• Home
  • About
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Menu

Pejalan Sunyi

iklan banner
  • Home
  • Daftar Isi
  • News
  • Inspirasi
  • Seputar Guru
    • Regulasi Pendidikan
    • Perangkat Pembelajaran
    • Media Pembelajaran
    • Guru Menulis
    • Sertifikasi Guru
    • Pendataan Pendidikan
  • Tips & Trik
  • Budaya
    • Opini
    • Esai
    • Resensi Buku
    • Cerpen
    • Puisi
    • Anekdot
  • Maiyah
    • Tentang Maiyah
    • Kolom Mbah Nun
    • Kolom Jamaah Maiyah
    • Reportase Maiyah
  • Literasi
  • Download
  • Kirim Artikel

Artikel Populer

  • Daftar Penerima Tunjangan Khusus Daerah Terpencil (Dikdas SD-SMP) Tahun 2013
  • Cara Melakukan Cek SKTP di P2TK Dikdas
  • Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan Tercinta
  • Daftar SK Tunjangan Fungsional Prop. Jawa Timur 2013
  • Cara Melihat Sekolah Pelaksana Kurikulum 2013
  • Menjelang Idul Fitri
  • Pendaftaran Peserta Sertifikasi Guru Tahun 2017 Jalur Prestasi

Inspirasi

Pengunjung

Free counters!
top personal sites
top personal sites
Home / Esai
Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Wednesday, March 20, 2013

Mimpi Menciptakan Soeharto Baru

Esai

SUARA langgam Jawa mengalun kencang dari sepiker di sebuah rumah di Dusun Kemusuk Lor, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa YogyaKarta (DIY). Para perempuan berkebaya dan lelaki berbaju batik lantas berduyun-duyun melintas memasuki halaman dari gerbang berhias janur kuning. Mereka semua adalah tamu Probosutedjo, adik mendiang mantan Presiden Soeharto.

Senin 11 Maret 2013 itu, para tamu yang jumlahnya 300 orang lebih itu datang untuk ikut berbahagia atas pernikahan putri sulung Probo, Dinarti Pertiwi dengan Taufiq Andre. Hari itu, Probo tidak sekadar menggelar pesta per- nikahan putrinya. Namun juga mengajak para tamu untuk beromantika dengan Soeharto. Probo menunjukkan kepada para tamunya bahwa proyek yang ia impikan bertahun-tahun sudah hampir rampung.

Proyek itu adalah pembangunan monumen tetenger (tempat peringatan kelahiran) Soeharto. Probo melakukan soft launching monumen ini pada Jumat 1 Maret 2013 lalu. Monumen ini dibangun di rumah tempat Soeharto dilahirkan, di Kemusuk. Di kompleks monumen ini, ada dua bangunan rumah bernama Notosudiro (kakek buyut Soeharto) seluas 250 meter persegi dan Atmosudiro (kakek Soeharto) seluas 465 meter persegi, serta pendopo joglo seluas 600 meter persegi dengan 36 pilar. Nah, Probo menggelar pesta di kompleks monumen tersebut. Waktu digelarnya pesta pun dipilih bertepatan dengan tanggal keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Maka selain pesta pernikahan, ratusan tamu itu pun dibuat terkagum-kagum dengan proyek megah Probo yang menghabiskan dana miliaran rupiah itu. Begitu memasuki gerbang, para tamu mendapat penghormatan dari Soeharto yang berdiri gagah. Tentunya penghormatan bukan diberikan Soeharto sebenarnya, karena mantan presiden ini sudah me- ninggal pada 27 Januari 2008. Yang memberi penghormatan adalah patung pria yang berjuluk jenderal yang tersenyum itu.

Patung sang jenderal berdiri tegap dengan baju kebesaran militer. Tangan kanannya menghormat, sementara tangan kirinya mengapit tongkat komando. Patung yang terbuat dari perunggu dengan ukuran 3,5 meter itu berteduh di bawah tenda yang menutup lahan seluas 3.800 meter persegi.

Monumen Soeharto ini rupanya lebih menyita perhatian para tamu dibandingkan helatan pernikahan putri Probo sendiri. Para tamu berduyun-duyun melihat isi tetenger alias Monumen Soeharto. Tetenger ini bukan hanya menampilkan penanda kelahiran Soeharto. Probo menggaet arsitek, ahli sejarah, tim ahli teknologi multimedia dan pematung untuk mengisi kompleks tetenger dengan sejarah perjalanan hidup Soeharto.

Patung Soeharto menghormat yang ada di gerbang itu merupakan karya pematung kondang Suhartono. Selain Suhartono, Probo juga menggaet sang maestro pematung Edhi Sunarso. Rumah asli kelahiran Soeharto sendiri sudah roboh. Rumah yang berdekatan dengan senthong tengen (kamar di sisi kanan) kompleks tetenger ini hanya menyisakan fondasi. Fondasi ini dipertahankan untuk menunjukkan wujud asli rumah kelahiran Soeharto yang sederhana.

Rumah Atmosudiro, kakek Soeharto, dan joglo diisi dengan diorama multimedia perjalanan hidup Soeharto. Sedang rumah Notosudiro menjadi tempat tinggal utama. Di rumah Notosudiro ini diletakkan patung perunggu Soeharto setinggi 3 meter karya Edhi, serta patung Soeharto separuh badan karya Suhartono.

Sebenarnya diorama ini belum selesai penggarapannya. Rencananya, diorama juga akan memanfaatkan bagian luar seperti joglo dan taman. Sebab, semua catatan diorama perjalanan hidup Soeharto tidak muat jika dimasukkan dalam bangunan Atmosudiro yang berukuran 250 meter persegi itu. Kekurangan masih ada di beberapa titik, misalnya keterangan sejarah dalam diorama multimedia belum lengkap dan runutan waktu belum sesuai.

Materi diorama sendiri dipersiapkan oleh mantan Kepala Badan Arsip Nasional, Djoko Utomo. Materi keseluruhan kini masih dirangkai. Djoko membutuhkan waktu demi akurasi runutan waktu. Diorama akan sempurna pada 8 Juni 2013, saat launching resmi untuk memperingati kelahiran Soeharto. “Ini belum selesai. Tetapi khusus untuk pernikahan supaya masyarakat sudah mulai menyaksikan,” kata ketua tim arsitek, Iman N. Djatiatmaja.

Jadi para tamu Probo baru mendapatkan suguhan yang ‘masih’ ala kadarnya. Namun demikian, ternyata para tamu sudah dibuat menganggut-anggut kagum. Mereka terpana melihat museum dinamis perjalanan hidup presiden yang pernah berkuasa selama 32 tahun itu.

***
MEMBANGUN memorial Soeharto merupakan ambisi terbesar Probo. Ia membiayai sendiri pembangunan monumen tetenger tanpa bantuan dari anak-anak Soeharto. “Kalau biaya pembangunannya dilakukan setahap demi setahap. Jadi saya pesan (patung Soeharto) ke Pak Suhartono sejak 2011, baru lainnya menyusul,” jelas Probo.

Keinginan Probo untuk membuat memorial ini mempertemukannya dengan mantan Kepala Arsip Nasional Djoko Utomo. Djoko dan sebuah tim kecil lantas merancang pembuatan seri memorial untuk Soeharto. Tim ini juga melakukan studi banding bersama Probo ke Malaysia dan Singapura.

Monumen ini hanya satu dari rangkaian Memorial Soeharto. Probo berencana membangun seri Memorial Soeharto, yakni di Kemusuk, Hotel Tugu Yogyakarta dan Jalan Cendana Jakarta. Tiga bangunan memorial ini terintegrasi dengan Museum Purna Bhakti Pertiwi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Pembangunan Pusat Kajian Soeharto di Hotel Tugu memanfaatkan lahan milik Probo. Hotel Tugu dan lahan 1 hektare di sekitarnya merupakan lahan milik Probo dan sisanya milik Pemerintah Provinsi DIY. Bangunan ini berada di kawasan Malioboro, tepat di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Sedangkan Soeharto Memorial House di Jalan Cendana, Jakarta rencananya akan memanfaatkan rumah nomor 6 dan 8. Rumah ini merupakan bagian ruang dan kamar tamu. Sedangkan rumah nomor 10 tetap akan menjadi rumah utama untuk tinggal keluarga.

“Tetapi ini masih dalam tahap pembicaraan, karena harus ada persetujuan dari anak-anak Pak Harto sendiri,” jelas Djoko.

Memorial Soeharto bagi Probo sangat penting untuk dibangun, sebab ia merasa Soeharto kurang mendapat tempat dalam ingatan sejarah Indonesia. Apalagi reformasi 1998 menempatkan Soeharto dalam posisi terpojok. Sang kakak yang sangat dihormatinya itu lebih banyak dihujat daripada dipuji sebagai mantan presiden. Maka Probo ingin mendirikan memorial khusus untuk Soeharto, yang memberi perspektif berbeda dari sosok Soeharto yang dipaksa turun dari jabatan presiden karena kasus pelanggaran HAM dan dugaan korupsi. “Ya sebenarnya kalau di negara lain itu semua dibikin diorama, untuk menjelaskan bagaimana perjuangan seorang pemimpin negara. Kan setelah apa itu banyak yang menuduh Pak Harto korupsi,” jelasnya.

Probo ingin orang-orang yang datang ke monumen ataupun Soeharto Center memahami jasa besar mantan presiden itu dalam bidang pembangunan dan menjadikannya sebagai suri teladan. Meski penuh kontroversi terkait pelanggaran HAM dan kasus korupsi, bagi Probo, jasa Soeharto melebihi jasa pahlawan nasional.

“Biar bisa mempelajari. Kalau dengan sungguh- sungguh, nanti bisa jadi maju,” kata Probo.

Maftuh Basyuni, mantan Kepala Biro Protokol era Soeharto yang juga menjabat Menteri Agama mendukung Probo. Ia juga berpendapat Soeharto memiliki jasa besar bagi bangsa ini.

“Lalu (monumen dan Soeharto Center) kan difungsikan pemuda-pemudi di sana, diharapkan nanti ada kegiatan-kegiatannya itu menciptakan Soeharto-soeharto baru,” kata Maftuh kepada majalah detik.

Tentu saja keinginan Probo dan Maftuh ini mendapat kritik keras para aktivis 1998, pegiat HAM dan aktivis antikorupsi. Pemerintah diminta tidak membiarkan pembangunan Memorial Soeharto tanpa diimbangi dengan data-data kesalahan mantan presiden itu dalam bidang HAM dan korupsi. (ARY/IYe)

Sumber : Majalah Detik EDISI 68  18 - 24 maret 2013
Reporter: Aryo Bhawono dan Irwan Nugroho, Illustrasi: Kiagoes
Admin Pada Wednesday, March 20, 2013 Komentar

Sunday, March 10, 2013

Tantrum

Esai

Iwan menangis, menjerit dan berguling-guling di lantai. Ia menuntut ibunya membelikan mainan mobil-mobilan di sebuah hypermarket. Sang Ibu sudah berusaha membujuk dengan mengatakan bahwa sudah banyak mobil-mobilan di rumahnya. Justru Andi malah semakin menjadi. Ibunya serba salah, malu dan tidak berdaya menghadapi si anak. Di satu sisi, ibunya tidak ingin membelikan mainan tersebut karena masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Namun disisi lain, jika tidak dibelikan, ia kuatir Iwan akan semakin menjerit dan menarik perhatian semua orang. Bisa saja orang lain menyangka dirinya orangtua yang kejam dan pelit. Si Ibu bingung. Alhasil, terpaksa ia membeli mainan yang diinginkan Iwan. Benarkah tindakan sang Ibu?
KEJADIAN di atas merupakan suatu kejadian yang disebut sebagai Temper Tantrums, yaitu suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Temper Tantrum (untuk selanjutnya disebut sebagai Tantrum) seringkali muncul pada anak usia 15 (lima belas) bulan sampai 6 (enam) tahun.

Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
2. Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
4. Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
5. Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
6. Sulit dialihkan perhatiannya.

Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah beberapa contoh perilaku Tantrum, menurut tingkatan usia:

1. Di bawah usia 3 tahun:
Menangis, Menggigit, Memukul, Menendang, Menjerit, Memekik-mekik, Melengkungkan punggung, Melempar badan ke lantai, Memukul-mukulkan tangan, Menahan nafas, Membentur-benturkan kepala, Melempar-lempar barang
2. Usia 3 - 4 tahun:
Perilaku-perilaku tersebut diatas, Menghentak-hentakan kaki, Berteriak-teriak, Meninju, Membanting pintu, Mengkritik, Merengek
3. Usia 5 tahun ke atas
Perilaku- perilaku tersebut pada 2 (dua) kategori usia di atas, Memaki, Menyumpah, Memukul kakak/adik atau temannya, Mengkritik diri sendiri, Memecahkan barang dengan sengaja, Mengancam
Faktor Penyebab
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu.
Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara Tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada contoh kasus di awal.

2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri.
Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk Tantrum.

3. Tidak terpenuhinya kebutuhan.

Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah Tantrum. Contoh lain: anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang dimilikinya. Misalnya anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak 4 tahun ingin mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh orangtua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena tidak diperbolehkan, ia memakai cara Tantrum agar diperbolehkan.

4. Pola asuh orangtua

Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan Tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa Tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku Tantrum. Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak Tantrum. Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan menjadi Tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum. Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain, yang satu memperbolehkan anak, yang lain melarang. Anak bisa jadi akan Tantrum agar mendapatkan keinginannya dan persetujuan dari kedua orangtua.

5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.

6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman (insecure).

Tindakan
Dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm (La Forge: 1996) banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa Tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Sebagai bagian dari proses perkembangan, episode Tantrum pasti berakhir. Beberapa hal positif yang bisa dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit. Namun demikian bukan berarti bahwa Tantrum sebaiknya harus dipuji dan disemangati (encourage). Jika orangtua membiarkan Tantrum berkuasa (dengan memperbolehkan anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia Tantrum, seperti ilustrasi di atas) atau bereaksi dengan hukuman-hukuman yang keras dan paksaan-paksaan, maka berarti orangtua sudah menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak kasar dan agresif (padahal sebenarnya tentu orangtua tidak setuju dan tidak menginginkan hal tersebut). Dengan bertindak keliru dalam menyikapi Tantrum, orangtua juga menjadi kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.

Pertanyaan sebagian besar orangtua adalah bagaimana cara terbaik dalam menyikapi anak yang mengalami Tantrum. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kami mencoba untuk memberikan beberapa saran tentang tindakan-tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk mengatasi hal tersebut. Tindakan-tindakan ini terbagi dalam 3 (tiga) agian, yaitu:
1. Mencegah terjadinya Tantrum
2. Menangani Anak yang sedang mengalami Tantrum
3. Menangani anak pasca Tantrum
Pencegahan
Langkah pertama untuk mencegah terjadinya Tantrum adalah dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa muncul Tantrum pada si anak. Misalnya, kalau orangtua tahu bahwa anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak Tantrum, orangtua perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.

Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakan anak. Dalam hal ini mendampingi anak pada saat ia mengerjakan tugas-tugas dari sekolah (bukan membuatkan tugas-tugasnya lho!!!) dan mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada anak karena beban sekolah tersebut. Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas sekolah, tapi juga pada permainan-permainan, sebaiknya anak pun didampingi orangtua, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orangtua dapat membantu dengan memberikan petunjuk.

Langkah kedua dalam mencegah Tantrum adalah dengan melihat bagaimana cara orangtua mengasuh anaknya. Apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orangtua bertindak terlalu melindungi (over protective), dan terlalu suka melarang? Apakah kedua orangtua selalu seia-sekata dalam mengasuh anak? Apakah orangtua menunjukkan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan?

Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti. Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan. Jika ada ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. Orangtua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa orangtuanya selalu sepakat dan rukun.

Ketika Tantrum Terjadi

Jika Tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah:
1. Memastikan segalanya aman. Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum (di rumah maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.

2. Orangtua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosinya sendiri agar tetap tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak.

3. Tidak mengacuhkan Tantrum anak (ignore). Selama Tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan Tantrumnya, karena anak toh tidak akan menanggapi/mendengarkan. Usaha menghentikan Tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin dalam api, anak akan semakin lama Tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orangtua tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu atau paksaan.

4. Jika perilaku Tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan tidak selesai-selesai, selama anak tidak memukul-mukul Anda, peluk anak dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa memeluk anak dengan cinta (karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan anak), minimal Anda duduk atau berdiri berada dekat dengannya. Selama melakukan hal inipun tidak perlu sambil menasihati atau complaint (dengan berkata: "kamu kok begitu sih nak, bikin mama-papa sedih"; "kamu kan sudah besar, jangan seperti anak kecil lagi dong"), kalau ingin mengatakan sesuatu, cukup misalnya dengan mengatakan "mama/papa sayang kamu", "mama ada di sini sampai kamu selesai". Yang penting di sini adalah memastikan bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa orangtuanya ada dan tidak menolak (abandon) dia.
Ketika Tantrum Telah Berlalu
Saat Tantrum anak sudah berhenti, seberapapun parahnya ledakan emosi yang telah terjadi tersebut, janganlah diikuti dengan hukuman, nasihat-nasihat, teguran, maupun sindiran. Juga jangan diberikan hadiah apapun, dan anak tetap tidak boleh mendapatkan apa yang diinginkan (jika Tantrum terjadi karena menginginkan sesuatu). Dengan tetap tidak memberikan apa yang diinginkan si anak, orangtua akan terlihat konsisten dan anak akan belajar bahwa ia tidak bisa memanipulasi orangtuanya.

Berikanlah rasa cinta dan rasa aman Anda kepada anak. Ajak anak, membaca buku atau bermain sepeda bersama. Tunjukkan kepada anak, sekalipun ia telah berbuat salah, sebagai orangtua Anda tetap mengasihinya.

Setelah Tantrum berakhir, orangtua perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi Tantrum. Apakah benar-benar anak yang berbuat salah atau orangtua yang salah merespon perbuatan/keinginan anak? Atau karena anak merasa lelah, frustrasi, lapar, atau sakit? Berpikir ulang ini perlu, agar orangtua bisa mencegah Tantrum berikutnya.

Jika anak yang dianggap salah, orangtua perlu berpikir untuk mengajarkan kepada anak nilai-nilai atau cara-cara baru agar anak tidak mengulangi kesalahannya. Kalau memang ingin mengajar dan memberi nasihat, jangan dilakukan setelah Tantrum berakhir, tapi lakukanlah ketika keadaan sedang tenang dan nyaman bagi orangtua dan anak. Waktu yang tenang dan nyaman adalah ketika Tantrum belum dimulai, bahkan ketika tidak ada tanda-tanda akan terjadi Tantrum. Saat orangtua dan anak sedang gembira, tidak merasa frustrasi, lelah dan lapar merupakan saat yang ideal.

Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa kalau orangtua memiliki anak yang "sulit" dan mudah menjadi Tantrum, tentu tidak adil jika dikatakan sepenuhnya kesalahan orangtua. Namun harus diakui bahwa orangtualah yang punya peranan untuk membimbing anak dalam mengatur emosinya dan mempermudah kehidupan anak agar Tantrum tidak terus-menerus meletup. Beberapa saran diatas mungkin dapat berguna bagi anda terutama bagi para ibu/ayah muda yang belum memiliki pengalaman mengasuh anak. Selamat membaca, semoga bermanfaat.(jp)

Ditulis oleh: Martina Rini S. Tasmin, SPsi.
Admin Pada Sunday, March 10, 2013 Komentar

Sunday, February 24, 2013

Serpih-serpih Kisah Bersama Umbu Landu Paranggi

Esai
Umbu Guru Cak NunPERTEMUAN pertama saya dengan Umbu adalah sebuah pertemuan yang sangat menjengkelkan sekaligus menggelikan, yang terus membekas dalam kenangan. Namun pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan anugerah tak ternilai yang ikut mempengaruhi perjalanan hidup saya, terutama ketika bergesekan dengan dunia puisi.

Pada sebuah petang yang cerah di bulan Agustus 1993, ketika saya masih kelas tiga sekolah menengah atas, saya diajak oleh seorang kawan menonton pertunjukan teater di sebuah sanggar di Sanur, Denpasar. Kata kawan saya, Umbu pasti datang dalam acara itu. Kata dia lagi, kesempatan bertemu Umbu sangat langka, maka sangat rugi kalau saya tidak datang.

Ya, memang rugi kalau saya tidak ketemu Umbu, sebab pada waktu itu saya memang sedang tergila-gila ingin bertemu mantan “Presiden Malioboro” itu, sejak beberapa penyair senior di Bali “meracuni” otak saya dengan cerita-cerita nyleneh tentang Umbu. Pada waktu itu saya baru belajar menulis puisi dan baru mencicipi pergaulan sastra di Sanggar Minum Kopi (SMK), tempat kongkow penyair Denpasar, seperti Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, GM Sukawidana, Putu Fajar Arcana, K. Landras Syailendra dan banyak lagi. Umbu sekali waktu suka mampir ke SMK yang bekas toko klontong itu.

Tapi ketika itu saya belum pernah bersua dengan Umbu di SMK. Maka ketika kawan saya mengabarkan Umbu akan hadir di acara pentas teater itu, saya mempersiapkan diri untuk pertemuan yang bagi saya akan sangat bersejarah dalam karier awal kepenyairan saya. Sebelumnya saya sudah beberapa kali mengirim puisi (hampir setiap minggu) ke Bali Post yang gawang redaksinya dijaga ketat oleh Umbu. Setelah lebih dari 30 puisi saya menumpuk di meja Umbu, akhirnya dimuat hanya satu biji puisi yang berdampingan dengan karya beberapa penyair belia seangkatan saya. Tentu saya sangat girang dengan pemuatan perdana tersebut. Setelah perjuangan dan penantian yang meletihkan, akhirnya puisi saya diakui juga oleh Umbu. Saya pun merasa telah menjadi seorang penyair karena puisi saya dimuat Umbu, meski masih kelas penyair “Kompetisi.”

Saya datang ke acara pentas teater itu dengan mengayuh sepeda. Kawan saya yang sudah lebih dulu di sana menarik tangan saya dan dengan wajah gembira mengabarkan Umbu benar-benar datang pada acara itu. Tentu saja saya penasaran dan clingak-clinguk mencari-cari orang yang bernama Umbu itu. Dalam bayangan saya, Umbu berperawakan tinggi besar, agak gemuk, wajah sedikit brewok. Tapi perkiraan itu sedikit meleset setelah kawan saya menunjukkan orang yang bernama Umbu. Umbu tidak gemuk, meski tubuhnya memang tinggi besar dan berotot. Wajahnya bersih, tidak ada bulu sedikit pun, hidungnya besar dan mancung, sorot matanya tajam namun menyejukkan, bibirnya lebar tapi jarang menyunggingkan senyum. Umbu nampak berwibawa di bawah naungan topi yang tidak pernah lepas dari kepalanya. Bertahun-tahun kemudian saya tahu kalau topi itu memang sengaja dipakai untuk menutupi rambutnya yang rontok dan mulai botak.

Umbu termasuk lelaki modis. Dia suka mengenakan t-shirt yang dipadu kemeja jeans dengan lengan digulung. Celana yang dipakainya juga kebanyakan jeans, kadang dengan variasi kantong di lutut. Pada kesempatan lain dia suka memakai baju lurik khas Yogya, sorjan. Rambutnya panjang sebahu. Dia suka memakai sendal semi sepatu sebagai alas kaki. Di pergelangan tangan kirinya melingkar gelang akar bahar hitam. Kadangkala lehernya dilingkari syal. Dia punya banyak koleksi topi yang secara bergantian dipakainya, mungkin juga disesuaikan dengan warna baju yang dikenakannya. Namun yang agak ganjil, kalau bepergian dia suka jalan kaki sambil menenteng tas kresek yang entah berisi apa. Kata seorang kawan, tas kresek itu mungkin berisi puisi-puisi yang akan dieksekusi sambil minum kopi di suatu warung di sudut pedesaan Bali.

Dada saya berdebar ketika Umbu lewat di depan saya. Kawan saya menyuruh saya segera menghampirinya dan memperkenalkan diri. Tapi jangankan memperkenalkan diri, menyapa dia saja saya kehabisan kata-kata. Pesonanya begitu kuat bagi jiwa remaja saya yang terlanjur mengaguminya gara-gara mitos yang ditanamkan ke benak saya. Dari kejauhan saya melihat dia asyik menerima salam dari para seniman senior yang hadir di sana. Umbu nampak takzim dan sesekali senyum tipis mendengar ocehan seniman-seniman yang banyak lagak itu. Pada mulanya saya hanya memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan. Tapi kesempatan tidak datang dua kali, pikir saya. Maka dengan menghimpun segenap keberanian, saya mendatangi Umbu yang lagi asyik ngobrol sambil berdiri dengan seorang seniman yang tidak saya kenal. Saya menjulurkan tangan agak ragu sambil memperkenalkan nama saya. Tak lupa saya tambahkan bahwa puisi saya pernah dimuat di rubriknya, tentu dengan harapan dia mengingat saya. Tapi Umbu hanya menjabat tangan saya sekilas dan ngloyor pergi bersama temannya, meninggalkan saya yang terbengong-bengong sendiri. Saya pikir dia akan mengajak saya berbincang-bincang agak lama perihal proses kreatif saya, menanyakan sejak kapan menulis puisi, apa ada puisi baru, dan berbagai pertanyaan basa-basi lainnya, sebagaimana umumnya perkenalan pertama. Sejak itu pupuslah impian saya untuk ngobrol panjang lebar dengannya, dan kekaguman saya pada Umbu tiba-tiba saja menguap entah ke mana. Kesan pertama saya benar-benar berantakan tentang Umbu. Pada waktu itu hanya ada tiga kata dalam benak saya ketika orang bertanya tentang Umbu: “Umbu? Manusia angkuh!”

Belakangan kemudian saya tahu, Umbu bukanlah tipe orang yang suka basa-basi dan memang terkesan dingin bila berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi sebenarnya Umbu termasuk tipe lelaki pemalu. Kalau berbicara dengan Umbu, jangan harap dia mau menatap mata kita, apalagi dengan orang yang baru dikenalnya. Biasanya kalau diajak bicara, dia akan mengalihkan pandangan dari wajah lawan bicaranya.

Namun di balik semua kesan dinginnya, Umbu seorang pemerhati yang sangat hangat. Dia tidak jarang mengunjungi seorang calon penyair yang dianggapnya berbakat. Kadangkala dia datang membawa sejumlah buku puisi sebagai kado ulang tahun calon penyair itu. Pada kesempatan lain dia datang hanya untuk mengajak calon-calon penyair main kartu dan makan pisang rebus. Umbu memiliki cara tersendiri, seringkali tidak terduga, untuk memotivasi calon-calon penyair yang dianggapnya berbakat besar.

Mengenai hal itu saya pernah punya pengalaman diberi hadiah nasi bungkus oleh Umbu yang diistilahkannya sebagai nasi bungkus “Republika.” Pada waktu itu, tahun 1994, puisi saya untuk pertama kalinya dimuat koran nasional, Republika, bersama beberapa penyair senior Bali. Umbu sangat senang dengan pemuatan itu dan mendatangi saya secara khusus di SMK sekitar jam sepuluh, malam Minggu. Kebetulan waktu itu saya sedang asyik diskusi puisi dengan Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana dan beberapa kawan lain, Umbu tiba-tiba muncul di pintu sanggar dan menjulurkan sebuah tas kresek kecil pada saya. “Jengki, ini nasi Republika, nasi khusus untuk kamu! Makanlah!” ujarnya sambil ketawa senang. Tentu saja saya kaget dengan hadiah mendadak itu, apalagi yang memberikan orang sekaliber Umbu yang telah menjadi mitos itu. Teman-teman lain yang sudah paham kebiasaan Umbu hanya ketawa-ketawa kecil. Pembicaraan pun beralih pada puisi-puisi yang dimuat Republika itu. Belakangan saya tahu kalau nasi bungkus itu merupakan jatah makan malam Umbu dari Bali Post yang memang khusus dibawakan untuk saya karena berhasil menembus media nasional. Biasanya Umbu setiap hari Sabtu bekerja hingga malam di Bali Post untuk mempersiapkan rubrik sastra yang terbit setiap Minggu. Di luar hari Sabtu itu kami tidak pernah tahu Umbu berada di mana. Dia punya banyak tempat persinggahan yang selalu dirahasiakannya.

Lelaki yang bernama lengkap Umbu Wulang Landu Paranggi itu merupakan cucu salah seorang raja Sumba. Umbu dilahirkan di Waikabubak, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1945. Yogyakarta merupakan tempat kelahiran kedua bagi Umbu. Kota Yogya telah membuat Umbu jatuh hati, yang dalam istilahnya, seakan rata dengan tanah. Jalan Malioboro dan barisan pohon cemara di depan kampus UGM adalah tempat yang paling berkesan bagi Umbu selama di Yogya. Sejak meninggalkan tanah kelahirannya di Sumba, Umbu ingin melanjutkan sekolah di Taman Siswa Yogya, tapi terlambat karena pendaftaran telah ditutup. Akhirnya Umbu meneruskan sekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta.

Ketika bersekolah di SMA Bopkri itulah kebiasaannya menulis puisi tumbuh subur dan seringkali menelantarkan pelajaran lainnya. Di sekolah Bopkri itu pula Umbu menemukan seorang guru yang baginya ikut mempengaruhi jalan hidupnya kemudian, Ibu Lasia Sutanto, guru Bahasa Inggris. Setiap kali ada pelajaran guru itu, Umbu suka diam-diam menulis puisi. Umbu sendiri tidak mengerti, yang istilah Umbu entah setan atau dewa apa yang menyebabkannya begitu. Padahal Umbu sudah ditegur beberapa kali karena dianggap mengganggu jalannya pelajaran dan konsentrasi teman-temannya di kelas. Akhirnya karena jengkel dengan ulah Umbu, kawan-kawannya mendesak Ibu Lasia agar menghukum Umbu membaca puisi di depan kelas. Ibu Lasia berpikir dan merenung, kemudian memutuskan bahwa nanti kalau puisi Umbu sudah dimuat koran, baru dikritik. Ibu guru yang pernah menjadi Menteri Peranan Wanita pertama RI itu kemudian memasukkan puisi Umbu ke laci mejanya, dan pelajaran pun kembali berjalan. Tapi Ibu Lasia penasaran juga dengan apa yang ditulis Umbu, puisi itu dikeluarkan lagi dari laci mejanya, dimasukkan lagi, dikeluarkan lagi, begitu seterusnya. Mungkin saat itu Umbu berpikir bahwa Ibu Lasia berminat pada karyanya dan memberikan angin segar bagi proses kreatifnya. Sebab semestinya Umbu pantas dihukum karena sudah beberapa kali melanggar aturan kelas. Sejak itulah Umbu rajin menulis puisi dan kemudian dimuat di beberapa koran.

Tamat dari Bopkri, ibunya menginginkan Umbu melanjutkan kuliah ke fakultas Kedokteran Hewan, tapi Umbu menolak dengan alasan dia lemah dalam pelajaran Ilmu Alam. Diam-diam Umbu kemudian melanjutkan kuliah di Fisipol UGM jurusan Ilmu Sosiatri dan di Universitas Janabadra jurusan Sosiologi.

Di Yogya, sejak tahun 1950-an, Umbu sudah menulis puisi dan esai. Tetapi puisinya jarang yang menonjol dan menarik perhatian para kritikus sastra. Perannya dalam perkembangan puisi Indonesia modern adalah sebagai bidan bagi kelahiran penyair-penyair muda yang kelak menguasai dunia perpuisian mutakhir di Indonesia. Pada tahun 1968, di Yogya, bersama penyair Suwarna Pragolapati, Iman Budi Santosa, dan Teguh Ranusastra Asmara, Umbu membidani dan mengasuh Persada Studi Klub (PSK) yang menguasai rubrik puisi di Mingguan Pelopor Yogya. Komunitas sastra itu kemudian melahirkan nama-nama besar, seperti Emha Ainun Najib, Korie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, Yudistira Adi Nugraha. Umbu pun dikenal sebagai Presiden Malioboro dan penyair yang punya bakat mendidik.

Di Yogya-lah Umbu mengawali petualangan batinnya. Dia seperti kuda Sumba yang gampang-gampang susah dikendalikan. Keyakinannya pada puisi seperti angin sabana, mengalir terus tanpa ada yang mampu menahannya. Darah petualang, puisi dan angin sabana pula yang membuat Umbu terdampar di Tanah Dewata, yang mungkin menjadi tujuan terakhir pengembaraannya.

Umbu yang menetap di Bali sejak tahun 1979 selalu punya cara-cara unik untuk menggairahkan dunia perpuisian dan membangkitkan gairah apresiasi sastra. Dia membuat jadwal pertemuan rutin, kunjungan ke semua kabupaten untuk mengadakan apresiasi puisi, atau dengan sentuhan-sentuhan pribadi yang membuat anak-anak muda merasa berada dalam sebuah ikatan keluarga besar. Di Bali, pada era 1980-an dan 1990-an Umbu mengklasifikasikan puisi-puisi yang dimuat di ruang sastranya ke dalam 4 kelas, yakni: kelas “Pawai” bagi pemula yang baru belajar menulis puisi, kelas “Kompetisi” bagi penyair yang cukup gigih mengirim puisi ke gawangnya dan siap diadu dengan penyair lain yang selevel, kelas “Kompro” atau “Kompetisi Promosi” bagi penyair yang telah lolos dalam sejumlah babak kompetisi dan siap diadu di luar kandang, kelas “Posbud” atau “Pos Budaya” bagi penyair yang telah dianggap handal menggoreng dan menendang bola kata-kata ke gawangnya hingga gol. Umbu menggunakan berbagai cara untuk menggugah kepercayaan diri penyair Bali, salah satunya Umbu pernah mencantumkan besar-besar slogan “Posbud = Horison” di ruang sastranya. Artinya puisi-puisi yang berhasil masuk kelas Posbud kualitasnya dianggap sama dengan puisi-puisi yang dimuat Majalah Sastra Horison. Tapi efeknya pada era itu karya penyair Bali jarang yang muncul di media nasional karena mereka sudah merasa puas setelah menembus Posbud di ruang Umbu. Belakangan muncul kelas “Solo Run” bagi penyair yang karyanya ditampilkan tunggal dalam satu halaman penuh koran. Dan tentu saja ini kelas yang sangat sulit ditembus penyair.

Sistem yang dibuat Umbu itulah yang bikin para penyair muda Bali “mabuk kepayang” dan tergila-gila menulis puisi. Apalagi pada setiap kesempatan pemuatan puisi-puisi kelas Pawai dan Kompetisi, Umbu rajin mengontak dan menggoda para penyair muda lewat kata-kata yang membakar semangat untuk berkarya lebih bagus. Seringkali dibarengi dengan pemuatan foto para penyair yang dikontak Umbu lewat kolom kecil bertajuk “Stop Press.” Anak muda yang awalnya tidak suka puisi pun jadi ikut-ikutan menulis puisi, mungkin karena ada keinginan fotonya dimuat Umbu. Bahkan kelas Pawai dan Kompetisi pun terbagi menjadi sejumlah angkatan yang beranggotakan 5-10 penyair muda. Saya masuk dalam penyair “Kompetisi Angkatan Ke-17”.

Kegemaran Umbu menonton sepak bola mengilhaminya membuat sistem unik untuk ruang sastranya, seperti konsep pos pawai, kompetisi, solo-run. Sistem seperti itu ternyata berhasil menggugah anak-anak muda di Bali untuk bersastra dan berkompetisi menunjukkan karya yang paling unggul. Apalagi Umbu juga memuat esai-esai dan kritik puisi dari para penulis muda itu. Rubrik sastra Umbu yang unik dan meriah itu pun menjadi ruang polemik sastra (puisi) di antara mereka. Penyair A mengomentari karya penyair B, penyair C membantai puisi penyair D, penyair E membela penyair D, begitu seterusnya. Saya rasa pada era itu ada seratusan penyair di Bali yang berebutan menendang bola kata-kata ke gawang Umbu. Dan Umbu adalah penjaga gawang yang bertangan dingin menangkap bola demi bola kata itu.

Pada era 2000-an, Umbu mengubah konsep rubriknya menjadi “Posis” atau “Pos Siswa” sebagai ruang untuk menampung tulisan-tulisan dari para siswa, “Posmas” atau “Pos Mahasiswa” bagi tulisan-tulisan dari mahasiswa, dan “Pos Solo Run” bagi penulis yang tampil tunggal. Umbu juga menyediakan ruang bagi para guru yang suka menulis esai-esai pendek. Terkadang sejumlah puisi dan prosa berbahasa Bali pun dimuat di rubriknya sebagai bentuk perhatiannya pada sastra daerah.

Pada Agustus 1995, SMK bubar karena suatu permasalahan intern. Saat itu SMK menjelang perayaan ulang tahun ke-10. Banyak anggota SMK yang merasa kehilangan tempat berkumpul. Mereka tercerai-berai dan tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Umbu yang suka menyambangi para penyair yang berkumpul di SMK juga merasa terpukul dan kehilangan. Sanggar yang berlokasi di jantung Kota Denpasar itu merupakan tempat yang ideal dan romantis bagi Umbu karena berdekatan dengan Pasar Kumbasari yang buka 24 jam. Mungkin Umbu terkenang Pasar Beringharjo di Yogya saat dia dulu mengembalakan penyair-penyair muda Yogya.

Di pasar Kumbasari itulah Umbu suka mengajak para penyair muda Denpasar menyelami kehidupan yang sebenarnya dan membuka hati pada rakyat kecil yang bekerja membanting tulang hingga dinihari. Umbu suka memperhatikan kesibukan ibu-ibu pedagang sayur, gadis-gadis buruh junjung, pedagang nasi jenggo, kusir dokar dan kegiatan rakyat jelata lainnya. Kadangkala Umbu mengajak penyair-penyair muda pesta soto babad di sudut pasar itu sambil ngobrol ngarol-ngidul dan memperhatikan kesibukan pasar. Apalagi kalau purnama bercahaya indah menghiasi langit malam Denpasar, Umbu akan terkenang lagu “Denpasar Moon” yang dinyanyikan Maribeth. Umbu memang penyair romantis. Pernah suatu kali dia mengajak saya dan beberapa kawan penyair melihat bulan terbit di tepi sawah di ujung timur Kota Denpasar sambil nongkrong di warung kopi tepi jalan. Dia berseru kegirangan ketika bulan bulat merah muncul perlahan dari sawah yang berbatasan dengan laut Sanur itu. Kami duduk berlama-lama di sana sampai bulan merambat tinggi.

Setahun setelah SMK bubar, kami menggunakan sebuah rumah kecil di Jalan Bedahulu, di sudut utara Kota Denpasar, sebagai markas. Pada awalnya rumah itu ditempati oleh Nuryana Asmaudi, Raudal Tanjung Banua dan Riki Dhamparan Putra atas kemurahan hati seorang anggota keluarga Puri Kesiman yang memiliki rumah itu. Saat itu Raudal dan Riki baru setahun tinggal di Bali. Saya sering berkunjung ke rumah itu bersama kawan-kawan seniman, ngobrol ngarol ngidul hingga menjelang dinihari. Di depan rumah itu ada tegalan tak terurus yang ditumbuhi rumpun bambu, di sebelahnya ada sungai kecil dan masih dekat dengan persawahan. Seringkali angsa-angsa peliharaan tetangga memecah keheningan malam dengan lengking suaranya. Suatu kali Umbu datang ke sana dan langsung jatuh cinta dengan tempat itu. Umbu memberi nama tempat itu “Intens-Beh” yang merupakan akronim dari “Institut Tendangan Sudut Bedahulu”. Dia mengkavling sebuah kamar kosong yang kadang-kadang saja ditempatinya. Seniman-seniman muda suka berkumpul di sana, diskusi, ngobrol kebudayaan, baca-baca puisi, merayakan ulang tahun teman, main gitar, pacaran, ngrumpi. Di tempat itulah saya mengenal Umbu lebih dekat dan akrab, mendengar petuah-petuahnya, konsep-konsepnya tentang dunia perpuisian.

Jauh sebelum Umbu memindahkan “pusat pemerintahan” ke padepokan Intens-Beh, Umbu dikenal sebagai penyair yang berumah di atas angin. Tak seorang pun tahu di mana tempat tinggal tetapnya. Di mana Umbu suka, di situlah rumah baginya. Dia jarang mau datang ke acara-acara kesenian, meski diundang secara khusus. Tapi dia akan muncul tiba-tiba ketika acara itu menarik perhatiannya, atau hanya mengamati jalannya acara dari jarak yang jauh atau dari balik kegelapan. Pernah seorang kawan penyair mencoba membuntuti Umbu berharap menemukan tempat persembunyiannya, tapi kawan itu kehilangan jejak ketika Umbu tiba-tiba membelok di sebuah tikungan. Dia seperti tahu sedang dibuntuti. Kebiasaan Umbu ini tercermin dalam salah satu baris puisinya: sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja.

Umbu memiliki banyak tempat persinggahan di Bali. Hampir di setiap kabupaten ada kawan akrab Umbu yang menyediakan ruang khusus bagi tempat semayamnya. Umbu suka muncul tiba-tiba di tempat-tempat persinggahannya itu dan biasanya dia akan diladeni secara khusus. Kalau sudah begitu Umbu benar-benar mirip seorang raja yang sedang melakukan kunjungan ke bawahannya. Biasanya kawan yang dikunjungi Umbu merasa mendapat kehormatan menjamu tamu istimewa itu. Sejumlah anak muda yang tertarik pada puisi kemudian berkumpul di tempat itu dan dengan takzim mendengar petuah-petuahnya tentang dunia puisi dan pentingnya puisi bagi pertumbuhan mereka. Tidak hanya itu, Umbu juga memotivasi mereka akan pentingnya komunitas sastra yang mampu mewadahi aspirasi dan kreativitas mereka. Maka bermunculanlah sanggar-sanggar sastra dan kelompok-kelompok teater yang dimotivasi Umbu. Kota Negara di Jembrana dan Singaraja pernah ramai dengan komunitas-komunitas kecil dan kegiatan sastra dan teater yang tidak bisa dilepaskan dari peranan Umbu.

Umbu juga menggairahkan kehidupan bersastra di sejumlah pelosok desa di Bali, seperti Desa Marga di Tabanan. Biasanya Umbu bekerjasama dengan seniman-seniman yang dipercayainya di tempat itu untuk membuat kegiatan-kegiatan apresiasi sastra dan sebagainya. Dan tentu saja Umbu tidak pernah kekurangan orang untuk melakukan kerja-kerja kesenian kayak itu, meski tanpa bayaran. Mereka dengan senang hati dan terhormat mengikuti petunjuk-petunjuk Umbu.

Umbu bukan tipe redaktur sastra yang hanya duduk di belakang meja. Dia menjalankan konsep “turba” atau “turun ke bawah” dengan senang hati dan keyakinannya pada jalan puisi. Yang paling membahagiakan jiwanya adalah puisi mampu merasuki jiwa generasi muda dan bisa menjadi pelengkap hidup mereka. Tidak ada keinginan Umbu mencetak mereka menjadi pasukan penyair, sebab dunia kepenyairan adalah pilihan sadar dalam kehidupan. Yang terpenting bagi Umbu adalah membekali generasi muda dengan puisi sehingga lahir dokter yang berwawasan puisi, insinyur yang paham puisi, dan sebagainya. Sebab puisi bagi Umbu adalah empati dan simpati pada kehidupan dalam maknanya yang sangat luas. Bagi Umbu, puisi adalah kehidupan dan kehidupan adalah puisi. Penyair Bali generasi 1980-an, 1990-an, 2000-an, rata-rata pernah bergesekan dengan vibrasi Umbu, meski tidak semuanya lantas menjadi penyair yang dikenal di tingkat nasional. Cara Umbu memperkenalkan mereka pada puisi dan juga kesenian kini seringkali menjadi klangenan dalam obrolan para mantan penyair yang kebanyakan telah menjadi orang penting di Bali.

Umbu memang termasuk orang yang susah ditemui dan dilacak jejaknya. Dia akan segera menghilang jika ada tamu istimewa yang mencarinya. Emha Ainun Najib beberapa kali gagal bertemu Umbu, padahal Emha adalah murid kesayangan Umbu saat di Yogya. Umbu menghindari Emha adalah semata-mata untuk menjaga rasa kangennya dengan Emha dan Yogya. Taufik Ismail pun gagal bertemu Umbu ketika penyair Horison itu berkunjung ke Bali. Pendek kata, banyak sastrawan berkelas nasional yang ingin bertemu Umbu, tapi Umbu selalu menghilang, menghindari pertemuan. Pertemuan akan terjadi hanya karena dua sebab: Umbu memang ingin bertemu dan Umbu dijebak.

Jika Umbu ingin bertemu dia akan mengontak orang itu secara khusus lewat telepon atau lewat kurir kepercayaannya dan tempat pertemuan pun telah disiapkan. Atau Umbu akan datang tiba-tiba nyamperin orang yang ingin ditemuinya. Pertemuan juga bisa terjadi secara terpaksa karena Umbu dijebak. Ada cerita menarik tentang hal ini. Karena kebelet ingin bertemu Umbu, Emha pernah menjebak Umbu di rumah Hartanto, seorang kawan dekat Umbu. Hartanto tidak tega melihat Emha yang uring-uringan ingin ketemu gurunya itu dalam sebuah kunjungannya ke Bali. Hartanto kemudian memancing Umbu keluar dari sarangnya dengan umpan sop ikan kesukaan Umbu. Tentu dengan senang hati Umbu datang ke rumah Hartanto. Di meja makan Emha telah menunggu dengan rasa kangen yang amat sangat. Umbu pun tidak bisa lari. Mungkin pintu ruangan juga telah dikunci dari luar oleh Hartanto. Konon, Emha dan Umbu hanya saling berdiam diri, masing-masing seperti mengukur dan menakar perasaan.

Pergaulan di Tensut-Beh menjadi kenangan tersendiri bagi saya, terutama ketika berhadapan dengan sosok Umbu. Meski Umbu lebih suka berdiam diri dan hening, dia termasuk sosok pribadi yang sederhana dan hangat. Pada masa-masa Umbu betah di Tensut-Beh, kami biasa berdiskusi berbagai macam persoalan, mulai dari dunia kesenian, mutu puisi mutakhir, persoalan politik bangsa, hasil pertandingan bola, kegiatan mahasiswa, sampai persoalan remeh temeh lainnya, seperti gosip penyair, pacar penyair, menu masakan dan merek rokok kesukaannya. Biasanya Umbu akan bicara atau berkomentar jika dipancing duluan. Dan ada saja di antara kami yang memancing Umbu bicara tentang suatu pokok persoalan. Biasanya kami ngobrol sambil menunggu makan malam disiapkan oleh penghuni tetap Tensut-Beh, yakni Mas Nuryana. Mas Nur, begitu panggilan Nuryana, selain sebagai penulis dikenal juga jago masak. Dia paling banyak tahu masakan kesukaan Umbu, seperti sayur daun pepaya, daun singkong, jukut (sayur) gonde, nasi beras merah. Dan kami tidak pernah kekurangan makanan. Ada saja yang membawa oleh-oleh buat Umbu. Beras merah dan sayur gonde dibawa dari Marga, Tabanan, oleh seorang kawan dari sana. Daun pepaya dan singkong dipetik langsung dari kebun belakang rumah. Habis makan malam obrolan kembali sambung menyambung ditemani kopi dan rokok, bahkan sering sampai dinihari. Umbu sangat kuat merokok, sama kuatnya dengan kebiasaannya duduk berjam-jam beralaskan kardus bekas plat koran yang dibawanya dari Bali Post. Dia hanya akan berdiri jika mau kencing atau masuk kamarnya. Dengan beralaskan kardus itu pula kami merebahkan diri di lantai karena mata letih. Masing-masing penghuni Tensut-Beh memiliki satu lembar kardus yang dihadiahi Umbu, lengkap dengan memo dan tanda tangannya. Biasanya ada saja kawan yang mampu menemani Umbu ngobrol sampai dinihari, sementara kawan-kawan lain tergeletak dan ngorok di lantai.

Umbu suka minum bir. Biasanya ada saja kawan yang membawakan bir untuknya. Kemudian bir itu dibagi-bagikan kepada kami. Seorang kawan pecinta sastra yang bekerja sebagai bar tender kadangkala juga membawakan sisa-sisa minuman mahal untuk Umbu dan kami. Di Tensut-Beh kami seperti keluarga besar dengan Umbu sebagai “God Father”-nya. Ada saja tamu-tamu yang datang khusus untuk menemui Umbu di sana. Kalau Umbu tidak berkenan bertemu biasanya dia akan ngumpet seharian di kamarnya, tentu sambil menahan kencing. Dia akan nongol lagi jika tamu itu sudah pergi, kadangkala sambil menenteng botol aqua yang berisi air seni.

Kamar Umbu di Tensut-Beh tidak pernah terbuka lebar, selalu tertutup. Kordennya juga ditutup rapat-rapat. Karena penasaran, saya pernah mengintip kamarnya dari kisi-kisi lubang angin. Luar biasa! Samar-samar saya melihat seni instalasi. Lembaran kardus bekas plat koran dan tikar bersusunan membentuk kasur. Di samping kasur-kardus, koran bekas bertumpuk-tumpuk seperti benteng. Di sela-sela “benteng koran” itu, kertas-kertas yang mungkin berisi berkas-berkas puisi dan catatan-catatan kecil juga bersusunan. Umbu suka bersila berlama-lama di depan berkas-berkas itu sampai tiba jam makan. Botol-botol plastik kosong bekas air mineral berjejer rapi di pinggir dinding kamar Umbu. Yang menggelikan kamar yang berukuran kira-kira 3 x 4 meter itu dibelah oleh seutas tali nilon tempat Umbu menggantung pakaian-pakaiannya dan tas-tas kresek yang entah berisi apa. Umbu menata kamarnya dengan sangat rapi dan unik.

Umbu sangat memperhatikan kesehatan. Setiap bangun tidur, hanya mengenakan sarung dan kaos oblong, topi pet dipakai terbalik, dia akan langsung ke belakang sambil menggigit tangkai sikat gigi. Umbu paling cemas dan menjadi sangat pemurung jika mendengar kabar kematian, apalagi yang menimpa sahabat-sahabat dekatnya. Bahkan dia sangat cemas berboncengan dengan sepeda motor. Saya pernah memboncengnya dengan motor butut Suzuki RC 80 yang doyan mogok. Karena badannya yang berat tentu saja motor saya oleng memboncengnya. Dengan nada suara cemas dia wanti-wanti mengingatkan saya agar pelan-pelan dan hati-hati. Dalam hati saya tertawa geli, saya tidak sadar kalau sedang membonceng seorang keturunan raja yang sangat dihormati dalam dunia perpuisian.

Sebagai penyair, karya-karya Umbu tidak terlalu banyak dan tidak begitu dikenal luas. Dia lebih dikenal sebagai seorang pendidik, guru puisi, motivator, “provokator kegiatan sastra”, pencari bakat penyair, sahabat dan ayah yang tulus. Dia sangat jarang mempublikasikan karya dan terkesan menghindar dari publisitas. Pernah pengurus salah satu penerbit besar di Jakarta datang menemuinya ke Bali karena ingin mengumpulkan dan membukukan seratus puisinya. Umbu menyanggupi. Tapi sampai sekarang Umbu tidak pernah menyetorkan puisi-puisinya ke penerbit tersebut.

Sepertinya, Umbu menulis puisi hanya untuk dirinya sendiri. Puisi-puisi tersebut tersimpan rapi dalam map-mapnya dan mungkin tak seorang pun pernah melihatnya. Segelintir puisi Umbu hanya bisa ditemui dalam beberapa buku kumpulan puisi bersama, seperti “Tonggak” yang dieditori Linus Suryadi AG, “Bonsai’s Morning”, “Teh Ginseng.” Dalam rangka memasyarakatkan puisi-puisi Umbu, penyair Tan Lioe Ie yang juga seorang mantan penyanyi pub mengaransemen sejumlah puisi Umbu menjadi karya musikalisasi puisi dan telah terkumpul dalam sebuah album sederhana berjudul “Kuda Putih.”

Pembicaraan mengenai sosok Umbu tidak akan pernah habis. Hampir setiap seniman yang pernah bersentuhan dengan Umbu, akan mempunyai kenangan dan cerita tersendiri tentang Umbu. Kalau cerita-cerita itu dikumpulkan tentu akan menjadi sebuah buku yang cukup tebal. Umbu memang sosok manusia yang langka dan unik. Kecintaannya pada dunia puisi seakan melebihi segalanya. Hal itu tercermin dalam salah satu baris puisinya yang berjudul “Melodia”: cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan, karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.***
(Bali, 30 Maret 2007)

Ditulis oleh: Wayan Sunarta
Admin Pada Sunday, February 24, 2013 Komentar

Tuesday, February 12, 2013

Bangsa Yang Harus di Ruwat

Esai
Musibah dan Musibah : Mungkin bangsa Indonesia memang perlu diruwat. Ruwat dalam bahasa Jawa, kurang lebih berarti bebas. Diruwat, artinya diupayakan agar terbebas dari tenung dan malapetaka.

Saya menggunakan istilah itu – terlepas dari pengertian ruwatan dalam upacara adat Jawa—dalam pengertian harfiahnya. Rasanya bangsa ini memang perlu mengupayakan agar dirinya terbebas dari musibah.

Lebih dari dua tahun, bahkan menginjak tahun ketiga, secara beruntun kita didera berbagai musibah. Mulai dari tsunami, gempa bumi, kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, angin ribut, lumpur panas, kecelakaan di darat; di laut; dan di udara, pertikaian antar etnis dan golongan, per-gulat-an di kalangan politisi, hingga musibah besar yang sering luput dari hitungan: korupsi. Bahkan sudah ke luar negeri, di tempat suci Arafah lagi, musibah masih ‘mengejar’ orang Indonesia.

Memang ada kesadaran bahwa terjadinya musibah-musibah itu terutama disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Akan tetapi tampaknya pemaknaan manusia dalam kaitan musibah ini, masih dibatasi pada manusia lain saja. Artinya, musibah terjadi karena ulah orang lain, bukan ulahku, bukan ulah kita. Seolah-olah hanya orang lain yang manusia dan bersalah. Hal ini ditandai antara lain dengan adanya saling menyalahkan dan mencari kambing hitam setiap kali dan sesudah terjadi musibah.

Yang di luar pemerintahan apalagi yang ingin masuk ke pemerintahan, biasanya menyalahkan dan meng-kambing-hitam-kan pemerintah. Yang di pemerintahan menyalahkan dan meng-kambing-hitam-kan yang mudah disalahkan dan dijadikan kambing hitam. Yang di atas menyalahkan yang di bawah, yang di bawah menyalahkan yang di atas. Sehingga sering kali terjadi penanganan musibah malah justru menambah musibah baru.

Dalam keadaan seperti itu, sering kali orang tidak dapat berpikir jejeg, adil. Simpati dan prihatin terhadap korban musibah pun acap kali dijadikan atau dibarengi alasan untuk menyalahkan pihak lain. Apalagi bila kepentingan politik --yang kini agaknya menjadi panglima lagi-- ikut meng-error-kan akal. Orang tidak lagi bisa atau perlu membedakan antara musibah yang disebabkan kekhilafan, kecerobohan, salah urus, dengan musibah yang disebabkan kesengajaan; antara musibah yang masih dalam lingkup kemampuan manusia untuk mengantisipasi hingga mencegahnya dengan musibah yang terjadi di luar kemampuan manusia. Padahal masing-masing memerlukan penyikapan yang berbeda.

Musibah kebakaran hutan dan korupsi, mungkin kita bisa menunjuk secara tegas kambing hitamnya, yaitu maling-maling besar yang serakah dan rakus. Atau tepatnya, menyalahkan niat keserakahan dan kerakusan mereka. Hampir sama dengan itu --dengan adanya perbedaan faktor alam – ialah semisal musibah banjir, longsor, dan lumpur panas. Ini sama sekali berbeda dengan misalnya, musibah katering jamaah haji dan karamnya kapal Senopati Nusantara yang jelas-jelas tidak terkait dengan niat mencelakakan.

Lain lagi dengan musibah tsunami di Aceh atau gempa di Yogya misalnya. Ini merupakan musibah yang boleh dikata di luar kemampuan manusia –minimal manusia Indonesia—untuk mencegah atau menolaknya; bahkan sekedar mengantisipasinya.

Juga kapal atau pesawat yang tiba-tiba diterjang badai besar. Kecanggihan peralatan untuk mendeteksi alam memang bisa menjadi faktor dan diperlukan sebagai upaya berjaga-jaga, namun hal itu tentu tidak berarti melenyapkan keyakinan kita bahwa alam ini milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia berkuasa berbuat apa saja terhadap alam ini, termasuk menghajar manusia yang tak tahu diri.

Kita masih bisa memaklumi apabila mereka yang terkena musibah baik langsung atau tidak langsung, secara tidak sadar bereaksi kurang logis; seperti kemarahan korban lumpur panas atau keluarga korban kecelakaan pesawat Adam Air. Tapi mereka yang bersimpati, kiranya tidak perlu kehilangan penalaran; lalu dengan ngawur mencari-cari kambing hitam. Kalau pun ingin melakukan evaluasi dan koreksi untuk kemaslahatan ke depan, hendaklah disertai pengetahuan atau pun penguasaan masalah dan dilandasi itikad baik bagi kepentingan bersama. Hal ini untuk menjaga agar tidak selalu terjadi saling menyalahkan secara tidak proporsional. Saling menyalahkan yang demikian, apalagi didorong oleh kepentingan-kepentingan sesaat, jangan-jangan justru mengundang musibah susulan. Na’udzu billahi min dzaalik!

Wabadu; untuk ‘meruwat’ diri, kita perlu disamping melakukan apa yang bisa kita lakukan dan menyerahkan apa yang kita tidak bisa melakukannya kepada yang bisa, sungguh sangat mendesak bagi masing-masing kita untuk dengan rendah hati mengoreksi diri. Jangan-jangan karena hanya sibuk mengoreksi pihak lain, banyak kesalahan kita sendiri yang tidak terdeteksi. Lalu kita merasa tidak bersalah dan karenanya tidak melakukan perbaikan dan tidak memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Lebih baik kita mengasumsikan diri kita berdosa dan memohon ampunan Allah, daripada mengandalkan kehebatan diri sendiri dan mengabaikanNya. Adalah musykil bahwa terjadinya musibah yang beruntun di negeri ini tidak sedikit pun mempengaruhi batin kita yang mengaku beriman ini dan tidak melakukan perbaikan sikap. Wallahu alam.

*) A. Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang
Admin Pada Tuesday, February 12, 2013 Komentar

Sunday, February 10, 2013

KIAI CERET, KIAI GENTONG, ATAUKAH KIAI CINGKIR .....

KIAI CERET, KIAI GENTONG, ATAUKAH KIAI CINGKIR .....

Esai
DALAM menggambarkan tipikal kiai terkait fungsinya sebagai pembawa lentera, simbolisasi “kiai ceret” memang cocok diperuntukkan bagi kiai yang aktif mengucurkan ilmunya di pelbagai bidang dalam kehidupan. Ibarat ceret, bukanlah gelas atau cingkir yang mengunduh air kandungannya, tapi ceretlah yang aktif mengucurkan air kedalam gelas yang siap dituangi apa saja. Hal yang mungkin perlu dipahami, keaktifan kiai ceret dalam menawarkan ‘air’ itu tak hanya melulu dalam olah vokal dengan kemampuan retorika yang mencengangkan. Namun kiai yang memiliki kemampuan olah tulis pun bisa distigmakan sebagai kiai ceret jika proses transformasi itu sendiri berangkat dari keaktifan sang kiai. Sehingga menurut saya, simbolisasi kiai ceret dalam beberapa tulisan terakhir, yang hanya diperuntukkan bagi kiai yang mengucurkan ayat-ayat Tuhan melalui lisannya tampaknya perlu dikaji ulang.

Berbeda dengan kiai ceret, ada satu jenis kiai yang mungkin lebih ‘ampuh’. Sebut saja “kiai gentong”. Ia adalah tipe kiai yang mungkin tak dikenal oleh siapapun, tak memiliki kefasihan lisan sebagaimana kiai ceret, tak pernah tampil di depan media, tak bisa memberikan mauidloh hasanah, dan lain sebagainya. Namun sesungguhnya, kiai gentong memiliki keistimewaan yang sungguh luar biasa. Gentong dengan ketenangan dan kebeningan airnya tak perlu repot mengucurkan air ke semua wilayah dalam kehidupan. Justru cingkir yang datang padanya untuk nyiduk kebeningan airnya. Gelaslah yang hadir untuk mengeruk dan menimba kedalaman isinya. Kalau mau diperpanjang, simbolisasi kiai mungkin tak cukup jika hanya beredar pada kiai ceret maupun kiai gentong, bahkan mungkin ada juga kiai cingkir, kiai sumur, kiai mangkuk, dan lain sebagainya.

Tulisan Ahmad Khotib (AK) berumbul Kiai Kampung Saya Bukan Kiai Ceret yang dimuat dalam Jawa Pos (11/05/08), yang menanggapi tulisan Fahruddin Nasrulloh (Catatan Suram Kiai Ceret, 27/04/08), dan mungkin juga tulisan saya sebelumnya (Secercah Sinar dari Lirboyo, 20/04/08), lebih menunjukkan betapa AK sangat tak rela jika kiai dibatasi wilayah geraknya hanya berkutat pada wilayah kultural semata. Berdalih keragaman (pluralitas), adalah kebijaksanaan jika membiarkan kiai memilih jalan hidupnya sendiri. Karena sebagai manusia, kiai tak ubahnya manusia lain yang memiliki hak sama merambah pelbagai bidang dalam kehidupan. Bahkan menurutnya, kiai yang melenggang ke wilayah politik memiliki jejaring dakwah yang semakin luas, dan tentu saja akan menambah suplemen bagi diri mereka sendiri.

Hal tersebut mengingatkan saya pada KH. Musthofa Bisri Rembang. Beberapa tahun silam, Gus Mus – demikian beliau akrab dipanggil – pernah menulis sebuah essay singkat berjudul Kiai Yang Malang. Tulisan yang terangkum dalam buku berlabel Pesan Islam Sehari-hari, Ritus Dzikir dan Gempita Umat (Risalah Gusti:1999) itu lebih mengeluh-kesahkan nasib kiai sebagai warga negara yang bernasib sangat malang di negeri ini. Bagaimana tidak? Sebagai manusia biasa, kiai tak bisa leluasa menggunakan hak asasinya. Ia harus rela menjalani kehidupan dengan mengikuti standar yang diberikan oleh orang lain. Ada kiai baca puisi, orang bilang, ”Kiai kok baca puisi!”. Ada kiai jajan di warung, orang bilang, ”Kiai kok nongkrong di warung!”. Ada kiai berpolitik, orang bilang, “Kiai kok berpolitik!”.

Singkatnya, menjadi kiai menurut Gus Mus harus siap untuk “diatur” dan tentu saja madlum (loro kabeh). Barangkali tak masalah, jika standar yang diberikan orang lain itu sesuai dengan esensi substansial kiai. Namun jika standar itu hanya berdasar pada wilayah kulit, ragam busana, dan standar yang bersifat artifisial maupun superfisial, kiai harus siap diolok-olok dan dilecehkan jika tak bersedia mengikuti standar yang diberikan oleh khalayak.

Pada titik ini, tak ada yang salah dengan tulisan AK. Bahkan keseriusannya menghadirkan sejumlah fakta tentang “kiai lokal” yang juga berpolitik praktis, namun mampu melahirkan sejumlah karya tulis yang berkualitas patut diapresiasi secara arif. Namun permasalahannya, apakah data yang dipaparkan AK tersebut bisa dijadikan cermin yang memantulkan keberadaan kiai yang bertebaran di penjuru negeri ini. Tidakkah AK terjebak pada kegenitan generalisasi sebagaimana yang ia tudingkan, bahwa fakta tersebut hanya berlaku di daerah tertentu dan tak berlaku secara menyeluruh di daerah-daerah lain?

Terlepas dari soal kreatifitas dalam berkarya (tulis), keberpihakan AK terhadap kiai politisi tampaknya perlu dikritisi secara bijak. Islam memang tak pernah secara jelas melarang hal tersebut. Kalau toh dikatakan bahwa islam sepenuhnya politik, harus dibedakan politik dalam pandangan islam dengan kondisi riil perpolitikan nasional. Nyuwun sewu, tak bisa dipungkiri bahwa politik mutakhir seringkali dimaknai secara dangkal oleh sebagian masyarakat modern dengan hanya aktifitas seputar pencalonan caleg, perebutan kursi di DPR, pilbup, pilkada, atau bahkan pilpres (yang ujung-ujungnya adalah kekuasaan atau bahkan perolehan materi). Bukankah teramat riskan jika kiai terlibat dengan pola perpolitikan semacam itu. Tidakkah lebih baik jika kiai tetap berada pada garisnya sebagai khadimul ummah dengan ketulusannya mengabdikan diri pada masyarakat untuk melakukan proses pencerahan. Kalau toh yang dipersoalkan adalah munculnya pemimpin yang islami, tak adakah jalan lain semisal ikut bertanggung jawab membidani lahir dan tumbuh-kembangnya politisi bermoral tanpa harus berkubang didalamnya. Bukankah kiai bisa melakukan pendidikan politik kepada masyarakat tentang bagaimana seharusnya memilih pemimpin (umara’) yang baik.

Dalam konteks ini, pelajaran shalat berjamaah hanyalah secuil ajaran islam tentang imamah. Dimanapun tempat, dengan memperhatikan kapabilitas serta kredibilitas, makmumlah yang menentukan siapa yang harus menjadi imam. Tak ada ceritanya imam menyodor-nyodorkan dirinya agar menjadi imam. Pun pula, adalah kelucuan luar biasa jika ada imam berani membayar sejumlah uang hanya supaya ia dijadikan imam. Maka, tugas terberat kiai sesungguhnya melakukan pencerahan kepada masyarakat makmum, agar ketika memilih imam, bukan orientasi materi yang terutama. Namun bagaimana ia dengan rela hati memilih imam dengan benar, sehingga sinergi antara ulama dan umara bisa diterjemahkan sesuai dengan koridor yang telah ditentukan.

Alhasil, kepada kiai kita memang tak henti berharap, ditengah aktifitas mengurusi kehidupan dengan segala pernak-perniknya, sungguh indah jika kiai tetap berposisi sebagai tali tasbih yang merekatkan biji-biji tasbih. Di sela-sela itu, sejengkal harapan yang juga tak kunjung selesai, luangkan waktu untuk menulis dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh semua orang. Alangkah sayangnya jika denyut keilmuan pesantren yang berpendar-pendar memenuhi jiwa raga hanya terejawantahkan melalui kefasihan lisan yang menguap begitu saja di angkasa ruang maupun waktu. Bukankah ketika dituangkan dalam risalah, kiai dapat mewariskan sesuatu yang bermakna bagi generasi mendatang sebagai tabungan pahala tak habis-habis?***

*) Em. Syuhada’, Staff pengajar di Lembaga Pendidikan Roudlotun Nasyiin Mojokerto.
Admin Pada Sunday, February 10, 2013 Komentar

Ulama, Kiai, Mubalig, Artis

Esai
Esain Ulama, Kiai, Mubalig, Artis

KONON istilah mula-mula muncul sebagai kesepakatan sesuatu kelompok atau kalangan tertentu. Istilah-istilah hadis, misalnya, muncul dari kesepakatan kalangan muhadditsin; istilah-istilah kesenian dari kalangan seniman; dan. seterusnya. Namun kemudian istilah-istilah yang beredar di masyarakat itu sering mengalami kerancuan pengertian.

Antara lain, karena orang seenaknya saja menggunakan istilah itu, dan tidak mau —atau tak sempat— merujuk ke sumber asalnya. Kerancuan itu ternyata membawa dampak dalam kehidupan bermasyarakat. Inilah yang terjadi dengan istilah “ulama”, “kiai” dan “mubalig”. Celakanya, yang bersangkutan -yang dengan tidak tepat disebut ulama, kiai, atau mubalig— biasanya malah mcrasa bangga dan tidak membantah. Kalaupun membantah, biasanya dengan gaya basa-basi, sehingga semakin mendukung penyebutan itu, atau setidaknya makin mengaburkan maknanya. Sebab, meskipun sebutan ulama, kiai, atau mubalig itu mengundang kehormatan dan tanggung jawab, yang segera tampak menggiurkan justru kehormatannya. Baru setelah yang bersangkutan terbukti melakukan hal yang tak sesuai dengan maqam, atau kedudukan terhormat itu, orang menjadi bingung sendiri.

Yang lebih merepotkan, istilah "ulama" yang beredar dalam masyarakat kita -seperti berbagai istilah lain- mempunyai "kelamin ganda" dan berasal tidak hanya dari satu sumber. Dalam bahasa Indonesia, ulama berarti "orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam" (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm. 985). Sedangkan di Arab sendiri, 'ulama (bentuk jamak dari ‘alim) hanya mempunyai arti "orang yang berilmu".

'Ulama dalam peristilahan itulah yang sering disebut-sebut ulama sebagai waratsatul anbiyaa (pewaris para Nabi). Merekalah yang disebut sebagai hamba Allah yang paling takwa, pelita ummat dan sebagainya. Banyak definisi mengenainya, tetapi semuanya mengacu kepada satu pokok pengertian: ilmu dan amal.

Karena itu, disamping menguasai kandungan Al-Qur'an dan Sunnah, mereka juga -sebagaimana Nabi- mesti yang pertama mengamalkannya. Sebagai pewaris Nabi, setidaknya ulama mewarisi -di atas rata-rata ummat mereka- ilmu, ketakwaan, kekuatan iman, akhlak mulia, rasa tidak tahan melihat penderitaan ummat, pengayoman, keberanian dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, dan keikhlasan serta keuletan dalam mengajak kepada kebaikan. Dengan kelebihan-kelebihan itu, ulama tentulah merupakan hamba-hamba yang paling takwa kepada Allah.

Dari sini saja, kita -atau setidaknya saya- merasa pesimistis: apakah kini masih ada ulama? Ada saatnya ulama dengan pengertian itu menjadi sinonim dari istilah kiai yang lebih bersifat budaya dalam masyarakat kita. Bila orang menyebut kiai, segera teringat pengertian ulama pewaris Nabi itu. Kenapa? Karena, meski dari segi ilmu dan lain sebagainya, kiai -betapapun hebatnya- tidak bisa mendekati ulama seperti yang dicontohkan dalam kitab-kitab kuning. Setidaknya masyarakat masih melihat mereka mewarisi sifat-sifat keteladanan mulia dan pengayoman yang teduh. Mereka membangun surau dan pesantren untuk kepentingan masyarakat. Mendarmakan hidupnya untuk Allah melalui khidmah (pelayanan)-nya kepada ummat. Karena itu, bahkan tidak hanya kiainya secara pribadi, tapi juga keluarga dan putra-putranya dihormati. Putranya yang laki-laki diberi julukan terhormat: (ba)gus, dengan harapan kelak akan menjadi kiai sebagaimana ayahnya.

Penghormatan yang terlalu dini kepada gus inilah yang mungkin sering justru mencelakakan yang bersangkutan. Apalagi bila ternyata kemudian -setelah sampai saatnya menggantikan orang tuanya- kapasitas ilmu maupun keteladanan; budi pekertinya tidak mampu mengatrolnya, minimal mendekati kapasitas orang tuanya.

Di pesantren, disamping pengajaran, sebenarnya yang lebih penting lagi adalah pendidikan kiainya. Sulitnya, menyerap pendidikan tidak semudah menyerap pelajaran. Maka janganlah heran apabila kemudian lebih banyak santri yang menjadi pintar ketimbang yang berakhlak.

Dari segi penampilan, boleh jadi orang yang pintar lebih tampak wah dan cepat ngepop. Dengan menggelar ilmunya, orang akan segera terpesona dan teringat kepada kiai sepuh yang juga berilmu. Apalagi jika pandai bicara, dijamin cepat kondang. Orang pun lalu menyebutnya sebagai kiai mubalig.

Istilah kiai mubalig ini pun agak rancu. Apalagi akhir-akhir ini di mana-mana muncul mubalig yang tak jarang dengan sendirinya disebut kiai. Mungkin karena keterbatasan memahami hadis "Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat," maka meskipun hanya punya satu ayat-dua ayat, ditambah ghirah ber-amar ma'ruf nahi munkar, plus modal pintar ngomong jadilah seseorang sebagai mubalig. Karena sebelumnya ada kiai yang bertablig, maka siapa pun yang bertablig disebut juga kiai.

Lalu, seiring dengan maraknya kebidupan keagamaan, artis yang memang luwes dan pelawak yang memang pintar bicara, yang beragama Islam, pun tak mau hanya mendapatkan 'fid-dunya hasanah'. Mengapa tidakjuga mencari ‘fid-akhirati khasanah’ Bukankah gerak-kegiatannya tidak begitu berbeda dan bahan tersedia di mana-mana? Dan kiprah mereka di mimbar taklim tak kalah dengan di pentas show, bahkan tak jarang mengalahkan mubalig betulan.

Begitulah, lalu menjadi campur-aduk -barangkali sesuai zaman globalisasi! Yang ulama, yang kiai, yang mubalig kiai (kiai yang bertablig), yang kiai mubalig (disebut kiai karena tablig), yang artis mubalig, dan yang mubalig artis, semuanya menjadi sulit dibedakan. Apalagi bila gaya ulama dan kiai -termasuk berfatwa- juga dengan baik telah ditiru mubalig dan artis; gaya mubalig dan artis -termasuk "keluwesan" pergaulan dan glamour- juga sudah menulari ulama dan kiai. Masya Allah!

Tuhan, apalagi yang hendak Engkau pertunjukkan kepada kami? Ampunilah kami semua!***

A.Mustofa Bisri
Admin Pada Sunday, February 10, 2013 Komentar

Friday, February 1, 2013

SIASAT TUHAN

SIASAT TUHAN

Esai
ALKISAH, dahulu kala hiduplah dua orang raja yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda, seorang Raja mukmin dan Raja kafir. Raja mukmin tentu saja sangat dicintai rakyatnya, karena perilakunya yang adil dan selalu menomorsatukan kepentingan rakyat. Sebaliknya, Raja kafir begitu dibenci karena perilakunya yang sewenang-wenang.

Suatu hari, Raja kafir menderita suatu penyakit. Setelah diperiksa oleh tabib istana, satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan penyakit sang raja adalah seekor ikan yang hidup di tengah samudra. Sayangnya, ikan yang dimaksud waktu itu tidak sedang musimnya, sehingga para tabib tak bisa berbuat apa-apa. Disamping sulit, untuk mendapatkan ikan tersebut adalah suatu hal yang mustahil.

Namun Tuhan ternyata berkehendak lain. Tuhan lantas mengutus salah seorang malaikat untuk menggiring ikan-ikan yang dibutuhkan supaya keluar dari lubang di dasar laut, sehingga orang-orang dengan begitu mudah dapat menangkapnya. Para tabib, dan seluruh masyarakat awam tentu saja heran. Mereka menganggap kejadian itu suatu mukjizat luar biasa. Walhasil, ketika ikan itu berhasil ditangkap, Raja segera memakannya. Ia pun sembuh dari sakitnya.

Beberapa waktu kemudian, Raja mukmin juga menderita penyakit yang sama seperti yang dialami Raja kafir. Sebagaimana ihwal Raja kafir, penyakit Raja mukmin pun bisa disembuhkan dengan seekor ikan. Kebetulan, ikan yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit sang Raja sedang berada pada musimnya, sehingga membuat para tabib optimis bahwa raja akan segera sembuh karena akan dengan mudah dapat menangkap ikan yang dimaksud.

Namun sekali lagi, Tuhan juga berkehendak lain. Tuhan justru mengutus kepada para Malaikat untuk menggiring ikan-ikan yang sedang berenang di permukaan laut agar masuk kembali ke lubang-lubangnya di dasar laut. Para tabib tentu saja heran. Singkat cerita, ikan-ikan yang mestinya mudah didapatkan untuk obat itu tak bisa diperoleh. Raja pun terus didera penyakit tak sembuh-sembuh.

Para Malaikat dan penduduk bumi tentu saja merasa keheranan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa ketika Raja kafir membutuhkan ikan itu, dengan begitu mudahnya ikan didapat, padahal keberadaan ikan saat itu tidak dalam musimnya. Sebaliknya, ketika Raja mukmin yang sakit, ikan yang dibutuhkan justru menghilang entah kemana, sedangkan waktu itu adalah musimnya ikan itu muncul ke permukaan.

Dalam kebingungan itu, Tuhan lantas mewahyukan kepada Malaikat langit dan kepada para nabi zaman itu,”Inilah Aku, Yang Pemurah, Pemberi Karunia, Maha Kuasa. Tidak menyusahkan apa yang Aku berikan. Tidak bermanfaat bagiKu apa yang Kutahan. Sedikitpun Aku tak menzalimi siapapun. Adapun Raja yang kafir itu, Aku mudahkan baginya mendapatkan ikan yang bukan musimnya. Dengan begitu, Aku telah membalas kebaikan yang pernah ia lakukan. Aku balas kebaikan itu sekarang, supaya kelak ketika ia datang kepadaKu pada hari kiamat, tidak ada lagi kebaikan-kebaikan pada lembaran amalnya. Ia akan aku masukkan ke neraka karena kekufurannya.”

“Adapun raja yang ahli ibadat itu, Aku tahan ikan pada saat musimnya, karena ia pernah berbuat salah. Aku ingin menghapuskan kesalahan itu dengan menolak kemauannya dan menghilangkan obatnya supaya kelak ketika ia datang padaKu di hari kiamat dalam keadaan suci tanpa dosa. Dan dia pun akan aku masukkan surga dengan rahmatKu.”

****
Sepenggal kisah diatas saya nukil dari buku Meraih Cinta Ilahi (Rosda Karya: 2000) yang ditulis oleh Jalaluddin Rahmat, akrab dipanggil Kang Jalal. Sebuah kisah yang ringan. Namun sungguh, mampu menyuguhkan pelajaran amat berharga untuk menjawab segala kebingungan kita tatkala menjumpai hal-hal yang musykil terkait keputusan Tuhan dalam kehidupan.

Tak dimungkiri, ada banyak kejadian-kejadian dalam kehidupan ini yang membuat manusia mengernyitkan kening. Ada seorang manusia yang begitu tulus hatinya. Ia arungi kehidupan dengan kesadaran bahwa tugas seorang hamba hanya mengabdi kepada tuannya. Sekuat-kuatnya perintah Tuhan dijalankan. Sedangkan larangan dan batasan-batasan selalu diusahakan agar tak diterjang. Namun kenyataannya, hidup orang tersebut ternyata selalu diwarnai kesengsaraan demi kesengsaraan tiada henti.

Pada saat yang sama, ada manusia lain yang berbuat semau-maunya. Jangankan memperhatikan perintah dan larangan, bahkan dengan Tuhan pun sangat berani. Baginya, hidup di dunia adalah segalanya. Menjadi raja adalah segalanya. Sehingga, tak ada kemungkinan lain bagi orang tersebut selain mengarungi kehidupan ini dengan logikanya sendiri. Namun faktanya, secara materi orang tersebut sangat berkecukupan. Setiap keinginannya selalu dipenuhi oleh Tuhan. Para kiai menyebut fenomena ini sebagai istidraj.

Waba’du. Tuhan memang berhak melakukan apa saja. Semusykil apapun keadaan yang menimpa, selalu berprasangka baik pada Tuhan, itulah yang terutama. Maka, dalam perjalanan maiyah, sedahsyat apapun penderitaan, sesunyi apapun perjalanan, jika jalan yang kita pilih adalah jalanNya, itu merupakan rahmat Tuhan tak habis-habis. Dan tak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukurinya. ***
Admin Pada Friday, February 01, 2013 1 Komentar

Sunday, January 13, 2013

Kreatifitas Manusia Indonesia

Esai
Angkringan Lek Man Yogja: Foto diambil dari YogYes.Com
SYAHDAN, setelah puas berjalan-jalan menikmati sebuah tempat pariwisata, seorang wisatawan mancanegara beristirahat sejenak di warung tegal asli milik Indonesia. Ia memesan makanan dan minuman sekedar untuk mengganjal perut. Tiba-tiba, matanya tertumbuk pada makanan tradisional yang tertata di lapak.
“Ada apa, Tuan?” tanya pemilik warung yang mengetahui keheranan tamunya.
“Ini makanan apa?” wisatawan kita ini balik bertanya, sembari mencomot panganan di piring dan menunjukkannya kepada pemilik warung.
“Itu namanya onde-onde. Memangnya kenapa, Tuan?” kali ini, ganti pemilik warung yang keheranan.
“Kamu yang membuatnya sendiri?” tanya wisatawan itu lagi dengan mimik yang masih dipenuhi tanda tanya.
Pemilik warung tentu saja hanya mengangguk. Sebab, ia sendiri bersama istrinya yang membuat makanan kecil itu tiap pagi sebelum membuka warungnya.
“Berapa waktu yang kau butuhkan untuk membuat makanan ini?”
“Maksudnya?”
“Barang kecil-kecil yang menempel sekian banyak di panganan ini, butuh berapa lama engkau menempelkannya?” tanya sang wisatawan.
Pemilik warung ngeh. Ia mulai memahami kecamuk pikiran yang dialami oleh tamunya itu. Wisatawan kita ini berpikir, wijen yang menempel di onde-onde sedemikian banyaknya, berapa waktu yang dibutuhkan jika biji-biji wijen itu harus ditempelkan satu per satu?
“Saya perlu waktu satu bulan untuk menyelesaikan pekerjaan itu, Tuan!” goda si pemilik warung kemudian.

***

SEPENGGAL kisah diatas hanya sekedar ilustrasi, tentu saja tidak pernah ada dalam dunia nyata. Saya tuturkan di awal tulisan ini sekedar ingin menunjukkan kepada Anda bahwa masalah kreatifitas, orang-orang Indonesialah yang paling bisa diandalkan. 

Jika Anda mengamati keadaan di sekitar tempat Anda tinggal, di lingkungan kerja, atau bahkan di tempat-tempat jauh yang dikabarkan media cetak maupun elektronik, dengan gampang Anda bisa menemukan betapa ragam kreatifitas orang-orang Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Kreatifitas yang saya maksud bukan hanya sekedar kemampuan melakukan rekayasa melahirkan ide-ide kreatif, sehingga bisa menemukan hal-hal baru dalam kehidupan. Bahkan kreatifitas itu telah menyentuh wilayah mengatasi kehidupan itu sendiri pada tingkat yang paling sulit.

Dari soal remeh-temeh hingga hal-hal besar, kreatifitas manusia Indonesia itu nomer satu. Tengoklah misalnya soal makanan. Bagaimana dari satu bahan baku bisa berubah wujud menjadi berbagai macam panganan dengan bentuk dan rasa yang berbeda-beda. Ketela bisa diolah menjadi keripik, getuk, gentelot, jemblem, sawut, rondo royal, dan masih banyak lagi jenis makanan tradisional lainnya berbahan dasar singkong. Dari beras bisa dibuat kerupuk, brubi, lemper, nogosari, dan lain sebagainya. Adakah masyarakat dari negara lain yang mampu melakukannya?

Maka tak heran jika makanan ala Indonesia beragam bentuk, nama dan jenisnya. Bahkan dari waktu ke waktu, kreatifitas orang Indonesia soal makanan dan cara pemasarannya mengalami perkembangan begitu rupa. Hari-hari ini, Anda tentu tak asing dengan istilah rawon setan, sambal petir, bakso nuklir, soto dog atau soto gebrak, dan lain sebagainya. Bukankah itu adalah hasil olah kreatifitas yang tak bisa dipandang remeh begitu saja?

Kopi Arang Lek Man Yogja
Kalau suatu hari nanti Anda jalan-jalan ke Yogjakarta, jangan lupa mampir ke sebuah warung kopi dekat Stasiun Tugu. Jangan kaget jika kemudian Anda temui sang pemilik warung dengan santainya menuangkan air yang dipanaskan dengan tungku berbahan-bakar bara membara. Ketika secangkir kopi yang telah diaduk itu siap dihidangkan, diambillah seonggokan bara menganga, lantas dicelupkannya ke air seduhan kopi hingga mengeluarkan bunyi jossss. Itulah Kopi Jos ala Lek Man stasiun tugu Yogjakarta.

Begitulah kreatifitas manusia Indonesia. Tak hanya soal makanan. Hal-hal lain bahkan bisa Anda temui dengan mudah dalam berbagai sektor kehidupan, dengan bentuk dan macam yang berbeda-beda. Dari soal musik, teknologi, budaya, dan lain sebagainya. Misalnya saja, bagaimana seorang mekanik sepeda motor memiliki kreatifitas dan keuletan luar biasa. Kalau ada mobil atau motor yang tak mungkin lagi diperbaiki, serahkan saja pada mekanik orang Indonesia. Dijamin mobil Anda akan langsung hidup. Kalau toh tak bisa hidup, ia akan berubah bentuk menjadi sesuatu yang lain, yang mungkin tak pernah Anda bayangkan sebelumnya. Anda yang tinggal di pedesaan tentu tak asing dengan mesin huller. Dengan adanya mesin itu, masyarakat desa sekarang tak perlu repot menggilingkan padi ke mesin penggilingan. Mereka cukup menantikan mesin itu lewat di depan rumahnya?

Itu semua adalah contoh kreatifitas masyarakat awam. Kalau mau contoh kreatifitas yang “besar” pun tak kekurangan. Misalnya, anak-anak Politeknik Surabaya yang berhasil memenangkan kejuaraan Kontes Robot di Jepang sekitar beberapa tahun silam. Atau Mahasiswa ITB yang baru-baru ini mendapatkan penghargaan dari Honda atas karyanya membuat alat bantu membaca untuk anak-anak penderita cacat mental. Kalau Anda pernah mendengar berita, tentu Anda akan mengetahui bagaimana ada seseorang yang mengganti bahan bakar bensin dengan gas LPG untuk menggerakkan kendaraan bermotornya. Bahkan, ada seseorang dari kabupaten kecil di wilayah Jawa Timur yang menggerakkan sepeda motornya dengan listrik dari akinya, sehingga membuatnya tak lagi membutuhkan bahan bakar premium.

Hal-hal semacam itulah yang membuat masyarakat Indonesia tetap survive di tengah situasi kehidupan macam apapun. Dan salah-satu bentuk kreatifitas “tingkat tinggi” pada kurun waktu terakhir adalah merebaknya para pedagang kaki lima di sejumlah daerah. Di tengah himpitan ekonomi yang kian menukik akibat negara yang tak kunjung mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi rakyatnya, mereka melakukan kreatifitasnya sendiri untuk bertahan hidup. Meskipun seringkali dianggap mengganggu ketertiban oleh pemegang kebijakan di negeri ini. Diakui atau tidak, keberadaan para pedagang kaki limalah yang membuat detak perekonomian tetap bisa dirasakan, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Kalau kemudian hingga saat ini, berbagai persoalan kian beranak-pinak dan menjadikan peri kehidupan masyarakat negeri ini tidak kunjung membaik. Pasti ada sesuatu yang salah. Pasti ada sesuatu yang di manage tidak dengan semestinya.

Alhasil, kalau Anda belum sepenuhnya percaya, sesekali adakanlah sayembara. Suruhlah mencari orang-orang di seluruh dunia yang tidak memiliki pekerjaan tetap, tapi berani kredit sepeda motor. Tidak punya uang berlipat-lipat, tapi merokoknya jalan terus. Pekerjaan hanya sebagai tukang tambal ban, tapi memiliki istri lebih dari satu. Anda pasti akan menemukan orang-orang semacam itu hanya di Indonesia. Percaya atau tidak, Anda bisa buktikan sendiri. Yang jelas, hanya orang Indonesialah yang memiliki keberanian untuk melakukan itu.(*)

Ditulis oleh :
Em. Syuhada'
Pengelola Taman Bacaan Alam Suwung
Lamongan
Admin Pada Sunday, January 13, 2013 Komentar
Subscribe to: Posts (Atom)
  • Artikel Terbaru
  • Arsip Blog

Artikel Terbaru

Arsip Blog

  • October (1)
  • June (14)
  • May (18)
  • April (2)
  • February (1)
  • January (1)
  • January (1)
  • November (1)
  • August (2)
  • July (2)
  • June (3)
  • May (13)
  • April (26)
  • March (30)
  • February (43)
  • January (50)
  • December (4)

Resensi Buku

Kategori

Anekdot Berita Pendidikan Cerpen Download Esai Guru Menulis Inspirasi Kolom Kolom Cak Nun Kolom Jamaah Maiyah Literasi News Opini Pendataan Pendidikan Puisi Regulasi Reportase Maiyah Resensi Buku Sertifikasi Guru Tentang Maiyah Tips & Trik
Pejalan Sunyi

Followers

Pejalansunyi.id berusaha berbagi informasi yang bermanfaat. Jika ada ide, kritik, atau saran, silahkan hubungi kami dengan kontak berikut. Salam!

Name Email Address important Content important

Reportase Maiyah

Contact Form

Name

Email *

Message *

Artikel Random

Memuat...
Copyright © Pejalan Sunyi
Template by Arlina Design