• Home
  • About
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Menu

Pejalan Sunyi

iklan banner
  • Home
  • Daftar Isi
  • News
  • Inspirasi
  • Seputar Guru
    • Regulasi Pendidikan
    • Perangkat Pembelajaran
    • Media Pembelajaran
    • Guru Menulis
    • Sertifikasi Guru
    • Pendataan Pendidikan
  • Tips & Trik
  • Budaya
    • Opini
    • Esai
    • Resensi Buku
    • Cerpen
    • Puisi
    • Anekdot
  • Maiyah
    • Tentang Maiyah
    • Kolom Mbah Nun
    • Kolom Jamaah Maiyah
    • Reportase Maiyah
  • Literasi
  • Download
  • Kirim Artikel

Artikel Populer

  • Daftar Penerima Tunjangan Khusus Daerah Terpencil (Dikdas SD-SMP) Tahun 2013
  • Cara Melakukan Cek SKTP di P2TK Dikdas
  • Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan Tercinta
  • Daftar SK Tunjangan Fungsional Prop. Jawa Timur 2013
  • Cara Melihat Sekolah Pelaksana Kurikulum 2013
  • Menjelang Idul Fitri
  • Pendaftaran Peserta Sertifikasi Guru Tahun 2017 Jalur Prestasi

Inspirasi

Pengunjung

Free counters!
top personal sites
top personal sites
Home / Resensi Buku
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Monday, June 5, 2017

BH, Emha Yang Gelisah, Emha Yang Bercerita

Resensi Buku
BAGI kami para penikmat buku angkatan 90-an (apalagi yang baru melek buku di abad millenium) pasti mengernyit dan memilih berhenti cukup lama di depan rak yang memajang buku ini. Loncatan-loncatan pikiran yang bernada heran pasti sempat terlontar seperti "Cak Nun menulis cerpen ? Oo, baru tahu" atau " Cak Nun juga cerpenis ?"

Fenomena seperti ini menjadi wajar karena selama ini kami mengenal Cak Nun selalu identik dengan shalawatan bersama Kyai Kanjeng. Pun di ranah pustaka kita akrab dengan puisi-puisi Cak Nun dan esai-esainya yang kontemplatif. Tapi, tak satupun cerpennya kita temukan di halaman-halaman media massa saat ini. Jawabannya ada di kumpulan cerpen BH yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas di awal tahun ini. Semua cerpen dalam buku ini ditulis pada akhir 70-an sampai tahun 1982. Wajarlah jika kami -penikmat buku angkatan millenium- baru mengetahui jika Seorang Emha Ainun Najib juga seorang cerpenis.

***
Menyelami sosok Emha Ainun Najib bukan hal yang mudah. Tak cukup hanya menjadi jamaah setia pengajian Maiyah. Tak juga cukup hanya dengan menikmati setiap butir kata dalam puisi-puisinya. Masih juga tak cukup jika hanya berpetualang dari satu kumpulan esei ke kumpulan esei lainnya. Karena Emha Ainun Najib termasuk manusia multidimensi, seperti yang tertulis di Catatan dari Penerbit halaman vii dalam buku kumpulan cerpen ini. Proses hidup Emha yang sarat pencekalan di era Orde Baru tidak bisa dipahami begitu saja dari penggalian satu macam karyanya.

Cerpen, puisi, esei dan drama yang dilakonkan harus dipahami sebagai unsur-unsur yang berjalinkelindan membentuk satu gambaran yang akan memudahkan kita dalam menyelami seorang Emha. Pemahaman ini akan membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa Emha Ainun Najib tak pernah lelah untuk mengusung harkat kemanusiaan lewat jalur kultural. Semangat tak pernah lelah ini lahir dari kegelisahannya yang tak kunjung padam. Sejak mula Emha yang berusia belasan telah merasakan kegelisahan. Keputusan untuk meninggalkan Pondok Gontor adalah bukti nyata dari kegelisahannya, juga benih-benih pemberontakan sudah mulai mendapat tempat dalam dirinya. Kegelisahan terus berlanjut sampai dia mengecap pendidikan formal di bangku UGM yang hanya bertahan satu semester. Perjalanannya tak berhenti hingga dia mengenal PSK (Persada Studi Klub) arahan Umbu Landu Paranggi bersama penulis muda lainnya. Bukan hanya dunia kepenyairan yang digelutinya, panggung drama juga mampu menjadi kanal bagi kegelisahannya. Teater Dinasti adalah salah satu tempat Emha berkarya di masa 80-an.

***

Tema yang diambil dalam kumpulan cerpen ini tidak lepas dari keseharian yang melingkupi kehidupan penulis, berkisar dari kegelisahan waria, pelacur sampai kegelisahan spiritual seorang laki-laki putus asa yang tergeletak di atas ranjang. Dari 25 buah cerpen di buku ini, semuanya fasih menuturkan kegelisahan. Sebenarnya kecenderungan ini bukanlah hal yang mengagetkan, sebab hampir seluruh karya Emha yang lahir di masa itu bernada demikian. Bahkan, dalam karya puisi dan esainya tak jarang kita tangkap kobaran amarah seorang Emha. Begitu pun dalam buku kumpulan cerpen ini, Emha merdeka dalam menentukan sudut pandang dan penentuan alur ceritanya. Emha telah membebaskan kreativitasnya. Tidak satupun cerpen yang beralur cerita linear dan mudah ditebak sehingga terciptalah ritme ketegangan yang bervariasi. Cerpen Emha bukan cerpen bertema detektif yang menegangkan tapi membacanya lamat-lamat menimbulkan perasaan deg-degan menanti ujung cerita. Apalagi jika dilakukan secara berurutan.

Di halaman 1 kita disuguhi cerpen berjudul Lelaki Ke-1.000 di Ranjangku yang mengisahkan kegelisahan seorang pelacur yang merasa sangat lelah menjalani ritual kesehariannya. Di saat kejenuhan memuncak, datang seorang laki-laki yang menawarkan oase bagi sang pelacur, padahal dari sumber yang samalah dia merasakan kepedihan yang sangat. Emha memainkan rasa penasaran pembaca dengan membuat alur yang menukik lalu berbalik. Rasa penasaran akan menyeruak kuat saat menikmati cerpen berjudul Mimpi Istriku (halaman 112). Sebuah ending yang masuk akal tapi mungkin terlewat dari prediksi pembaca. Inilah yang saya sebut dengan ketegangan.

Setelah melahap empat buah cerpen, pembaca akan merasa digenggam oleh ritme penceritaan yang siklikal, tokoh-tokoh dengan sikap yang paradoks dan ujung cerita yang mengejutkan. Baca juga dengan cerpen berjudul Seorang Gelandangan (halaman 158) yang menjungkirbalikkan realitas yang telah dipandang jamak oleh masyarakat. Emha tidak selalu melakukan hal demikian dalam setiap cerpennya, namun dia mampu meramu cerita hingga jadi sebuah cerpen yang menggemaskan. Misalnya pada cerpen Tangis (halaman 109) dan Domino (halaman 236), Emha menawarkan dunia rekaan yang realistis dan tak lepas dari ironi-ironi. Emha bersikukuh untuk mengangkat realitas sosial dalam cerpen-cerpennya sebab memang Emha tidak bisa dipisahkan dari masyarakat desa yang kerap ia perjuangkan.

Gagasan mengenai sastra yang sedang diusungnya pada era itu adalah pembebasan kreativitas seniman dari kungkungan berupa anutan-anutan yang pakem. Bahwa seniman harus memerdekakan sumber kreativitasnya adalah sebuah keharusan. Pada sebuah kesempatan berceramah di acara Hari Chairil Anwar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, 27 April 1982, Emha meyakinkan publik bahwa kesusatraan Indonesia mampu mandiri melalui pendekatan yang membumi. Karya-karya Emha baik puisi, esai maupun cerpen adalah bukti dari kemerdekaan dan kemandirian kreativitasnya, juga kematangan gagasan-gagasannya. Benang merah yang dapat ditarik dari seluruh karya Emha adalah kelugasannya. Ia tidak malu-malu dan tidak terjebak dalam norma-norma dalam memilih tema, sudut pandang dan karakter tokohnya.

Padang Kurusetra (halaman 20) dan Kepala Kampung (halaman 134) adalah caranya memplesetkan penokohan yang sudah pakem supaya sindiran tajam pada penguasa dapat tersampaikan dengan jernih. Sang Prabu Kresna menampar sukma Arjuna. – Baiklah, Kakang. Kami para Pandawa memang tak sanggup lagi berperang. Kaki-kaki kami tak sanggup bergerak. Tubuh kami terancam di bumi. Karena perut kami telah penuh oleh beratus ribu jengkal kebun, ladang, sawah….. (halaman 31-32). Tukilan ini diambil dari cerpen berjudul Padang Kurusetra yang berisi percakapan alot antara Kresna dan Arjuna.

Kegelisahan akan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari sosok Emha di era 80-an. Tak terkecuali pada cerpennya, sosok yang dibesarkan di keluarga Islam taat ini tak bisa mengerem kecerdasan dan daya kritisnya. Gagasan dan pemikiran akan KeTuhanan pun cair dan meluber ke semua karyanya. Puncaknya adalah pada cerpen berjudul Ambang (halaman 78). Membaca cerpen ini membuat kita seolah menjadi fotografer yang bebas memainkan zoom pada ujung lensanya. Menjauh lalu mendekat, realitas dilihat secara bird eye, lalu kembali membumi.

Menyelami kegelisahan tokoh dalam cerpen ini membuat nafas pembaca turut memburu seperti yang dirasakan oleh sang tokoh. Berbeda dengan Ambang, cerpen berjudul Di Belakangku lebih gamblang dalam memperbincangkan Tuhan. Di sana tercipta dialog bernas tentang Tuhan antara seorang murid dengan gurunya. Emha tak melupakan hal-hal berbau metafisika untuk turut diangkat sebagai tema, seperti dalam judul Podium (halaman 174) dan Jimat (halaman 192). Dua cerpen ini berisi pemaparan lugas akan fenomena metafisis yang kerap terjadi di masyarakat. Di sini Emha tidak meletakkan opininya sehingga kedua cerpen ini tampil jernih. Tak ada titipan pesan untuk menyetujui atau menolak keberadaan metafisis dalam kehidupan sehari-hari.

Sayangnya kenikmatan membaca buku setebal 246 halaman ini sedikit terganggu dengan munculnya kesalahan kecil penulisan. Meskipun kecil dan tidak berarti, jika berulang-ulang akan sedikit mengurangi kualitas buku ini. Kesalahan hanya berupa kekurangan atau kelebihan satu huruf saja (banyangan pada halaman 95 seharusnya bayangan; iu pada halaman 105 seharusnya itu). Tetapi kesalahan kecil itu sama sekali tidak mereduksi kualitas cerpen Emha Ainun Najib. Penerbit Buku Kompas mampu meramu buku kumpulan cerpen ini hingga jadi sebuah petualangan yang seru dalam menjelajah kegelisahan-kegelisahan Emha dari tahun 1978 sampai 1982. Cerpen-cerpen ini tersebar di Harian Kompas, Horison, Sinar Harapan, dan Zaman yang berhasil dirangkum oleh penerbit. Kurun waktu empat tahun sedikit banyak mampu merekam perjalanan seorang Emha, sebab kisaran tema yang diangkat begitu luas hingga dapat mencitrakan kemultidimensian Emha Ainun Najib. ***

Membaca kumpulan ini membuat pembaca ingin bernostalgia dengan karya-karya Emha di era 80-an. Ketika membaca cerpen Di Belakangku, muncul keinginan kuat untuk membongkar lemari demi membaca lagi kumpulan puisinya yang berjudul Cahaya Maha Cahaya (Pustaka Firdaus, 1993). Tema dalam kumpulan cerita pendek ini mebuat kita merasa kangen dengan puisi dan esai-esainya yang lugas, nakal dan kontemplatif. Jika pada masa itu Emha masih gelisah dan senantiasa meraba keberadaan Tuhan, maka Emha saat ini dengan kecairan gagasan dan sikapnya berhasil menerobos sekat-sekat massif dalam beragama. Cara yang ia pilih dengan menghidupkan kembali pembacaan Barzanji dan Sholawat. Inilah menu utama dalam setiap pengajian Maiyah yang dilakukannya bersama Kiai Kanjeng. Emha Ainun Najib dan Kiai Kanjeng tidak mau menempatkan nafas seni karawitan sebagai produk budaya yang cuma mengekspresikan seni dan keindahan semata tanpa makna spiritual. Maka, ketika membaca sosok Emha saat ini, kita berhadapan dengan manusia multidimensi yang giat mengusung harkat kemanusiaan baik didepan sesama manusia maupun di hadapan penciptanya.

Bagitulah, kumpulan cerpen ini membawa kita menoleh ke belakang demi mengenal kegelisahan seorang Emha Ainun Najib di masa lalu. Karya ini menjadi mata rantai penting dalam perjalanannya hingga menjadi sosok Cak Nun yang kita akrabi saat ini. Kematangan tidak lahir begitu saja, dan kematangan bukan sebuah kemapanan. Kita masih akan sering bertemu dengan Emha Ainun Najib, Cak Nun, Kiai Sudrun, Markesot dalam setiap pengajian Maiyah. ***

Judul Buku : BH
Penulis : Emha Ainun Najib
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : I, Januari 2005
Tebal : x + 246
Resensi oleh : Fatati (Phel-phel, ITS Surabaya)
Admin Pada Monday, June 05, 2017 Komentar

Wednesday, May 31, 2017

Kiai Arief Hasan, Cermin Pengilon Dari Beratkulon

Resensi Buku
Jejak Keteladanan Kiai Arief Hasan

KH. Salahuddin Wahid
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

KETIKA dimintai kesediaan memberi kata pengantar buku ini oleh Saiful Amin Ghofur, semula saya bertanya dalam hati: siapakah KH.Arief Hasan itu?

Nama KH. Arief Hasan memang belum begitu akrab di telinga saya. Akan tetapi, setelah berdiskusi sejenak dengan Saiful ketika ia berkunjung ke Tebuireng beberapa waktu lalu, saya baru tahu bahwa KH. Arief Hasan adalah santri al-mukarram KH. Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 1930-an.

Walau tak begitu lama nyantri kepada al-mukarram KH. Hasyim Asy’ari, kira-kira 6 tahun, namun KH. Arief Hasan berhasil mendirikan Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in di Beratkulon Kemlagi Mojokerto.

Ini sekaligus menjadi bukti keberhasilan al-mukarram KH. Hasyim Asy’ari dalam mendidik santri-santrinya. Karena itulah, saya menyambut positif terbitnya buku ini, sebab telah memperpanjang deretan bukubuku otobiografi para kiai NU yang telah terbit sebelumnya.

Tradisi penulisan semacam ini perlu dibudayakan lebih lanjut dalam dunia pesantren mengingat masih banyak sosok kiai NU yang sudah lama wafat, tetapi belum ada upaya serius untuk membukukannya.

Seperti halnya KH. Arief Hasan ini. Seandainya tidak muncul inisiatif untuk dibukukan, bukan tidak mungkin data, terutama yang diakses dari saksi hidup, akan semakin sulit diperoleh. Belum lagi minimnya data tertulis kian mengindikasikan lemahnya budaya tulis di kalangan pesantren sendiri.

Terlepas dari faktor di atas, saya ingin menggarisbawahi beberapa hal berkenaan dengan sejarah hidup KH. Arief Hasan. Pertama, tentang kepatuhan. Aspek ini amat penting diteladani. Sewaktu KH. Arief Hasan menimba ilmu di Tebuireng, kepatuhan terhadap almukarram KH. Hasyim Asy’ari terlihat sangat menonjol.

Faktor kepatuhan terhadap kiai dalam konteks belajar bisa menjadi salah satu sebab keberhasilan. Demikian pula dalam konteks hidup bermasyarakat, faktor kepatuhan terhadap pemimpin dapat mendorong terciptanya kebahagiaan. Akan tetapi, tentu kepatuhan di sini hanya berlaku dalam hal positif, bukan negatif.

Namun perlu dipahami bahwa hubungan antara santri dengan kiai pada saat ini amat berbeda dengan hubungan KH. Arief Hasan dan al-mukarram KH. Hasyim Asy’ari. Saat itu hubungan tidak bersifat teknis tetapi juga bersifat spiritual. Aspek barokah pada waktu itu amat menonjol. Sebagai contoh, KH. Wahid Hasyim pernah mondok di beberapa pondok pesantren hanya dalam waktu seminggu karena ingin mendapat barokah kiai pengasuh pesantren tempat beliau mondok itu.

Kedua, tentang keuletan. KH. Arief Hasan merupakan tipologi pemimpin yang ulet dan pantang menyerah betapapun rumitnya permasalahan hidup yang sedang dihadapi. Inilah yang perlu direfleksikan di tengah-tengah situasi saat ini yang serba tak menentu, beban hidup yang terasa berat akibat krisis global, sehingga tak jarang membuat orang “gelap mata”. Dengan sikap ulet dan pantang menyerah, niscaya segala persoalan bisa dicari solusinya.

Ketiga, kepedulian terhadap sesama. Sepanjang hidupnya, KH. Arief Hasan telah menunjukkan budi pekerti luhur di atas aras peduli terhadap sesama. Sejak nyantri di Tebuireng, KH. Arief Hasan tertempa dengan sikap empati terhadap sesama santri. Sikap ini terus terbawa sehingga hampir seluruh waktunya dipergunakan merealisasikan kepedulian itu. Anakanak yatim disantuni. Masyarakat pun diayomi.

Sikap peduli terhadap sesama ini sudah selayaknya terpatri erat di hati dan dipraktikkan. Di sekeliling kita masih banyak orang-orang yang tertindas dalam berbagai aspeknya, baik sosial, politik, hak asasi, pendidikan maupun ekonomi. Ketertindasan yang bisa jadi akibat kebijakan yang tidak memihak, atau karena faktor kurang beruntung belaka. Mereka butuh “uluran tangan” kita. Sebab, jika bukan kita, lantas siapa lagi yang akan peduli?

Keempat, tentang kebijaksanaan. Sikap bijaksana yang diteladankan KH. Arief Hasan merambah dalam berbagai bidang kehidupan: berkeluarga, bermasyarakat, bahkan berorganisasi. Kebijaksanaan ini pula yang membuatnya begitu dekat dengan berbagai lapisan masyarakat. Dari kebijaksanaan KH. Arief Hasan, kita bisa belajar untuk selalu berhati-hati ketika menempatkan diri dalam kancah pergaulan, senantiasa berbuat dengan penuh perhitungan, dan terus membuka diri terhadap beragam kritik konstruktif demi kematangan berpikir dan kedewasaan bertindak. Dengan cara ini, kita dapat menghayati hidup dengan tulus dan damai.

Selain keempat faktor di atas, kita akan menemukan banyak sekali hal positif setelah membaca halaman demi halaman buku ini. Saiful Amin Ghofur telah merentangkan jembatan yang menghubungkan kita dengan kehidupan KH. Arief Hasan. Sehingga, tidak berlebihan bila sosok KH. Arief Hasan yang direkam buku ini laksana cermin: cermin pangilon dari Beratkulon. ℘
Admin Pada Wednesday, May 31, 2017 Komentar

Sunday, November 17, 2013

Menyongsong Era Kecerdasan Baru: Totalitas Inteligensi

Resensi Buku

KONON, sebab merasa dirinya paling cerdas diantara yang lain, Nabi Musa pernah ditegur Allah dan diperintahkan mencari seseorang yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Sosok yang Tuhan menyebutnya dalam al Qur’an sebagai hamba yang diberi rahmat dan diajari ilmu dari sisi-Nya itu menurut ahli tafsir adalah Khidhir (QS. 18:65).
Dengan berpatokan sebuah tempat yang bernama majma’al bahrain, Musa memulai pencariannya dengan membawa ikan yang tak lagi hidup. Cerita pun bergulir, bagaimana Musa bersikeras mendaftarkan diri menjadi murid, meski sudah dialarm tak akan sanggup. Bagaimana pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari mulut Nabi Musa merespon apa yang dilakukan Khidhir, hingga perpisahan mereka tak terelakkan ketika untuk ketiga kalinya, Musa kembali melanggar janji untuk tidak bertanya atas perilaku Khidhir yang dianggapnya kontroversi.

Demikianlah, Khidhir dalam khasanah islam adalah simbol hikmah yang min ladunna ilma (mendapatkan ilmu dari sisi-Nya). Tiga peristiwa yang dilakukan Khidhir seyogyanya diterjemahkan tersirat, bahwa hidup manusia bukan hanya sekedar “masa kini”, tapi juga harus sanggup memandang “masa depan”, dengan tentu saja berkaca pada “masa silam”. Barangkali, dilatarbelakangi kisah itulah, istilah atau bahkan konsep tentang ilmu laduni disandarkan. Namun sayangnya, banyak orang terjerembab dalam kekeliruan pemahaman ketika mencoba mengakrabi laduni. Bahkan tak jarang, ada yang terjebak pada perilaku musykil ketika berusaha mendapatkannya.

Disinilah, buku yang ditulis Ilung S. Enha ini menemukan urgensinya. Setelah mempopulerkan Kecerdasan Laduni (LQ) melalui Laduni Quotient, Model Kecerdasan Masa Depan (2011), Ilung kembali mewedarkan buah pikirnya melalui LQ, Eleven Pillars of Intelligence. Sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya, buku setebal 270 halaman yang dipengantari oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mendaraskan secara lebih detail sebelas pilar kecerdasan terkait LQ. Pilar kecerdasan yang dimaksud bukan hanya beroperasi di ruang otak (sebagai bagian dari ruang kerja nafs), tapi menyebar di anasir kemanusiaan.
Manusia sebagai masterpeace ciptaan Tuhan sepenuturan Ilung tersusun dari tiga unsur; ruh, nafs, dan jasad. Dari sebelas pilar kecerdasan yang diutarakan, dua diantaranya berada di wilayah ruh, sedangkan sembilan lainnya beredar di ruang nafs. Jasad hanyalah alat untuk mengaplikasikan kecerdasan-kecerdasan ke ruang realitas secara lebih konkret.Yang bermukim di ruang ruh adalah inteligensi “ruh-pusat” (ruhul-amr) dan kecerdasan “ruh-antara” (ruhul-qudus). Sedang yang berkutat di dataran nafs berada di dua tempat; IQ, EQ, dan SQ meruang di otak, dan yang bersemayam di hati adalah aql yang sering disalahpersepsi sebagai fikr, dzauq dan shadr sebagai ruang kreasi dan kesadaran inovasi, kesahajaan fuad, bashirah mata kebenaran yang tak berkabut, dan lubb sebagai pintu masuk kecerdasan ruhaniah. Menariknya, dari pilar-pilar kecerdasan yang dituturkan, Ilung tak hanya mampu merinci dan mendefinisi, tapi juga melakukan rekonstruksi dan memberikan solusi agar setiap pilar kecerdasan bisa berkembang maksimal.

Misalnya saja, ketika proses lelaku menuju kecerdasan laduni ini diupayakan, yang patut diwaspadai adalah adanya dua elemen jiwa berpotensi buruk yang bertubi-tubi menyerang, dengan memengaruhi elemen-elemen kecerdasan yang dimiliki, ialah hawa dan syahwat. Hawa berpotensi merusak sisi internal jiwa, sedangkan syahwat adalah potensi buruk yang merusak sisi eksternal jiwa. Dengan sangat gamblang dituturkan pilar kecerdasan mana sajakah yang paling ringkih, hingga yang paling kuat tak terkalahkan. Dengan demikian, antisipasi bisa segera dilakukan jika nafs benar-benar ingin selamat dari tipu daya hawa dan syahwat.

Jika dibandingkan dengan model kecerdasan yang telah dikenal sebelumnya, sangat tampak bahwa LQ yang diusung Ilung lebih komprehensif karena meletakkan manusia secara utuh. Lazim diketahui, model kecerdasan yang terlanjur dikenali adalah IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). IQ pertama kali dilontarkan oleh Alferd Binet pada awal abad 20. Setelahnya, muncul EQ yang digemakan Daniel Goleman (1995). Ketika hasil penelitian Danah Zohar (Harvard University) dan Ian Marshall (Oxford University) menemukan adanya God Spot (Titik Tuhan) pada otak manusia, lahirlah kemudian model kecerdasan baru yang dikenal dengan kecerdasan spiritual (SQ). Yang patut digarisbawahi, -baik IQ, EQ, maupun SQ, serta qoutient-quotient yang datang sesudahnya- keseluruhanya masih berkumpar di wilayah otak.

Padahal, jika melihat problematika masa depan yang demikian massif dan berjalin-kelindan dari hari kehari, sangat tidak mungkin bisa diselesaikan jika hanya mengandalkan pilar kecerdasan yang berkutat di wilayah otak. Maka, dibutuhkan era baru kecerdasan, berupa totalitas inteligensi. Sebuah kecerdasan baru yang memesrahkan komunikasi antara kecerdasan otak dan inteligensi hati, disambungkan dengan Kecerdasan Ruhaniah. Ruh tak pernah keluar dari rel-Nya, sehingga setiap apapun informasi yang disampaikan adalah kebenaran sejati.

Salah-satu kelebihan buku ini adalah kepiawaian penulis mengemas tiap bahasan dengan bahasanya yang, -meminjam bahasanya pak Muhammad Nuh- “renyah” dan gemulai. Meski kajian yang disuguhkan sesungguhnya tergolong ‘berat’ karena masuk dalam lingkaran tasawuf, di tangan Ilung dihidangkan dengan santai dan ‘membumi’. Tak pelak, wacana tentang laduni yang sebelumnya melangit, rumit dan berbelit-belit, akan segera sirna setelah membaca buku ini.
Sepiring kue ikhtitam disuguhkan, mungkinkah ada semodel generasi yang sanggup menapaki keseluruhan langkah untuk meraih totalitas inteligensi? Tidak ada yang tidak mungkin, kata Ilung. Yang paling harus dilakukan adalah menumbuhkan keyakinan bahwa keMahaluasan-Nya tak sesempit rongga otak. Bahwa keMaharahmananNya akan sanggup mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan yang sangat nyata. Hanya saja, memang dibutuhkan kesabaran berlipat-lipat untuk meniti jalan setapak demi setapak. Sebab jika tidak, sebagaimana Musa, kita akan gagal berguru kepada Khidhir.(*) 

Judul Buku : LQ Eleven Pillars of Intelligence 
Peresensi : Em. Syuhada*)
Penulis : Ilung S. Enha
Penerbit : Kaukaba, Yogjakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2013
Tebal : x + 270 halaman

Rubrik Buku Jawa Pos. Minggu, 16 Nopember 2013

*) Em. Syuhada’, pengeja aksara. Aktif menemani pembelajaran siswa SDN Talunrejo 3 Bluluk Lamongan
Admin Pada Sunday, November 17, 2013 Komentar

Sunday, May 26, 2013

Reformasi PT. Dengkulmu Mlicet

Resensi Buku
Judul Buku : Cinta Sejati Emha Buat Pak Harto
Penulis : ML Nihwan Sumuranje
Penerbit : Kaukaba, Yogjakarta
Cetakan : I, Mei 2013
Tebal : x + 114 halaman
Berbicara tentang reformasi yang bergulir sejak Mei 1998, kita memang tak bisa menghilangkan sosok yang bernama Emha Ainun Nadjib. Sebab, keterlibatan Emha dalam proses reformasi tak bisa dipandang remeh. Masih belum hilang dari ingatan ketika Pak Harto meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998. Di depan kamera TV disaksikan jutaan rakyat Indonesia, Pak Harto menyatakan dalam bahasa ngoko jawatimuran: “Ora dadi presiden ora patheken.” Siapa lagi yang mengajari kalau bukan Emha Ainun Nadjib.
SIAPA tak kenal Emha Ainun Nadjib. Lelaki kelahiran Jombang, yang karib dipanggil Cak Nun itu dikenal sebagai sosok yang multidimensi. Berbagai sebutan disematkan padanya mulai penyair, mubaligh, budayawan, hingga kiai. Bahkan, keterlibatannya dalam banyak hal membuat pria yang pada 27 Mei mendatang genap berusia 60 tahun itu dapat dijumpai di semua tempat dan strata. Boleh jadi, detik ini ia terlibat acara di sebuah hotel berbintang lima, namun siapa sangka sepersekian menit kemudian, ia sudah berada di warung pinggir jalan bersama tukang becak dan kaum termaginalkan lainnya. Maka, tak berlebihan jika Gus Mus menjuluki Emha seperti tertulis dalam sebait puisinya; santri tanpa sarung, haji tanpa peci, kiai tanpa sorban, dai tanpa mimbar, mursyid tanpa tarekat, sarjana tanpa wisuda, guru tanpa sekolahan, aktivis tanpa LSM, pendemo tanpa spanduk, politisi tanpa partai, wakil rakyat tanpa dewan, pemberontak tanpa senjata, ksatria tanpa kuda, saudara tanpa hubungan darah.

Beberapa tahun silam ketika euforia reformasi belum gegap-gempita, suara nyaring Emha dapat dengan mudah didengar melalui tulisan-tulisannya. Emha seperti singa yang aumannya tak hanya membuat bergidik, juga membuat gerah para penguasa. Beberapa kali Emha dilarang tampil, dan pementasannya di beberapa tempat harus dicekal. Bahkan, dalam Padhang Mbulan, - sebuah acara rutin yang digagas di tempat kelahirannya tiap malam bulan purnama – kritik tajam Emha terhadap pemerintah demikian membahana. Tanpa tedeng aling-aling, nama Soeharto, Harmoko, Tutut, dan siapapun saja penguasa yang dikenal represif waktu itu diungkapkan dengan bahasa terang-benderang. Justru ketika Orde Baru tumbang, sikap Emha berubah drastis. Apa sebenarnya yang terjadi? Betulkah Emha kecewa dengan reformasi yang terjadi hingga hari ini?

Memang, ketika reformasi berjalan hingga mencapai angka 15 tahun, situasi yang terjadi sama sekali di luar yang diharapkan. Hari-hari ini dengan kasat mata dapat disaksikan betapa kehidupan pasca-reformasi tidak semakin membaik, justru kian buruk. Banyak ironi terjadi di negeri ini. Pengangguran merajalela, aset negara banyak terjual, kehidupan rakyat jelata kian terengah-engah dengan terus membubungnya harga kebutuhan pokok, dan sebagainya. Bahkan, korupsi yang sebelumnya hanya berpusat pada satu titik, kini melebar hingga ke semua wilayah sampai ke pelosok-pelosok desa. Adakah yang salah dengan proses reformasi?
Melalui buku Cinta Sejati Emha Buat Pak Harto, ML Nihwan Sumuranje mencoba mengurai keadaan itu. Didampingi literatur dari sumber yang terkait secara langsung, beberapa fakta diungkap dengan bahasa yang lugas dan gamblang. Meski secara spesifik judul buku ini adalah cinta Emha kepada Pak Harto, didalamnya banyak ditemukan fakta sejarah lebih luas. Penyebab Pak Harto jatuh misalnya, ketika lensa kamera hanya terfokus pada demo besar-besaran dan kerusuhan yang merebak di berbagai daerah, ternyata dibelakangnya ada campur tangan Amerika Serikat (Hal 1-11). Juga tatkala Orde Reformasi semakin kehilangan arah, diungkap pula ikhtiar Emha untuk kemashlahatan negeri ini. Bagaimana Emha dengan gerakan maiyah-nya berkeliling di banyak tempat, hingga ke mancanegara, untuk keselamatan sebuah negeri yang bernama Indonesia Raya.

Berbicara tentang reformasi yang bergulir sejak Mei 1998, tidak boleh tidak, kita memang tak bisa menghilangkan sosok yang bernama Emha Ainun Nadjib. Sebab, keterlibatan Emha dalam proses reformasi tak bisa dipandang remeh. Masih belum hilang dari ingatan ketika Pak Harto meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998. Di depan kamera TV disaksikan jutaan rakyat Indonesia, Pak Harto menyatakan dalam bahasa ngoko jawatimuran: “Ora dadi presiden ora patheken.” Siapa lagi yang mengajari kalau bukan Emha Ainun Nadjib.

Hal ini bisa dipahami. Sebab, 21 Mei hanyalah muara dari proses yang telah terjadi sebelumnya. 16 Mei 1998, ketika kerusuhan demi kerusuhan semakin tak bisa dikendalikan, Emha dan beberapa tokoh (Nurcholish Madjid, Utomo Dananjaya, Ekky Syahruddin, Fahmi Idris dan beberapa yang lain) mengadakan pertemuan di Hotel Regent, Jakarta. Mereka membuat pernyataan yang intinya meminta Pak Harto mundur. Pernyataan yang diberi judul Khusnul Khatimah itu kemudian dikonfrensi-perskan pada 17 Mei 1998 di Hotel Wisata Internasional, Jakarta. Esoknya, 18 Mei 1998, disampaikan Mensesneg Sa’adilah Mursyid kepada Soeharto. Selang dua jam setelah dipelajari, Sa’adilah dipanggil Soeharto dan menyatakan bersedia mundur. Hanya saja, Pak Harto minta bertemu dengan orang-orang yang menyarankan lengser keprabon secara khusnul khatimah.

Berdasar kesediaan itulah, pada 19 Mei 1998 pukul 09.00 Wib, Emha Ainun Nadjib (dengan bersepatu pinjaman) mendatangi Istana Negara bersama delapan tokoh lain: KH Abdurrahman Wahid, KH Ali Yafie, Prof. Malik Fadjar, Yusril Ihza Mahendra, KH Cholil Baidowi, Sumarsono, Achmad Bagdja dan KH Ma'ruf Amin. Pertemuan selama 2,5 jam itu merundingkan prosedur turun jabatan terbaik bagi Pak Harto dengan meminimalisir gejolak. Ada tiga gagasan diajukan: Soeharto turun, MPR/DPR bubar, dibentuk Komite Reformasi. Komite Reformasi terdiri 45 orang dikenal sebagai reformis progresif, adalah semacam MPR Sementara yang bertugas selama enam bulan. Agenda utamanya mengubah Undang-undang Partai Politik dan Pemilu, serta mempersiapkan dan menyelenggarkan Pemilu.

Sayangnya, meski disetujui Pak Harto, Komite Reformasi justru ditolak oleh sebagian besar kaum reformis, terutama oleh seseorang yang dikenal sebagai tokoh reformasi. Komite Reformasi dianggap sebagai strategi licik Pak Harto yang tetap ingin melanggengkan kekuasaan. Padahal menurut Emha, juga ditegaskan Gus Dur, Pak Harto sudah benar-benar ingin berubah menjelang lengser keprabon. Maka, Cinta Sejati Emha buat Pak Harto sesungguhnya terletak pada kesediaan Emha memandang Pak Harto sebagai manusia. Sebagai manusia, Pak Harto memiliki hak yang sama untuk bertaubat dan memilih khusnul khotimah? Bukankah prasyarat taubat, disamping berjanji setulus hati tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan, juga harus menunaikan segala sesuatu yang memang harus ditunaikan?
Sebagai upaya recovery sejarah, kehadiran buku ini sungguh penting. Apalagi fakta seputar reformasi 1998 yang dibidik buku ini sebelumnya jarang diungkapkan secara adil oleh media massa. Setelah Komite Reformasi gagal dibentuk, yang terjadi kemudian sesuatu yang sebelumnya dikhawatirkan Emha: BJ. Habibie naik menjadi presiden. Pro kontra lantas bermunculan. Reformasi menjadi semakin tidak jelas. Sesudahnya, beragam fitnah kerap dilontarkan kepada tim sembilan, terutama kepada Emha. Emha yang dituduh berkolusi dengan Pak Harto, segala kegiatan Emha dibiayai Cendana, dan sebagainya. Emha hanya tersenyum,”Betul, saya memang diberi perusahaan oleh Cendana. Dari Pak Harto saya mendapatkan PT. Dengkulmu Mlicet. Sedangkan dari Mbak Tutut, perusahaan yang diberikan adalah PT. Udelmu Bodong.”
Semua mata kadung memandang Pak Harto hanya dengan kebencian. Bahwa yang salah hanya satu: ialah Soeharto. Padahal jika melihat kenyataan sesudahnya, bukankah para pialang politik yang bermain di Orde Reformasi sesungguhnya adalah aktor Orde Baru?

Di sebuah hotel menjelang naiknya Habibie menjadi presiden, adegan ketidak-jujuran telah dikonferensi-perskan. Lebih miris, sebuah perbincangan mampir ke telinga Emha dari mulut kaum reformis, yang esoknya akan menjadi menteri,”Kira-kira, ada tidak gaji pensiun bagi mentri yang hanya menjabat selama 6 bulan?” Emha terkesima. Ia sama sekali tak menyangka, reformasi yang didengung-dengungkan ternyata bukan lagi menjadi agenda utama, justru yang menjadi perbincangan adalah pembagian kue kekuasaan dan seputar fasilitas gaji pejabat.

Emha lantas berbalik pulang, memutuskan diri tak lagi terlibat dengan kekuasaan. Ia kemudian berkeliling nusantara menyebarkan shalawat dalam balutan cinta segitiga, bahkan sampai hari ini. Reformasi menurutnya bukan hanya gagal, tapi omong kosong. Sebab, terbukti hari-hari ini bahwa reformasi bukan bagaimana bersama-sama mengubah keadaan menjadi lebih baik. Reformasi adalah bagaimana menjatuhkan Soeharto, untuk kemudian memerankan diri menjadi Soeharto baru, bahkan lebih hebat dan lebih canggih.(*)

*) Em. Syuhada', Jamaah Maiyah. Mengajar di SD Negeri Talunrejo 3, Bluluk, Lamongan.
Admin Pada Sunday, May 26, 2013 2 Komentar

Thursday, April 4, 2013

Sisi Lain Sosok Muhammad SAW

Resensi Buku
Rahasia Kesehatan rasulullah Muhammad SAW
SALAH-SATU manusia terhebat di muka bumi ini, dalam hal menjaga kesehatan yakni Nabi Muhammad. Pasalnya selama hidupnya beliau hanya dua kali mengalami sakit. Padahal letak geografis dataran Jazirah Arab seperti Makkah maupun Madinah memiliki cuaca yang ekstrim.

Tentu saja sebagai pemimpin umat memiliki kesibukan yang luar biasa. Dengan begitu, pantas dijadikan panutan dalam segala hal khususnya menjaga kesehatannya. Sesungguhnya, apa yang menjadi resep beliau sehingga mampu menjaga kesehatanya?

Buku karya Ade Hashman, seorang dokter spesialis anetesi yang peduli pada kesehatan profetik ini, mencoba menguraikan sisi lain dari sosok Muhammad Saw khususnya dalam bidang kesehatan. Menurutnya, dalam diri Muhammad Saw banyak pelajaran yang penting untuk dipetik dan dijadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, Nabi selalu bergosok gigi (bersiwak), menjaga kebersihan dan kesucian. Serta menerapkan pola hidup yang berkualitas.

Salah satu tema buku ini yang menarik yakni, Bab I, Mengenai Kesehatan: Nikmat Ilahi Yang Tidak Ternilai Mahalnya. Menurut Ade Hasman, kesehatan merupakan variabel penting bagi seseorang untuk bisa menjalani dan menikmati hidup. Bahwa  kelezatan duniawi terasa hampa begitu kesehatan sirna. Seperti, menikmati makanan, minuman, tidur, dan beraktifitas lain. Jika tidak ada kesehatan, kearifan dengan sendirinya tidak tercapai, seni tidak akan muncul, kekuatan akan sirna, kekayaan menjadi tidak berguna. Dan kecerdasan tidak akan bisa dipraktikan. (hal, 36)

Ditengah kondisi kehidupan orang modern yang hidup dipenuhi dengan segala kecanggihan teknologi dan informasi serta lebih banyak memberikan orientasi hidupnya pada hal keduniawian belaka ketimbang memikirkan dirinya menjadi manusia banyak manusia yang mudah sakit. Bahkan, pola hidupnya dari mulai bangun tidur hingga menjelang tidur disibukkan dengan dunia eksternalnya. Tak pelak, saat memasuki usia 40 tahun banyak yang berjatuhan secara fisik.

Menjalani pola hidup sehat serta menghindari diri dari pola gaya hidup yang tidak sehat, seperti makan berlebihan dan memperhatikan makanan yang akan dikonsumsi untuk tubuh kita merupakan hal yang amat susah. Padahal dengan gaya hidup yang destruktif (merusak), seseorang sebenarnya telah “menginvestasi” sendiri penyakitnya sejak usia muda. Penting sekiranya memperhatikan aspek kesehatan jasmani dan ruhani. Bukankah, kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang yang sehat, yang juga tidak akan mampu dilihat kecuali orang tersebut yang  jatuh sakit? Orang modern juga banyak yang mengkonsumi obat-obatan termasuk obat untuk perangsang untuk memompa vitalitas secara instan. Kesemuanya itu lambat, tetapi pasti akan menghancurkan bangunan kesehatan.(hal, 40)

Konon, serentetan daftar hitam peradaban modern yang menyumbangkan terjadinya cacat kesehatan masih di perpanjang oleh pencemaran teknologi. Seperti, kini mahalnya air bersih dan udara sehat. Sesungguhnya banyak cara untuk menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan kita sejatinya. Pertama, menggerakan badan, baik dengan menjalankan olahraga secara teratur maupun saat menjalankan ibadah seperti sholat. Pasalnya dengan bergerak selain memperkuat otot juga tidak akan membuat sakit. Kedua, menjaga kebersihan lahir dan bathin, seperti berwudhu. Ketiga, tidur dan istirahat. Sebagaimana terurai dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ”Sesungguhnya badanmu punya hak atasmu.”(hal, 201)

Pakar kesehatan Andrew Weil MD menuturkan kepada kita, bahwa sebagian besar ”suku cadang” tubuh kita dirancang layak pakai, bergaransi atau produktif tidak bermasalah selama 80 tahun asalkan syarat dasar bagi pemeliharaan dan pencegahan ditaati. Sesungguhnya, dengan kesehatan yang Anda miliki dan rasakan segala hal dapat dicapai. Sebagaimana diungkapkan Prof Sayyed Hossein Nasr, pondasi ilmu kedokteran Islam ialah al-Thib al-Nabawy (kedokteran profetik) yang digali dari ucapan, kebiasaan, atau perilaku Nabi Muhammad Saw yang berkaitan dengan kesehatan, kebersihan, pemeliharan badan, dan hubungan antara batin dan tubuh.

Kehadiran buku ini semakin menarik dibaca. Pasalnya pembaca diajak untuk menjaga kesehatan lahir dan batin. Dengan menghadirkan sosok Muhammad Saw untuk dijadikan keteladanan khususnya dalam bidang kesehatan membantu Anda menemukan inspirasi dan keteladanan yang sangat berharga. Serta dalam meningkatkan kualitas dalam kehidupan Anda. Hal ini juga sesuai dengan tujuan kehadiran Islam adalah untuk memelihara agama, akal, jiwa jasmani, harta dan keturunan umat manusia. Selamat membaca!

Judul: Rahasia Kesehatan Rasulullah: Meneladani 
Gaya Hidup Sehat Nabi Muhammad SAW.
Penulis: dr. Ade Hashman
Penerbit:Naura Books
Tahun: 2013 
Tebal: 324 halaman
Harga:Rp. 64.000
Peresensi: Ahmad Faozan, Alumnus PP. Tebuireng Jombang Jatim

sumber : nu.or.id
Admin Pada Thursday, April 04, 2013 Komentar

Tuesday, April 2, 2013

Tidak, Jibril Tidak Pensiun

Resensi Buku
HANYA kualitas sorang Nabi yang sanggup me­nampung wahyu, dan Allah memang hanya berkenan memberikan wahyu kepada beliau-beliau yang terpilih. Sampai akhirnya Muhammad si Pamungkas. Selebihnya hanya ada wahyu kraton: suatu tema drama politik. Maka anak-anak suka bersenda gurau bahwa Jibril sejak abad VII Masehi itu jadi penganggur. Pensiun abadi. Ada yang membantah dengan mengemukakan bahwa Jibril tetap being employed karena para wali atau orang-orang dengan 'radar suci' setingkat mereka tetap menerima karomah, sementara orang-orang biasa kayak kita tetap juga memperoleh ilham. Tidak, kata yang lain. Untuk takaran di bawah wahyu tak diperlukan Jibril. Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil begitu Allah tak memerlukan organisasi birokrasi, tukang-tukang pos atau agen penyalur. Allah bisa cukup bilang Kun (fa-yakuun) untuk ke­pentingan apa pun saja. Alangkah samar pembicaraan semacam ini. Tak ada kerangka metodologi penelitian model manapun yang bisa menyentuhnya. Tak tersedia kredibilitas keilmuan manusia apapun yang mungkin menerobosnya. Apalagi ilmu-ilmu sosial hanya pernah kenal Tuhan sebagai benda abstrak, sebagai suatu syahdan, sebagai kemungkinan obyek yang sungguh asing sifatnya -- sebab segala teori menjadi lawakan tatkala mendekati-Nya.

Satu-satunya jalan disediakan justru oleh berita wahyu itu sendiri. Tetapi ini makin tidak memuaskan manusia modern, yang canggih untuk bercuriga terhadap dogma, yang seolah-olah sengaja membuang kemampuan-kemampuan kejiwaannya yang tertentu yang bisa ia pakai untuk bergaul baik-baik dengan hidayah, dengan petunjuk 'entah dari mana', dengan gudang rahasia keilahian, dengan ketidak-mungkin-tahu-annya sendiri. Ya, manusia modern itu -- yang sombong melebihi Musa menjelang Tursina, yang menyangka bahwa kebenaran dan kepastian adalah miliknya yang ia bisa rancang dan tentukan. Pada saat yang sama, keterbukaan terhadap gerak penghayatan atas wahyu itu amat diperlukan, setidaknya karena manusia telah sampai pada dua gejala yang sama-sama takabbur.

Yang pertama, manusia telah merasa mampu me­nemukan sesuatu, mengadakan yang tak ada, menciptakan sesuatu, dan berkat itu ia menjadi seniman Nobel, doktor akademik atau sarjana kehidupan. Yang kedua berada si ekstrim lain: yang ada hanya Allah, aku ini tak ada. Yang mutlak itu Allah, aku sekedar rekaan. Karya-karyaku, kata-kataku, musikku, lukisanku, tak bisa kusebut dengan ku, sebab mereka adalah kasih karya Allah semata. Jadi, kalau kita membaca karya itu, kita membaca karya Allah. Kalau kita dengarkan ia baca puisi, itu puisi Allah. Kalau kita nonton pameran lukisannya, kita nonton lukisan Allah.

Maka ia mengemukakan kepadaku iman dan konsep mengenai pinjaman ilmu dan harta benda Allah kepada manusia -- sebagai mana ia mengemukakan hal yang sama ketika kutanyakan kepadanya apa omongan Islam tentang falsafah hak milik dan distribusi ekonomi yang dewasa ini amat dicemaskan oleh kaum sosialis-marxis. Itu moralitas Allah. Seandainya saja kita berhasil memiliki suatu pola pendidikan yang memungkinkan terwujudnya iman dan konsep itu dalam diri manusia, maka usaha proyeksi dan sis­temasinya ke dalam organisasi-organisasi kebersamaan manusia tinggal 'sekunder'. Tetapi sejarah telah harus mengandaikan manusia seperti 'maling' yang -- tentu saja tak bisa dipercaya, sehingga harus diciptakan pagar-pagar yang berlebihan. Sistem yang mengatur manusia bersifat substansial, dan manusia berada secara instrumental. Kita adalah gerombolan ayam, memperoleh taburan jagung dari tangan manusia, jago-jago memonopoli taburan itu karena mereka memang 'tak tahu menahu' tentang moralitas tangan manusia yang menaburkan jagung. Perlawanan ayam-ayam lain terhadap jago-jago selalu berupa menyingkirkan atau menumpas jago-jago, atau meng­gantikan kedudukan jago-jago. Demikian 'psikologi perlawanan' yang sejauh ini berlangsung: apirasi terhadap apirasi, ideologi politik terhadap ideologi politik, kelas terhadap kelas, bahkan kaum wanita terhadap kaum lelaki. Sumber kecenderungan ini ialah karena jagung itu dipandang secara a-historis. Tak dipersoal­kan secara tuntas dari mana jagung tertabur, dan apa moralitas esensial yang terkandung di balik taburan jagung itu. Dengan kata lain, orang makin tak kenal kepada jiwa wahyu.

Maka ia mengemukakan kepadaku Jibril tidak pensiun. Wahyu Allah bukan sebuah dongengan purba. Cahaya Allah tak berhenti memancar. Ilmu Tuhan terus menerus berseliweran. Muhammad tidak mati. Sungguh tidak mati. Hanya tubuh beliau yang sudah dikuburkan -- dan tubuh beliau adalah bagian yang paling remeh dari eksistensi kepribadiaannya yang menyuluhi alam semesta manusia. Wahyu yang beliau terima dari Allah pun terus bekerja. Sudah sempurna tapi belum selesai, karena ia akan menemukan kelahiran dan kelahirannya kembali di dalam iman dan kesadaran ummatnya.

" Bahwa pada Muhammad disebut wahyu itu berakhir, artinya ialah jatah ilmu pengetahuan dasar anugerah Allah bagi manusia berpuncak di wadah Muhammad. Segala yang kita sebut prestasi akal, ilmu dan teknologi dahsyat yang dicapai manusia sesudahnya, telah terdapat benih-benihnya dalam al-Quran --meskipun selama ini kita menyebut-nyebut hal itu sekedar untuk hibur-hiburan pasif agar meperoleh ke­percayaan diri sebagai ummat. Allah tidak mengkursus kita bagaimana bikin rantai dan pedal, tetapi kualitas fenomena ken­daraan sepeda telah di­tunjukkan-Nya. Apapun yang kelak digapai oleh ke­cerdasan manusia, tak akan melebihi kapasiatas ke­mungkinan yang telah dinurkan oleh wahyu yang berpuncak di Muhammad. "

Tetapi, barangkali kita, adalah ummat tolol yang bisa menjadi cukup tenang hanya dengan mengemukakan keyakinan itu, tanpa mengerjakannya, dan kemudian -- kata para piawai -- "Kita ketinggalan dua abad" di­banding orang-orang lain yang justru 'acuh tak acuh terhadap Allah'. Mungkin bagi kita Jibril adalah tokoh sejarah pada zaman sebelum Prabu Jayabaya atau candi Boro­budur dibangun. Jibril adalah bayangan patung, arca berjubah, makhluk supra-raksasa yang telapak tangannya seluas 3333 kali galaksi, yang eksistensinya sepurba Dinosaurus. Atau Jibril itu semacam le­lembut. Dan semua itu tidak konkret.

Padahal tidak. Jibril tidak pensiun. Ia begitu karib, di sisi tidur dan jagamu. Namun apabila pengalaman keilahian tidak selalu kita perbaharui, pada suatu hari kita akan sadar seolah-olah kita ini hidup di masa pra-Ibrahim yang menghayati bulan dan matahari untuk menemukan Allahnya.

Emha Ainun Nadjib (PmBNetDok)
Admin Pada Tuesday, April 02, 2013 Komentar
Subscribe to: Posts (Atom)
  • Artikel Terbaru
  • Arsip Blog

Artikel Terbaru

Arsip Blog

  • October (1)
  • June (14)
  • May (18)
  • April (2)
  • February (1)
  • January (1)
  • January (1)
  • November (1)
  • August (2)
  • July (2)
  • June (3)
  • May (13)
  • April (26)
  • March (30)
  • February (43)
  • January (50)
  • December (4)

Resensi Buku

Kategori

Anekdot Berita Pendidikan Cerpen Download Esai Guru Menulis Inspirasi Kolom Kolom Cak Nun Kolom Jamaah Maiyah Literasi News Opini Pendataan Pendidikan Puisi Regulasi Reportase Maiyah Resensi Buku Sertifikasi Guru Tentang Maiyah Tips & Trik
Pejalan Sunyi

Followers

Pejalansunyi.id berusaha berbagi informasi yang bermanfaat. Jika ada ide, kritik, atau saran, silahkan hubungi kami dengan kontak berikut. Salam!

Name Email Address important Content important

Reportase Maiyah

Contact Form

Name

Email *

Message *

Artikel Random

Memuat...
Copyright © Pejalan Sunyi
Template by Arlina Design