“Yaumul Marhamah – Kekasih Tak Bisa Menanti”

Selasa, 12 Februari 20130 komentar

Reportase Bangbang Wetan Februari 2012

BULAN Februari bagi kalangan anak muda seringkali diidientikkan dengan bulan kasih sayang, karena di bulan ini terdapat moment “Valentine Day” yang jatuh pada tanggal 14 Februari. Berbagai macam cara biasanya dilakukan untuk mengekspresikan gemerlap valentine day ini diantaranya dengan mengirim hadiah berupa bunga atau cokelat pada kekasihnya, makan malam di tempat romantis, bahkan tidak sedikit pula yang merayakannya dengan perbuatan menyimpang seperti pesta miras, freesex, dan sebagainya. Secara kebetulan pada bulan ini juga bertepatan dengan bulan Rabiul Awwal dimana Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan. Sudah tidak diragukan lagi, beliau adalah panutan utama, yang melalui forum Bangbangwetan edisi Februari 2012 ini kita mencoba  mengurai kembali salah satu hikmah keteladanannya, yakni “Yaumul Marhamah”, Hari Kasih Sayang.

Forum Bangbangwetan yang berlangsung di malam yang cerah ini dimulai dengan pembacaan Al-Qura’an Surat Al-Hasr, Al Mu’minun, Al-Waqiah, Yaasin yang kemudian dilanjutkan dengan sholawat tashrif, hingga pembacaan sholawat Sarafal ‘anam. Setelah larut dan bersama-sama berdiri dalam lantunan Sholawat indal Qiyam, jamaah sejenak diperdengarkan lagu “Kekasih tak Bisa menanti”. Lagu ini dibuat oleh Hari Cahyono yang juga merupakan pencipta “Si Doel anak Betawi”, sedangkan syairnya dibuat oleh Cak Nun.

Kekasih Tak Bisa Menanti

Akhirnya akan sampai disini

Di amanat Illahi Rabbi

Orang-orang tak bisa lagi menanti
Zaman harus segera berganti pagi


Aku tangiskan teririsnya hati

Para kekasih di dusun-dusun sunyi

Terlalu lama mereka didustai
Sampai hanya Tuhan yang menemani

Ya Allah 
sudah tak bisa diperpanjang lagi
Kesabaran mereka, ketabahan mereka
Sesudah diremehkan dan dicampakkan

Ya Allah 
WajahMu terpancar dari derita mereka
Bukakanlah Ya Allah rahasia
Sesudah maut yang tak terduga itu
Datanglah kelahiran yang baru

Akhirnya akan sampai disini
Di arus gelombang yang sejati
Kalau perahu itu adalah tanganMu sendiri
Tak akan ada yang bisa menghalangi

Kemudian lanjut dengan sesi sharing dan diskusi mengenai  apa itu Yaumul Marhamah diantara para jamaah. Mas Aminullah yang bertindak sebagai moderator pada Forum ini, mempersilakah Jamaah untuk menyampaikan pendapatnya. Pak Edi, salah satu Jamaah dari surabaya berpendapat ada 2 sudut pandang mengenai kasih sayang, yakni dari sudut pandang remaja dan pemerintah. Dari sudut pandang remaja, kasih sayang itu ibarat seseorang yang merindukan sosok yang dikasihinya. Sementara kalau dari sudut pandang pemerintahan Ia menganalogikan kasih sayang itu ibarat rakyat yang merindukan pemimpinnya untuk bisa mengayomi. Cak Dul Wong Simo, menambahkan bahwa yang dinantikan bukan kekasih dalam arti sempit, namun kekasih yang ia kiaskan sebagai pemerintah yang betul-betul memperhatikan nasib rakyat kecil. Abdul Rozak Mojokerto berpendapat bahwa “Yaumul Marhamah” baginya ia rasakan terjadi saat malam ini, karena dimalam ini pertama kalinya ia berani berbicara di forum bangbangwetan, meskipun sedikit deredeg-deredeg. Menurut sudut pandangnya melalui syair lagu “Kekasih Tak Bisa Menanti”  yang diperdengarkan tadi, Ia mengingatkan para jamaah untuk juga ingat akan pujangga Ronggo Warsito. “kekasih tak bisa menanti” itu adalah kerinduan dari rakyat indonesia terhadap kepemimpinan yang  pernah diajarkan Rasulullah SAW, yakni kepemimpinan yang membuat ketentraman bagi rakyatnya. Meskipun Ia seorang tukang bangunan ia berharap kepada generasi muda, mahasiswa, dan sebagainya,  agar senantiasa memaksimalkan potensi dirinya.

Salah satu Jamaah bernama mas Arif dari Simogunung  mengungkapkan kalau dulu kala pacarnya banyak. Diantaranya, KPK, beras murah, kok ternyata hingga sekarang tidak kunjung datang. “Ini entah saya yang bodoh atau memang mereka gak mau datang”, ujarnya, yang diikuti tawa Jamaah lainnya. “Kata kasih sayang itu kan ada dalam lafadz bismillahirrohmanirrohim. Sehingga ia berharap dapat saling mengasihi diantara kita”, tambahnya. Rositun Nasihin, mahasiswi ITS dari ponorogo berpendapat bahwa kekasih yang dinantikan adalah sosok seorang ibu. “Al um al madrasatul ula, Ibu adalah guru yang pertama, jadi peran ibu sangat berpengaruh”

‎ “Orang Barat punya valentine, sedangkan islam yaumul marhamah, keduannya tidak bisa dipertemukan. Yang pertama idientik dengan freesex sedangkan yang kedua adalah kasih sayang yang universal”, ungkap Arman, jamaah dari Jombang dengan sedikit berkoar-koar.

Mbak Nanik dari Jombang : “Alhamdulillah kita diperkenalkan dalam naungan Islam, Islam rahmatullilalamin, Islam adalah kasih sayang”

Syaiful dari Surabaya yang mencoba sedikit berpuitis dan mengungkapkan : “Kasih sayang adalah satukan hati yang mantab untuk jadikan kekasih hati. Cinta kasih dan cemburu yang perlahan. Satukan langkah yaitu kasih dan sayang. Sekian dan terima kasih”.

Mas Rachmad, seorang penggiat dan “komandan” Bangbangwetan  yang bersama mas Amin memandu acara ini memberikan sedikit pengantar mengenai asal-usul penggunaan tema forum Bangbangwetan edisi Februari 2012 kali ini. “Yaumul Marhamah” diadopsi dari peristiwa Fathul Mekkah. Secara singkat mas Rachmad menceritakan Nabi kembali merebut Mekkah, kota yang dulu menyia-nyiakan Rasulullah, terusir, dan yang menyebabkan beliau hijrah ke Madinah. Berangkat dari sana, mas Rachmad mengajak jamaah untuk merefleksikan kondisi Indonesia yang hampir sama dengan Mekkah pada waktu itu, dimana orang-orang Indonesia sudah banyak yang “terusir”,  negara ini bukan milik kita lagi, dan sudah waktunya kita rebut kembali Indonesia dengan “Fathul-Indonesia”, rebut kembali Indonesia, dengan Yaumul Marhamah.

Mas Rachmad menambahkan bahwa seluruh penggiat Jamaah Bangbangwetan, banyak yang percaya dan merasakan pertolongan Kanjeng Nabi, betapa berat terselenggaranya forum Bangbangwetan ini dimana jumlah uang yang terkumpul dari infak jamaah tidak sebanding besarnya dengan kebutuhan untuk menyewa gedung, kebutuhan untuk sound system, terop, panggung, dan sebagainya. Selama penyelenggaraan forum  Bangbangwetan hingga saat ini, panitia tidak pernah mengemis kepada pihak perusahaan ataupun sponsor manapun. Yang terjadi adalah Honda secara tiba-tiba memberi dukungan secara finansial, tanpa diminta. Bahkan seringkali panitia mengalami defisit namun selalu saja ada jalan keluar utuk menutupinya. “itu adalah model syafaat wong ndeso, Rasulullah seringkali membantu kita secara kasat mata, memang ada benarnya” ujar Mas Rachmad.

Selanjutnya Mas Rachmad mempersilakan Jamaah untuk merespon dan memberikan sudut pandang mengenai apa dan bagaimana sholawat itu.  Salah seorang jamaah mengungkapkan bahwa Syafaat rasul tidak datang karena kita berkumpul, namun seringkali Syafaat rasul itu datang mengiringi perjalanan kita, ia mengutip dari sholawat barzanji “turjasyafaatuhu”. Ia juga mengingatkan kita akan kata-kata terakhir Kanjeng Nabi ummati..ummatii.. agar kita selalu mengenang-ngenangnya dengan rajin bersholawat. Dahlan, Jamaah dari jombang menambahkan, kenapa orang orang dahulu selalu mewanti-wanti agar senantiasa bersholawat, karena menurutnya orang-orang dahulu sangat mementingkan keselamatan. Berbeda dengan saat ini dimana banyak orang yang enggan memperhatikan keselamatan. Ia juga mengingatkan bahwa Rasul akan hadir kalau kita bersholawat. Mardiyan dari Sidoarjo, mengungkapkan kita bersholawat itu sebenarnya dalam rangka untuk meminta pertolongan dan keselamatan kepada Allah, dengan cara meminta bantuan kepada makhluk yang paling dicintaiNya yakni Rasulullah.

Bangbangwetan pada malam hari ini memang sengaja disetting oleh Mas Rachmad untuk lebih interaktif dari sebelumnya, untuk saling berbagi kisah dan mengungkapkan cinta kita kepada Rasulullah. Kelompok musik sholawat dari MTB Sidoarjo menyelingi dengan “Sholawat Badar” yang kemudian dilanjut dengan pembacaan puisi Karya Cak Meidy dan kelompoknya. Sholawat yang dibacakan pada akhir puisi tadi ditanggapi mas Racmad  agar para jamaah agak serius ketika melantunkan Sholawat.

Suparto Wijoyo, biasa disapa Cak parto, dosen Fakultas Hukum UNAIR yang merupakan salah satu narasumber memulai uraiannya dengan kalimat  : “Sebagaimana kekasih maka percayalah rinduku melebihi jalur nafasku”. Saya senang bisa komunikasi, hadir dan ngaji bersama Anda semua, terutama dari Cak nun yang bagi saya pribadi beliau adalah imam bangsa. Cak parto melanjutkan dengan berpendapat bahwa Neraka bukan tempat, demikian juga surga yang sama-sama bukan tempat. Ketika engkau menderita, hidupmu janganlah engkau jadikan sebagaii derita hidup orang lain melainkan jadilah kebahagiaan orang lain. “Ketika engkau mampu membahagiakan orang lain maka engkau mampu menjadi surga bagi orang lain”, ungkapnya.

‎Cak Suko, yang juga Dosen UNAIR menceritakan  suatu ketika ia tidak meluluskan salah satu mahasiswanya karena ketauan mencontek, apakah sikapnya tersebut merupakan bentuk tidak adanya kasih sayang terhadap mahasiswa tersebut? Misal lagi ketika suatu ketika cak Suko berkisah, suatu ketika ditelpon oleh salah satu kerabat dekatnya, agar bisa dimasukkan UNAIR lewat “jalur belakang” ditentang olehnya, apakah sikap tersebut juga bukan kasih sayang. “Mari kita tempatkan kasih sayang itu pada tempat yang tepat. Yang paling sering kita jumpai adalah kasih sayang artifisial”.
Malam sudah menunjukkan pukul 00.15 Cak Nun memulai uraiannya. “Yaumul Marhamah kita jadikan sebagai terminal pemberangkatan hulunya, kemudian perjalanannya kita sebut sholawat, kemudian hilirnya kita sebut Kekasih Tak Bisa Menanti”

“Sillaturrahim boleh juga disebut sebagai sillatur marhamah, itu beda tekanannya saja”. Cak Nun menjelaskan bahwa kalau marhamah itu luas horizontal sedangkan rahim itu mendalam. Ini asal usulnya copyright istilah sastranya berasal dari Rasulullah ketika Fathul Mekkah, setelah Hijrah 10 Tahun dari Madinah kemudian siap menggugat kembali  Mekkah untuk menyempurnakan wilayah keislaman pada waktu itu, setelah umat islam sudah diajari segala teori dan praktek mengenai  islam mekkah (berisi teologi, aqidah, akhlak, etika, dsb), kemudian sudah diajari islam madinah (pembangunan, kesejahteraan, dsb).

Cak Nun mengingatkan kepada kita, yang harus diingat dari Islamnya Madinah adalah lambat atau cepat sejarah dunia akan mengakui bahwa konstitusi tertulis tertua dalam sejarah kehidupan manusia adalah Piagam Madinah, yang tujuh abad lebih tua dari magna Carta ataupun declaration of independence-nya Amerika. Sampai saat ini masih belum diakui. “Tidak apa-apa kalau orang Islam itu memang harus tidak diakui. salah satu kemulyaan orang Islam adalah tidak diakui, maka saya bergabung dalam kemulyaan itu, bikin apa saja saya di Indonesia tidak diakui. Dan itu tidak masalah bagi saya.”

Keunggulan Piagam Madinah yang pertama adalah ia merupakan konstitusi tertulis pertama dalam sejarah manusia, yang kedua karena ia tidak dibuat oleh kaum intelektual, perwakilan rakyat, ataupun pemimpin. Piagam Madinah diciptakan melalui interaksi oleh berbagai antar warga yang plural, baik agama, suku, dan bangsanya. Pluralisme dikenal Masyarakat Barat belum dua abad, sedangkan pluralisme di Madinah pada saat itu jauh sudah sangat matang. Sehingga saking bodohnya kita semua sehingga tiba-tiba kita menjadi anak yang diajari oleh dunia Barat untuk meningkatkan pluralisme. Padahal tidak sampai 100 tahun yang lalu mereka masih melarang seorang negro masuk dalam restoran, atau membatasi persamaan hak antara orang negro dengan orang kulit putih. Kemudian juga orang Barat masih belum dua abad ini mulai kenal dengan agama selain kristen, tapi mereka mempunyai kecanggihan untuk mendustai Anda. Konstitusi, aturan atau hukum-hukum yang ada di Indonesia janganlah dibandingkan dengan piagam Madinah, karena Anda tidak pernah punya hak dan tidak pernah punya akses untuk ikut bikin aturan. Anda hanya hamba sahaya dari aturan-arturan yang dibikin oleh perwakilan Anda yang tidak memperhitungkan Anda. “Maka fatwa yang terpenting untuk jamaah Maiyah adalah Anda harus tetap lapang hati, kuat mental, tegak imannya, dan tetap cerdas pikirannya ditengah kehidupan dimana Anda harus berbenturan dengan orang dan aturan yang Anda tidak suka, yang Anda tidak setuju, yang Anda tidak pernah ikut terlibat di situ,” pesan Cak Nun.

Ketika Raulullah siap memenangkan kembali pegulatan dan mengambil Mekkah untuk menjadi pusat Islam pada wakt itu, setelah mendapat kemenangan besar dan berkumpullah waktu itu penduduk Mekkah menyaksikan Rasulullah bersabda :  "Wahai manusia, (dalam konteks ini adalah ditujukan kepada para tawanan Mekkah),- Inna hadzal yaum laisa yaumul malhamah, walakinna hadzal yaum yaumul marhamah, wa antumuth-thulaqa. kalian hendaknya mengetahui bahwa hari ini bukan hari pembantaian, tatapi hari ini adalah hari kasih sayang (yaumul marhamah), dan hari ini saya nyatakan engkau semua merdeka”. Maka muatannya jangan dibandingkan dengan valentine day, yang merupakan representasi kasih sayang antara laki-laki dan wanita yang sangat eklusif, sangat lokal, sangat parsial, tapi yaumul marhamah mengandung muatan-muatan nilai yang luar biasa. Pertama yakni keberanian militer yang sangat radikal, kedua keputusan politik yang sangat paradigmatis yang belum pernah dilakukan oleh manusia manapun di dalam sejarah. Bagaimana tidak, ketika pasukan Islam yang begitu lelah memenangkan pertempuran membebaskan begitu saja para tawanannya.  Itulah yang dinamakan kasih sayang. Maka kasih sayang itu harus diterjemahkan ke dalam pemerintahan, ke dalam sistem politik, ke dalam moral hukum, dan sebagainya.

“Maiyah itu tidak kehilangan keringat dalam kehidupan. Tidak kehilangan bau. Salah satu ciri manusia adalah bau. Dan bau manusia di campur dengan bau alam yang namanya parfum. Jika kita terlalu menekankan diri pada bau parfum maka bau manusia jadi tidak enak. Tapi ketika Anda menyatukan kemanusian antara suami dan istri, maka bau yang tidak enak secara sosial itu  tetap enak secara pribadi. Iyo ta gak? Ngaku ae”, Ujar Cak Nun yang disambut tawa Jamaah.

“Dalam dunia pendidikan kasih sayang itu bukan membocorkan soal ujian, itu bukan kasih sayang, tapi merupakan penindasan terhadap kecerdasan, kejujuran dan kreativitas.  Banyak sekali pejabat kita yang menunjukkan kehancuran logika, cara berpikir di dalam dirinya, dan Anda tidak perlu mengambil atau mengutip kalimat-kalimat atau pernyataan yang menyangkut korupsi dan sebagainya, cukup sawangen raine wes ketok, dilihat wajahnya saja sudah cukup”.
Kasih sayang itu selama dilihat dari cara pandang dan filosofi sekuler, maka kasih sayang itu hanya satu lini, atau satu ranah, padahal sebenarnya ia bukan ranah, melainkan atmosfir, atau energi yang bisa masuk kemana saja. Hubungan politik dan demokrasi sangat membutuhkan energi cinta dan kasih sayang. Demikian juga perusahaan, karyawan dan konsumen membutuhkan kasih sayang. Guru kepada murid. Sebagaimana cak Nun dulu pernah memberikan teori persuami-istrian antara  Allah dan makhluk, manusia dan alam, petani dengan sawah dan sebagainya.

Sekarang mengenai perjalanan Yaumul Marhamah, metodeloginya adalah sholawat. Hukum atau logika dialektisnya sholawat itu kan dari pernyataan Allah bahwa Ia tidak akan mengadzab siapa saja yang Muhammad bersamaNya. Cara supaya Muhammad bersama kita, salah satunya adalah Sholawatan. Sholawat itu adalah asuransi yang menjamin keselamatan kita dunia akhirat dan itu sangat murah, tidak perlu membayar apa-apa, inget Kanjeng Nabi saja sudah cukup.  Sholawat di dalam Maiyah konteksnya adalah dialektika cinta segitiga antara Allah, Rasulullah dan kita. Kalau kita sholawat kepada Rasullulah maka Allah bersholawat kepada kita. Kalau kepada Allah kita sholat, maka Rasulullah pun bersholawat untuk kita. Sholawat dan Sholat itu sebenarnya sama (dari akar kata yang sama, shollu-yushollina). Hanya saja cara sholatnya Allah ke kita beda dengan cara sholat kita ke Allah, sebagaimana juga kalau Orang tua menghormati anak berbeda dengan cara anak menghormati orang tua. Sholatnya Allah dan Rasulullah ke kita adalah sholat cinta, sementara sholatnya kita adalah sholat pengabdian.

“Semua yang kita lakukan dengan Bangbangwetan dan Maiyahan maupun pekerjaan Anda setiap hari itu kontekskan sebagai sholat Anda kepada Allah dan Sholawat Anda kepada Rasulullah. Uang dirohanikan dengan cara mensholawatkannya. Misal kalau Anda mbecak yang tujuannya hanya mencari uang saja kan eman-eman energi Anda terkuras begitu saja kalau tidak diniatkan untuk  sholat kepada Allah.  Sholat dalam pengertian lain adalah segala sesuatu yang kita lakukan bersifat tunduk kepada Allah. Itulah Sholat kehidupan, dimana asalkan semua perbuatanmu itu dalam rangka untuk tunduk kepada Allah maka ia akan bernilai sholat. Bernilai sholat secara kualitatif bukan kuantitatif, yang bukan berarti pekerjaan sosial bisa menggantikan ibadah sholat Mahdoh. Ibadah Mahdoh yang berupa sholat lima waktu itu jadikanlah sebagai bentuk cinta kita kepada Allah, lakukan saja meskipun kita tidak tahu artinya. Kalaupun tahu artinya jangan lantas berjarak oleh pengertianmu itu, kembalikanlah menjadi nalurimu, sehingga  ketika engkau memahami ayat-ayat dan bacaan sholat engkau tidak perlu berpikir lagi tapi sudah menjadi bagian dari detak jantung dan aliran darahmu”.

Sesi selanjutnya Cak Nun meminta Mas Rachmad untuk membacakan syair “Kekasih Tak Bisa Menanti” untuk ditafsirkan sendiri oleh Cak Nun, yang merupakan hilir pada forum Bangbangwetan malam ini.

 “Akhirnya akan sampai disini”
Kata “akhirnya” disini mengindikasikan  ada suatu perjalanan yang sangat panjang yang telah dilalui.

”Di amanat Illahi Rabbi”
Yang kita lakukan sejauh ini sebenarnya adalah amanah Allah,  jadi Anda akhirnya telah sampai di Maiyahan ini, sampai di pilihan ini, sampai di ilmu ini, sampai di keputusan ini, sampai di koordinat ini, yakni sampai di amanah Ilahi Robbi.

“Orang-orang tak bisa lagi menanti”
Siapakah orang-orang yang tak bisa menanti itu?  Kata Rasulullah dalam perang  badar  adalah “Innama tunshoruna wa turzaquna bi dhu’afaaikum”, syaratnya adalah Anda dirahmati Allah, dikasih rizki Allah, diberi kemenanangan oleh Allah adalah kalau engkau melakukan apa saja demi cinta dan pembelaanmu kepada orang-orang yang dilemahkan.  Kalimat ini diucapkan Rasulullah sebagai pengobar semangat pasukan Islam yang berjumlah 300 ketika akan melawan sekitar 1200 pasukan musuh. “Maka seluruh cara berpikir saya dan seluruh keputusan hati saya adalah menomorsatukan orang-orang yang lemah. Dan orang yang lemah tidak mesti dari kalangan orang yang melarat, orang desa atau orang kampung. Gus Dur ketika di-impeachment  juga termasuk orang yang lemah, dan sayalah orang yang pertama kali datang ke Gus Dur pada waktu itu. Termasuk juga saya mendatangi pak Harto yang lemah ketika akan dilengserkan”.  Anda hidup sekali jangan mau tertekan oleh apapun kecuali oleh cintanya Allah dan Rasulullah. Kalau untuk cintanya Allah dan Rasulullah jangankan hanya tertekan, tertindih, terlindas, lunas, habis, musnah, tidak ada masalah, asal yang menindihku adalah cintanya Allah dan Rasulullah. Dunia tidak bisa menekan aku, dunia tidak bisa membuat aku sedih. Dunia tidak bisa mengintimidasi aku. Jangan sedikit-dikit sedih, ngersulo, dan sebagainya. Anda harus punya strategi untuk melindungi hati dan pikiranmu sendiri setiap saat, dan itulah pinternya orang keahlian orang Indonesia, bisa mengelak. Masalah seberat apapun dihadapi cukup dengan hanya satu kata : Gusti Allah gak turu. Sekarang coba sebutkan peradaban dari bangsa mana yang punya jalan keluar sepeti itu”. 


“Zaman harus segera berganti pagi”
Abad ke-19 adalah abad industri  yang melahirkan ideologi kapitalisme, dimulai dari revolusi industri Perancis.  Abad ke-20 adalah abad penemuan-penemuan radikal di bidang fisika melahirkan teknologi-teknologi yang sangat canggih sehingga kapitalisme abad 19 menjadi ultra-kapitalisme liberal di abad ke-20. Dan kapitalisme Liberal, pasar bebas saat ini sedang mengalami keruntuhan-keruntuhan dari dalam dirinya sendiri.  Sistem-sistem yang mereka bangun misalnya aturan perbankan, aturan copyright, aturan hukum dan segala macam yang mereka pakai untuk memperdayamu dan untuk menjadikan kamu semua sebagai hamba sahaya dari aturan mereka, sekarang itu menghancurkan diri secara pelan-pelan. Maka akan datang suatu zaman dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi untuk memulai abad ke-21 yang merupakan abad spiritual. Abad spiritual adalah ketika manusia kehilangan arah dan dia akan mencari jatidirinya sendiri kembali. Dunia kampus, dunia pendidikan, dunia kesehatan, dunia apa saja yang membuat manusia terbuang dari dirinya sendiri dan sekarang mereka pelan-pelan bahkan beramai-ramai mencari diri mereka sendiri, kembali ke bayinya, kembali memahami sedulur papat limo pancernya, kembali memahami air ketubannya, kembali memahami Jibril di dalam dirimu, Mikailmu, Isrofilmu, dan Izroilmu.

“Aku tangiskan teririsnya hati”
Saya kira ini sudah jelas, selama ini kita menangisi nasibnya hati orang banyak.

“Para kekasih di dusun-dusun sunyi”
Di dusun-dusun sunyi tidak harus teritorial, ini bisa juga wilayah-wilayah yang tidak tersentuh oleh kewajiban pemerintah dalam pembangunan.

“Terlalu lama mereka didustai”
Dusta kepada kita itu di semua hal, terutama di wilayah hukum, kita didustai habis-habisan. Salah satu contoh yang paling gampang adalah di bidang kesehatan. Karena untuk menyatakan sehat tidaknya seseorang secara hukum yang menentukan adalah dokter.  Betapa banyak hak-hak otoritas kemanusiaanmu yang diambil oleh institusi-institusi? Anda dinyatakan baik saja harus ditentukan oleh kepolisan, padahal seharusnya yang menyatakan baik tidaknya Anda adalah orang atau pihak yang lebih baik dari Anda. Ini kan ibaratnya ada pelantikan Malaikat tapi yang melantik adalah setan.

“Sampai hanya Tuhan yang menemani”
Apakah perwakilanmu menemanimu? Apakah pemerintah menemanimu? Apakah kepolisian akan mengamankanmu? Apakah ulama-ulama menemanimu? Tidak ada yang menemani, sampai hanya Tuhan yang menemani.

“Ya Allah Sudah tak bisa diperpanjang lagi”
Seluruh yang Anda gelisahkan mengenai tahun 2012 itu akan dimulai bulan Maret. Kalau itu merupakan adzab, Allah sudah memberi rumus, barangsiapa yang bersama Muhammad maka aku tidak akan men-adzabnya. Maka sholawat juga bisa dipakai untuk menawar semua itu, meskipun tidak hanya sholawat, bentuk-bentuk do’a  yang lain juga bisa. Jadi do’a saya dan Anda semua sebaiknya adalah berilah kami kecukupan waktu untuk menuntaskan semua ini, karea engkau sendiri yang mengamanati ini, kasih kami waktu untuk menuntaskan perjuangan kami, karena perjuangan kami adalah perjuangan rahmatallil ‘alamin, bukan perjuangan untuk menginjak-nginjak atau menindas siapa pun, perjuangan kami untuk mamayu hayuning bawono, perjuangan untuk memangku semua umat manusia di dunia menuju kesejahteraan yang sejati.

“Kesabaran mereka, ketabahan mereka
Sesudah diremehkan dan dicampakkan”
Bangbangwetan dan Maiyahan dimana saja sudah menunjukkan ketabahan dan kesabaran yang luar biasa.

“Ya Allah WajahMu terpancar dari derita mereka”
“Bukakanlah Ya Allah rahasia”
“Sesudah maut yang tak terduga itu”
“Datanglah kelahiran yang baru”
"Sekedar mengingatkan dulu yang membuat lagu ini adalah mas Hari Cahyono, pencipta si Doel anak Betawi, sedangkan  syairnya saya sendiri yang bikin. Dan saya sering bilang sama Rachmad yang belum saya paham kok ada kalimat seperti ini dulu asal-usulnya bagaimana dan ini apa maksudnya: Sesudah maut yang tak terduga itu datanglah kelahiran yang baru. Yang kita tunggu sekarang dengan sholawat dan yaumul Marhamah tadi yaitu kelahiran yang baru. Apakah maut itu adalah matinya manusia, atau matinya ideologi, matinya suatu kecenderungan, matinya suatu peradaban, wallahu a’lam. Tapi salah satu PR kita adalah mengamati kematian dan kehidupan di dalam proses kehidupan manusia. Mati Sajroning Urip – Urip Sajroning mati, bahwa Anda harus bunuh diri setiap pagi supaya Anda bisa lahir kembali sesudahnya. kata “tak terduga” disini seolah mengisyaratkan kalau kita membicarakan apa saja menjadi serba salah. Mudah-mudah anda adalah syahid yang menyaksikan maut dari peradaban yang sekarang sedang membunuh dirinya sendiri dan Anda adalah bagian yang oleh Allah dilahirkan kembali, dibangunkan kembali, dihidupkan kembali dengan kehidupan dan matahari yang baru. Datanglah kelahiran yang baru”, Jelas Cak Nun yang kemudian beliau meminta Jamaah berdiri untuk berdo’a bersama-sama sebagai penutup pada acara Bangbangwetan malam ini.

[red-bbw/adhon]
Anda baru saja membaca Artikel tentang “Yaumul Marhamah – Kekasih Tak Bisa Menanti”. Anda bisa menemukan Artikel “Yaumul Marhamah – Kekasih Tak Bisa Menanti” ini dengan URL http://pejalan-sunyi.blogspot.com/2013/02/yaumul-marhamah-kekasih-tak-bisa-menanti.html, Terimakasih telah membaca “Yaumul Marhamah – Kekasih Tak Bisa Menanti”. Anda boleh menyebarluaskan jika menurut Anda, artikel ini bermanfaat, dengan syarat meletakkan link “Yaumul Marhamah – Kekasih Tak Bisa Menanti” sebagai sumbernya. Jangan lupa Klik "LIKE" ya!!!.
Bagikan Artikel :
Posted by: pejalan sunyi
pejalan sunyi, Updated at: Selasa, Februari 12, 2013

Poskan Komentar

 
Support : Uang Receh | Herbal Online | Pulsa Gram
Copyright © 2012. Pejalan Sunyi - All Rights Reserved

Created by Creating Website Published by Mas Template