• Home
  • About
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Menu

Pejalan Sunyi

iklan banner
  • Home
  • Daftar Isi
  • News
  • Inspirasi
  • Seputar Guru
    • Regulasi Pendidikan
    • Perangkat Pembelajaran
    • Media Pembelajaran
    • Guru Menulis
    • Sertifikasi Guru
    • Pendataan Pendidikan
  • Tips & Trik
  • Budaya
    • Opini
    • Esai
    • Resensi Buku
    • Cerpen
    • Puisi
    • Anekdot
  • Maiyah
    • Tentang Maiyah
    • Kolom Mbah Nun
    • Kolom Jamaah Maiyah
    • Reportase Maiyah
  • Literasi
  • Download
  • Kirim Artikel

Artikel Populer

  • Daftar Penerima Tunjangan Khusus Daerah Terpencil (Dikdas SD-SMP) Tahun 2013
  • Cara Melakukan Cek SKTP di P2TK Dikdas
  • Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan Tercinta
  • Daftar SK Tunjangan Fungsional Prop. Jawa Timur 2013
  • Cara Melihat Sekolah Pelaksana Kurikulum 2013
  • Menjelang Idul Fitri
  • Pendaftaran Peserta Sertifikasi Guru Tahun 2017 Jalur Prestasi

Inspirasi

Pengunjung

Free counters!
top personal sites
top personal sites
Home / Opini
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, October 12, 2017

MENELISIK FUNGSI GADGET DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN

MENELISIK FUNGSI GADGET DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN

Guru Menulis Opini
PERKEMBANGAN teknologi informasi dan komunikasi adalah keniscayaan yang tak bisa dielakkan. Sebab, perkembangan itu akan terus berjalan seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Salah-satu produk teknologi informasi yang saat ini marak digunakan adalah gadget. Gadget menurut Wikipedia (2017) merupakan perangkat elektronik yang memiliki berbagai kemampuan praktis dan canggih. Beragam fitur yang ditawarkan mulai dari kamera, games, internet, audio, dan fitur-fitur lainnya membuat perangkat digital itu tak hanya sekedar sebagai alat komunikasi. Semakin canggih gadget, semakin ia memiliki kemampuan lebih sehingga memberikan kemudahan bagi penggunanya.

Menariknya, jika dahulu gadget hanya digunakan oleh kalangan menengah ke atas, sekarang gadget banyak digunakan oleh semua kalangan, tak terkecuali anak-anak. Hal ini tentu saja perlu mendapatkan perhatian. Sebab, penelitian Maulida berjudul “Menelisik Pengaruh Penggunaan Aplikasi Gadget Terhadap Perkembangan Psikologis Anak Usia Dini” yang dimuat di Jurnal Keperawatan (2013) menyebutkan, gadget membawa banyak perubahan dalam pola kehidupan. Terjadinya kesenjangan sosial dalam kehidupan bermasyarakat juga disebabkan sering menggunakan gadget. Maulida bahkan menyebutkan contoh kasus seorang siswa kelas 5 SD telah melakukan pelecehan seksual terhadap teman sebayanya. Hal itu terjadi akibat pelakunya sering menonton video porno yang dapat dengan mudah diakses melalui gadget miliknya. Memprihatinkan bukan?

Memang jika dilihat dari sisi positif, keberadaan gadget sangat menguntungkan bagi manusia modern yang aktifitasnya dituntut serba mobile. Dengan adanya gadget, kehidupan menjadi lebih dipermudah. Manusia tak lagi dibatasi ruang dan waktu. Share ilmu pengetahuan, diskusi lintas negara, konsultasi dalam hal apapun, transaksi keuangan melalui kamar-kamar pribadi, hingga melakukan pembelajaran tanpa harus bertatap muka secara langsung adalah fenomena mutakhir yang tak lagi mustahil. Masalahnya, gadget adalah pisau bermata dua yang memiliki sisi baik dan buruk. Meskipun dampak positifnya besar, akibat negatif yang ditimbulkan juga kerap mengintai jika tidak dipergunakan secara bijak. Apalagi jika penggunanya adalah anak SD yang notabene belum memiliki perkembangan kepribadian yang matang.

Merujuk pada teori perkembangan psikososialnya Erikson (1902-1994), anak SD usia 6-12 tahun adalah usia sekolah dimana anak sudah terlibat aktif dengan interaksi sosial. Pada masa ini, keingin-tahuan anak menjadi sangat kuat karena berhubungan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan (competence). Hanya saja, usia ini menurut teori Jean Piaget (1896-1980) adalah tahap operasional kongkrit. Artinya, anak baru bisa mencerna hal-hal kongkrit. Mereka belum bisa memilah secara bijak segala sesuatu yang sifatnya abstrak. Untuk itulah, ketika anak diperbolehkan menggunakan gadget dalam aktifitas sehari-harinya, yang dibutuhkan adalah pendampingan dari orang dewasa agar mereka tidak salah dalam melangkah.

Gadget Untuk Pembelajaran Siswa SD
Beberapa waktu lalu, pernyataan menarik dilontarkan oleh mantan Dirjen GTK, Sumarna Surapranata, Ph.D saat membuka acara Workshop Penulisan Jurnal Guru Dikdas Berprestasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar di Surabaya (21/08/2017). Di tengah pro-kontra pemakaian gadget bagi siswa di sekolah, Pak Dirjen yang purna sejak 8 Agustus 2017 itu justru menganjurkan agar siswa tidak dilarang menggunakan gadget. Alasannya, gadget adalah alat yang bisa memberikan ruang bagi guru untuk melakukan inovasi pembelajaran. Tak tanggung-tanggung, simulasi sederhana dilakukan dengan mengetikkan kata kunci tertentu melalui search engine milik google. Dalam hitungan detik, apa yang dibutuhkan ditampilkan sesuai dengan kata kunci yang dimasukkan. Pak Pranata lantas menegaskan, bukankah amat disayangkan jika hal tersebut tidak dimanfaatkan sebesar-besarnya dalam kegiatan pembelajaran?

Terkait hal itu, penulis tiba-tiba teringat dengan seorang rekan guru dari Bojonegoro Jawa Timur. Adalah Muhammad Nur Zakun, Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dari SDN Model Terpadu Bojonegoro. Guru yang beberapa waktu yang lalu mendapatkan penghargaan dari PB PGRI di hadapan Presiden Joko Widodo itu banyak melakukan inovasi dalam kegiatan pembelajaran. Dengan memanfaatkan perkembangan ICT, Pak Zakun seringkali menciptakan aplikasi pembelajaran baik yang berbasis dekstop, maupun android. Ketika sebuah perusahaan ternama di Indonesia menyelenggarakan ajang My Teacher My Hero (MTMH) dalam Indonesia Digital Learning Tahun 2016, Pak Zakun adalah satu diantara delapan orang se-Indonesia yang memenangi kompetisi. Reward yang diberikan berupa Education Benchmark ke Australia. Dalam ajang tersebut, peserta sebelumnya diminta mengirimkan karya berupa aktivitas pembelajaran digital yang dikemas dalam sebuah video pendek.

Hasilnya bisa dilihat, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna tak hanya bagi siswa, juga bagi wali murid. Dalam video pendek yang dikirimkan, ditampilkan testimoni wali murid yang memberikan apresiasi terhadap inovasi pembelajaran yang telah dilakukan. Wali murid tersebut bahkan angkat topi dengan model pembelajaran Pak Zakun. Saat ini, aplikasi yang dikembangkan oleh GPAI tersebut adalah aplikasi berbasis android berupa game pembelajaran Tembakan Harakat menggunakan Construct 2. Aplikasi yang diikut-sertakan dalam lomba mobile Ki Hajar 2017 yang diselenggarakan oleh BPMPK Kemdikbud itu masuk kontributor 30 besar, meskipun belum berhasil menjadi juara.

Pada sisi berbeda, penggunaan gadget yang memengaruhi hasil belajar siswa juga telah dibuktikan melalui penelitian. Tengok misalnya penelitian Beauty Manumpil, dkk. dalam Jurnal Keperawatan Volume 3, April 2015. Penelitian yang dilakukan terhadap 41 responden siswa sebuah sekolah itu bertujuan ingin mengetahui hubungan penggunaan gadget dengan tingkat prestasi belajar siswa. Hasilnya, 30 siswa (73,2 %) mendapatkan nilai tinggi, sedangkan 11 siswa sisanya (26,8 %) memperoleh nilai rendah. Berdasarkan uji statistik juga ditemukan, penggunaan gadget terlalu lama dapat berpengaruh pada konsentrasi anak. Sedangkan penggunaan gadget selama jam pelajaran berlangsung untuk mengakses berbagai media sosial berpengaruh buruk terhadap tingkat prestasi siswa.

Begitulah, baik buruknya gadget tidak tergantung pada bendanya, melainkan cara penggunaannya. Maka, ketika ada regulasi yang melarang penggunaan gadget, minimal di tingkat sekolah, pertanyaan penting patut diajukan, tidakkah hal tersebut akan menghambat guru ketika ingin melakukan inovasi pembelajaran? Adakah jaminan bahwa ketika penggunaan gadget dilarang, siswa tidak menggunakannya di tempat lain? Bukankah waktu anak di luar sekolah jauh lebih banyak? Maka menurut hemat penulis, yang terutama bukanlah melarang, melainkan memberikan pendidikan bagaimana mestinya menggunakan piranti teknologi itu agar bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya dalam kehidupan.

Untuk itulah, agar dampak negatif yang ditimbulkan dapat diminimalisir, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru ketika memanfaatkan gadget dalam kegiatan pembelajaran siswa sekolah dasar. Pertama, guru hendaknya bekerja sama dengan orang tua terkait dengan penggunaan gadget bagi anak. Sebagaimana dituturkan di awal, gadget adalah pisau bermata dua yang yang memiliki kemungkinan baik dan buruk. Tidak semua orang tua memiliki tingkat pengetahuan yang sama. Dampak positif dan negatif penggunaan gadget itulah yang harus disampaikan sebagai bahan pembelajaran, sekaligus untuk menyamakan persepsi agar orang tua memiliki kewaspadaan dalam menjalankan fungsi kontrol terhadap proses pertumbuhan karakter anak.

Telah menjadi pengetahuan bersama, bahwa pendidikan adalah tugas bersama antara guru, masyarakat, pemerintah, dan terutama orang tua. Semua stakeholder tersebut harus menjalankan fungsinya dengan baik sesuai dengan posisi dan proporsinya masing-masing. Kalau toh anak diperbolehkan menggunakan gadget selama di sekolah, tentu saja hal itu disertai dengan batasan-batasan. Batasan-batasan itulah yang harus diterapkan juga oleh orang tua selama anak berada di luar sekolah. Akan menjadi tidak efektif jika aturan ketat itu diberlakukan di sekolah, tapi selama di rumah anak dibiarkan menggunakan gadget tanpa pengawasan dan kontrol sama sekali.

Kedua, menggunakan gadget hanya untuk kegiatan yang mendukung pembelajaran. Lazim diketahui, saat ini banyak sekali aplikasi pembelajaran yang bisa diunduh secara gratis, baik aplikasi berbasis dekstop, maupun yang berbasis android. Guru bisa mengondisikan agar aplikasi tersebut terpasang di gadget anak. Untuk menunjang pembelajaran yang berhubungan dengan pendidikan karakter, guru bisa memberikan tugas kepada anak melalui aplikasi tersebut, baik tugas terstruktur ketika di sekolah, maupun tugas tidak terstruktur ketika anak di rumah. Akan lebih ideal jika guru memiliki kemampuan membuat aplikasi sendiri, sehingga media pembelajaran yang dibuat bisa disesuaikan dengan karakter anak. Disinilah diperlukan kemauan kuat, agar guru bersedia terus belajar untuk melakukan pengembangan diri.

Ketiga, Indonesia adalah salah-satu negara pengakses situs pornografi terbesar di dunia, yang penggunanya bukan hanya orang dewasa, bahkan juga anak-anak. Pornografi adalah perusak mental yang merongrong integritas. Sesuai dengan peraturan pemerintah, saat ini banyak provider internet di Indonesia telah memblokir konten situs-situs terlarang, namun ada sebagian kecil yang belum. Guru bisa melakukan antisipasi dengan memblokir konten situs negatif secara mandiri, salah-satunya bisa menggunakan DNS Nawala Project. Yang tak kalah penting, harus ada pemeriksaan konten secara berkala terhadap gadget anak untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal negatif. Jika suatu saat ditemukan adanya penyimpangan, guru harus segera mengambil tindakan agar tidak menjadi masalah yang berkelanjutan.

Beberapa hal yang dikemukakan di atas adalah ikhtiar untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks, seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang tak mungkin dihindari. Memang, melarang penggunaan gadget bagi anak bukanlah hal yang bijaksana. Sebagaimana maqalah Sayyidina Ali, anak hidup dengan zamannya sendiri. Maka, didiklah anak sesuai dengan zamannya, meskipun zaman itu sama sekali berbeda dengan zaman guru dan para pendahulunya. Alhasil, daripada sibuk berdebat tentang penggunaan gadget bagi anak, alangkah baiknya jika guru menjadikannya peluang untuk meningkatkan kualitas dalam kegiatan pembelajaran. Bagaimana menurut Anda?(*)
*)Suhadaq, S.Pd.I, Penulis adalah Guru PAI SDN 3 Talunrejo Bluluk Lamongan Jawa Timur 
Admin Pada Thursday, October 12, 2017 Komentar

Saturday, June 3, 2017

Perkiraan Turunnya Lailatul Qadar Berdasar Pengalaman Para Ulama Tashawuf

Opini
Menyongsong Turunnya Lailatul Qadar

LAILATUL QADAR, Malam Kemuliaan. Kalimat tersebut dapat ditemukan dalam Al Quran Surat Al Qadar 1 - 3. Ayat tersebut menginformasikan bahwa Allah telah menurunkan Al Qur'an pada Lailatul Qadar, sebuah malam kemuliaan yang derajatnya lebih baik dari seribu bulan.

Terkait turunnya ayat tersebut, konon dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang laki-laki dari Bani Israil yang berjuang fisabilillah. Laki-laki tersebut pada siang hari menggunakan senjatanya untuk berjuang di jalan Allah selama seribu bulan terus menerus. Jika malam, ia gunakan waktunya untuk beribadah dan bermunajah kepada Allah.

Para sahabat yang mendengar cerita itu tentu saja kagum dan iri. Bagaiamana selama 1.000 bulan (83 tahun 4 bulan), laki-laki Bani Israil itu selalu beribadah dan berjihad kepada Allah, karena memang sejak lahir dia sudah berada di atas agama yang lurus. Sementara para sahabat telah berumur ketika masuk islam. Sehingga dengan sisa umur yang ada sangat mustahil bisa melakukan hal yang sama.

Dilatar-belakangi kisah itulah, turun ayat di atas (QS. Al Qadar). Jika umat islam beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. Karena itulah sangat bisa dimengerti, jika Ramadan tiba, kaum muslimin 'berjuang' sedemikian rupa memburu Lailatul Qadar demi mendapatkan keberkahan yang ditawarkan,  terutama dalam 10 hari terakhir (malam likuran), .

Turunnya Lailatul Qadar
Terkait dengan turunnya Lailatul Qadar itu, dalam khasanah kitab klasik banyak diterangkan tentang seluk beluk, keutamaan, serta tanda-tanda turunnya Lailatul Qadar. Bahkan, ada beberapa kitab yang menerangkan bahwa turunnya Lailatul Qadar itu bisa dilihat dari awal pelaksanaan puasa ramadhan, berdasarkan pengalaman pribadi ulama ahli kasyaf.

Dalam kitab I’anatuth Thaalibiin misalnya, diterangkan dalam juz II halaman 257, bahwa turunnya Lailatul Qadar bisa dilihat pada awal Ramadhan. Keterangan lengkap sebagai berikut:
Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu maka turunnya Lailatul Qadar jatuh pada malam 29
Jika awal Ramadhan hari Senin maka turunnya Lailatul Qadar jatuh pada malam 21
Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka turunnya Lailatul Qadar jatuh pada malam 27
Jika awal Ramadhan hari Kamis maka turunnya Lailatul Qadar jatuh pada malam 25
Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka turunnya Lailatul Qadar jatuh pada malam 23
Dalam kitab yang lain yaitu Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337, juga dijelaskan sebagai berikut:
Jika awal Ramadhan hari Ahad, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 29
Jika awal Ramadhan hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 21
Jika awal Ramadhan hari Selasa maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 27
Jika awal Ramadhan hari Rabu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 19
Jika awal Ramadhan hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 25
Jika awal Raamadhan hari Jumat maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 17
Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 23
Yang ketiga dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304:
Jika awal Ramadhan hari Jumat, maka Lailatul Qadar pada malam 29
Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka Lailatul Qadar pada malam 21
Jika awal Ramadhan hari Ahad maka Lailatul Qadar pada malam 27
Jika awal Ramadhan hari Senin maka Lailatul Qadar pada malam 29
Jika awal Ramadhan hari Selasa maka Lailatul Qadar pada malam 25
Jika awal Raamadhan hari Rabu maka Lailatul Qadar pada malam 27
Jika awal Raamadhan hari Kamis maka Lailatul Qadar pada malam ganjil setelah malam 20
Terlepas dari hal tersebut, tulisan Cak Nun terkait dengan Lailatul Qadar ini patut untuk menjadi bahan perenungan sebelum kita melakukan 'perburuan' malam Lailatul Qadar.
Yang sepenuhnya harus kita urus dalam ‘menyambut’ Lailatul Qadar adalah reciever spiritual kita sendiri untuk mungkin menerima Lailatul Qadar. Kesiapan diri kita. Kebersihan jiwa kita. Kejernihan ruh kita. Kepenuhan iman kita. Totalitas iman dan kepasrahan kita. Itulah yang harus kita maksimalkan.

Kalau lampumu tak bersumbu dan tak berminyak, jangan bayangkan api. Kalau gelasmu retak, jangan mimpi menuangkan minuman. Kalau mentalmu rapuh, jangan rindukan rasukan tenaga dalam. Kalau kaca jiwamu masih kumuh oleh kotoran-kotoran dunia, jangan minta cahaya akan memancarkan dengan jernih atasmu.

Jadi, bertapalah dengan puasamu, bersunyilah dengan i’tikafmu, mengendaplah dengan lapar dan hausmu. Membeninglah dengan rukuk dan sujudmu. Puasa mengantarkanmu menjauh dari kefanaan dunia, sehingga engkau mendekat ke alam spiritualitas. Puasa menanggalkan barang-barang pemberat pundak, nafsu-nafsu pengotor hati, serta pemilikan-pemilikan penjerat kaki kesorgaanmu.***
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi, yang bersumber dari Mujahid)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid).
Para sahabat kagum dan iri karena lelaki Bani Israel tersebut selama 1.000 bulan (83 tahun 4 bulan) selalu beribadah dan berjihad kepada Allah karena sejak lahir dia sudah berada di atas agama yang lurus. Sedang para sahabat karena ajaran Islam baru disyiarkan Nabi, banyak yang masuk Islam pada umur 40 tahun atau lebih. Sehingga sisa waktu mereka hanya 20-30 tahun saja. Tak bisa menandingi ibadah lelaki dari Bani Israel tersebut.
Karena itulah turun ayat di atas. Jika ummat islam beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. Karena itu perbanyaklah shalat, dzikir, doa, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan berjihad di jalan Allah pada malam Lailatul Qadar.


Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi, yang bersumber dari Mujahid)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid).
Para sahabat kagum dan iri karena lelaki Bani Israel tersebut selama 1.000 bulan (83 tahun 4 bulan) selalu beribadah dan berjihad kepada Allah karena sejak lahir dia sudah berada di atas agama yang lurus. Sedang para sahabat karena ajaran Islam baru disyiarkan Nabi, banyak yang masuk Islam pada umur 40 tahun atau lebih. Sehingga sisa waktu mereka hanya 20-30 tahun saja. Tak bisa menandingi ibadah lelaki dari Bani Israel tersebut.
Karena itulah turun ayat di atas. Jika ummat islam beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. Karena itu perbanyaklah shalat, dzikir, doa, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan berjihad di jalan Allah pada malam Lailatul Qadar.


Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi, yang bersumber dari Mujahid)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid).
Para sahabat kagum dan iri karena lelaki Bani Israel tersebut selama 1.000 bulan (83 tahun 4 bulan) selalu beribadah dan berjihad kepada Allah karena sejak lahir dia sudah berada di atas agama yang lurus. Sedang para sahabat karena ajaran Islam baru disyiarkan Nabi, banyak yang masuk Islam pada umur 40 tahun atau lebih. Sehingga sisa waktu mereka hanya 20-30 tahun saja. Tak bisa menandingi ibadah lelaki dari Bani Israel tersebut.
Karena itulah turun ayat di atas. Jika ummat islam beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. Karena itu perbanyaklah shalat, dzikir, doa, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan berjihad di jalan Allah pada malam Lailatul Qadar.


Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi, yang bersumber dari Mujahid)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid).
Para sahabat kagum dan iri karena lelaki Bani Israel tersebut selama 1.000 bulan (83 tahun 4 bulan) selalu beribadah dan berjihad kepada Allah karena sejak lahir dia sudah berada di atas agama yang lurus. Sedang para sahabat karena ajaran Islam baru disyiarkan Nabi, banyak yang masuk Islam pada umur 40 tahun atau lebih. Sehingga sisa waktu mereka hanya 20-30 tahun saja. Tak bisa menandingi ibadah lelaki dari Bani Israel tersebut.
Karena itulah turun ayat di atas. Jika ummat islam beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. Karena itu perbanyaklah shalat, dzikir, doa, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan berjihad di jalan Allah pada malam Lailatul Qadar.


Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi, yang bersumber dari Mujahid)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid).
Para sahabat kagum dan iri karena lelaki Bani Israel tersebut selama 1.000 bulan (83 tahun 4 bulan) selalu beribadah dan berjihad kepada Allah karena sejak lahir dia sudah berada di atas agama yang lurus. Sedang para sahabat karena ajaran Islam baru disyiarkan Nabi, banyak yang masuk Islam pada umur 40 tahun atau lebih. Sehingga sisa waktu mereka hanya 20-30 tahun saja. Tak bisa menandingi ibadah lelaki dari Bani Israel tersebut.
Karena itulah turun ayat di atas. Jika ummat islam beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. Karena itu perbanyaklah shalat, dzikir, doa, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan berjihad di jalan Allah pada malam Lailatul Qadar.


Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi, yang bersumber dari Mujahid)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid).
Para sahabat kagum dan iri karena lelaki Bani Israel tersebut selama 1.000 bulan (83 tahun 4 bulan) selalu beribadah dan berjihad kepada Allah karena sejak lahir dia sudah berada di atas agama yang lurus. Sedang para sahabat karena ajaran Islam baru disyiarkan Nabi, banyak yang masuk Islam pada umur 40 tahun atau lebih. Sehingga sisa waktu mereka hanya 20-30 tahun saja. Tak bisa menandingi ibadah lelaki dari Bani Israel tersebut.
Karena itulah turun ayat di atas. Jika ummat islam beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. Karena itu perbanyaklah shalat, dzikir, doa, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan berjihad di jalan Allah pada malam Lailatul Qadar.


Admin Pada Saturday, June 03, 2017 Komentar

Monday, May 29, 2017

Membaca dalam Kepungan Lapar dan Dahaga

Opini
'Lelah', Foto Lukisan Gus Mus diambil dari gusmus.net

KABARNYA, salah satu permasalahan akut yang dihadapi bangsa ini adalah rendahnya minat baca. Berbagai data literasi disodorkan dari tahun ke tahun. Misalnya hasil penelitian yang dilakukan International Association for The Evolution of Education Achievement (IEA) Tahun 1992 meletakkan indonesia sebagai negara dengan peringkat ke 28 dari 32 negara dalam hal kemampuan membaca anak usia didik. Sementara peringkat pertama justru diraih Finlandia diikuti Amerika dan beberapa negara di Eropa.

Sekian tahun berjalan, data tentang literasi tak juga mengalami perkembangan. Kata UNESCO tahun 2012, hanya satu dari seribu orang Indonesia yang memiliki minat baca. Data lainnya, studi yang dilakukan oleh Programme for International Study Assessment (PISA) tahun 2009 juga meletakkan Indonesia pada peringkat ke-57 dengan skor 396. PISA 2012 menempati peringkat 64 dari 65 negara. Dan PISA 2015, Indonesia berada di urutan 69 dari 76 negara, masih kalah dengan vietnam yang bertengger pada posisi ke-12.

Ironis memang, ditengah membengkaknya jumlah penduduk muslim di negara yang berpenduduk sekitar dua ratus lima juta jiwa ini, prestasi membaca justru berada pada urutan juru kunci. Padahal, islam sebagai ajaran yang kaffah terbukti meletakan urusan baca membaca menjadi skala prioritas. Bukankah ayat yang pertama kali diturunkan Allah SWT pada Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril adalah Al Alaq 1 – 5 yang nota bene adalah perintah untuk membaca? 

Memang membaca tak melulu hanya berkutat soal teks. Ada membaca lainnya berupa membaca kontekstual, membaca tanda-tanda, membaca alam semesta, dan sebagainya. Tapi setidaknya, membaca (teks) adalah salah-satu proses melakukan serangkaian penjelajahan intelektual yang tak boleh diabaikan begitu saja. 

Ramadlan, Bulan Baca Tulis Al Quran

Adalah menarik merenungkan kembali wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT pada Muhammad SAW beberapa abad silam. Bukan sebuah kebetulan jika Allah SWT meletakkan perintah membaca mendahului firman-firman-Nya yang lain. Sebab, membaca bukan hanya sebuah proses penjelajahan intelektual yang muaranya pengetahuan. Lebih dari itu, membaca adalah sikap manusia memanusiakan dirinya sendiri.

Dengan membaca, manusia akan mengerti kedudukannya sebagai seorang makhluk: tentang dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, serta akan dibawa kemana hidupnya kelak ketika harus menghadap kembali kepada pencipta-Nya.

Pertanyaan yang kemudian mengemuka, obyek apakah yang harus dibaca? Haruskah sebuah buku? Ataukah kitab-kitab samawi yang diturunkan pada para rasul? Ataukah obyek-obyek yang lain?

Al Alaq ayat pertama barangkali bisa dijadikan acuan. Allah memerintahkan membaca kepada Muhammad (dan juga umat islam secara mondial) dengan bahasanya: Iqra’. Tapi amar itu sendiri tak disertai dengan maf’ul bih (obyek yang harus dibaca). Ini menunjukkan, membaca bisa dimaknai secara lebih luas dengan tak hanya melulu menjelajahi isi buku atau kitab.

Membaca adalah aktifitas manusia meneliti setiap detak peristiwa yang berjalin-kelindan dalam kehidupan untuk dipungut hikmahnya. Membaca bisa pula diartikan menelusuri dan memahami setiap ‘fasilitas’ yang telah disediakan Allah SWT berupa Qur’an, Alam Semesta, dan kehidupan manusia sendiri. Kesimpulannya jelas, membaca dalam konteks ini bukan hanya asyik masyuk bercengkarama dengan ayat-ayat qauliyah. Namun tak kalah pentingnya adalah mencerna setiap ayat kauniyah yang berkelibat dalam ruang kehidupan.

Dalam kerangka itu, prosesi iqro’ tetap harus berada dalam koridor bismi rabbikalladzi khalaq. Artinya, kesadaran membaca, yang bermuara pada maqam intelektualitas tak boleh dilepaskan dari kesadaran ketuhanan, yang berpuncak pada spiritualitas. Sedalam apapun manusia mengarungi samudra intelektualitas, ia tetap harus berada dalam perahu spiritualitas. Ketika manusia mengabaikan rumusan ini, yang terjadi bukan hanya kekeringan ruhaniah maupun kedahagaan spiritualitas. Bahkan pada skala yang jauh, manusia akan tercerabut dari akar hidupnya. Ia akan mengalamai keterasingan sedemikian rupa dengan dirinya sendiri. Kehadirannya bukan hanya niscaya, bahkan telah menjangkiti kehidupan para pelakunya pada kurun waktu terakhir.

Dalam bukunya yang berumbul Nasionalisme Muhammad: Islam Menyongsong Masa Depan (Sipress : 1995), Emha Ainun Nadjib menuturkan, bahwa salah satu sebab kemunduran umat islam adalah ketertinggalan kaum santri dalam hal Iqra’. Menurut budayawan yang merupakan bapak dari vokalis Letto ini, justru pelaku era modern yang diwakili oleh dunia barat dan sekitarnya telah menang dalam ber-iqra’, meskipun pada saat yang sama, mereka ternyata gagal dalam ber-bismi rabb.

Maka, ilmu pengetahuan yang telah diraih dunia barat menjadi gersang dan tak berakar. Ilmu pengetahuan itu sendiri bahkan miskin nilai spiritualitas, tak ber-ma’rifat ilallah, tekhnologi dan industrinya tidak menjadi hasanah fiddunnyah wal akhirah, negaranya tak menjadi baldah thayyibah warabbun ghafur, dan kehidupannya dipenuhi polusi fisik, psikologis, kultural dan spiritual, karena memang tidak berorientasi dengan metabolisme alam (sunnatullah) yang bebas polusi atau residu.

Alhasil, Ramadlan sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an adalah momentum yang tepat untuk menggelorakan semangat dan minat membaca. Bukankah ditengah kepungan lapar dan dahaga, membaca lebih bermakna dilakukan daripada memelototkan mata pada acara televisi yang sesungguhnya meletakkan islam hanya pada dataran formalitas?

Maka, sebuah tawaran yang boleh untuk tidak dilakukan: Hiasilah lapar puasamu dengan membaca, niscaya kau akan menjadi seorang manusia. Bagaimana menurut anda?***
Admin Pada Monday, May 29, 2017 Komentar

Sunday, May 21, 2017

Selamat Datang Ramadan

Opini
Selamat Datang Ramadhan
TERSEBUTLAH seorang lelaki bernama Muhammad. Dia menghabiskan sebagian hidupnya dengan meninggalkan perintah Tuhan berupa shalat lima waktu. Ketika Ramadhan tiba, si Muhammad ini melakukan penghormatan dengan berpakaian dan mengenakan wewangian, sebelum kemudian melaksanakan shalat dan menebus semua shalat yang pernah ditinggalkan. Ketika ditanya tentang aktifitas itu, dengan mantap si Muhammad menjawab, “Ini adalah bulan taubat, rahmat, dan barakah. Barangkali Tuhan berkenan merelakanku dengan keutamaan Ramadhan”. 

Alhasil, ketika Muhammad wafat, seseorang menjumpainya dalam mimpi. Muhammad pun ditanya, ”Apa yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu, wahai Muhammad?” Si Muhammad dengan hati riang menjawab, ”Tuhan telah berkenan mengampuni segala dosa-dosaku, tersebab penghormatanku dalam menyambut Ramadhan.”

***
Sepenggal kisah diatas saya ceritakan untuk menyambut datangnya Ramadhan. Saya nukilkan dari kitab klasik, yang hampir seluruh pesantren pernah membacanya. Seperti biasa, menjelang Ramadhan tiba, beragam aktifitas dilakukan manusia untuk menyambut datangnya bulan mulia itu. Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan berkah. Sungguh sayang jika dibiarkan berlalu tanpa aktifitas bermakna bagi kesejahteraan jiwa. Apalagi tanpa upaya menyambut kedatangannya sepenuh makna. Rasul Mulia itu pernah berkata, “Tuhan mengharamkan tubuh seseorang dijilat api neraka, ketika riang hatinya menjelang Ramadhan tiba.”

Barangkali, diilhami ucapan kanjeng nabi itulah, orang-orang begitu antusias menerjemahkan “keriangan” itu dengan caranya masing-masing. Aparat keamanan begitu agresif melakukan razia di tempat-tempat yang ditengarai sebagai pusat maksiat. Ada himbauan khusus agar selama Ramadhan, warung-warung tidak buka siang hari, klub-klub malam dibatasi jam kerjanya, lokalisasi diliburkan, dan sebagainya. Bagi aparat keamanan, menjelang Ramadhan penyakit masyarakat harus dibersihkan, agar noda-noda hitam yang melekat tidak mengotori baju Ramadhan yang putih mengkilat.

Sementara keriangan itu diterjemahkan lain lagi oleh pedagang, stasiun televisi, dan pelaku industri hiburan lainnya. Acara-acara televisi tiba-tiba saja menjadi hanya “milik” orang islam. Sementara pedagang sibuk menyiapkan modal tambahan untuk memperbanyak stok dagangan. Bukankah anggaran belanja rumah tangga naik dua kali lipat selama Ramadhan. Belum lagi jika hari raya menjelang, pedagang adalah orang yang paling menuai “berkah” dari datangnya bulan penuh berkah itu.

Atas nama Ramadhan, spanduk bertebaran di mana-mana. Spanduk itu hampir rata-rata menganjurkan untuk menghormati Ramadhan dan orang berpuasa. Seolah-olah Ramadhan adalah bulan yang gila hormat. Seolah-olah orang berpuasa adalah anak kemarin sore yang merengek-rengek minta dikondisikan agar puasanya nyaman dan steril dari gangguan. Itulah barangkali yang menyebabkan Gus Mus begitu suntuk dua tahun silam. Dalam artikelnya menyambut Ramadhan 1429 H, Gus Mus pernah menulis dalam sepenggal kalimatnya, ”Tanpa dihormati, Ramadhan sudah sangat terhormat. Dan ia, tak butuh penghormatan dari siapapun.” (Jawa Pos, 1/9/2008)

Padahal jika mau berpikir jernih, mental orang beriman tidaklah ‘cengeng’. Orang beriman adalah pejuang yang memiliki mental baja sehingga tak gampang merengek dan meminta-minta. Justru ketika berpuasa, dengan lantang seorang mukmin berkata, ”Saya puasa. Kalau ente mau berjualan, berjualanlah sesukamu dengan membuka warungmu lebar-lebar. Bahkan kalau perlu, wahai engkau para pekerja malam! Datanglah padaku lima kali sehari. Tapi jangan kecewa jika keberadaanmu itu sama sekali tak menggangguku, karena aku sedang menjalankan ibadah kepada Tuhanku.”

Begitulah cara orang-orang dalam menyambut Ramadhan. Dan Muhammad dalam sepenggal kisah di atas, adalah “pendosa” yang menyambut datangnya Ramadhan tidak dengan melakukan hal-hal yang berada di luar dirinya. Muhammad melihat ke dalam dirinya sendiri sebelum kemudian melakukan perubahan total sebagai seorang manusia. Ia tanggalkan baju kesalahan untuk digantikan dengan pakaian taubat. Justru ketika ia menghidupkan segala sesuatu yang pernah mati dalam hatinya, keadaan itulah yang menyeretnya pada situasi mendapatkan pengampunan dari Tuhan semesta alam, sebagai pemangku dari seluruh kehidupan.

***
Kehadiran Ramadhan tahun ini masih diwarnai kondisi bangsa yang carut marut oleh tragedi kemanusiaan yang tragis. Berbagai ketimpangan sosial terjadi di mana-mana. Krisis berkepanjangan telah menyeret bangsa ini pada titik nadir. Dari hari ke hari, negara ini semakin terseok dalam lubang hitam yang entah kapan berakhir. Dalam konteks inilah, Ramadhan adalah momentum yang tepat bagi seluruh elemen bangsa untuk melakukan reinstropeksi terhadap pola keberagamaannya dalam konteks yang lebih manusiawi.

Salah satu keutamaan Ramadhan adalah diwajibkannya puasa sebagai upaya agar manusia menjadi bertaqwa (QS. 2:183). Sebagai sebuah ibadah, puasa memang memiliki kelebihan tersendiri jika dibandingkan dengan ibadah lainnya. Disamping mengajarkan kepada pelakunya untuk mampu mengendalikan diri dan memiliki empati terhadap sesama, puasa adalah ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh Tuhan dan pelaku puasa. Saking eksklusifnya puasa, Tuhan berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi, “Semua amal perbuatan anak adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Puasa adalah untukKu, dan Aku sendiri yang akan membalasNya.” Lihatlah betapa romantisnya Tuhan dalam memperlakukan puasa. Dia, yang segala hamparan kehidupan langit dan bumi tergenggam di tanganNya seolah-olah membutuhkan puasa hambanya, sehingga Dia sendiri berjanji yang akan membalasnya.

Puasa memang memiliki fungsi sosial yang jelas dalam kehidupan. Namun dalam prakteknya, dibutuhkan pemahaman yang konkrit agar manusia tidak terjebak pada kesalahan berpikir dengan meletakkan puasa sebagai tujuan. Tak dimungkiri, selama ini dalam memahami keberagamaan, banyak manusia gampang terjebak dengan meletakkan wasilah (alat, sarana) sebagai ghayah (tujuan). Ketika puasa dipahami sebagai ghayah, maka puasa akan berhenti sebagai hanya kegiatan menahan makan dan minum tanpa memiliki efek nyata dalam kehidupan.

Padahal, puasa hanyalah alat. Ia adalah input dari hardware yang bernama manusia. Outputnya adalah pribadi yang bertaqwa. Predikat taqwa bukanlah sesuatu yang digapai dengan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, dengan amalan-amalan sunnah secara formal tanpa ada kaitannya dengan kehidupan. Justru aktualisasi Idul Fitri adalah manusia pasca Ramadhan yang sanggup menjalani kehidupan ini dengan mengaktualisasikan nilai-nilai Ramadhan setahun sesudahnya.

Disinilah, harus ada pemaknaan serius dalam menjalankan ibadah puasa, agar manusia tidak terjebak pada rutinitas budaya setiap kali Ramadhan tiba. Bagaimanapun, puasa itu –sebagaimana arti katanya- adalah kesanggupan untuk menahan diri. Tak hanya dari sesuatu yang membatalkan puasa, tapi juga dari sesuatu yang membuat manusia kehilangan diri dan sisi kemanusiaan. Menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain, menahan diri untuk tidak mengambil dan mengurangi hak orang lain, menahan diri untuk tidak merasa benar sendiri, dan lain sebagainya. Bagaimanan dengan puasa yang sudah kita lakukan?

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa. (*)
Admin Pada Sunday, May 21, 2017 Komentar

Wednesday, May 17, 2017

Guru Menulis, Antara Mulia dan Karya

Guru Menulis Opini
GLS Mulia Karena Karya
Pejalansunyi.id | GURU mulia karena karya. Tema itulah yang kembali diangkat pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2016 silam. Tema yang merupakan gagasan HGN 2015 ketika Anies Baswedan masih menjabat sebagai Mendikbud ini kembali diusung bukan tanpa alasan. Sebab, tema tersebut dirasa masih sangat relevan dengan kenyataan hari ini. Bahwa, profesi guru memang sangat mulia. Namun, kemuliaan tersebut tidak tergantung pada seberapa banyak materi yang dimiliki akibat tunjangan profesi, tapi pada seberapa “karya” yang sudah dilakukan dan dihasilkan.

Kita masih ingat, ketika diangkat sebagai Mendikbud sebelum di reshufle, Pak Anies langsung “bergerak” dengan mengundang Kepala Dinas Pendidikan se-Indonesia (1/12/2014). Dalam paparannya, Anies mengistilahkan mutu pendidikan Indonesia dalam keadaan gawat darurat. Data-data disodorkan, misalnya hasil pemetaan Kemdikbud menunjukkan 75 persen pendidikan di Indonesia tidak memenuhi standar pendidikan minimal (SNP), nilai rata-rata hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) yang masih jauh dari standar yang diharapkan, dan lain sebagainya.

Yang membuat sedih adalah data tentang literasi yang kabarnya tak mengalami perkembangan dari hari ke hari. UNESCO tahun 2012 menyebutkan, hanya satu dari seribu orang Indonesia yang memiliki minat baca. Studi yang dilakukan oleh Programme for International Study Assessment (PISA) tahun 2009 juga meletakkan Indonesia pada peringkat ke-57 dengan skor 396. PISA 2012 menempati peringkat 64 dari 65 negara. Dan PISA 2015, Indonesia berada di urutan 69 dari 76 negara, masih kalah dengan vietnam yang bertengger pada posisi ke-12.
PISA (Programme for International Study Assessment) adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Studi ini dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) yang berkedudukan di Paris, Perancis. PISA merupakan studi yang dilaksanakan tiga tahun sekali mulai tahun 2000, 2003, 2006, 2009, 2012, dan 2015. Ironisnya, hasil studi PISA selalu meletakkan Indonesia pada posisi yang memprihatinkan. Artinya, praktik pendidikan sekolah di Indonesia memang belum memperlihatkan fungsinya sebagai tempat yang menjadikan warganya terampil membaca untuk keperluan belajar sepanjang hayat.
Dari situlah, Anies Baswedan kemudian menggulirkan Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, yang salah-satu poinnya adalah kewajiban membaca buku (selain buku pelajaran) selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Yang patut digaris-bawahi, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) mustahil bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan jika para pemangku kepentingan tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Guru yang memiliki fungsi strategis harus tampil di depan sebagai motor penggerak. Sebab, bagaimana mungkin mau menggiatkan budaya Membaca dan Menulis, jika guru sendiri abai dalam kegiatan Guru Menulis?

Gerakan Literasi Sekolah
Pada titik inilah, karya Guru Menulis menjadi sangat penting. Karya nyata mengantarkan generasi bangsa pada cemerlangnya masa depan itu bukan hanya berhenti pada kemampuan melakukan inovasi dalam kegiatan pembelajaran. Lebih dari itu, akan lebih meng-abadi jika karya itu juga diwujudkan dalam bentuk tulisan yang tak hanya menginspirasi peserta didik, tapi juga manusia lain pada umumnya.

Tentang Simposium Guru
Yang menarik dari peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dalam dua tahun terakhir adalah pelaksanaan simposium guru. Simposium yang digagas oleh Ditjen GTK sejak 2015 itu merupakan wahana untuk Guru Menulis dalam menuangkan ide, gagasan, dan mencari pemecahan isu atau permasalahan strategis tentang pendidikan.

Patut diacungi jempol dari kegiatan tersebut adalah animo guru demikian gegap gempita. Tahun 2016, dari waktu sebulan yang disediakan, sebanyak 3.382 artikel masuk ke meja panitia. Ribuan karya tulis itu kemudian diseleksi 200 karya terbaik untuk dipresentasikan di hadapan dewan juri pada kegiatan simposium guru menjelang puncak acara HGN tanggal 27 November 2016 di Bogor.

Begitulah, pemerintah telah mengagendakan kegiatan seputar Guru Menulis untuk merangsang minat menulis guru. Bahkan salah-syarat untuk mengikuti kegiatan yag diadakan Ditjen GTK melalui Subdit Kesharlindung Dikdas dan Dikmen mulai tahun 2017 adalah mengirimkan karya tulis. Tinggal para guru bersedia atau tidak mengikuti kegiatan dengan memenuhi syarat yang ditentukan.

Kompetensi dasar dalam literasi adalah membaca dan menulis. Dua hal itu harus terus dirangsang perkembangannya agar guru memiliki kemampuan lebih. Ketika guru terbiasa membaca dan menulis, tentu dengan mudah ia bisa memotivasi dan menularkan kebiasaan itu kepada murid yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan sendirinya, Gerakan Literasi Sekolah yang didengungkan akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Semoga.(*)

Em. Syuhada', Guru di Lingkungan Dinas Pendidikan Kab. Lamongan
Admin Pada Wednesday, May 17, 2017 Komentar

Wednesday, March 20, 2013

Dibalik Secangkir Kopi

Opini
Dibalik secangkir kopi
WAKE up and smell your coffee! Ya, secangkir kopi memang menjadi langganan banyak orang di pagi hari, sebelum sibuk beraktivitas di kantor. Konon, si hitam ini bisa membuat ber- semangat.

Arya misalnya, karyawan swasta yang tinggal di Jakarta Selatan ini nyaris tak pernah ketinggalan menyeduh kopi favoritnya. Lelaki 31 tahun itu me- nikmati kopi begitu bangun, sebelum mandi.

Lain lagi dengan Vitri, lantaran jam masuk kerja- nya yang pagi-pagi benar, gadis 29 tahun itu lebih suka menikmati kopi dalam gelas antipanas saat perjalanan menuju kantor.

“Jadi biasanya aku minum waktu di mobil, biar nggak mengantuk juga di jalan,” ujar Vitri tersenyum.

Arya dan Vitri adalah dua orang yang boleh dibi- lang ‘addict’ dengan kopi. Dalam sehari, mereka bisa meminum lebih dari dua cangkir kopi hitam. Bahkan Arya lebih parah, bisa empat cangkir! Keduanya juga mengaku pilih-pilih kopi. Mereka lebih suka kopi asli daripada kopi instan yang dijual dalam kemasan kecil-kecil. “Jadi biasanya saya beli biji kopi terus digiling,” kata Arya.

Arya menyukai kopi, baik dari luar maupun dalam negeri. Namun saat ini, pria berkacamata ini sedang suka kopi bali kintamani yang rasanya ada asam-asamnya. Kalau Vitri, dari dulu menyukai kopi asli Indonesia. Dia biasa membeli biji kopi asli Indonesia dari sejumlah coffee shop di Jakarta yang memang menyediakan kopi khusus dari Indonesia. Beberapa tempat yang menjual kopi Indonesia antara lain Anomali Coffee, Bakoel Koffie, dan Warung Kopi Phoenam. Coffee shop terakhir malah sudah ada sejak 67 tahun yang lalu.

Plus Minus kopi
Tak dapat disangkal, kafein yang terdapat dalam kopi memiliki sifat meracuni tubuh. Inilah yang sering membuat penikmat kopi bimbang dan tak jarang memilih menjauhi minuman itu. Padahal sebenarnya, jika dikonsumsi dalam takaran pas, kafein dalam kopi bisa meningkatkan kewaspadaan, bahkan mencegah penyakit kronis jantung dan stroke.

Kopi juga mengandung antioksidan dan Senyawa lain yang dapat mencegah beberapa jenis kanker dan penyakit serius lainnya, seperti dilansir thedailymeal beberapa waktu lalu.
Sedikitnya kopi bisa mencegah 10 penyakit yakni kanker kulit, kanker payudara, diabetes, alzheimer, kanker usus, kanker prostat, kanker endometrium, kanker hati, kanker mulut, dan depresi.
Penelitian di John Hopkins School of dicine di Baltimore dan Harvard mendukung pengalaman subjektif seseorang seperti tentang efek kafein. Studi itu menunjukkan kafein bisa meningkatkan memori dan penalaran logis.

Studi atas 4.197 perempuan dan 2.820 laki-laki di Prancis menunjukkan, meminum setidaknya tiga cangkir kopi sehari dapat menghambat penurunan fungsi kognitif otak akibat penuaan hingga 33 persen.

Namun hal itu hanya terjadi pada perempuan, sementara pada laki-laki tidak. Hal ini mungkin terjadi karena perempuan lebih peka terhadap kafein. Untuk mendapatkan khasiat kopi, diperlukan konsumsi yang ‘bijak’. Takaran yang masuk ke tubuh harus pas karena jika tidak, kopi justru dapat membawa efek buruk.
Para ahli berpendapat, mengonsumsi kopi organik atau kopi arabika dari Jawa dapat membawa manfaat positif. Dalam setiap delapan ons kopi arabika mengandung protein lebih tinggi dari kopi biasa. Selain itu, kopi arabika juga mengandung kafein lebih rendah, tapi mengandung zat antioksidan 40 persen lebih tinggi dibanding kopi jenis lain. Namun tetap saja, tidak boleh dikonsumsi berlebihan.
Perlu diketahui, satu cangkir kopi rata-rata mengandung 100-150 miligram kafein. Sementara satu cangkir seukuran espresso mengandung 80-120 miligram kafein. Anggaplah satu cangkir kecil seukuran espresso mengandung 100 miligram kafein, berarti kita boleh meminumnya maksimal tiga cangkir sehari. Itu menjadi takaran aman tanpa pengaruh efek negatif kafein. Namun dengan catatan, Anda tidak banyak mengonsumsi minuman berkarbonasi, makan cokelat dan minum obat sakit kepala di hari yang sama. Dengan kondisi itu, dua cangkir kecil lebih aman.

Kopi juga sebaiknya tidak diminum dalam jumlah besar sekali kesempatan. Orang-orang sering se- ngaja membuat kopi ukuran jumbo dan meminumnya langsung untuk menahan kantuk. Cara ini sebenarnya tidak terlalu efektif, apalagi jika perut kosong, salah-salah, malah jadi kembung. Sebaiknya, minumlah kopi dengan dosis kecil tapi sering. Seperempat cangkir setiap jam.

Setelah minum kopi, cobalah untuk memejamkan mata sekitar 10-20 menit. Selain ‘menunggu’ khasiat kopi, beristirahat juga bisa membuat Anda tetap bugar selama mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk.

JIKA BERLEBIHAN

Mabuk Kafein
Istilah medisnya adalah intoksikasi kafeina, semacam ‘mabuk’ kafein. Gejala yang terlihat adalah timbulnya rasa resah, risau, suasana hati tidak menentu, mudah marah, cemas, merasa depresi, sulit konsentrasi, sulit tidur dan sering buang air kecil. Pada kasus serius, bisa membuat kejang otot, pikiran kusut, kepanikan, denyut jantung terganggu dan gejolak psikomotor.
Beresiko Osteoporosis
Jika kafein yang dikonsumsi lebih dari 744 miligram per hari atau setara dengan 7-8 cangkir sehari, berefek meningkatkan kehilangan kalsium dan magnesium dalam urine, sehingga berisiko osteoporosis. Namun studi terbaru menunjukkan hal ini dapat dihindari terutama jika Anda mengimbanginya dengan asupan kalsium yang cukup.
Secangkir Kopi
Denyut Jantung dan Tekanan Darah Meningkat
Bagi yang sensitif terhadap kafein, umumnya denyut jantung dan tekanan darah meningkat setelah mengonsumsi kopi. (KEN/YOG)
Sumber : Majalah Detik

Admin Pada Wednesday, March 20, 2013 Komentar
Subscribe to: Posts (Atom)
  • Artikel Terbaru
  • Arsip Blog

Artikel Terbaru

Arsip Blog

  • October (1)
  • June (14)
  • May (18)
  • April (2)
  • February (1)
  • January (1)
  • January (1)
  • November (1)
  • August (2)
  • July (2)
  • June (3)
  • May (13)
  • April (26)
  • March (30)
  • February (43)
  • January (50)
  • December (4)

Resensi Buku

Kategori

Anekdot Berita Pendidikan Cerpen Download Esai Guru Menulis Inspirasi Kolom Kolom Cak Nun Kolom Jamaah Maiyah Literasi News Opini Pendataan Pendidikan Puisi Regulasi Reportase Maiyah Resensi Buku Sertifikasi Guru Tentang Maiyah Tips & Trik
Pejalan Sunyi

Followers

Pejalansunyi.id berusaha berbagi informasi yang bermanfaat. Jika ada ide, kritik, atau saran, silahkan hubungi kami dengan kontak berikut. Salam!

Name Email Address important Content important

Reportase Maiyah

Contact Form

Name

Email *

Message *

Artikel Random

Memuat...
Copyright © Pejalan Sunyi
Template by Arlina Design