertemu dengan orang yang memberi makanan dan kebutuhan lain secara cuma-cuma. Khamim bahkan diterima di kuil Buddha saat berada di Thailand. Di tempat itu, kebetulan ia bertemu dengan seseorang berkebangsaan Irlandia beragama Kristen yang sedang bersepeda di Yangon, Myanmar.

Kisah menarik lain adalah ketika melewati hutan di Malaysia. Ada tiga ular berbisa yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Ia bersyukur perlindungan Tuhan masih menaunginya. Ular-ular tersebut tak mampu mengganggunya, justru jatuh dan mati secara tiba-tiba. Selain itu, meski berjalan kaki seorang diri menerobos rimba raya yang masih asing, Khamim mengaku tak pernah bertemu perampok atau penjahat sepanjang perjalanannya.

Selama melakukan perjalanan, Mochammad Khamim Setiawan tak pernah mengkonsumsi asupan suplemen untuk energinya. Ia  hanya menyantap makanan halal, serta meminum air yang telah dicampur dengan madu untuk menjaga daya tahan tubuh dalam melawan cuaca ekstrim.

Saat ini, Mochammad Khamim Setiawan masih dalam perjalanan. Jika sesuai rencana, Mochammad Khamim Setiawan akan tiba di Kota Suci Mekkah sebelum 30 Agustus tahun ini. Semoga niatnya terlaksana dan Tuhan selalu melindunginya.(ES)
Admin Pada Thursday, May 25, 2017 Komentar

Monday, May 8, 2017

Angkot Pustaka: Upaya Menggiatkan Literasi di sela Mengais Sebutir Nasi

Inspirasi
Image

Pejalansunyi.id | BAGI insan pendidikan, bulan mei tak mungkin dilupakan. Sebab, tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ada yang unik pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, ialah diundangnya para pegiat literasi yang telah berjuang tanpa pamrih menggelorakan minat baca bagi masyarakat indonesia yang, kata sejumlah survey, selalu menduduki tempat terendah.

Uniknya, para pejuang literasi yang diundang presiden itu bukan berasal dari kalangan akademisi, pustakawan, guru, atau profesor. Mereka ternyata adalah sopir angkot, sopir bemo, kuli bangunan, hingga tukang tambal ban.

Dikutip dari berbagai sumber, nama-nama pegiat minat baca yang diundang ke istana adalah Robianto, seorang kuli bangunan dari Kabupaten Cirebon, Sutino alias Kinong, seorang Sopir Bemo, Sugeng Haryono, seorang Tambal Ban, dan Pian Sopian, seorang Sopir Angkot.

Untuk nama yang terakhir, yaitu Pian Sopian, ia sesungguhnya terpengaruh oleh upaya rutin yang dilakukan isrinya, Elis Ratna, yang tak pernah kenal lelah dalam menggelorakan dunia baca. Istri Pian adalah seorang petugas perpustakaan di SDN Cisalak, Kabupaten Bandung. Menemani istrinya, Pian yang sudah bekerja sebagai sopir angkutan umum selama 20 tahun itu lalu tergerak untuk ikut membantu dengan menyediakan buku di angkot.

ImageTrayek angkot Sopian dari kabupaten ke kota biasanya ditempuh dalam waktu dua jam, cukup bagi penumpang untuk membaca. Ia kemudian mengajak orang-orang membaca dengan menyusun rak sederhana di bagian belakang angkot dan mengisinya dengan buku-buku bacaan.

Elis menuturkan, angkot pustaka ini telah dioperasikan selama empat bulan dan mendapat sambutan positif dari para penumpang. "Kalau bapak-bapak suka buku kepribadian, kalau ibu-ibu banyak mau buku resep zaman sekarang," katanya. Kecintaan Elis pada dunia literasi bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, dia telah mengoperasikan perpustakaan keliling dengan menggunakan motor, menawarkan bacaan gratis pada anak-anak di desa sekitar.

Pasangan suami istri itu mengatakan banyak mimpi yang ingin dia capai termasuk menyediakan perpustakaan sendiri di dekat rumahnya. "Banyak anak-anak kampung yang mungkin potensinya lebih baik dari orang kota. Anak-anak di sini butuh buku-buku dan pendidikan. Saya hanya menanamkan bahwa pendidikan hak segala bangsa. Walau saya bukan guru, minimal dengan membaca, mereka bisa melangkah mandiri," katanya. (*)
Admin Pada Monday, May 08, 2017 Komentar

Sunday, January 27, 2013

EMHA: Saya Adalah Pekerja

Inspirasi
CAK NUN, begitu sapaan akrab Emha Ainun Nadjib, lahir pada Hari Rabu Legi 27 Mei 1953 di Desa Menturo, Sumobito, Jombang, Jawa Timur, Indonesia. Ia anak keempat dari 14 bersaudara dengan kedua orang tua Alm. Muhammad Abdul Latief dan Halimah. Pendidikan formal yang ditempuhnya berjalan kurang mulus. Sekolah Dasar dilewati di desa Menturo, kemudian sesudah itu dilanjutkan ke Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur tetapi tidak selesai karena “dikeluarkan”. Selepas dari Gontor ia pergi ke Yogyakarta dan mengambil pendidikan di SMA Muhammadiyah I, setelah itu mencicipi kuliah di Fakultas Ekonomi UGM yang dijalaninya hanya selama empat bulan. Sesudah semua itu Ia mencari ilmu di jalanan Malioboro sebagai pengembara.

Selain sebagai “juru penyampai” dalam berbagai acara pengajian, Cak Nun juga berperan sebagai vokalis ketika tampil bersama KiaiKanjeng. Meskipun tidak jarang pada saat berceramah sendirian atau tanpa didampingi Musik KiaiKanjeng ataupun grup-grup lainnya, Ia juga melantunkan lagu-lagu (atau lebih tepatnya membaca Al Quran dan Shalawat Nabi) langsung bersama-sama jamaah.

Kini Cak Nun sudah memasuki usianya yang ke-52. Di usianya yang sudah setengah abad ini dan ketika harus menengok biografinya maka mau tak mau kita musti memulainya dari “halaman-halaman awal” sejarah hidupnya karena memang sudah banyak yang Ia goreskan dan catatkan di buku harian Indonesia ini, setidaknya dimulai ketika Ia masih muda di akhir tahun 60-an.

Sejak muda Cak Nun sudah dikenal oleh banyak kalangan terutama sebagai penyair atau sastrawan. Puisi-puisi yang lahir dari ujung jarinya diminati oleh berderet-deret orang, khususnya generasi muda. Pentas-pentas pembacaan puisinya selalu dipadati pengunjung. Pekerjaan menulis puisi ini sendiri sudah Ia tekuni semenjak akhir tahun 60-an di bawah asuhan seorang guru yang bernama Umbu Landu Paranggi yang populer dengan sebutan “Presiden Penyair Malioboro Yogyakarta” dalam sebuah kelompok studi yang bernama PSK (Persada Studi Klub).

Pada perkembangannya Cak Nun bukan hanya aktif menulis puisi, tetapi juga menulis sejumlah naskah drama, essai, kolom atau artikel diberbagai media massa, pemateri dalam sejumlah acara seminar atau diskusi, mubaligh dalam acara-acara pengajian, dan sejumlah keterlibatan lainnya yang berwatak sosial kemasyarakatan seperti mendirikan Pondok Pesantren Yatim Zaituna, termasuk juga ngurusin “yang tidak-tidak” seperti manangani orang-orang bermasalah yang lalu lalang mendatanginya untuk minta bantuan. Kadang Cak Nun juga berlaku sebagai “dukun”.

Di akhir tahun 80-an hingga pertengahan tahun 90-an bersama teman-temannya di Teater Dinasti, yang kemudian bermetamorfose menjadi komunitas Pak Kanjeng serta pada akhirnya mengerucut pada KiaiKanjeng sampai saat ini, ia aktif mementaskan berbagai naskah dramanya seperti Geger Wong Ngoyak Macan, Sunan Sableng, Baginda Farouk serta Pak Kanjeng. Di situ Cak Nun berperan sebagai penulis naskah atau semacam skenario. Pernah juga menulis naskah Duta Dari Masa Depan yang dipentaskan untuk keperluan acara Pisowanan Agung Ngarso Dalem Hamengkubuwono X di Yogyakarta.

Tahun 1994, mengawali pengajian Padhang mBulan di Jombang yang kemudian menjadi embrio dan model social movement. Belakangan sejak tahun 1996 bersama KiaiKanjeng, Cak Nun ikut merilis album kaset seperti Kado Muhammad, Wirid Padhang mBulan, Tombo Ati, Ilir-Ilir, Raja Diraja, Ya Allah Ya ‘Adhim, Perahu Nuh, Kepada Mu Kekasihku, Cinta Sepanjang Zaman, Duh Gusti, Kucari Surgaku dan Maiyah.

Karya puisinya cukup banyak dibukukan, seperti M Frustasi, Sajak-sajak Sepanjang Jalan, 99 Untuk Tuhanku, Suluk Pesisiran, Syair-syair Indonesia Raya, Syair-syair Lautan Jilbab, Seribu Masjid Satu Jumlahnya, Cahaya Mata Cahaya, Yang Terhormat Nama Saya, Sesobek Buku Harian Indonesia dan Doa Mohon Kutukan.

Sejumlah kolom dan esainya telah pula diterbitkan, diantaranya Indonesia Bagian Dari Desa Saya, Dari Pojok Sejarah, Sastra yang Membebaskan, Slilit Sang Kiai, “Ikut Tidak Lemah, Ikut Tidak Melemahkan”, Kiai Sudrun Gugat, Sedang Tuhanpun Cemburu, Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai, Bola-bola Kultural, Markesot Bertutur, Surat Kepada Kanjeng Nabi, Tuhan pun Berpuasa, Pilih Barokah atau Azab Allah, Keranjang Sampah, 2,5 Jam Bersama Soeharto, Mati Ketawa Cara Reformasi, Kiai Kocar-Kacir, Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan, Jogja Indonesia Pulang-Pergi, Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu, Folklore Madura, Puasa itu Puasa, Syair-Syair Asmaul Husna, dan Kerajaan Indonesia (kumpulan wawancara). Tulisan-tulisan ringan berjudul Kafir Liberal yang berisi catatan-catatan perjalanan selama di Eropa juga sudah diterbitkan.

Selain berkarya diatas ia juga bergiat di pergumulan masyarakat bawah, melalui forum-forum silaturahmi rutin seperti Padhang mBulan (Jombang), Mocopat Syafaat (Jogja), Kenduri Cinta (Jakarta), Haflah Sholawat (Surabaya), Gambang Syafaat (Semarang), Tali Kasih (Bandung), Paparandeng Ate (Makasar), dan yang paling anyar adalah kesibukannya memandu kegiatan-kegiatan workshop Jamiyah Maiyah di beberapa kota di Indonesia.

Sedemikian banyak peran yang dipanggul oleh Cak Nun sehingga tak sedikit orang yang bingung memahami profesi Cak Nun. Terhadap hal ini Cak Nun menjelaskan bahwa dirinya bukan siapa-siapa, bukan penyair, bukan seniman, bukan mubaligh atau yang lain, melainkan seorang pekerja. Atau lebih tepatnya adalah seorang manusia. Yang dalam hidupnya memiliki kewajiban untuk bekerja. Baginya manusia sudahlah yang tertinggi. Kepenyairan, kesenimanan, kemuballighan, atau apapun hanyalah sebagian fungsi yang dimiliki dalam hidupnya justru untuk mengutuhkan kemanusiaannya. Sementara umumnya orang cenderung menyempitkan dirinya dalam kotak kecil primordialistik menjadi hanya sebagai penyair, seniman, bupati, gubernur, atau bisnisman. Padahal manusia jauh lebih besar dan lebih dari semua itu.

Begitulah kepenyairan, tulisan-tulisan di media massa, ceramah-ceramah dan diskusi, pementasan-pementasan, pengajian-pengajian, pembikinan kaset, aktivitas sosial atau politik lainnya yang dilakukan dan dilibati secara penuh oleh Cak Nun pada dasarnya hanyalah medium dan cara yang bisa dipakai untuk mengungkapkan dan mensilaturrahmikan pikiran-pikiran, gagasan-gagasan yang diembannya kepada masyarakat luas. Gagasan-gagasan yang berintikan tauhid yakni menomorsatukan Allah di segala bidang dan urusan yang selama ini beliau coba perjuangkan. Segala macam cara dan medium tersebut berposisi thoriqoh atau washilah terhadap cita-cita dan idealisme semacam itu.

Dan khusus soal musik, suatu ketika Cak Nun menulis: “Persentuhan saya dengan dunia musik beserta para pemusiknya hanyalah persentuhan rasa mesra kemanusiaan, persentuhan empati dan apresiasi, atau kesediaan untuk menghargai, menghormati dan menerima dengan keihkhlasan setiap fenomenanya.” (Progress Publisher/Padhangmbulan doc)
Admin Pada Sunday, January 27, 2013 Komentar

Saturday, January 19, 2013

Pengelana Dari Menturo

Inspirasi
IA adalah sosok multikreatif. Kreativitasnya telah mengantarkan langkah kakinya ke berbagai dimensi kehidupan: santri, gelandangan, dan seniman sastra.

Tanggal 17 malam, di Dusun Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.
Halaman pesantren yatim piatu itu sudah nyaris penuh oleh jemaah. Nuansa putih mewarnai ribuan orang yang duduk di atas puluhan tikar yang terhampar, sampai ke luar kompleks Pesantren Zaituna. Pukul sembilan tepat, acara pun dibuka dengan pembacaan surah Al-Fatihah oleh seorang pria gagah yang juga mengenakan baju dan kopiah putih.

Acara demi acara pun kemudian mengalir dengan lancar. Selawat pembuka, yang diambil dari beberapa syair Maulid Simthud Durar, mengawali prosesi spiritual malam itu. Lantunan syair selawat itu semakin indah saat diiringi irama rancak yang berasal dari perpaduan berbagai alat musik modern dan tradisional. Jemaah, yang sebagian besar pemuda dan mahasiswa, pun segera larut dalam kesyahduan.

Usai beberapa lagu pembuka, acara yang dinantikan jemaah pun tiba. Sang pemimpin kelompok musik asal Jawa Timur kembali tampil, meraih mikrofon dan menyapa hadirin. Dengan lugas ia lalu menyampaikan sebuah prolog diskusi yang cukup panjang. Dengan gaya bicaranya yang agak “nakal” dan penuh sentilan, tokoh yang belakangan tubuhnya “membesar” ini menyoroti berbagai permasalahan kemasyarakatan.

Forum malam itu semakin semarak setelah sang narasumber membuka kesempatan dialog. Bergantian, beberapa orang yang hadir menyampaikan unek-uneknya. Terkadang hadirin ger-geran ketika audiens berbicara dengan gaya yang lugu. Maklum, jemaah yang hadir di pengajian rutin bulanan itu memang berasal dari berbagai golongan dan strata sosial.

Sang narasumber, tokoh sentral kita kali ini, adalah sosok yang dikenal multikreatif. Ia melintasi berbagai dimensi kreativitas, diawalinya sejak usia muda, yang membuatnya bisa masuk ke hampir semua golongan. Dialah Muhammad Ainun Najib, yang lebih dikenal dengan Emha Ainun Najib atau Cak Nun.

Berbagai predikat, seperti budayawan, kolumnis, seniman, bahkan kiai, kini kerap dinisbatkan kepada pria yang mengaku mengawali segalanya dengan keterbatasan-keterbatasan yang melingkarinya. Sebuah proses panjang yang, menurutnya, berliku.

Dikenal memiliki stamina ketekunan dan keuletan yang menggebu-gebu dalam mengatur energi kebaikan, suami Novia Kolopaking ini mampu tetap eksis dalam berbagai geliat kehidupan. Ia bahkan mampu mewarnainya secara langsung dengan arif.

Santri Gelandangan
Lahir pada 27 Mei 1953 di Menturo, Jombang, Jawa Timur, Emha adalah anak keempat dari lima belas bersaudara. Ayahnya, Muhammad Abdul Lathif, seorang petani dan kiai surau, sering menjadi muara keluh kesah masyarakat di sekitarnya. Begitu pula dengan ibunya, Chalimah.

Emha menjalani hampir seluruh episode awal kehidupannya di dusun kecilnya, Menturo. Ia bersyukur menjadi anak desa, yang memberinya pengalaman dan pelajaran tentang kesederhanaan, kewajaran, dan kearifan hidup.

“Saya banyak belajar dari orang desa yang berhati petani. Mereka makan dari hasil yang ditanam. Semuanya berdasarkan kewajaran, kerja sebagai orientasi hidup, tak pernah mempunyai keinginan menguasai atau mengeksploitasi alam dan sesama manusia. Mereka tabah meskipun ditindih penderitaan,” kata Cak Nun.

Setamat SD, Emha melanjutkan ke Pondok Pesantren Gontor. Namun, di pesantren yang diasuh oleh K.H. Imam Zarkasyi itu ia hanya bertahan selama dua setengah tahun. Emha, yang sejak kecil dikenal kritis, melancarkan aksi protes terhadap ketidakadilan petugas keamanan pondok, sehingga “diusir” dari Pondok Pesantren Gontor.

Pengalaman dua setengah tahun di Gontor, tampaknya begitu berkesan bagi Emha, yang memang dibesarkan dengan kultur santri. Sekelumit pengalaman itu pula yang kelak kerap mewarnai berbagai karyanya yang sarat kritik sosial, lugas tapi sufistis.

Keluar dari Gontor, Emha lantas hijrah ke Yogyakarta, kota yang membuka peluang bagi pengembangan kreativitasnya. Usai menamatkan pendidikan menengah di SMA Muhammadiyah I pada 1969, ia juga sempat masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Namun setelah kuliah empat bulan, pada hari kedua ujian semester I, ia keluar.

Gejolak jiwa seniman Emha, membawa langkah kakinya ke “Universitas” Malioboro. Sepanjang kurun 1970-1975, ia menggelandang hidup di komunitas Maliboro. Ia bergabung dengan kelompok penulis muda Persada Studi Klub, yang kala itu diasuh oleh “mahaguru” Umbu Landu Paranggi. Saat itulah pengembaraan sosial, intelektual, kultural, maupun spiritual Cak Nun memasuki babak baru, berkarya.

Nama Emha mulai dikenal orang, saat tulisan-tulisannya yang berupa esai, puisi, dan cerpen, bertebaran di berbagai media massa. Waktu yang hampir bersamaan ketika ia mulai rajin mementaskan pembacaan-pembacaan puisinya bersama Teater Dinasti pada tahun 1980-an.

Selepas bergulat panjang di “Universitas” Malioboro, dekade ’80-an, sering dianggap sebagai periode produktif Cak Nun. Dalam rentang waktu tersebut, ia melahirkan beberapa antologi puisi, di antaranya Sajak-sajak Sepanjang Jalan (1977), Cahaya Maha Cahaya (1988), Syair Lautan Jilbab (1989), dan Suluk Pesisiran (1990).

Kini, setelah 30 tahun berkarya, Emha Ainun Nadjib telah mela¬hirkan lebih kurang 25 antologi puisi yang berisi sekitar 800 judul puisi. Ciri khas puisi karyanya adalah kandungan protes sosial, sosio-religius, dan mistik Islam. Di luar puisi, Cak Nun, bersama Halim H.D., “pengasuh” jaringan kesenian Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa repertoar serta pementasan drama.

Di antara karya fenomenalnya adalah drama kolosal Santri-santri Khidhir, yang dipentaskannya bersama Teater Salahudin di lapangan Gontor, dengan seluruh santri menjadi pemain, dan Lautan Jilbab, yang dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya, dan Makassar, tahun 1990.

Rumah Hantu
Hal unik lain dari tokoh satu ini adalah kenekatannya yang sering overdosis. Setelah sebelumnya pernah menggelandang di sepanjang emperan toko Malioboro, Yogyakarta, Cak Nun juga pernah menjadi gelandangan di Amsterdam, Belanda. Ketika itu, usai mengikuti salah satu event kepenyairan ia kehabisan bekal. Bahkan untuk membeli tiket pesawat pulang pun Cak Nun tidak mampu.

Beruntung, jiwanya adalah petualang. Ketidakberdayaan ini dimanfaatkannya untuk menimba pengalaman hidup. Bersama temannya, seorang penyair asal Amerika Serikat yang menjadi imigran gelap di Belanda, selama dua bulan Cak Nun, yang tak memegang uang sepeser pun, menempati satu petak flat yang tak berpenghuni.

Di Negeri Kincir Angin itu ada kebiasaan, jika ada sebuah rumah yang ditelantarkan atau ruang kosong yang tak ditempati lebih dari dua bulan, setiap orang berhak menempatinya. “Tapi jangan dianggap itu rejeki nomplok dulu,” kelakarnya. “Tinggal di rumah tanpa pemanas saat musim salju sama saja dengan kos di dalam kulkas.”

Beruntung tubuhnya telah terbiasa dengan kemelaratan. Meski melawan suhu di bawah nol derajat, Cak Nun tak pernah merasakan sakit. “Untuk mengisi kamar itu, kami menunggu setiap Senin malam orang-orang Belanda buang barang. Kasur, selimut, mesin ketik, teve hitam putih, kompor fungsi separo, meja, kursi, dan sebagainya kami angkut dari tempat pembuangan,” katanya lagi.

Untuk makan, keduanya mengais sisa-sisa restoran dan rumah tangga kaya yang membuang makanan agak kadaluwarsa.

“Rupanya, makin miskin dan menderita, perut kita makin tahan racun,” ujarnya terkekeh.

Di tempat itulah Cak Nun mengenal dan berinteraksi dengan para pengungsi, yang kebanyakan adalah pelarian politik dari berbagai negara Afrika.

“Tiap hari kami bercengekrama sambil mencari secuil roti di sekitar Centraal Station Amsterdam.”

Dari para “panduduk haram” ini pula ia mengaku mengetahui cara membongkar kotak telepon agar ratusan koinnya ambrol keluar. Atau teknik benang koin yang digunakan untuk untuk menipu telepon umum, sehingga satu koin bisa dipakai berulang kali, bahkan bisa dipakai menelepon ke luar negeri.

Belakangan, ketika punya sedikit uang, ia menyewa kamar yang tarifnya murah, karena dipercayai penduduk sekitar ada hantunya. Di Denhaag, pertengahan 1980-an, misalnya, Cak Nun pernah menyewa kamar yang konon juga ada setannya. Tarif sewanya kurang dari separuh harga normal, karena pernah ada penghuni kamar itu yang gantung diri. Setiap penghuni berikutnya selalu merasa terganggu.

“Saya ikhlas menyediakan diri diganggu dan berjanji tidak akan mengikutinya gantung diri, he he,” candanya.

Sepulang dari luar negeri, Cak Nun makin produktif berkarya dan bahkan mulai merambah ke dunia musik. Ia melahirkan genre baru, musikalisasi puisi. Meski demikian, dalam berbagai kesempatan ia menolak disebut artis musik atau “penyanyi”.

Bersama Kyai Kanjeng, grup musik yang didirikannya, ia menelurkan album kaset bertajuk Kado Muhammad (1996), Wirid Padhang Mbulan (1997), Menyorong Rembulan (1999), Jaman Wis Akhir (1999), Perahu Nuh (1999), Kepada-Mu Kekasih-Ku (2000), Kenduri Cinta dan Maiyah Tanah Air (2002), dan Ummi Khultsum (2005).

Penulis Muda
Emha sebenarnya lahir bukan dari kultur “penyanyi”, ia lebih tepat sebagai pemikir dan penulis serba bisa. Sejak muda ia gandrung menulis puisi, cerpen, naskah drama, makalah, dan esei (kolom). Tahun 1977-1978, tulisan-tulisannya sudah sering dimuat di harian Kompas. Juga di rubrik kolom di majalah Tempo pada tahun 1981. Bisa dibilang, waktu itu ia termasuk salah satu penulis termuda yang mampu menembus ketatnya seleksi dua media terbesar di tanah air tersebut.

Di antara sekian banyak tulisannya, jenis esei merupakan salah satu yang menonjol dan banyak dibukukan. Hingga tahun ini, tulisan-tulisannya yang terserak di berbagai media itu telah dikumpulkan menjadi lebih dari 30 buku.

Tulisan Cak Nun yang ekspresif memang mempunyai kekuatan untuk disukai. Ada banyak cara yang digunakan buat mengekspresikan “dirinya” ke dalam jagat kata, yang membuat pembacanya kerap ikut terbawa mangkel, geli, tertawa, berduka, marah, atau terbakar.

Dalam hal ini Emha pernah berpendapat, jika seseorang ingin menghadirkan suatu karya, ia harus meyakin¬kan diri bahwa salah satu penikmatnya adalah dirinya sendiri. Dan jadilah orang banyak. Artinya, pada saat yang bersamaan, agar karya bisa dinikmati oleh orang banyak, ia juga harus rela untuk menjadi siapa saja.

Tentu saja ilustrasi tersebut tidak mengatakan bahwa Emha cukup sukses mengatasi persoalan tersebut. Tetapi paling tidak untuk perspektif linguistis, karyanya memang memiliki “kelebihan” tertentu; dengan bahasanya yang padat, lugas, rileks, nakal, imajinatif, dan cerdas.

Pada kurun waktu selepas Orde Baru jatuh, produktivitas Emha tampak mulai menurun. Keadaan itu berlangsung sekitar tiga tahun. Hal ini tentu saja menggelisahkan teman-temannya, jangan-jangan Emha akan mengalami masa aus.

Seperti mesin, secanggih apa pun, lambat laun ia akan men¬ghadapi suatu masa yang tak bisa dipakai lagi. Dengan tersenyum Emha mengatakan, “Manusia kan sama sekali bukan mesin.”

Kegelisahan atau mungkin juga asumsi di atas sering tidak sesuai kenyataan. Bukankah, dalam dunia pemikiran, makin matang usia, makin kreatif dan produktif pula seseorang?

Ia merasa, apa yang selama ini dapat dilakukannya tidak lepas dari kealamiahan yang Allah anugerahkan. Otak, yang dibantu akalnya, secara alamiah mengolah gagasan yang muncul dengan sendirinya, yang kemudian menghasilkan sebuah karya.

Keliling Dunia
Saat ini Emha lebih banyak menekuni aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Mbulan di sejumlah kota. Hingga rata-rata 10-15 kali pertemuan digelarnya setiap bulan bersama musik Kyai Kanjeng. Sampai sekarang, Kyai Kanjeng telah menggelar pentas di lebih dari 8.500-an kota kecamatan se-Indonesia.

Sekali waktu, Kyai Kanjeng juga mengelana ke berbagai kota di luar negeri. Seperti, beberapa waktu lalu, Kyai Kanjeng mengadakan pentas muhibah ke Mesir, Hong Kong, Malaysia, Eropa dan Italia. Acara pentas tersebut, yang umumnya diselenggarakan di lapangan terbuka, diikuti berbagai golongan, aliran, dan agama. Ia dan kelompoknya menawarkan kegembiraan menikmati kebersamaan seraya menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Kyai Kanjeng juga merupakan satu-satunya grup musik muslim yang mengiringi prosesi pemakaman Paus Johannes Paulus II dengan iringin musik dan puisi-puisi khusus untuk suasana duka itu. Bahkan Comune di Roma, semacam wali kota, mengizinkan pentas Kyai Kanjeng di Teatro Dalmazia pada 5 April 2005 malam, yang membawakan lagu-lagu spiritual. Ini menunjukkan betapa Kyai Kanjeng diterima oleh semua kelompok dan kalangan masyarakat di mana pun.

Adapun jemaahnya di berbagai wilayah Nusantara yang rutin dikunjungi Kyai Kanjeng, antara lain, jemaah “Padang Bulan” tiap pertengahan bulan (15 malam 16, bulan Jawa) di Menturo, Jombang, Jawa Timur; jemaah “Mocopat Syafaat” tiap tanggal 17 malam di Ponpes Az-Zaituna, Tamantirto, Kasihan Bantul, Yogyakarta; jemaah Maiyah, tiap akhir pekan, sistem giliran (infak) di seluruh pelosok Yogyakarta; jemaah “Gambang Syafaat” di Semarang; “Pengajian Izroil” di Wonosobo, Jawa Tengah; “Papparandang Ate” di Sulawesi Selatan; “Haflah Shalawat” di Surabaya; “Tombo Ati” di Malang, Jawa Timur; jemaah “Kenduri Cinta”, tiap Jumat malam, minggu kedua, di halaman Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, atau plaza Universitas Paramadina di Pancoran, Jakarta Selatan, tiap Sabtu malam, minggu kedua. Perubahan jadwal biasanya diinformasikan melalui milis kenduricinta atau website resminya.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Majalah alKisah Nomor 25/III/2005,
lalu di http://sastra-indonesia.com, 22 Oktober 2010.
Admin Pada Saturday, January 19, 2013 Komentar
Subscribe to: Posts (Atom)
  • Artikel Terbaru
  • Arsip Blog

Artikel Terbaru

Arsip Blog

  • October (1)
  • June (14)
  • May (18)
  • April (2)
  • February (1)
  • January (1)
  • January (1)
  • November (1)
  • August (2)
  • July (2)
  • June (3)
  • May (13)
  • April (26)
  • March (30)
  • February (43)
  • January (50)
  • December (4)

Resensi Buku

Kategori

Anekdot Berita Pendidikan Cerpen Download Esai Guru Menulis Inspirasi Kolom Kolom Cak Nun Kolom Jamaah Maiyah Literasi News Opini Pendataan Pendidikan Puisi Regulasi Reportase Maiyah Resensi Buku Sertifikasi Guru Tentang Maiyah Tips & Trik
Pejalan Sunyi

Followers

Pejalansunyi.id berusaha berbagi informasi yang bermanfaat. Jika ada ide, kritik, atau saran, silahkan hubungi kami dengan kontak berikut. Salam!

Name Email Address important Content important

Reportase Maiyah

Contact Form

Name

Email *

Message *

Artikel Random

Memuat...
Copyright © Pejalan Sunyi
Template by Arlina Design