• Home
  • About
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Menu

Pejalan Sunyi

iklan banner
  • Home
  • Daftar Isi
  • News
  • Inspirasi
  • Seputar Guru
    • Regulasi Pendidikan
    • Perangkat Pembelajaran
    • Media Pembelajaran
    • Guru Menulis
    • Sertifikasi Guru
    • Pendataan Pendidikan
  • Tips & Trik
  • Budaya
    • Opini
    • Esai
    • Resensi Buku
    • Cerpen
    • Puisi
    • Anekdot
  • Maiyah
    • Tentang Maiyah
    • Kolom Mbah Nun
    • Kolom Jamaah Maiyah
    • Reportase Maiyah
  • Literasi
  • Download
  • Kirim Artikel

Artikel Populer

  • Daftar Penerima Tunjangan Khusus Daerah Terpencil (Dikdas SD-SMP) Tahun 2013
  • Cara Melakukan Cek SKTP di P2TK Dikdas
  • Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan Tercinta
  • Daftar SK Tunjangan Fungsional Prop. Jawa Timur 2013
  • Cara Melihat Sekolah Pelaksana Kurikulum 2013
  • Menjelang Idul Fitri
  • Panduan Pelaporan Bos Online 2013 di Situs Bos.Kemendikbud

Inspirasi

Pengunjung

Free counters!
top personal sites
top personal sites
Home / Cerpen
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, August 3, 2013

Menjelang Idul Fitri

Cerpen
“KETIKA Ramadan akan berakhir, alam semesta mencucurkan air mata. Langit dengan cakrawalanya tak terbatas tak kuasa membendung air mata. Sementara bumi yang menopang kehidupan umat manusia menangis meraung-raung seperti anak kecil yang ditinggal pergi kedua orang tuanya.”
Kalimat itu meluncur dari mulut Kiai Saleh, saya dengarkan dua puluh dua tahun silam, saat bersama kakek mengikuti pengajian selepas tarawih yang dilaksanakan di masjid. Kalimat-kalimat itu terngiang-ngiang di kepala saya hingga kini, bahkan ketika telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak.

“Kepergian Ramadan adalah musibah,” kalimat Kiai Saleh terngiang lagi,”Dinamakan musibah, karena ia bulan penuh cahaya yang segala keistimewaan dihamparkan. Doa-doa yang dipanjatkan meluncur menembus langit. Tak ada satupun rintangan yang menyebabkan doa itu tak dikabulkan oleh Tuhan. Sementara kebaikan menjelma bebutiran pahala tikel matikel. Segala siksa dan derita menjadi tertahan dan tertangguhkan.”

Suara-suara Kiai Saleh terus terngiang berloncatan memenuhi ruangan masjid yang tidak seberapa luas. Sebagai anak kecil, saya belum bisa mencernanya ketika itu. Saya hanya duduk disamping kakek sembari mempermainkan tasbih yang biasa dipergunakan untuk wirid. Ketika kalimat-kalimat itu masuk ke telinga saya, sederet tanya justru berkeliweran memenuhi ruang kepala. Mengapa kepergian Ramadan adalah musibah? Bukankah Ramadan tak berbeda dengan bulan-bulan lain yang memiliki keniscayaan bergulir mengikuti irama waktu? Bukankah ketika Ramadan pergi, justru hal itu merupakan pertanda datangnya hari raya. Bukankah hari raya adalah hari kemenangan yang ditunggu-tunggu setelah sebulan penuh mengekang nafsu, berpuasa berjuang mengalahkan rasa lapar dan dahaga?

***
Bagi bocah seperti saya, kehadiran Ramadan memang menyulutkan kegembiraan teramat sangat. Namun kegembiraan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan ibadah. Saya ingat, kebiasaan yang membuat saya bersuka cita ketika Ramadan tiba adalah menjadikan masjid sebagai rumah kedua bagi saya dan teman-teman. Selepas sekolah, kami biasanya langsung menuju masjid melaksanakan shalat dluhur berjamaah, tak kalah dengan bapak-bapak kami yang begitu antusias menyambut Ramadan hingga membentuk shaf berderet-deret. Usai berjamaah, kami tiduran di serambi sembari berceloteh hal bermacam-macam laiknya anak kecil. Sebagian teman ada yang bermain skak atau macan-macanan. Ketika matahari terbenam, kami lantas pulang ke rumah masing-masing menunggu azan maghrib untuk menyantap menu berbuka yang telah disediakan oleh orang tua kami di rumah.

Hal paling mengesankan yang terbawa bahkan ketika kami dewasa adalah masa-masa selepas shalat tarawih. Kami tadarus barang sepuluh atau lima belas menit sebelum digantikan para pemuda desa atau bapak-bapak. Selama tadarus itulah, berbagai makanan kecil bisa kami dapatkan. Ada kolak kacang ijo, rondo royal, ote-ote, tahu berontak, getuk lindri, sawut singkong, serta jajanan tradisional lainnya. Makanan itu sengaja dikirimkan oleh penduduk kampung secara bergantian untuk mereka yang bertadarus. Setelah puas menyantap jajanan itu, kami lantas bermain jumpritan dan gobak sodor. Beberapa teman bermain sepak bola di lapangan, mencari jangkrik di sawah-sawah milik penduduk. Ketika dini hari menjelang, kami kembali berkumpul di masjid mempersiapkan alat-alat kotekan. Kami kemudian berkeliling kampung membangunkan ibu-ibu agar mempersiapkan makan sahur untuk keluarganya.


Begitulah, Ramadan akhirnya menjadi bulan yang begitu mengasyikkan. Apalagi saat-saat terakhir menjelang hari raya. Kegembiraan kami sebagai anak kecil semakin bertambah-tambah. Tradisi weweh membuat isi kantong kami akan segera penuh. Kami juga akan mendapatkan baju baru dari orang tua masing-masing sebagai hadiah karena telah mampu berpuasa. Bermacam-macam makanan dan minuman yang jarang ditemui di bulan-bulan lain, akan segera kami rasakan ketika hari raya tiba.

Maka, ketika Kiai Saleh mengatakan bahwa kepergian Ramadan adalah musibah, saya hanya mengernyitkan kening. Saya sama sekali tak mengerti dengan yang dituturkannya itu.

***
Baru ketika usia saya mulai beranjak dewasa, saya lantas mengetahui bahwa yang disampaikan Kiai Saleh itu dilhami ucapan Kanjeng Nabi Muhammad, bahwa Ramadan adalah bulan yang menawarkan berjuta kemuliaan. Sehingga wajar, jika Ramadan meninggalkan kehidupan umat manusia adalah musibah paling besar. Sebab, tak ada jaminan jika manusia dapat kembali menemui Ramadan di tahun-tahun berikutnya.

Namun yang membuat saya sedikit agak tertegun adalah pertanyaan yang tiba-tiba saja dilontarkan oleh anak saya yang masih berumur delapan tahun. Saat saya ceritakan ucapan Kanjeng Nabi itu padanya (tentu saja dengan pemahaman seorang anak kecil), dengan begitu saja ia mempertanyakan hal yang sama, sebagaimana yang pernah membuat saya musykil semasa kecil dulu.

“Mengapa ketika Ramadan akan segera berakhir, langit dan bumi menangis, Ayah?”

“Karena Ramadan adalah bulan penuh cahaya, anakku. Di bulan ini, segala jenis doa dikabulkan, setiap kebaikan dilipatgandakan, setan-setan dibelenggu, dan manusia memperoleh kemungkinan lahir kembali menjadi manusia yang suci dan bersih dari dosa-dosa, karena dosa dan kesalahannya telah diampuni oleh Tuhan semesta alam.” jawaban yang sama saya berikan, meskipun saya bumbui dengan sejengkal pengetahuan baru seiring dengan pertambahan usia.

“Untuk apa manusia harus berpuasa? Bukankah makan dan minum adalah pekerjaan mengasyikkan bagi seorang manusia?" pertanyaan anak saya sekali lagi. Kali ini saya terdiam, sebelum kemudian berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjawabnya.

Entahlah, anak saya ini memang berbeda. Sejak kecil, ia sering kali mempertanyakan hal-hal yang mengusik pikirannya. Memang sedari kecil, sering saya ajak ia berjalan-jalan menziarahi setiap tempat yang menawarkan cakrawala baru bagi perkembangan akal dan pikirannya. Terkadang saya bawa dia ke pantai. Saya ajak dia bercengkrama dengan luasnya laut, dengan ombak berdebur yang saling berkejaran, dengan angin laut yang berhembus kencang menerbangkan bebutiran pasir yang menghampar, dengan matahari yang hampir tenggelam di kaki langit, dengan kelepak sayap camar yang menembus angkasa.

Suatu waktu, saya dedahkan padanya keindahan purnama dengan mencengkramai langit yang dipenuhi gugusan bintang gemintang. Saya perkenalkan padanya hijaunya daun yang menampung tetes-tetes embun yang mengantarkannya menemui cahaya, pada burung-burung berkicau yang menasbihkan simponi pada semesta waktu yang kian bergulir, pada air terjun yang turun dari atas bukit menciptakan suara gemuruh, serta pada keindahan alam yang demikian eloknya.
Terhadap semua itu, tujuan saya hanya satu, ingin mengenalkannya pada asal-usul hidupnya. Bahwa kemegahan alam semesta ini tak mungkin ada dengan sendirinya tanpa adanya zat yang menciptakan. Maka perjalanan itulah yang saya gunakan untuk mengenalkan dia pada Tuhan semesta alam. Saya berharap, ketika sejak dini saya perkenalkan ia pada alam semesta dengan hamparan keindahannya yang niscaya, ia akan memperoleh kesadaran ketuhanan yang berujung pada kekagumannya pada Tuhan. Menurut saya, itulah modal awal yang amat berharga baginya ketika ingin menempuh jalan ketuhanan pada kehidupannya kelak ketika dia telah dewasa.

Maka ketika ia bertanya tentang seluk beluk puasa, saya berusaha mengantarkannya pada situasi terdalam dari hakekat puasa. Saya tak ingin jika anak saya kelak memahami puasa sebagai kegiatan yang hanya menahan lapar dan minum semata. Saya harus menunjukkan, bahwa puasa juga memiliki fungsi sosial yang jelas dalam kehidupan.

“Makan dan minum memang pekerjaan manusia, anakku. Agar ia tetap hidup dan dapat melakukan aktifitas kehidupan sebagaimana mestinya,” jawab saya hati-hati,”Namun suatu saat, manusia juga butuh puasa, agar ia bisa menjadi manusia yang menyenangkan.” .

“Maksud ayah?”

“Kamu tahu kupu-kupu?” anak saya mengangguk.“Kupu-kupu bisa menjadi kupu-kupu yang indah karena bersedia melakukan puasa. Kamu pasti sudah diajari gurumu. Sebelum kupu-kupu berbentuk kupu-kupu, ia masihlah berwujud seekor ulat. Betul bukan?” kembali anak saya mengangguk.

“Kamu tahu anakku, pekerjaan utama ulat adalah makan. Ia makan apa saja yang dihinggapinya. Tak perduli apakah itu dedaunan liar yang tumbuh dari pohon-pohon, ataukah dari tanaman petani yang telah diusahakan sedemikian rupa pertumbuhannya. Ulat tak pernah berpikir apa-apa selain makan. Ketika pekerjaan utama seekor ulat hanyalah makan, keberadaannya begitu dibenci oleh banyak orang. Ulat sangat ditakuti oleh anak kecil sepertimu. Oleh petani, ulat menjadi musuh yang harus dimusnahkan karena mengganggu tanamannya. Itulah sebabnya kenapa ulat menjadi hewan yang harus dibasmi keberadaannya.”

Saya mengambil nafas sebelum kemudian melanjutkan, “Tapi perhatikan ketika ulat bersedia berpuasa beberapa waktu dengan menjadi kepompong, ia akan berubah wujud menjadi kupu-kupu yang sedap dipandang mata. Tak hanya manusia yang begitu suka dengan keindahan warnanya, namun kuncup-kuncup bunga selalu menantikan kehadiran kupu-kupu demi supaya bisa mempersembahkan bebuah dalam kehidupan manusia.”

“Jadi puasa berfungsi merubah manusia menjadi kupu-kupu?” dengan lugunya anak saya bertanya.

Saya tersenyum,“Betul, anakku. Puasa memang merubah manusia menjadi kupu-kupu, namun dalam sifatnya. Maka kelak ketika engkau dewasa, engkau harus mampu puasa dalam segala bentuknya, agar engkau bisa menjadi kupu-kupu dan lulus menjadi manusia.”

***
Beberapa waktu kemudian, selepas berbincang-bincang dengan anak saya itu, denyar kerinduan tiba-tiba saja begitu menyengat jiwa saya pada Ramadan kali ini. Entahlah, harum tanah pedesaan, bau apek tikar masjid, gema teriakan anak-anak kecil ketika bermain petak umpet menyeruak begitu saja ke permukaan tanpa bisa dihalang-halangi, membuat kenangan puluhan tahun silam itu mencuat kembali ketika perjalanan waktu mengantarkan kehidupan saya seperti sekarang ini. Tiba-tiba saja saya ingin segera pulang ke kampung halaman. Maka tak seperti biasanya, kurang satu minggu sebelum lebaran, sengaja saya niatkan mudik lebih awal. Disamping agar bisa leluasa bersilaturrahmi dengan sanak famili, yang terpenting sesungguhnya saya ingin merasakan kembali kenangan masa lalu itu.

Namun apa lacur, baru sehari merasakan udara di kampung, saya hanya mampu memungut perih. Alih-alih bisa merasakan kenangan masa kecil, justru kegetiran demikian pahit yang saya rasakan. Seiring dengan perjalanan waktu, semuanya telah berubah. Masjid yang dulu bangunan kuno tempat saya berdiam diri selama Ramadan bersama teman-teman, kini berdiri megah dengan arsitektur tak kalah dengan masjid yang ada di kota. Suasana masjid lengang ketika siang hari. Tak ada lagi celotehan riang bocah-bocah kecil bermain skak atau macan-macanan.

Ketika malam menjelang, hanya ada bapak-bapak renta yang melaksanakan tadarus dengan suara terbata-bata. Kata Kang Wagiman ketika saya berbincang dengannya selepas taraweh, saat ini para pemuda enggan berlama-lama tinggal di kampung ketika mereka beranjak remaja, mereka lebih tergiur mengais rezeki pada gemerlapnya kota dan baru pulang kampung ketika lebaran akan tiba. Kian malam, masjid kian sepi. Tak ada lagi anak-anak kecil berkumpul dan kotekan menjelang sahur. Anak-anak sekarang lebih suka berdiam diri di rumah sembari bermain game atau menikmati acara-acara televisi.

Dan malam ini, rasa perih itu kian menikam. Ketika sedang bertadarus, seorang tetangga mengabarkan bahwa baru saja terjadi peristiwa menggemparkan di desa sebelah. Seorang anak yang masih SMP tega menusuk bapaknya dengan pisau dapur. Si anak minta sepeda motor. Bukannya si Bapak tak mau membelikan, tapi bagi seorang buruh tani, terlalu sulit baginya memenuhi keinginan anaknya itu.


Si anak tak mau tahu, ia kemudian marah-marah. Tanpa pikir panjang, ia ambil pisau dan menikamkan begitu saja ke dada bapaknya hingga berdarah-darah. Si anak marah, karena motor itu rencananya akan digunakan membonceng pacarnya untuk melihat pertunjukan orkes dangdut di alun-alun kota, sehari setelah lebaran di rayakan.(*)

Lamongan, Ramadan 1430-1431 H
cerpen. Em. Syuhada'
Admin Pada Saturday, August 03, 2013 5 Komentar

Monday, March 11, 2013

Seharusnya Berjudul Celana Dalam

Cerpen

SUNDARI sedang memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci ketika suara lantang majikan perempuannya menggema dari arah kamar tidur utama.

"Cundaliiii!!" jerit itu terdengar lagi. Sundari terkesiap, gugup. Sundari tahu benar, ketika namanya disebut lengkap begitu sesuatu yang luar biasa pasti sedang terjadi. Tiga bulan tinggal bersama keluarga asing yang menjadi majikannya, sudah membuatnya mulai mengerti kebiasaan tuan dan nyonyanya.

Sundari mencoba mengingat-ingat, apa kira-kira yang telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam. Sundari yakin tidak ada yang tidak wajar. Memang, sejak kepulangannya dari Amerika kemarin sore, Mam tak habis-habisnya menekuk wajah. Sepertinya ia menyesal telah pulang. Tuan pergi ke China, berangkat dua jam sebelum Mam kembali. Sundari buru-buru memindahkan semua baju dari dalam keranjang ke mesin cuci. Tapi, belum sempat ia menuangkan deterjen, suara majikannya terdengar dekat. Menyembul dari pintu dapur, "Cundaliiii!!" Sundari menoleh, dan tanpa diperintah lagi mengikuti langkah majikannya. Dag dig dug jantungnya berirama bingar.

"Look!!" jari lentik majikannya menunjuk laci pakaian dalamnya yang terbuka. Sundari mendekat, mengamati setiap pernik di dalamnya. Rapi, tidak ada yang salah letak. Beberapa saat Sundari cuma tertegun. Sampai majikannya dengan menggunakan sisir mencoba mengangkat sesuatu (celana dalam!). Sundari tetap tidak mengerti.

"It’s your panty, isn’t it?" berkata begitu Mam melotot ke arahnya sambil menunjukkan celana dalam yang dirapikanya beberapa hari lalu. Waktu itu Sundari sempat tersenyum geli, berpikir, mungkin Tuan sedang kangen sama Mam hingga perlu mengeluarkan celana dalamnya yang paling bagus --yang ini Sundari belum pernah lihat sebelumnya, lalu menjemurnya di balkon. Saat merapikannya, Sundari merasa tidak perlu bertanya pada Tuan soal celana dalam itu. Tidak sopan, pikirnya. Tapi, menghadapi sikap nyonyanya yang seolah telah lupa sama sekali dengan barang milik pribadinya, kontan Sundari jadi salah tingkah.

"Nnn... no.. no Mam. My panty is big-big one," kata Sundari akhirnya. Mendengar jawaban Sundari, Mam mengerutkan dahi hingga alisnya yang bergaris tajam saling bertaut. Wajahnya semakin kelihatan judes. Matanya yang sipit mulai kelihatan merah dan berair. Mam mulai menangis. Sundari semakin salah tingkah. Ia ingin mengatakan pada Nyonya, mungkin sebaiknya Nyonya menelepon dan menanyakan pada Tuan soal celana dalam yang diributkannya itu. Tapi, segera diurungkannya. Dengan bahasa Inggris patah-patah sambung, bagaimana mungkin ia akan mampu menjelaskan pada Nyonya? Sundari diam dalam kebingungan. Ia hanya menuruti langkah majikannya saja ketika ia bergegas menuju kamar Sundari. Sambil sesenggukan Nyonya membuka laci pakaian Sundari. Foto usang Parjo meringis di depan sepeda motor tetangga, terlihat. Sundari tersipu. Mam mengamati isi laci Sundari agak lama, dan dengan tangis yang semakin menjadi ia menenteng celana dalam murahan berukuran XL milik Sundari. Tangisnya semakin keras, meraung-raung.

Sehari itu, Nyonya mengurung diri di dalam kamar. Bahkan, ketika makan siang pun Nyonya menolak keluar. Sundari berusaha santai dengan mengerjakan rutinitasnya. Saat Nyonya memanggilnya untuk membantu memasukkan baju-bajunya ke dalam tas besar, Sundari tidak merasakan keganjilan apa pun. Besoknya, Nyonya pergi bersama tas besarnya setelah berpesan kepada Sundari untuk tidak pergi ke mana-mana. Sundari yang memang terbiasa tak pergi keluar rumah, cuma mengangguk-angguk.

Sundari mulai mampu meraba apa yang terjadi. Dulu, dua bulan lalu, Nyonya pernah marah besar kepada Tuan. Gara-garanya, Tuan terlambat pulang. Padahal, Nyonya menunggunya untuk makan malam bersama. Sampai larut malam keduanya masih riuh adu argumen. Hingga tiba-tiba, Tuan menggedor pintu kamarnya dan menyuruhnya mengambilkan peralatan P3K. Esoknya, Sundari melihat pergelangan tangan kiri Nyonya diperban. Mungkin Nyonya mencoba bunuh diri. Nyonya memang orang yang cemburuan.

Sepekan setelah kepergian Nyonya, ketika persediaan makan mendekati habis, Nyonya pulang bersama seseorang dari agen penyalur tenaga kerja yang memasokkan Sundari ke majikannya di Hong Kong.

"Cundali, kamu punya majikan mau celai. Kamu punya kelja tidak ada. Kamu dipulangkan," kata Miss Lam berusaha memberi pengertian pada Sundari. Saat itu Sundari hanya ingat Kang Parjo, suaminya di dekat sepeda motor tetangga, meringis. Padahal Sundari ingin menangis.

***

"Indonesia, hamaiya?" sapa seseorang dari arah samping Sundari, ketika ia sedang mengamati lalu-lintas orang di ruang tunggu Bandara Chek Lap Kok.
"Ya."
"Dipulangkan meh?" tanyanya lagi. Sundari merasa agak gerah dengan pertanyaan itu. Tapi mencoba tenang.
"Kok tahu?" katanya balik bertanya.
"Rambutnya pendek dan bawaannya sedikit ma!"

Sundari tersenyum getir. Lalu perempuan yang menyapanya itu pun duduk di sampingnya. Berbincang-bincang dengan bahasa negeri sendiri --meski Sundari merasa bahasa perempuan itu agak dibuat-buat-- Sundari merasa akan kembali ke dunianya. Tiga bulan ia harus memelajari bahasa asing patah-patah bercampur bahasa isyarat. Menelan bulat-bulat dan berusaha memahami budaya yang jelas berbeda dengannya. Berpikir itu hanyalah bagian yang harus dijalaninya untuk mewujudkan mimpi punya kehidupan yang lebih layak. Mungkin seperti Budha yang mesti menjalani Samsara sebelum mencapai Nirwana. Apalagi bila ia ingat kebiasaan majikan yang suka marah, bicara dengan membentak, tertawa ngakak, menangis sejadi-jadinya, serta-merta Sundari merasa lelah. Kelelahan yang jelas menggurat di wajahnya yang bulat.

Lalu Marni, gadis di sebelahnya itu, siapa menyangka ternyata bekerja di flat yang sama dengannya! Satu tingkat di atasnya. Marni juga dipulangkan.

"Namanya majikan ya Mbak, salah bener ya maunya bener. Hamai sin? Ngapain Mbak dipulangkan?" Marni bertanya kepada Sundari.
"Majikanku cerai. Kamu?"

"Karena celana dalam! Jisin! Dasar majikan nggak tahu diuntung! Seenaknya bilang aku cerob..."
"Celana dalam? Jangan-jangan warnanya merah muda?" potong Sundari.
"Haiya, haiya!"
"Ada renda-renda di samping kanan dan kirinya ya?"
"Haiya!!"
"Kecil, mereknya Sexygirl?"
"Haiwo!! TIM CHI CEK? Kok tahu?"

Sundari bengong, teringat ia akan celana dalam merah muda yang telah berubah jadi guntingan kain kecil tak beraturan di kamar majikannya. Nyonya bilang, "Jangan dibuang, biar Tuan tahu."

Mengingat nasibnya, nasib Marni, juga nasib majikannya, Sundari tersenyum tanpa sadar. Seseorang dengan kulit sewarna periuk gosong, di sebelah kiri pintu masuk, menyambut senyumnya. Sundari mengalihkan pandang cepat-cepat kepada Marni, "Ceritanya singkat. Nanti aku ceritakan di dalam pesawat," katanya, karena pengeras suara itu sudah meneriakkan pengumuman bahwa pesawat menuju Surabaya akan segera lepas landas.

Marni cuma mengangguk sambil melongo.***

Hong Kong, 24 April 2005

Cerpen Etik Juwita
Catatan:
- Etik Juwita adalah salah seorang buruh migran di Hongkong yang kini merintis menjadi cerpenis.  My panty is big-big one = My panties are bigger than his one.
- jisin: gila
- hai wo: o, begitu!
Admin Pada Monday, March 11, 2013 Komentar

Thursday, February 21, 2013

Cerita Tentang Kang Thowil

Cerpen
Cerpen Cerita Tentang Kang Thowil
TAK ADA yang bisa dilakukan oleh Kang Thowil selain berdiri mematung menatapi pemandangan disekelilingnya yang membuat batinnya miris. Sejauh mata memandang, yang terpampang adalah hektaran sawah dengan tanaman porak poranda. Genangan air bercampur lumpur telah membuat tanaman padi siap panen itu menjadi onggokan benda yang tak ubahnya sampah, timbul tenggelam dipermainkan semilir angin yang menciptakan riak-riak kecil. Dan lelaki itu, tanpa sepatah kata mencoba menyibakkan batang demi batang, seperti berusaha memungut harapan hidupnya yang terserak tak keruan entah kemana.

Dia kemudian menghela nafas. Sesuatu dirasakannya begitu berat menghimpit rongga dadanya. Sungguh berat. Bahkan untuk sekedar menarik nafas pun terasa susah. Kenyataan yang dihadapinya sekarang menjelma ribuan jarum dihunjamkan begitu saja kerelung hatinya. Menusuk-nusuk kemanusiaannya. Dan batinnya terasa begitu perih. Ah, andai saja ia menuruti perkataan istrinya beberapa waktu yang lalu, tentu kenyataan akan berkata lain. Tentu ia masih memiliki sejumlah harapan. Dan yang paling pasti ia tidak akan mengalami kejadian seperti pagi ini.

"Kenapa tidak kita panen saja kang, toh hanya tanaman ini yang bisa kita harapkan memenuhi kebutuhan kita. Apa Akang tidak malu terus-terusan ditagih sama Lek Sakri," Itu saran istrinya seminggu yang lalu, ketika keduanya tengah menghalau padi yang telah menguning itu dari serbuan pipit.

"Ndak usah terburu-buru bune, mungkin seminggu atau dua minggu lagi padi ini kita panen. Biarlah aku nanti yang ngomong sama Lek Sakri, yang penting kan, ada yang kita jagakne untuk melunasi hutang."

Dan ia memang hanya seorang manusia, yang tak pernah tahu dengan apa yang terjadi esok. Bahkan dengan kejadian semenit yang akan datang adalah sebuah misteri. Sama sekali ia tak menyangka jika takdir yang kembali memaksanya harus menelan kegetiran demi kegetiran.

Lelaki itu, Kang Thowil, demikian orang biasa memanggilnya, memang petani yang seluruh penghidupannya hanya bertumpu pada sawah. Bagi lelaki setengah baya itu, sawah adalah muara dari berliku-likunya air sungai persoalan kehidupan yang sehari-hari digelutinya. Mulai dari sambatan si Iwik, anak semata wayangnya yang merengek-rengek minta dibelikan seragam sekolah, lantaran seragam yang sekarang dipakainya telah layak beralih profesi sebagai serbet. Juga hutangnya pada Lek Sakri, yang hampir setengah tahun belum mampu ia lunasi. Apalagi istrinya yang mengeluhkan biaya hidup yang makin membengkak dari hari kehari, semenjak kenaikan BBM yang kata pemerintah memang sudah tak bisa ditunda-tunda lagi. Apalagi yang bisa ia janjikan selain harapan yang seluruhnya ia tumpuhkan pada sebidang tanah yang berada di ujung desa.

Sebenarnya, sebagai seorang kepala rumah tangga, ia memang telah mencari jalan lain dalam mengatasi ekonomi keluarga dengan tidak hanya mengandalkan sawah. Berbagai pekerjaan, asalkan halal pernah ia alami. Mulai dari menjadi kuli batu di kota, menjadi tukang serabutan di pasar, menggali pasir, bahkan sebagai pemulung pernah ia lakukan. Tapi berapa penghasilan pekerja yang tidak jelas pendidikannya itu. Belum lagi ia harus menuruti kemauan bibirnya untuk merasakan sebatang atau dua batang rokok. Apa kemudian ia harus mengikuti jejak Kang Samin dengan menjadi TKI, sementara ia pernah mendengar dari sang Ustadz, bahwa kunci kebahagiaan itu adalah jika rezeki seseorang ada pada negerinya sendiri. Ia tak bisa membayangkan jika harus meninggalkan istri dan anaknya dalam waktu yang sekian lama.

Lantas ketika banjir itu datang begitu saja secara tiba-tiba...........

Ada beribu tanya yang tak pernah mampu ia jawab. Ada setumpuk beban memenuhi rongga dadanya yang menyebabkan ia merasa sesak. Barangkali benar, bahwa keresahan adalah ketika harapan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Bahwa penderitaan adalah, ketika yang bersemayam dalam angan-angan adalah setetes madu, namun yang dihadapi adalah sebotol racun yang siap menelan nyawa kehidupannya, kapan saja dan dimana saja. Namun apa yang bisa diperbuat oleh seorang manusia, apalagi bagi seorang wong cilik macam ia?

***
Bagi orang susah sepertinya, Kang Thowil tak pernah berharap bisa menjadi orang kaya, seperti tetangganya yang setiap hari bisa ganti mobil sesuka hati, yang tiap tahun bahkan bisa pergi haji ke tanah suci. Tak pernah sedikitpun terbersit dihatinya keinginan memiliki rumah dan mobil mewah, apalagi tanah berhektar-hektar. Yang didambakannya selama ini sederhana sebagai orang kecil, ialah bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa pernah dikejar-kejar hutang. Ia ingin bisa memberikan makan bagi anak dan istrinya tanpa mengalami kesulitan. Ia hanya ingin hidup wajar sebagaimana layaknya manusia.

Namun ketika kesulitan demi kesulitan selalu saja mengepungnya dari hari ke hari. Kang Thowil mendapatkan dirinya berubah menjadi seekor cacing kepanasan ditengah terik matahari. Ia mengeliat-geliat kepayahan, jempalitan tak karuan bagai seekor kambing yang baru saja disembelih. Dan itu barangkali yang membuatnya terengah-engah, dari waktu kewaktu.

"Kita mesti sabar Kang. Apapun semua ini telah menjadi kehendak Gusti Kang Murbeng Dumadi. Kita mesti nrimo. Ndak mungkin kita protes dengan kegagalan panen ini. Beliau pasti memiliki alasan sendiri yang tak bisa kita duga. Pasti ada sesuatu yang bisa kita petik dari keadaan ini," Tutur istrinya berusaha menghibur.

Kang Thowil hanya diam. Barangkali memang beginilah hidup, demikian ia membatin. Tapi kenapa kehidupan itu tak pernah memberikan ruang kepadanya? Kenapa kehidupan selalu tak mengizinkan dirinya dapat bergerak leluasa, setidaknya untuk hanya sekedar menggerakkan tangan dan kepala? Ia benar-benar tak pernah mengerti.

***
Dan ketidak-mengertian itu semakin menjadi-jadi ketika ia mengikuti sholat jumat di masjid, Sang Khatib dengan tegas menyuarakan khutbah dari atas mimbar:

"Saudara-saudara, kita semua memang sedang susah. Banjir menyebabkan kita tak bisa panen tahun ini, padahal panen itulah satu-satunya harapan bagi kita yang setahun hanya bisa memanen sekali. Namun satu hal yang ingin saya sampaikan, anggaplah kesusahan ini sebagai isyarat, bahwa kita semua sedang menjalani ujian dari Tuhan. Bahwa kita ternyata masih dikepung oleh kasih sayang-Nya. Bukankah salah satu pertanda bahwa kita masih diperhatikan oleh-Nya adalah dengan keharusan menjalani laku ujian yang akan menentukan kadar kesetiaan kita masing-masing? Bukankah sangat indah kalau kita semua masih berada dalam naungan perhatian-Nya? Maka hanya orang-orang yang sanggup bersabar saja yang akan memperoleh kemulyaan tertinggi dihadapan-Nya."

Padahal beberapa waktu yang lalu, seorang kyai muda pernah juga mendengar ceramah:

"Cobaan hanya berlaku bagi orang-orang yang sanggup meletakkan diri diwilayah-wilayah keridlaan-Nya. Fungsi akhir dari cobaan tak lain untuk menguji seberapa jauh dan dalam kesetiaan seseorang kepada-Nya. Kalau kemudian ia sukses, patut diacungi jempol bahwa kesetiaannya betul-betul telah teruji. Dan ia pun meraih predikat yang setingkat lebih tinggi dibanding kedudukan sebelumnya.”

"Dan peringatan adalah sebuah bentuk mekanisme, ketika seorang hamba yang menyatakan diri bersetia kepada-Nya itu tiba-tiba saja terjatuh di jurang yang digali oleh iblis, yang merupakan kebalikan sisi mata uang dari pancaran cahaya. Maka Tuhan dengan bersegera akan menurunkan tangga peringatan kepadanya agar bisa naik kembali ke permukaan, dan ia pun dapat kembali merengkuh cahaya dalam menelusuri jalan panjang kehidupan."

"Kemudian azab merupakan bentuk siksaan. Ia hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah jauh menyebrang dari garis yang ditentukan oleh-Nya. Dan ingatlah, bahwa azab Tuhan itu sangat-sangat pedih."

Kang Thowil masih ingat, ceramah itu disampaikan oleh seorang kyai muda yang sengaja didatangkan ke desanya untuk mengisi acara rutinan di masjid. Dan ia juga ingat betul, betapa ceramah itu disampaikan selang sehari sebelum bencana banjir itu terjadi.

Lantas sekelumit pertanyaan tiba-tiba saja menyelimuti batinnya. Bencana yang beruntun menyelimuti desa ini, mulai angin topan yang memporak-porandakan rumah penduduk, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, bencana banjir, penyakit yang demikian beraneka ragam, dan entah apa lagi bencana yang akan datang kemudian. Betulkah itu semua merupakan sebentuk ujian dari Tuhan?

Kang Thowil tiba-tiba memendam semacam kekawatiran. Jangan-jangan semua yang telah berlangsung itu adalah sebentuk peringatan, bahwa kelakuan manusia benar-benar telah melampaui batas. Namun siapa yang bisa menjamin, bahwa semua itu bukan sebentuk azab yang telah diturunkan-Nya?

****
Kekhawatiran yang demikian itu memang bukan sesuatu hal yang tidak berdasar. Kang Thowil sebagai seorang warga yang telah mendiami sekian puluh tahun tanah perdesaan itu tentu tahu betul dengan perilaku kehidupan warga setempat. Ia pasti tahu itu karena setiap hari terlibat secara langsung.

Tentang bagaimana sikap orang-orang dalam menjalani kehidupan. Juga perilaku petinggi desa yang sudah tidak lagi mencerminkan sifat sebagai seorang pemimpin, bahkan dengan terang-terangan menyatakan diri sebagai seorang penguasa. Sehingga untuk meraih kekuasaan itu diperlukan berbagai cara, biarpun harus mengorbankan berlembar-lembar rupiah, atau harus keluar dari koridor aturan-Nya.

Lantas ketika peraturan langit hanya dapat bersuara di kolong-kolong masjid. Ketika kedudukan Tuhan selalu ditempatkan dalam nomor kesekian dalam setiap urusan. Ketika Tuhan beralih fungsi menjadi buruh yang harus mengerjakan perintah-perintah. Apakah hal semacam itu belum cukup dijadikan alasan bahwa Tuhan sudah benar-benar muak dengan perilaku mereka. Sehingga tidak ada alasan bagi-Nya untuk tidak menurunkan azabnya?

Kang Thowil benar-benar tak habis pikir, betapa manusia-manusia zaman sekarang telah memiliki keberanian luar biasa dalam menjalani hidup, tanpa peduli dengan batasan yang ditentukan oleh si pemberi kehidupan itu sendiri. Alangkah beraninya mereka untuk tidak pernah merasa malu bahwa setiap saat mereka selalu diawasi. Bahwa suatu saat nanti mereka pasti akan kembali kepada-Nya tanpa membawa apa-apa, selain benih-benih kebajikan yang telah ditanamnya.

Maka kekawatirannya semakin bertambah-tambah, ketika orang-orang tidak pernah merasa bersalah. Ketika semua orang bahkan merasa tidak pernah melakukan apa-apa yang bisa membangkitkan amarah-Nya. Kang Thowil lantas berfikir: Untuk menyadari bahayanya api, haruskah seseorang dibakar sehingga percaya bahwa api memang betul-betul panas dan berbahaya?

****
Apa yang bisa dilakukan oleh Kang Thowil kemudian selain hanya duduk di beranda rumahnya yang reot, sambil menatapi kayu-kayu rumahnya yang telah lapuk dimakan waktu. Sesekali rokok kreteknya itu dipermainkan dengan jemari tangannya yang kering. Genting-genting, meja, kursi, dan semua yang berserakan di halaman rumah itu seolah-olah berbicara kepadanya, buat apa menjadi manusia kalau tak mampu berbuat sebagaimana layaknya manusia. Untuk apa menjadi manusia kalau segala perilakunya bahkan jauh lebih rendah dari hewan yang tidak beradab sekalipun.

Ada kalanya ia bermimpi bisa menjadi seorang Nabi, atau Kyai, atau Ulama, atau yang remeh-temeh barangkali utusan Tuhan yang ditugasi mengatasi zaman, terserah apa namanya, ratu adil, satrio piningit, atau satrio-satrio yang lain, yang tentu saja dengan bimbingan tangan Tuhan bisa merubah zaman dan mengatasi peradaban.

Tapi apalah artinya manusia macam dia. Manusia yang selalu dicampakkan oleh nasib, yang terpinggirkan oleh kesejahteraan hidup, yang setiap saat terpesona dengan megahnya kata kemakmuran. Sementara sekedar mempertahankan hidup anak istrinya saja ia bahkan selalu dilanda kebingungan.

Kang Thowil akhirnya hanya mampu menerawang, membiarkan dirinya menatap sebuah dunia baru yang sama sekali berbeda, jauh di seberang sana, di ketinggian awan, di pucuk-pucuk langit, sampai kemudian ia disentakkan oleh sebuah suara perempuan, suara istrinya:

"Pak, seragam Iwik sobeknya makin melebar. Pagi tadi ia sudah tidak mau lagi pergi sekolah. Sepertinya ia sudah tak tahan dengan ejekan teman-temannya."

Kang Thowil tersentak. Seketika ia tersadar bahwa kakinya masih berpijak di bumi. Ia mendesah ketika menyadari bahwa ia memang tak pernah bisa berbuat apa-apa.***

Lamongan, 2005

*)Cerpen : Em. Syuhada'
Admin Pada Thursday, February 21, 2013 Komentar

Tuesday, January 29, 2013

Kota Orang-orang Bisu

Cerpen

Cerpen Dadang Ari Murtono (Kompas, 13 Januari 2013)
SIAPA pun pasti akan sulit percaya bila aku katakan bahwa saat ini aku sedang berada di sebuah kota yang tak ada dalam peta. Kota dengan penghuni yang bisu. Ya. Bisu. Semua penduduknya bisu.

Dan karena semua penduduknya bisu, maka mereka hanya saling tersenyum atau menganggukkan wajah bila berpapasan sebagai tanda menyapa. Mereka menunjuk barang apa saja yang ingin mereka beli di toko. Dan karena semua bisu, maka sebanyak apa pun penduduk kota itu, suasana tetap saja begitu hening.

Kota itu adalah kota yang tua. Begitu tua. Kau bisa mengetahuinya hanya dengan melihat bangunan-bangunan yang ada di kota itu. Semua mengesankan bahwa bangunan-bangunan itu telah ada semenjak ratusan tahun yang lampau. Begitu pula dengan model pakaian yang mereka kenakan. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu. Aku menduga karena posisinya yang begitu sulit dicari (bahkan, peta paling lengkap pun tak sanggup menggambarkan letak kota itu), maka kota itu menjadi terputus dengan peradaban yang ada di luar kota tersebut.

Konon, dulu sekali, penduduk kota itu sama seperti orang normal kebanyakan. Tidak bisu. Bisa bicara. Pada waktu itu, kota tersebut dikuasai oleh seorang penguasa yang kejam. Yang begitu haus kekuasaan. Yang takut kekuasaannya bakal direbut orang lain. Tidak sekali dua kali si penguasa menerapkan kebijakan yang sama sekali tidak bijak. Misal: menetapkan tarif pajak yang sama dengan penghasilan penduduknya. Atau ketika si penguasa hendak merenovasi kediamannya yang besar selayaknya istana, mewajibkan setiap penduduk kota itu bekerja di sana tanpa upah. Persis kerja rodi. Atau romusa. Si penguasa juga menjadikan segala tambang yang ada di kota itu (dulu, kota itu memiliki banyak tambang, mulai tambang emas, tambang minyak bumi, hingga tambang batu bangunan) menjadi milik pribadinya.

Tidak ada yang berani melawan si penguasa. Si penguasa memiliki pasukan yang kuat dengan persenjataan yang canggih. Siapa pun yang berani melawan, akan bernasib tragis. Pagi melawan, sore mati. Begitulah selama bertahun-tahun.

Tidak ada yang secara terang-terangan mencoba melawan si penguasa. Semua penduduk merasa ketakutan. Dan orang yang takut, pada akhirnya, hanya berani bergunjing di belakang. Membicarakan segala sesuatu tentang si penguasa yang buruk-buruk.

Namun, seperti kata pepatah, sebaik-baik menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga, begitu pula dengan gunjing-gunjing tersebut. Entah bagaimana, si penguasa akhirnya tahu juga bila semua warga kota itu selalu menggunjingnya, membicarakan keburukannya.

“Suatu hari, gunjing-gunjing itu bisa berubah menjadi gerakan pemberontakan!” demikian kesimpulan si penguasa. “Ketika waktu itu tiba, bukan tidak mungkin sekuat apa pun pasukanku, tidak akan dapat meredam orang-orang itu,” pikirnya lagi.

Maka begitulah. Pada suatu ketika, dengan tujuan agar tak ada lagi penduduk kota yang membicarakan keburukannya, yang kemungkinan besar bisa membahayakan kedudukan si penguasa di kemudian hari, si penguasa mengeluarkan kebijakan yang aneh. Kebijakan paling aneh yang pernah dibuat. Memotong lidah semua penduduk kota itu.

Dan bukan hanya lidah orang yang sudah dewasa yang dipotong, melainkan juga lidah anak-anak. Bahkan, lidah mereka yang masih bayi. Lalu begitulah. Entah kenapa, setelah semua lidah penduduk dipotong, setelah semua yang ada di kota itu menjadi bisu, setiap bayi yang lahir, tiba-tiba saja sudah tak berlidah. Semua orang menjadi bisu. Hingga hari ini.

Itu memang cerita yang sulit diterima akal sehat. Namun, cerita itu bukanlah satu-satunya cerita tentang asal mula bisunya penduduk kota tua itu.

Ada cerita lain. Konon, dulu, penduduk kota ini adalah orang-orang yang banyak bicara. Tidak sedetik pun mereka tidak bicara. Bahkan, dalam tidur pun, mereka bicara. Mengigau. Semua selalu ingin bicara. Semua selalu ingin ucapannya yang didengar. Namun siapa yang mendengar bila semua orang hanya ingin bicara? Semua seolah lupa kenapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga. Semua seolah lupa bila Tuhan ingin kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dan keadaan seperti itu semakin parah karena ternyata yang mereka bicarakan semata bualan! Bualan belaka!

Pada waktu itu, entah dari mana, seseorang yang konon adalah wali Tuhan, sampai ke kota itu. Si wali begitu terkejut mengetahui betapa orang-orang di kota itu teramat suka membual. Namun si wali tahu, lidah bisa membual, tetapi tidak halnya dengan mata. Mata selalu jujur perihal apa yang ada di dalam hati. Segala yang ada di hati, yang sebenarnya, seperti tersirat dari pandangan mata. Mata seolah telaga bening dengan dasar berupa hati. Itu pula sebabnya orang-orang menyebut mata sebagai jendela jiwa.

Konon, kemudian si wali yang prihatin berdoa. Berdoa agar semua orang di kota itu berhenti membual. Agar orang-orang di kota itu tidak lagi bicara dengan mulut dan lidah. Melainkan dengan mata.

Semenjak itu pula, semua orang menjadi bisu. Bisu hingga turun temurun. Hingga hari ini.

Aku tidak tahu cerita versi mana yang benar. Dan itu tak penting benar bagiku. Aku datang ke kota ini dengan niat awal untuk tinggal di sini. Tinggal bersama kekasihku. Kekasih yang pada awal-awal percintaan kami berkata bahwa dia akan selalu mencintaiku. Kekasih yang bersumpah hanya akan mengucap cinta kepadaku.

Waktu itu, aku percaya. Hingga kemudian, beberapa waktu yang lalu, aku tahu, ia menggunakan lidah dan mulutnya untuk mengucap cinta kepada lelaki lain. Dan bukan hanya mengucap cinta, lidah dan mulut itu juga mengecup serta mengulum mulut dan lidah lelaki lain. Bahkan, mungkin, bukan hanya lidah dan mulut lelaki lain itu saja yang ia kecup dan kulum. Mungkin juga bagian tubuh yang lain dari lelaki itu.

Aku cemburu. Aku menuntut sumpahnya. Tapi ia bilang aku terlalu mengada-ada. Ia bilang aku terlalu cemburu. Ia bilang ia tidak melakukan apa-apa yang aku tuduhkan kepadanya. Ia berkata lagi, ia bersumpah lagi tetap mencintaiku. Dan aku meminta pembuktian. Aku meminta kepastian bahwa lidahnya tidak bakal mengucap cinta kepada lelaki lain. Aku meminta kepastian bahwa lidahnya tidak bakal menjilati tubuh lelaki lain.

Begitulah. Dengan bersusah payah, dengan cara yang teramat sulit dijelaskan, kami sampai ke kota ini. Kota tua bisu. Aku yakin, ada enggan di dalam hati kekasihku. Barangkali kadarnya cuma sedikit. Tapi ada. Dan aku memaksanya.

Demi cinta.

“Di sana, di kota orang-orang bisu, tidak bakal ada yang melihat kita dengan aneh. Tidak ada yang memandang kita dengan pandangan kasihan. Bukankah sangat tidak nyaman menyadari bahwa orang memandang kita dengan pandangan yang serupa itu, bukan? Bukankah kita hidup di negeri yang aneh? Negeri di mana orang- orang suka meremehkan orang-orang yang mereka anggap cacat? Di kota itu, di kota orang-orang bisu itu, kita tidak akan mendapat pandangan yang aneh. Kita tetap menjadi manusia yang utuh, manusia normal ketika berada di sana,” kataku. Meyakinkan.

“Bukankah kau mau membuktikan kalau kau memang benar-benar mencintaiku?” desakku.

Begitulah mulanya kami sampai di kota itu. Kami saling mengucap cinta. Mengucap nama masing-masing. Itulah kata-kata terakhir yang lidah kami ucapkan. Sebab setelah itu, kami sama-sama menghunus pisau. Saling memotong lidah. Saling membisukan diri. (*)

Admin Pada Tuesday, January 29, 2013 Komentar

Monday, January 28, 2013

PODIUM

PODIUM

Cerpen
SEKARANG tugasku yang penting ialah menjadi muadzin keliling. Beredar tiap hari Jum’at dari masjid kampung ini, ke kampung itu, dan masjid kampung sana telah menunggu untuk giliran berikutnya. Nooriman Dutawaskita, yang memberiku tugas, selalu juga bertindak sebagai khotib di masjid-masjid itu.

Pada minggu-minggu terakhir ini bahkan ada tugas lain: Gus Nooriman (demikian orang-orang kampung memanggilnya) memberi pengajian dan aku mengawalinya dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Our’an. Ini sungguh-sungguh semangat baru yang memancar di kampung-kampung terutama di daerah Jombang timur. Semangat keagamaan yang dianugerahkan langsung dari langit, bagaikan hujan yang tumpah. Para jemaah di masjid atau muslimin dan muslimat di acara pengajian umum, berjejal-jejal dan terpesona mendengarkan uraian Gus Noor. Mereka bagaikan bermimpi menatap anak ajaib itu di podium. Aku sendiri yang selalu “diseret” Gus Noor ke mana-mana, merasakan getaran keajaiban itu.

Waktu beradzan dan mengaji serasa aku sedang turut membangun keajaiban. Bertumbuh kebanggaan yang besar. Aku sering menangis. Tetapi kebanggaan itu segera lebur ketika ingatanku melayang kepada kebesaran Allah. Segalanya niscaya kembali kepadaNya. Juga setiap kebanggaan yang bisa menggelincirkan.

Usiaku 12 tahun, dan Gus Noor kukira belum lebih 14 tahun. Aku berada di bulan-bulan terakhir SD, sekaligus Madrasah Ibtidaiyah. Sedangkan Gus Noor seingatku sudah 4 tahun terakhir ini berhenti sekolah, dari kelas IV Madrasah. Perihal kemampuanku mengaji Al-Qur’an, bukan hal yang mengherankan untuk situasi pendidikan mengaji di kampung. Sejak sebelum bersekolah, setiap mau tidur Ibu mengelus-elusku sambil mengajari lagu AlQur'an atau kasidahan. Di langgar, pelajaran mengaji dilatih terus menerus. Kepintaran mengaii bahkan menjadi ukuran gengsi seorang anak. Adikku yang berusia 9 tahun berani kupertandingkan mengaji dengan tamatan Mualimat Yogya yang terkenal di sana. Jadi tugasku itu bukan hal yang luar biasa. Gus Noor memilihku kukira hanya karena suaraku kabarnya bagus dan bisa mengalun lebih merdu dibanding teman-teman mengaji di langgar. Kuterima tugas itu dengan perasaan yang khusyu, seakan aku sedang ikut bepergian dengan seorang Malaikat.

Aku tidak bergurau. Soalnya kemampuan Gus Noor untuk berkhotbah, menguraikan masalah-masalah agama dan kemasyarakatan, hapalannya yang luar biasa akan seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, tidaklah ia peroleh dari langgar, melainkan hanya bisa dijawab langsung oleh Allah swt. sendiri. Masyarakat di seluruh kampung mempergunjingkan bagaimana Nooriman, anak kecil tukang cangkul di sawah itu, bisa punya pengetahuan begitu luas. Kaum muslimin dan muslimat amat terkesima, dan banyak sudah di antara mereka yang menjadi bertambah tebal iman Islamnya, atau bertaubat dari keingkarannya. Gus Noor selalu dikerumuni orang untuk didengar uraiannya. Sekarang bahkan mulai datang undangan dari daerah-daerah lain yang jauh. Posisi psikologis Gus Noor di kalangan masyarakat luas sudah hampir menyamai kesan Nabi Muhammad saw. yang selama ini hanya mereka bayang-bayangkan saja. Orang-orang itu menatap Gus Noor bahkan seperti menatap Malaikat.

Sungguh tak masuk akal. Tidak ada tanda-tanda apa pun yang istimewa pada Gus Noor yang mengarah ke situ. Di Madrasah Mansyaul Ulum, Nooriman ini murid biasa-biasa saja. Pelajaran tidak paling pandai, suara tak tergolong merdu, tubuhnya kurus tak pintar, olah raga apa pun. Atau barangkali dasar penilaian masyarakat tidak mampu menangkap tanda-tanda yang lebih dalam umpamanya yang terdapat dalam ruang batin Noor. Kurang jelas juga.

Orang tua Noor termasuk kalangan paling melarat di kampung. Sampai kelas IV, sekolah tak mampu ia lanjutkan. Noor keluar dan membantu kerja orang tuanya di sawah yang hanya sedikit. Noor amat rajin dan tetap pendiam. Di tahun-tahun berikutnya Noor membantu Bapaknya berjualan buah kelapa. Bergantianlah bapak-anak ini membawa puluhan butir kelapa ke pasar kota Jombang. Pakai sepeda. Kelapa dimasukkan ke dalam rengkek yang ditaruh di boncengan sepeda itu. Pada saat itulah Tuhan mentakdirkan keajaiban. Di tengah jalan waktu bersepeda membawa kelapa, Noor jatuh sakit. Beberapa orang penjaga gardu segera menolongnya. Membaringkannya di rumah terdekat dan merumatnya. Kurang jelas apa sakit Noor. Cuma dingin panas. Demam. Orang-orang desa tentu saja tidak segera punya inisiatif untuk memanggil Dokter. Hanya datang satu dua orang tua mengurutnya, memijat dan meminuminya jamu. Orang tuanya segera dipanggil. Tetapi kemudian datanglah seorang tamu. Seorang pemuda, pakai sarung, baju piyama dan ber-peci. Sopan sekali ia.

“Apakah di sini ada anak sakit bernama Nooriman?” ia bertanya. Dan orang-orang kampung itu, sambil terheran-heran, mengatakan memang anak ini bernama Nooriman dan ia sakit. “Apakah Saudara keluarganya?’ “O bukan. Saya diutus oleh Bapak Kyai Sahlan untuk mendatangi Nooriman dan beliau menyuruh membawanya ke rumah beliau untuk dirawat. Orang-orang kampung itu semula tak mengizinkan. Tapi setelah datang Bapak Nooriman, orang tua ini mengizinkannya. Panggilan seorang Kyai selalu menggetarkan dan merupakan kehormatan tak terhingga dari setiap muslim di desa. Akhirnya Nooriman pun dibawa, dengan perasaan yang bergelora pada semua orang yang menyaksikannva. Bapaknya tentu saja turut mengantarkan kesana.”Inilah saudaraku yang sejak lama kutunggu-tunggu,” demikian Kyai Sahlan menyambut Nooriman. Tersiraplah darah semua yang mendengarnya.

Kata-kata itu adalah sebuah pernyataan yang khusus dan luar biasa. Semua orang mengenal Kyai Sahlan sesepuh kaum muslimin yang waskita, orang yang berpuasa sepanjang hidupnya, ahli tarekat dan kyai yang khusyu. Nooriman adalah saudara beliau? Apa maksudnya? Tak seorang pun mengerti dengan jelas. Tetapi kemudian terjadilah keajaiban-kea’aiban itu. Setelah sembuh dari perawatan Kyal Sahlan, Noor diperkenankan pulang ke desanva. Namanya sekarang bertambah, menjadi Nooriman Dutawaskita. Begitu sampai di rumahnya, dan dikerumuni tetangga-tetangganya, ia mulai menunjukkan mukjizat.

“Umurku tak lama lagi akan berakhlr,” katanya, yang tentu saja mengejutkan kedua orang tuanya. “Tetapi sebelum ajal itu tiba, aku diberi tugas oleh Tuhan untuk memperbaiki kampung ini. Kalian semua tak boleh lagi melalaikan sembahyang dan rukun Islam lainnya semampu-mampunya. Pamong-pamong jangan seenaknya bertindak pada rakyat.

Jangan hanya bisa menjilat Lurah. Dan lurah kemarin baru saja mengambil uang pajak rakyat dan dipakainya untuk beli sepeda motor baru. Carik juga korupsi, lihat itu pakai uang siapa ia membangun rumahnya. Mana Sumadi? Cepat cari. Ia kini sedang membawa sepeda mertuanya dan akan dijualnya di pasar kota. Orang-orang kampung ini bagaimana tidak tahu anak-anaknya sering berbuat tak senonoh. Semalam Giman pura-pura mendatangi pertemuan di Jombang, padahal ia janji sama Sumalyah untuk ketemu di tanggul ujung selatan desa. Mereka bercumbuan di bawah pohon-pohon turi dan tanaman yang rimbun. Mana Samiran? Cepat, ia bertobat dan mulai sembahyang. Jangan suka mencopet lagi dan curi tebu di kebun atau ketela di tegalan. Sebab malaikat sudah mulai mengintainya. Si Darip, mataulu desa, mulai hari ini tidak boleh lagi memaksa pemilik sawah membayar pengaliran air, sebab desa sudah menentukan pembagiannya secara adil……

Mulut Gus Noor seperti memberondongkan peluru-peluru yang mengenai banyak para pedosa di kampung. Maka gaduhlah hari itu. Orang-orang yang dituduh mula-mula berang dan marah. Tapi kemudian takut dan menghentikan kejahatannya, setelah tak bisa menjawab dari mana gerangan Nooriman tahu sekian banyak hal. Terjadilah perubahan luar biasa di kampung. Perbincangan tentang Nooriman menyerap kesibukan masvarakat. Makin lama ia bertumbuh menjadi semacam kiblat kepercayaan baru. “Tapi saya ini bukan Nabi.” Ia menegaskan, “Nabi kita tetap Muhammad saw. dan Tuhan kita tetap Allah SwT”

Akhirnya Nooriman berkhotbah di masjid. Kyai Salam dengan rela memberinya kesempatan. Dan luar biasa. Orang-orang tak mengerti bagaimana anak ini bisa meniadi pintar, fasih dan mempesona. “Ia pasti seorang Wali!” kata salah seorang. Yang lain tak membantahnya, dan segera bersepakat untuk memanggil Nooriman dengan sebutan Gus Nooriman. Gus Noor. Ila menjadi cahaya baru di kampung. Cahaya yang benar-benar cahaya. Di dapur, beranda, di masjld, di sawah, di warung dan di mana pun, selalu Gus Noor yang diomongkan. Gus Noor, Gus Noor.

Demikianlah akhirnya aku dipilihnya untuk menjadi muadzin dan pengaji Qur’an. Bahkan kemudian ia minta untuk tinggal di rumahku, maksudku di rumah orang tuaku. Tentu saja suatu kehormatan besar yang tak mungkin kami tolak. Di samping itu maksud Gus Noor memang tepat. Kebetulan Bapakku pemuka agama dan masyarakat di kampung. Bapak memegang sekolah Madrasah dan Taman Kanak-kanak, sekaligus memangku masjid. Rumah kami sendiri adalah pos sosial. Anak-anak belajar malam di sini, yang besar-besar kumpul tiap malam di sini. Memusyawarahkan segala hal ikhwal kampung. Dari soal kegiatan pengajian, peringatan-peringatan Hari Besar Islam, pertanian, sepakbola, dan sekaiisekali soal kenegaraan. Dulu desaku dipecah oleh NU dan Muhammadiyah. Orang sibuk bertengkar seperti kerbau dungu, yang diadu oleh penggembalanya. Kini kami hapus semuanya. Kampung bersatu langsung di bawah atap Tuhan, tanpa tabir-tabir. Dan sejak keterlibatan langsung Gus Noor di sini, ditambah satu kegiatan, ialah Perpustakaan. Dari buku-buku cerita Nabi yang ringan, buku peribadatan, pengetahuan umum, langganan koran-koran, sampal literatur kelsiaman yang agak berat. Memang belum banyak anak-anak dusun yang gemar membaca, tetapi lingkungan baca-membaca sudah dimulai langsung dengan wadah dan sarananya.Di rumah kami sendiri suasana menjadi amat lain. Rasanya ada makhluk dari langit menetap dan hidup bersama kami.

Hubungan Gus Noor dengan orang tuanya biasa-biasa saja, tetapi orang tuanya pun tentu saja punya perasaan yang lebih dari kami orang kampung. Ketakjuban dan rasa bahagianya tentu lebih besar. Sehari-hari Gus Noor amat bersahaja. Sejak makanan sampai pakaian dan sikapnya. Pakaian hanya dua pasang, ditambah sarung dan peci. ia hanya mau makan gaplek. Sekali waktu Ibu mencampuri nasigapleknya dengan jagung atau sedikit nasi. Akibatnya Gus Noor tak mau memakannya, meskipun campuran itu begitu tersembunyi sehingga sukar diketahui. Gus Noor berpuasa tiap hari. Ia sibuk mengaji, melihat anak-anak sekolah, memberi pengajian, sembahyang dan berdoa. Seluruh penghuni rumahku mendapat tugas masing-masing. Bapak Ibu menjalankan kewajiban seperti biasa. Kakakku dan beberapa Guru Madrasah yang menetap di rumah kami, punya tugas paling berat. Di samping mengelola sekolah, belajar bersama, pengajian-pengajian dan perpustakaan, setiap malam mereka punya tugas khusus. Sehabis tengah malam lewat, mereka dibangunkan Gus Noor. Diajak berwudhu. Diajak sembahyang. Bersujud amat lama dan berdoa hampir tak henti-henti. Sesekali diajak mereka ke luar rumah. Ternyata menuju kuburan. Dan masuk. Satu ditinggal di pojok sini, satu di pojok sana, satu di tengah dan lainnya di dua pojok sisanya.

“Sunyi dan rasa takut akan mempertemukanmu lebih cepat dengan Allah!” kata Gus Noor. Aku sendiri punya tugas ringan. Menjadi muadzin dan pengaji, kemudian setiap sore harus melayani Gus Noor berdiskusi tentang hadis-hadis Nabi, sifat orang, dlsb. Aku tak pernah diseretnva ke kuburan. Gus Noor sendiri, begitu memperoleh kepercayaan dari seluruh masyarakat, sehingga dalam waktu sekitar setengah tahun, ia berhasil mengelola perencanaan pembangunan masjid di tiga desa sebelah. Biaya lengkap, material bangunan tersedia, dan pembangunan pun dilaksanakan secara gotong royong. Ini merupakan langkah maju masyarakat Islam di tiga desa itu yang semula amat rawan. Gus Noor sungguh-sungguh membawa kemajuan yang nyata, dan terutama menciptakan suasana yang nyata dan memeluk. Tuhan bagaikan hadir langsung. Pada suatu hari Gus Noor jatuh sakit. Pada rakaat terakhir sembahyang Isya, di mana ia bertindak sebagai imam di langgar mendadak ia ambruk. Jemaah tertegun sesaat. Kakakku, sambil mengucap “Subhanalloh,” segera maju ke ruang Imaman dan mengambil oper peran Gus Noor, sementara beberapa orang membatalkan sembahyang dan menggotong Gus Noor. Langgar ribut. Sesudah dalam tahiyat akhir orang segera sibuk. Gus Noor dipapah ke rumah. Ternyata pingsan. Cari minyak angin. Dipijit-pijit. Seluruh kampung segera bersibuk dengan sakit Gus Noor. Suasana menunjukkan kebingungan, rasa panik, tanpa ada pendapat atau kesimpulan apa-apa.

Di malam itu juga, di tengah kesibukan mengurus Gus Noor, datang tamu. Seorang pemuda santri. “Saya murid Kyai Sahlan. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rojiun. Saya datang untuk menyampaikan berita bahwa Kyai Sahlan telah diperkenankan untuk menemui Allah SWT. Kami mengharap kedatangan Gus Noor ke sana untuk turut pada upacara pemakaman beliau, besok, pagi.” Tetapi Gus Noor pun jatuh sakit. Pingsan. Tapi tak jelas karena apa. “Gus Noor benar-benar saudara Kyai Sahlan,” ujar pemuda santri itu, “semoga Allah mentakdirkan Gus Noor untuk menggantikan Kyai Sahlan.” Orang pun menghubungkan dua kejadian itu sekaligus. “Sudah mulai bergerak-gerak. Mungkin akan siuman,” berkata kakakku, tergopoh-gopoh ia dari kamar di mana Gus Noor dibaringkan.

“Mudah-mudahan. ”

Ternyata beberapa saat kemudian Gus Noor benar-benar telah siuman. Sesudah pingsan, kemudian menggigil dan seperti sedang melakukan suatu perjuangan, nafas Gus Noor yang semula menghempas-hempas, akhirnya mereda. Orang-orang berkerumun. Perlahan Gus Noor membuka matanya. “Gus Noor…. Gus Noor....” Kakakku memanggilnya, sambil memegang tubuhnya. Setengah sadar wajah Gus Noor seperti memancarkan ketidak-mengertian. Ia memandang beredar. “Gus Noor….” sahut kakakku lagi. “Gus Noor?” Gus Noor berkata lemah. “Siapa itu Gus Noor?” Orang yang berkerumun itu jadi terdiam. Kemudian saling berpandangan. Kakak mengerutkan keningnya.


Emha Ainun Nadjib
Taken From : Kumpulan Cerpen Yang Terhormat Nama Saya

Admin Pada Monday, January 28, 2013 Komentar
Rumah Dalam Surau

Rumah Dalam Surau

Cerpen
Cerpen : Damhuri Muhammad

ORANG-ORANG kampung kami tak henti-henti membangun surau. Tak pernah lelah mereka mengumpulkan wakaf, zakat, infak, dan sedekah. Menggalang dana untuk mendirikan surau. Setiap musim Lebaran, para perantau yang berdatangan dimintai bantuan. Ada yang berderma dalam bentuk bahan bangunan, ada pula yang menyumbang uang tunai. Untuk apa lagi kalau bukan buat pembangunan surau? Memang, hampir tiap sudut kampung kami, surau sudah berdiri. Tapi, itu belum cukup. Bagi kami, surau bukan saja tempat salat, wiridan, majelis taklim dan belajar mengaji, tapi juga tempat tinggal bagi semua anak laki-laki kampung kami yang sudah akil balig. Tengoklah! Rumah-rumah yang tampak berdiri kukuh itu memang rata-rata berukuran besar, pekarangannya luas. Tapi, di dalamnya tak bakal ditemukan kamar bagi anak laki-laki. Kalaupun ada, itu pasti diperuntukkan bagi anak perempuan. Laki-laki tak boleh ditinggal di rumah. Bila ada yang masih tinggal di rumah, ia bakal diolok-olok sebagai banci yang tidur di bawah ketiak emak.

Makanya, sejak usia sekolah dasar, kami sudah tidur di surau. Tak ada kamar di sana, hanya ruangan bagian belakang surau yang disekat papan tripleks menjadi beberapa bagian. Di situlah kami tidur. Berhimpit-himpitan serupa ikan pindang dalam wajan. Sebelum terlelap pulas, kerap ada yang berkelahi. Macam-macam sebabnya. Ada kawan yang iseng menyembunyikan selimut kain sarung kawan yang lain. Ada kawan yang mencaplok tempat tidur kawan lain atau ada yang sengaja kentut persis di mulut kawan lain yang sudah lebih dulu tidur. Lebih banyak waktu kami di surau ketimbang di rumah. Pulang ke rumah hanya siang hari, makan, ganti baju, sorenya balik ke surau. Ada pula yang sama sekali tidak pulang ke rumah. Semua pakaian dan perlengkapan sekolah diangkut ke surau. Di sana mereka mengaji, salat berjemaah dan bila malam mulai pekat, tibalah saatnya mereka belajar silat, (mereka kerap berkelahi itu kadang-kadang dalam rangka menghafal jurus-jurus silat). Dari surau pula mereka berangkat ke sekolah. Benar-benar seperti tidak punya rumah. Hanya surau itulah rumah mereka. Itu sebabnya surau-surau di kampung kami tak pernah sepi. Selalu riuh suara anak-anak mengaji. Tak hanya di bulan puasa, tapi juga di bulan-bulan biasa.

"Kalian belajar dan tinggal di surau, supaya kelak tidak canggung bila merantau!" begitu ajaran salah satu guru kami.

"Sabarlah! Tak lama lagi bakal tiba saatnya kalian harus merantau!"

"Anak laki-laki harus merantau! Tiada berguna tinggal di kampung bila kalian belum merantau!"

"Merantau bujang dahulu, di kampung perguna belum!"

Meskipun tidak merantau jauh, kami tetap saja akan merantau ke rumah orang. Pergi dari rumah, hidup dan tinggal di rumah anak bini. Salah seorang kawan kami, Sumanda, misalnya. Sejak dulu, ia tak berniat mengadu nasib di rantau orang. Tekadnya sudah bulat. Kelak bila tulang-tulangnya sudah kuat mengayun cangkul, mengolah sawah, menggarap ladang, laki-laki itu akan tetap di kampung. Ia ingin jadi petani. Banyak juga orang kampung kami yang bisa kaya tanpa harus merantau jauh-jauh. Lihat saja Sumanda! Selain mengolah sawah dan ladang, ia memelihara hewan-hewan ternak. Berkat gigih dan kerja keras, saat masih bujangan saja, Sumanda sudah mampu menyekolahkan adik-adiknya di kota, hingga semuanya sudah lulus jadi sarjana. Itu semua dibiayai Sumanda dari hasil sawah, ladang dan hewan-hewan ternak yang terus-menerus berkembang biak.

Kini, Sumanda bukan laki-laki lajang lagi. Sama seperti kami yang hidup di rantau, Sumanda juga sudah beranak pinak di rumah istrinya. Dua perempuan, satu laki-laki. Tahun lalu, Sumanda menikahkan Fatia, putri sulungnya. Tak terasa waktu berjalan. Sudah punya menantu kawan kami itu rupanya. Sudah pula punya cucu. Tapi, kami tak pernah lupa kenangan masa kecil saat mengaji dan tinggal bersama-sama di surau. Sumanda anak yang rajin. Pulang sekolah, ia menyabit rumput untuk kerbau-kerbau peliharaan bapaknya. Bila musim menuai tiba, Sumanda ikut pula membantu. Tapi sesibuk apa pun, ia tak pernah meninggalkan pelajaran mengaji. Tetap kembali ke surau. Mungkin karena itu, ia menjadi anak kesayangan guru mengaji kami. Suara azannya merdu sekali. Mendayu-dayu. Merinding bulu kuduk dibuatnya.

Meski jarang pulang, kami tetap mendengar kabar tentang Sumanda. Hidupnya sudah tenang. Sebelum menikah, Fatiya dan Maimuna sudah dibuatkannya rumah batu. Anwar, anak laki-lakinya juga sudah bekerja sebagai teknisi komputer di sebuah jawatan di ibu kota kabupaten. Selesai sudah tanggung jawab Sumanda sebagai orang tua, sebagai bapak, sebagai suami. Kini, ia tidak ke sawah dan ke ladang lagi. Sumanda mulai tekun beribadah. Ia kembali ke surau, tempat kami mengaji dulu. Lebih banyak waktunya di surau daripada di rumah. Makin lama makin jarang Sumanda pulang ke rumah istrinya. Sehelai demi sehelai diangkutnya pakaian ke surau, hingga akhirnya Sumanda benar-benar menetap di surau. Bila waktu salat tiba, berkumandanglah suara mendayu-dayunya itu. Sehari-hari kesibukannya merawat surau. Menggelar dan menggulung tikar, menyapu, juga membersihkan tempat wudu.

Meski tidak punya penghasilan seperti dulu, Sumanda bisa makan dari persediaan beras surau hasil sedekah para jemaah. Selain ingin menghabiskan umur yang tersisa, keputusan Sumanda kembali surau juga disebabkan oleh makin kurangnya perhatian istri dan anak-anaknya. Tak ada lagi yang menanyakan keadaannya. Padahal, di usia renta seperti itu, Sumanda kerap sakit-sakitan. Batuknya menjadi-jadi. Suatu malam, saat sesak napasnya kambuh, darah kental keluar dari mulutnya. Rupanya Sumanda tidak ingin merepotkan istri dan anak-anaknya. Istri Sumanda jarang di rumah, karena sering berkunjung ke rumah dua anak perempuannya itu. Menjenguk cucu. Sumanda merasa kesepian, merasa sendiri, merasa tidak dilayani lagi. Lagi pula, tampaknya istri Sumanda memang lebih tenang jika suaminya itu tinggal di surau.

***

Zulfikar, salah seorang kawan masa kecil kami baru saja pulang dari kampung. Setiap Lebaran ia selalu mudik. Maklumlah, Fikar orang berada. Pengusaha sukses. Sekali sebulan pun (bila mau) ia bisa saja pulang kampung. Dari Fikar, kami mendengar banyak cerita tentang keadaan kampung. Perihal satu dua sahabat masa kecil kami yang sudah lebih dulu dipanggil Tuhan, tentang jalan kampung yang mulai kinclong sejak diaspal, tentang suasana musabaqah tilawatil Qur'an setiap Ramadan yang selalu meriah, tentang salat hari raya di lapangan hijau yang penuh sesak para perantau yang pulang dengan muka berseri-seri. Tentu perantau-perantau yang mudik dengan mobil-mobil pribadi mengkilat, bukan perantau yang kurang beruntung seperti kami.

Banyak yang berubah di kampung kami. Namun, ada satu kebiasaan yang tak pernah lekang dimakan waktu. Kebiasaan orang-orang kampung kami mengumpulkan infak, wakaf, zakat dan sedekah guna membangun surau. Bagi kami, membangun surau sama artinya dengan membangun rumah. Rumah bagi anak-anak laki-laki kampung kami yang mulai beranjak besar. Bila tak ada surau, mereka tak bakal punya tempat bernaung. Rumah-rumah hanya untuk anak-anak perempuan. Beruntung sekali menjadi perempuan di kampung kami.

"Bantulah pembangunan surau baru yang terbengkalai!" begitu pesan yang dibawa Fikar untuk kami.

"Orang-orang kampung kita sangat membutuhkan surau itu!"

"Surau sudah seperti cendawan musim hujan, masih belum cukup rupanya?" tanya kami pada Fikar

"Surau-surau yang ada sudah penuh. Penghuninya membludak. Banyak yang tidak kebagian tempat!"

"Jangan mengada-ada kau! Seberapa banyak anak-anak yang belajar mengaji? Hingga tak tertampung lagi di surau-surau itu?"

"Bukan, bukan! Yang tinggal di surau bukan anak-anak mengaji seperti dulu. Surau penuh oleh duda-duda tua yang dicampakkan anak-bini. Pria-pria gaek tak berguna. Jumlah mereka makin banyak. Ini mendesak. Jadi, bantulah!"

"Akan telantar hidup mereka, bila pembangunan surau baru itu tidak segera selesai!"

"Lagi pula, bila kalian sudah pulang kelak, bukankah di surau itu juga kalian akan habiskan hari tua?!"

"Apa kalian mau mati di rantau, hah?"

Seketika kami teringat Sumanda. Jangan-jangan sahabat kami itu salah satu duda tua yang sudah tak berguna di rumah istrinya, lalu terbuang ke surau. Kecil di surau, setelah bau tanah, kembali ke surau. Menunggu mati di surau. Mengingat-ingat peruntungan Sumanda yang tak mujur, kami seperti sedang menatap bayangan kesuraman akhir hayat kami.

"Sumanda bagaimana kabarnya? Dia sehat-sehat saja?" tanya kami lagi pada Zulfikar.

"O iya, Sumanda salah satu penghuni surau yang perlu disantuni."

"Santuni? Dia kan punya istri dan anak-anak?"

"Iya, tapi ia lebih suka tinggal di surau tua tempat kita mengaji dulu. Sudah lapuk, dindingnya hampir roboh, atapnya tiris. Kasihan Sumanda! Apalagi dia sedang sakit-sakitan begitu."

"Nanti kalau surau baru sudah selesai, Sumanda kita pindahkan ke sana!"

"Tunggu apa lagi? Ayo, bantulah!"

Bergegas kami merogoh kantong. Mengeluarkan infak sesuai kemampuan sendiri-sendiri. Setelah dana terkumpul kami serahkan pada Zulfikar yang dalam waktu dekat ini juga akan pulang kampung. Ada urusan bisnis, katanya. Kami menyumbang untuk pembangunan surau baru itu, bukan semata-mata karena kasihan pada Sumanda yang bernasib malang. Kami seolah-olah sedang membangun rumah untuk tempat bernaung di hari tua. Kelak, bila kami sudah pulang dari rantau. Walau kami tak pernah tahu, apakah kami akan mati di rantau, atau mati di surau.

Kelapa Dua, 2006
Penulis adalah cerpenis, yang kini di Jakarta. Buku antologi cerpennya LARAS, Tubuhku Bukan Milikku (2005), Lidah Sembilu (2006)
Admin Pada Monday, January 28, 2013 Komentar
Subscribe to: Posts (Atom)
  • Artikel Terbaru
  • Arsip Blog

Artikel Terbaru

Arsip Blog

  • October (1)
  • June (14)
  • May (18)
  • April (2)
  • February (1)
  • January (1)
  • January (1)
  • November (1)
  • August (2)
  • July (2)
  • June (3)
  • May (13)
  • April (26)
  • March (30)
  • February (43)
  • January (50)
  • December (4)

Resensi Buku

Kategori

Anekdot Berita Pendidikan Cerpen Download Esai Guru Menulis Inspirasi Kolom Kolom Cak Nun Kolom Jamaah Maiyah Literasi News Opini Pendataan Pendidikan Puisi Regulasi Reportase Maiyah Resensi Buku Sertifikasi Guru Tentang Maiyah Tips & Trik
Pejalan Sunyi

Followers

Pejalansunyi.id berusaha berbagi informasi yang bermanfaat. Jika ada ide, kritik, atau saran, silahkan hubungi kami dengan kontak berikut. Salam!

Name Email Address important Content important

Reportase Maiyah

Contact Form

Name

Email *

Message *

Artikel Random

Memuat...
Copyright © Pejalan Sunyi
Template by Arlina Design