• Home
  • About
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Menu

Pejalan Sunyi

iklan banner
  • Home
  • Daftar Isi
  • News
  • Inspirasi
  • Seputar Guru
    • Regulasi Pendidikan
    • Perangkat Pembelajaran
    • Media Pembelajaran
    • Guru Menulis
    • Sertifikasi Guru
    • Pendataan Pendidikan
  • Tips & Trik
  • Budaya
    • Opini
    • Esai
    • Resensi Buku
    • Cerpen
    • Puisi
    • Anekdot
  • Maiyah
    • Tentang Maiyah
    • Kolom Mbah Nun
    • Kolom Jamaah Maiyah
    • Reportase Maiyah
  • Literasi
  • Download
  • Kirim Artikel

Artikel Populer

  • Daftar Penerima Tunjangan Khusus Daerah Terpencil (Dikdas SD-SMP) Tahun 2013
  • Cara Melakukan Cek SKTP di P2TK Dikdas
  • Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan Tercinta
  • Daftar SK Tunjangan Fungsional Prop. Jawa Timur 2013
  • Cara Melihat Sekolah Pelaksana Kurikulum 2013
  • Menjelang Idul Fitri
  • Pendaftaran Peserta Sertifikasi Guru Tahun 2017 Jalur Prestasi

Inspirasi

Pengunjung

Free counters!
top personal sites
top personal sites
Home / Tentang Maiyah
Showing posts with label Tentang Maiyah. Show all posts
Showing posts with label Tentang Maiyah. Show all posts

Friday, February 22, 2013

Pintu, Maiyah bukan Mazhab

Tentang Maiyah
Maiyah Mocopat Syafaat

"Sing tak pengini kowe teko mrene iku mung siji, kowe biso duwe pikiran sing bening, lan ati sing resik. Yen kowe wis biso koyo ngono, kuwi pek’en kabeh aku ora arep njaluk," ungkap Cak Nun di penghujung acara Mocopat Syafaat. Atau kira-kira dua tiga kali kedatangan saya di mocopatan, sebelum pemikiran tentang maiyah. Ungkapan tersebut seperti magnet yang terus menerus menarik diri ini untuk senantiasa datang dan hadir di dusun Jetis, Kasihan Bantul.

Ibarat orang yang sedang bertamu, baru menginjakkan kaki di pelataran rumah, pintu sudah dibuka lebar-lebar. Dan di depan pintu, si empunya rumah sudah menunggu menyambut kedatangan kita. Tidak ada uluk salam, karena sudah terwakili dengan terbukanya pintu. Ucapan salam yang sesungguhnya adalah kepercayaan dan keyakinan si empunya rumah terhadap para tamunya. Sehingga sudah menjadi kelayakan atau kewajiban kita di dalam menjaga etika atau adab "per-tamu-an". Untuk tidak mengkhianati kepercayaan dan keyakinan si empunya rumah. Atau, masing-masing dari kita bertanggungjawab atas pilihan-pilihan kita di dalam bersikap. Tentu saja pilihan sikap yang didasar-landasi kebeningan pikiran dan olah resik dari kedalaman kandungan hati. Atau, bebarengan untuk senantiasa belajar membuat menjadi beningnya oikiran dan tetap istiqomah untuk reresik kandungan hati.

Lalu perlahan-lahan konsep tentang "tamu dan tuan rumah" di acara Mocopat Syafaat "dihilangkan". Atau dibuat menjadi sempit jaraknya. Dan tumbuh menjadi keluarga maiyah, seiring dengan pemikiran tentang Maiyah. Jadi itulah yang saya katakan maiyah sebagai pintu, pintu yang terbuka. Dan tinggal bagaimana kita bersikap terhadap pintu yang sudah terbuka. Sumangga kersa!!

"Bebarengan atau bersama-sama belajar untuk membeningkan pikiran dan membersihkan hati". Ungkapan Cak Nun yang membuat diri ini untuk selalu berusaha hadir disetiap mocopatan. Sebagai ajakan untuk berintrospeksi diri. Membangun dan mengembangkan kesadaran diri untuk merdeka memakanai hidup. Untuk metani dan belajar bersikap.
Karena, Maiyah hanyalah pintu. Untuk terbukanya kebuntuan atas pilihan sikap dan cara pikir. Jadi, Maiyah bukanlah mazhab. Aliran apalagi sebuah organisasi massa Islam yang besar, lalu mempunyai alasan untuk membuat aturan untuk menjadi hakim. Karena tumbuhnya Maiyah bukan dan tidak untuk tujuan yang remah seperti itu. Bukan untuk menjadi siapa, tetapi apa yang sudah, sedang dan akan kita kerja lakukan. Sebuah proses yang terus menerus.
Justru Maiyah merupakan cara pandang untuk nggathukk'e dan menemukan ketepatan dan keteraturan bentuk. Membuat menjadi pupusnya ketidak dewasaan dalam berpikir dan bersikap. Membuka pintu untuk mencari dan merumuskan kemudian menemukan formulanya. Maiyah hanyalah pintu untuk menggugah kesadaran pikir dan kelelapan hati yang tertidur. Kesederhanaan dan kebersahajaan di dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Lantas tinggal sikap kita bagaimana, purun napa mboten, yes or no? Mau atau tidak.

Karena, Maiyah bukanlah mazhab. Maka orang-orang Maiyah harus mempunyai kewaspadaan. Sebab, Maiyah bukanlah harga mati. Atau bukan merupakan bentuk akhir. Toh kalau memang Maiyah itu adalah bentuk akhir sebuah nilai, bukanlah pada kuantitas titik pentingnya. Namun, justru bagaimana kita, sikap orang-oran Maiyah di dalam berproses menjalani laku atau bermaiyah. Maiyah adalah sebuah proses kebersahajaan dan kesederhanaan perjalanan hidup. Untuk berusaha belajar sadar, dan menjadi lebih berkualitas. Sudah semestinya kita orang Maiyah melapangkan hati dan pikiran. Karena Maiyah merupakan metode pembelajaran untuk me-merdeka-kan akal pikiran.

Ditulis Oleh DS. Nugroho, tinggal di Klaten.
Admin Pada Friday, February 22, 2013 Komentar

Thursday, January 17, 2013

Maiyah dan Gerakan Penghancuran

Tentang Maiyah

TUGAS terberat kemanusiaan adalah bagaimana manusia mampu mempertahankan diri tetap menjadi manusia, tidak menjadi binatang atau bahkan iblis. Hal itulah setidaknya yang memompakan energi dalam diri saya, sehingga sampai hari ini tetap berusaha untuk istiqomah datang ke pengajian maiyah, khususnya Padhang Mbulan Jombang. Sebab di Padhang Mbulan, saya menemukan formulasi pengajian yang berbeda seperti pengajian pada umumnya. Tema penting yang selalu diangkat adalah bagaimana manusia harus berfikir, bersikap, dan bertindak baik terhadap dirinya sendiri, komunitas di sekelilingnya, lebih luas terhadap alam semesta, dalam merespon fenomena yang berjalin-kelindan. Manusia sebagai penghuni jagad raya, yang memanggul fungsi khilafah memang harus terus berjuang mempertahankan ketinggian maqamnya. Namun, karena perjalanan kehidupan tidak selalu lurus, dimana teramat banyak warna dan persimpangan yang menyilaukan mata, manusia terkadang memilih jalan tak sesuai dengan jalan yang dikehendaki penciptanya. Alhasil, Padhang Mbulan bagi diri saya pribadi adalah semacam wasilah. Setidaknya, sebagai manusia, saya ingin tetap konsisten berbuat sebagai manusia, sehingga kedudukan sebagai ahsani taqwim, tidak terperosok jatuh pada pengapnya jurang asfalaa saafilin.

Yang paling menarik dari Maiyah adalah tiadanya jarak antar jamaah. Jamaah yang hadir adalah manusia yang telah menanggalkan baju artifisialnya, dengan mengenakan pakaian keikhlasan dan kesejatian. Siapapun bisa diterima asalkan memiliki prasyarat yang telah ditentukan. Dalam Maiyah, selalu ditekankan bagaimana manusia harus berlaku dalam kehidupan. Tak ada tokoh, tak ada bintang, tak ada kiai, tak ada orang besar, tak ada publik figur, tak ada apapun embel-embel sosial yang terlanjur di-tahayul-kan masyarakat. Bahkan, Cak Nun sendiri sebagai ‘begawan’nya Maiyah sama sekali tak pernah mau disebut tokoh. Disinilah ciri khas Maiyah. Disaat hampir sebagian besar umat manusia berlomba menampilkan eksistensi dirinya dalam panggung kehidupan yang penuh kepalsuan dan hipokrisi, Maiyah sanggup membuang dirinya. Ia bersedia ketlingsut dan tak diperhitungkan oleh siapapun. Cak Nun sendiri bahkan sering mengungkapkan, manifestasi tauhid sesungguhnya bukan hanya kesadaran bahwa Allah itu satu, tapi bagaimana manusia terus-menerus berjuang menyatukan diri dengan Allah. Syarat utamanya adalah dengan meniadakan diri, menihilkan eksistensi, mencampakkan ego, dan lain sebagainya.

Banyak hal telah dilakukan orang Maiyah untuk kemaslahatan negeri ini. Banyak 'pekerjaan besar' telah dilakukan orang Maiyah, baik di lingkaran nasioanal maupun internasional, demi supaya negeri yang bernama Indonesia Raya ini tetap sebagai jelmaan surga turun dari langit, yang tak dipandang sebelah mata oleh masyarakat dunia. Orang berlalu-lalang, orang berkejar-kejaran, orang bertengkar dengan saudaranya sendiri, orang menangis karena pemerintahannya tak pernah sanggup menjamin agar orang itu tak menangis, orang kelimpungan, dan tak pernah tahu bagaimana caranya agar tidak kelimpungan. Di saat itulah Maiyah datang menyodorkan tangannya. Maiyah mempersilahkan punggungnya agar dijadikan tempat sandaran. Tapi ketahuilah, pernahkah lembaran-lembaran media massa menyisihkan sedikit ruangnya untuk memuat wajah teduh Maiyah? Pernahkah mereka mengganggap, bahwa apa yang dilakukan Maiyah itu pernah ada? Tidakkah kamera-kamera industri itu lebih suka menyorot ketiak para artis, membuka pantat selebritis, serta melambungkan ustadz-ustadz globalisasi?

Maiyah memang bukan siapa-siapa. Maiyah bukanlah Emha. Bukan Cak Fuad. Bukan Sabrang. Bukan siapapun yang lain. Bahkan Maiyah itu bukanlah agama. Yang dikumandangkan setiap kali Maiyah diselenggarakan adalah bagaimana jamaah yang hadir menyadari sepenuh hatinya bahwa ia hanyalah sebutir debu dari kemahabesaran Allah azza wa jalla. Dan karena saham manusia atas kehidupan ini hanyalah nol persen, maka tidak boleh tidak, manusia harus rela mengikut apa yang menjadi kehendakNya. Seratus persen orang Maiyah mengerti itu. Karena Allah sendiri yang mengomandani bershalawat kepada Rasulullah. Tak ada alasan bagi warga Maiyah untuk tidak mencintai Rasulullah. Maka, saksikanlah! Hampir di setiap pengajian yang digelar 5 sampai 8 jam itu, tak ada satu jengkal waktupun yang membuat mereka lupa bahwa Allah ada, dan Rasulullah hadir dalam persaudaraan mereka. Maka dapat kau lihat, betapa khusyu’ perkumpulan mereka. Betapa riangnya hati mereka tatkala bercengkrama dengan kekasih lubuk hati, Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Tak terasa sudah, kurang lebih dua puluh tahun pengajian maiyah telah diselenggarakan. Selama kurun waktu tersebut, banyak dinamika yang telah terjadi. Kurun waktu tersebut tentu tak bisa dipandang remeh dalam hal memperjuangkan nilai dan makna. Kanjeng Nabi sendiri diperkenankan Allah berjuang dalam menyebarkan berita keselamatan selama 23 tahun, 13 tahun di Mekkah, dan 10 tahun di Madinah. Artinya, manusia memiliki keterbatasan ruang dan waktu. Bisa dimengerti jika beberapa tahun terakhir Cak Nun sering melemparkan sejumlah isyarat tentang apa dan bagaimana Maiyah dalam kurun waktu ke depan. Begitu juga dengan Maiyah (baca: padhang mbulan) di penghujung tahun kemarin (28/12/2012). Tulisan beliau bertajuk Maiyah 2013: ‘Mamayu Hayuning Maiyah’ adalah sebentuk tantangan (atau bahkan tamparan keras) kepada jamaah: apakah Maiyah akan hanya berhenti menjadi sebuah kegiatan rutin bulanan? Apakah maiyah akan hanya berfungsi sebagai tempat nge-charge, tempat menumpahkan keluh-kesah atas kebrengsekan hidup. Akan hanya menjelma sebagai tempat klangenan, dan segala macamnya. Ataukah Maiyah bisa berbuat lebih besar dari itu, tidak hanya bisa berfungsi ‘ke dalam’ tapi juga ‘ke luar’, bisa menjadi anti-toxin dari gelombang racun peradaban yang hampir sebagian besar penghuni dunia telah menjadi korbannya.

Dengan sangat gamblang Cak Nun menuturkan kondisi mutakhir yang berlangsung secara mondial, bahwa tantangan global yang kini dengan sangat dahsyat menenggelamkan Bangsa Indonesia dan umat islam sesungguhnya adalah gelombang perusakan agama dan kemanusiaan yang sudah berlangsung sejak munculnya kerasulan Isa AS, memuncak pada penyaliban atas beliau, sehingga Allah menggantikannya dengan orang lain dan menaikkannya ke langit. 37 tahun sesudah itu -masih menurut Cak Nun-, desain penguasaan dan penghancuran manusia dan agama itu dilembagakan, sampai kemudian di awal abad 17 gerakan penghancuran kemanusiaan itu diorganisir secara global.

Harapan Cak Nun, kenyataan yang sudah berlangsung lebih dari 20 abad itu harus menjadi sebuah kesadaran hari ini bagi jamaah: bahwa mayoritas penduduk dunia telah menjadi korban yang hampir sempurna dari gerakan penghancuran itu. Masyarakat global garda depan mainstream peradaban 20-21 telah ‘berhasil’ ditenggelamkan secara internasional untuk meng-agamakan yang bukan agama, men-tuhan-kan yang bukan Tuhan. Bahkan pada satu dekade terakhir, umat islam Indonesia telah dengan sangat sukses diguyur racun, sehingga memiliki kedangkalan mata pandang, kekerdilan mental, kesempitan jiwa, mata kuda materialisme, sehingga melahirkan watak-watak primitivisme dan ketidak-beradaban.

Memang teramat berat memfungsikan diri sebagai salikul maiyah di tengah zaman yang abai terhadap makna. Tapi bukankah para pencari makna memang harus siaga terhadap segala kemungkinan? Maka, hal penting yang tentu saja harus segera dipahami adalah menjawab tantangan yang telah dilontarkan Cak Nun. Waktu demikian terbatas. Tak ada pilihan lain, para salikul maiyah harus kembali berhitung, kemudian menentukan sikap, apakah  bersedia ditenggelamkan oleh gerakan itu, ataukah memastikan diri tidak termasuk korban sebagaimana mainstream dunia.

Kalimat Cak Nun yang masih terngiang di telinga saya hari ini: Anda harus bisa men-jariyah-kah Maiyah dalam kehidupan Anda. Kalau memang karena kelemahan, kita tidak bisa mengubah negara, tak bisa me'rekayasa' dunia sesuai dengan nilai yang telah diyakini. Paling tidak, yang harus diubah adalah negara dan dunia dalam diri masing-masing. Orang maiyah harus njangkungi kahanan (mengatasi keadaan). Njangkuni itu bukan ngungguli, tapi situasi dimana seseorang selalu berada di atas namun tetap sumeleh, sehingga sanggup mengatasi setiap tekanan yang mungkin datang bertubi-tubi. Pada keadaan itu, sangat terbuka kemungkinan bahwa orang maiyah tak akan mudah kintir dalam situasi apapun.

Pertanyaan yang kemudian harus menjadi perenungan bersama: apa yang harus dilakukan agar nilai yang telah bersama-sama digali itu bisa diakrabi tidak hanya hari ini, tapi bahkan bisa menjadi warisan sejarah bagi anak cucu kita mendatang?(*)

Ditulis oleh :
Em. Syuhada’,
Jamaah Maiyah Padhang Bulan Jombang berdomisili di Lamongan - Mojokerto.
Admin Pada Thursday, January 17, 2013 Komentar

Saturday, January 12, 2013

MAIYAH DAN POSTMODERNISM

MAIYAH DAN POSTMODERNISM

Tentang Maiyah
DALAM Edaran Maiyah 2013 beberapa hari yang lalu Cak Nun menantang para Salikul Maiyah untuk mulai mencari, menggali, dan merumuskan pola-pola, strategi, wilayah dan bidang-bidang garapan Gerakan Penghancuran Manusia dan Agama yang dimulai sejak kurun Nabiyullah Isa AS, di zaman Rasulullah Muhammad SAW, lantas pasca-Muhammad, dan kemudian update paling mutakhir yang kini sedang kita alami bersama. Para Salikul Maiyah diharapkan oleh beliau sanggup menggunakan Maiyah sebagai anti-toxin sehingga selalu memastikan bahwa para Salikul Maiyah tidak termasuk korban sebagaimana mainstream dunia, termasuk bangsa Indonesia. Allah yang menentukan seberapa luas dan jauh Maiyah diamanati untuk melakukan pengobatan peradaban.

Peringatan Cak Nun ini nampaknya penting dicermati, sebab kini telah terjadi satu perubahan yang dahsyat terkait dengan perubahan peradaban yang setidaknya diwarnai tiga hal penting, yakni perubahan basis material kebudayaan: yang semula berbasis manufaktur ke machinofactur, dari teknologi industri ke teknologi informasi, dan dari tata sosial produksi ke reproduksi. Tentu saja perubahan ini akan berdampak terhadap kehidupan umat Islam juga, yang sadar atau tidak, bisa menenggelamkan ke masa jahiliah (baru), yakni jaman penyembahan api dan akal pikiran.

Ketiga basis material kebudayaan yang saya sebutkan di atas di ujungnya akan merangsang manusia untuk mengkonsumsi apa saja yang dasarnya bukan karena kebutuhan dan kecukupan, melainkan keserakahan yang berujung kepada penyembahan “tuhan-tuhan” baru. Ini adalah jaman imajinologi, dengan aktor utama adalah “citra” atau image. Benda nyata justru “tidak nyata”, karena yang “lebih nyata” adalah “citra” atau image-nya. Inilah yang pernah disebut sebagai hyperreal oleh Baudrillard. Barangkali dalam titik ekstremnya, demikian gambarannya, yakni kita justru lebih tahu berapa ukuran bra Dewi Persik atau Julia Perez dibanding ukuran bra isteri kita, karena gencarnya informasi yang membombardir ruang kita.

Dalam era sebagaimana disebut orang “era globalisasi” saat ini, peranan media massa amat menentukan. Media massa telah dijadikan pembentuk visi subyektif bagi aneka kepentingan, meski berlindung dibalik obyektivitas. Media massa telah menjadi kekuatan tersendiri yang menentukan garis-garis pandangan aneka kepentingan. Dalam waktu yang relatif singkat, media massa sanggup membalikkan keadaan, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, maupun dalam “bawah sadar” alam pikiran konsumennya. Sialnya koran-koran di tanah air misalnya, lebih suka cari. “Selamat” dengan jalan lebih enak mewawancarai artis, seperti menanyakan berapa pacarnya, jam berapa kalau mandi lulur, berapa ukuran bra-nya atau celdam-nya, dsb.

Di jaman imajinologi, orang bisa bertindak gila dan tidak rasional, misalnya mau mengeluarkan uang 50 dollar AS hanya untuk melihat foto Madonna bercumbu dengan pria dan wanita yang berkalung anjing. Ini adalah jaman penciptaan “tuhan-tuhan” baru. Beranakpinaknya modal menjadi basis kapitalisme yang disokong oleh : Negara,  pasar, dan teknologi dan dipadankan dengan: stabilitas, alokasi efisiensi dan produktivitas. Lalu lintas keuangan dunia yang lebih banyak bergerak di dunia maya –misalnya pergerakan harga saham, dst — menunjukkan bahwa tekanan peradaban kini bukan lagi pada “rasionalitas” melainkan kepekaan, dan bukan lagi pada fungsi namun khayalan (imajinasi).

Produksi bukan lagi untuk nilai guna, melainkan nilai tukar, dan komunikasi media menjadi jantung utama. Karenanya, penjajahan baru dimulai pula dari penguasaan media. TV-TV lokal tidak rela jika para penontonnya selalu memencet remote control, dan karenanya, suguhan acaranya juga harus “hura-hura” tanpa harus dikunyah. Celakanya, suguhan TV swasta ini juga menyangkut apa yang disebut sebagai “dakwah islamiyah”, yang mengangkat “Dai-dai, Kiai-kiai atau Gus-gus” dadakan yang sengaja diciptakan melalui komodifikasi massal. Umat menjadi obyek dan bukan subyek untuk di-brain washing. Persoalan bukan lagi indah, baik, benar atau wacana adil dan tidak adil, namun berdasarkan menang-kalah atau enak dan tidak enak. Produsen makanan misalnya, tidak lagi memikirkan konsumen yang mengkonsumsi produknya sehat atau tidak, namun yang penting enak (meski tidak sehat dan tidak rasional).

Dari titik itulah menjadi penting artinya “gerakan” maiyah yang telah kita selenggarakan bersama. Benar kata Cak Nun bahwa Maiyah bukan Islam yang menuntut ummat manusia untuk berproses menyatu dengan Maha Asal Usulnya, namun hanya upaya mencerdasi kehidupan, mengarifi pengalaman, menjernihi kenyataan, menyetiai jalan dan mengakurasi tujuan — agar para pelakunya mengistiqamahi akad dan cintanya di jalan Allah yang dituntunkan oleh Rasulullah. Para pelaku Maiyah bersiteguh memelihara kesadaran tentang keniscayaan ada dan hadirnya Allah, Rasulullah dan Islam — di dalam diri mereka, di rumah mereka, di kantor kios warung pekerjaannya, di sawah, di gardu-gardu dan jalanan.

Cara berpikir Maiyah ini penting karena dalam kenyataan gelombang peradaban “Fir’aun” dan “Jahiliyah” baru ini terus mengkristal dalam peta kehidupan kita dan umat, melalui segenap butiran dan rangkaian ilmu pengetahuannya, dengan segala simbol dan imaginya, serta dengan perwajahan dan teknologi kesejarahannya. Kesemuanya tidak pernah berakhir atau sirna dari kosmos jiwa para pelakunya. Insya Allah jika cara berpikir Maiyah itu kita perkuat, maka kita dijamin akan selamat. Para jamaah yang rata-rata kaum intelek harus sadar memahami bahwa saat ini ilmu pengetahuan yang mereka banggakan telah kehilangan narasi besarnya (grand narrative), yakni rasionalitasnya.

Para mahasiswa, dosen dan intelektual lainnya sering terjebak dalam alam pikiran Barat yang selalu mereka agungkan dan harus selalu muncul dalam kutipan-kutipan karya ilmiah kita, seolah hanya dari Barat-lah sumber ilmu pengetahuan. Demikian pula, bagi kaum muslimin banyak yang terjebak dalam “Arab-mania”, seolah-olah Islam identik dengan Arab. Padahal, Arab harus digarap dan Barat harus diruwat, demikian kata Cak Nun.

Perlu dipahami dengan hilangnya narasi besar ilmu pengetahuan yang berujud rasionalitas, maka yang muncul adalah kepastian kebenaran ilmu pengetahuan telah kehilangan legitimasinya. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan tidak lagi mendapat kredibilitas pada kebenarannya, melainkan pada sifat gunanya, dan karenanya kekuasaan lah yang menguasai ilmu pengetahuan. Disinilah “tuhan-tuhan” baru itu muncul dan akan menenggelamkan umat manusia, termasuk umat Islam jika kita lengah. Penghancuran Islam tidak harus dengan peperangan atau pemusnahan massal, tapi “cukup” dengan “cara sederhana”, yakni memisahkan mereka dengan Rasulullah SAW saja. Biaya pemusnahan jauh lebih mahal dan tidak mudah, dan sebaliknya jauh lebih murah dan mudah dengan mem-brain washing umat, baik lewat media, maupun lewat dai yang seolah memperjuangkan dan memurnikan ajaran Islam, namun kenyataannya mereka adalah agen dajjal baru.

Inilah kejahatan yang harus diwaspadai umat. Ilmu pengetahuan dan “revitalisasi” ajaran Islam yang sering diteriakkan sesungguhnya hanyalah mistifikasi rasionalitas belaka. Mereka sering mendewakan bahwa apa yang ada di luar rasio adalah “tidak benar”, dan ini adalah wujud nyata dari “ideologi totaliterisme” dalam berpikir. Karenanya para salikul maiyah harus paham bahwa “akad nikah” antara Ajaran Allah dengan manusia berupa ijtihad, tafakkur, tadabbur dan taaddub di dalam kehidupannya.

Dari titik ini menarik membaca peringatan Cak Nun bahwa dalam Tiga Dekade terakhir ini Kaum Muslimin Dunia digiring menuju “kesempurnaan” itu. Kemudian satu Dekade belakangan ini Ummat Islam Indonesia diguyur racun, epidemi kebodohan berpikir, kedangkalan mata pandang, kekerdilan mental, kesempitan jiwa, mata kuda materialism, yang secara keseluruhan melahirkan watak-watak primitivisme dan ketidak-beradaban.

Dalam diskursus postmodernism, semuanya dapat dikatakan bersifat dekonstruktif, seperti adanya keinginan untuk skeptis terhadap segala bentuk kepercayaan pada kebenaran mutlak, pengetahuan, kekuasaan, diri dan celakanya, bahasa pun diterima begitu saja tanpa mencurigani bahwa sifatnya hanyalah reprensentatif dan politis. Dalam pandangan tokoh postmo semisal Lyotard, kondisi postmo tidak lagi dapat menerima narasi besar atau dari kemamapanan filsafat pencerahan yang mengandalkan akal dan kebebasan naluriah. Kesemuanya telah berubah menjadi metanarasi (di balik cerita) yang melegitimasikan dirinya. Kita tidak lagi menerima kebenaran tunggal, dan karenanya legitimasi menjadi majemuk dan lokal (bukan universal).

Dalam konstruksi postmo inilah para pelaku Maiyah bisa menyelami kedalaman ajaran, menelusuri keluasannya, serta mengeksplorasi substansinya, esensi dan nuansanya. Karena ilmu pengetahuan juga bukan hanya berurusan dengan rasionalitas  belaka, namun juga dengan kepentingan dan permainan bahasa (language games), baik lewat kekuasaan maupun lewat berbagai aliran keagamaan, oleh karenanya aktivitas Maiyah seharusnya menjaga diri agar tidak terpeleset menjadi padatan kelompok atau organisasi aliran. Apabila kehidupan Ummat Islam tidak bisa menghindarkan diri dari keniscayaan alamiah untuk terserak-serak menjadi golongan dan aliran, maka para pelaku Maiyah mempertahankan dirinya pada peran kualitatif, peran substansial, peran essensial, peran “glepung”, “serbuk” atau “pohon pionir”, demikian kata Cak Nun.

Selamat “Memayu hayuning” Maiyah. Allah SWT menolong dan meridloi kita. Amin.
Saratri Wilonoyudho, Aktif Menemani Jamaah Maiyah Gambang Syafaat. Esais. Peneliti dan Dosen Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. Anggota Dewan Riset Daerah Jawa Tengah. Ketua Koalisi Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan Jawa Tengah.
www.caknun.com
Admin Pada Saturday, January 12, 2013 Komentar
Subscribe to: Posts (Atom)
  • Artikel Terbaru
  • Arsip Blog

Artikel Terbaru

Arsip Blog

  • October (1)
  • June (14)
  • May (18)
  • April (2)
  • February (1)
  • January (1)
  • January (1)
  • November (1)
  • August (2)
  • July (2)
  • June (3)
  • May (13)
  • April (26)
  • March (30)
  • February (43)
  • January (50)
  • December (4)

Resensi Buku

Kategori

Anekdot Berita Pendidikan Cerpen Download Esai Guru Menulis Inspirasi Kolom Kolom Cak Nun Kolom Jamaah Maiyah Literasi News Opini Pendataan Pendidikan Puisi Regulasi Reportase Maiyah Resensi Buku Sertifikasi Guru Tentang Maiyah Tips & Trik
Pejalan Sunyi

Followers

Pejalansunyi.id berusaha berbagi informasi yang bermanfaat. Jika ada ide, kritik, atau saran, silahkan hubungi kami dengan kontak berikut. Salam!

Name Email Address important Content important

Reportase Maiyah

Contact Form

Name

Email *

Message *

Artikel Random

Memuat...
Copyright © Pejalan Sunyi
Template by Arlina Design